Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label kesadaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesadaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2020

Dimensi Hati itu tidak terkunci

Hati, yang oleh Rosululloh disebut dan diterangkan sebagai induk atau sumbernya perbuatan seseorang, yang baik maupun buruk gerakan seseorang adalah bersumber dari apa apa yang ada di dalam hati.
Apa apa yang ada di dalam hati ini adalah 'rasa' yang jika ia dipicu oleh sesuatu dari luar maka biasa kita sebut perasaan. Orang yang tidak berperasaan (misalnya) adalah orang yang tidak terpengaruh oleh sentuhan atau rangsangan dari berbagai macam keadaan di luar dirinya. Sedangkan jika ia dipicu oleh perkara di dalam dirinya sendiri, maka biasa kita sebut "merasakan". Semisal, merasakan pahit asin manis, sumbernya adalah di bagian tubuh kita sendiri. Atau keadaan merasakan apa yang dirasakan orang lain (misalnya) ini juga terjadinya bermula dari dalam dirinya sendiri. ia mengakses frekwensi yang sama dengan orang lain, maka ia akan dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.

Termasuk keadaan 'merasa' adalah dipicu oleh gerak polah pikiran atau yang biasa kita sebut sebagai prasangka.
Maka ini sebenarnya keadaan hati itu tidak pernah tertutup. Tidak pernah terkunci. Hanya saja ia sedang ternutrisi oleh apa sehingga seolah olah tampak mati atau terkunci.

Dimensi hati adalah dimensi yang tak pernah tutup. Kapanpun kita mau memasukinya, bisa. Tinggal kita secara ego mau apa tidak memasukinya
itu saja, 

Kamis, 13 Oktober 2016

Khazanah Hikmah Dzikir Nafas

Kalau dalam tataran keilmuan tasawuf, kita mengenal adanya 3 hal pokok perjalanan. Tahalli - takholli - tajalli
Pembersihan , pengisian , pengejahwantahan.

Pada dasarnya Tahalli merupakan Pembersihan dari sifat sifat buruk
Takholli merupakan pengisian diri dengan sikap2 yang baik
Tajalli merupakan pengejahwantahan tuhan dalam diri manusia

Selama ini proses ini cukup lama karena dipahami secara terpisah pisah.
Sebenarnya hal ini sangat sederhana dan mudah jika kita jalani secara bulat total.
Dzikir Nafas yg dikembangkan oleh Jamaah Dzikir Nafas Sadar Alloh saya kira adalah kebulatan dari proses ini secara utuh tanpa terpisah pisah satu sama lainnya.

Dzikir Nafas level-1 :
Di mana kita hanya mengamati keluar dan masuknya nafas secara istiqomah,
Anda sadar ataupun tidak, tahap ini akan memproses diri kita untuk berbersih diri / bertahalli. Saktinya, disini bukan kita yang berbersih, tapi dibersihkan oleh Alloh. Sebagaimana nafas ketika kita amati dengan seksama, ternyata nafas itu bukan kita yang bernafas sesungguhnya. Tapi Alloh yang menafaskan kita. Tidak ada peran kita sama sekali dalam proses bernafas. Sangat murni dan nyata Alloh lah yang menafaskan kita. Nah inilah dimana ketika kita sadar bahwa diri kita tidak memiliki peran apapun terhadap diri kita. Proses penyucian dari Alloh itu berlangsung otomatis.

Dzikir Nafas level-2 & level-3 :
Takholli berada pada tahap ini. Setelah kosong, sunyi dari berbagai macam prasangka, pemikiran, nafsu dlsb di level-1, jangan biarkan kosong terus terusan.
Isi kekosongan itu dengan kesadaran ilahiah. Ketika nafas masuk, barengi dengan dzikir Huu... Dan ketika nafas keluar barengi dengan dzikir Alloh. (Level-2).
Kemudian setelah cukup mudah mengiringi nafas dengan dzikir huu Alloh secara berlanjut.
Kemudian ketika dzikir huu, gerakkan jiwa anda menuju Alloh yang tak terbatas, dan begitu pula ketika mendzikirkan Alloh, pasrahkan jiwa (diri) anda kepada Alloh yang maha luas tak terbatas. (Level-3)
Ini adalah proses penyadaran diri atas eksistensi Alloh. Dalam tahap ini, proses takholli sebagaimana yang sudah disinggung di atas itu akan bekerja secara otomatis. Sikap buruk mulai terlebur di level-1, dan berlanjut pada pembentukan karakter sikap yang toyyib / karimah / baik secara lahir bathin secara otomatis diberlakukan pada level-2 dan level-3 ini.

Dzikir Nafas Level-4 :
Selanjutnya adalah tajalli. Yang mana hal ini merupakan hak khusus milik Alloh terhadap pengejahwantahan diriNya kepada hamba - hambaNya yang telah melakukan perjalanan spiritual (suluk) -yang dimulai dari level {tahap} 1 s/d 3.
Banyak dari pelaku Dzikir Nafas yang diberikan tajalli af'al dan sifat oleh Alloh. Sesiapa yang ditajallikan oleh Alloh, dia akan mewakili sifat dan af'alNya.
Contoh sahabat kita yang diberi tajali sifat al-Bashir, tiba tiba saja ia bisa melihat hal hal yang terjadi di bentangan ruang dan wakti yang mustahil dijangkau secara logika. Atau yang dilimpahi sifat al-hadi atau ar-rosyid, ya apa pun yang ia ucapkan akan menjadikan pencerahan hikmah pada sesiapa saja yang mendengarnya.

Namun sekali lagi.... Tajalli itu hak mutlak Alloh, kita tak perlu mengidamkannya. Peran kita yang sangat pasti dan perlu adalah istiqomah menjalankan level 1 s/d 3. Level 4 akan otomatis diberikan oleh Alloh kepada hamba hambaNya yang bersungguh sungguh berjalan kehadiratnya.

"Apabila hambaKU mendekat sejengkal, maka AKU akan menyambutnya sehasta. Apabila hambaKU mendekat sehasta, maka AKU akan menyambutnya sedepa. Apabila hambaKU medekat kepadaKU dengan berjalan, maka AKU akan menyambutnya dengan berlari.
Apabila hambaKU mendekat kepadaKU dengan berlari, maka AKU akan menyambutnya dengan lebih cepat lagi.
Apabila hambaKU telah menunaikan SunnahKU, maka AKU akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatan yang dengannya ia melihat, menjadi lisan yang dengannya ia berucap, menjadi tangan yang dengannya ia memukul, menjadi kaki yang dengannya ia berjalan." [Hadist Qudsy]

Wallohu'alam bish-showab

Sabtu, 24 September 2016

Alloh Yang Mengatur kita atau kita yang mengatur Tuhan

Siapapun anda yang tergerak untuk membaca ini
Mari kita diam sejenak dari macam macam prasangka yang ada di dalam benak kita
Mari kita sama sama memasuki kedalaman bathin kita masing masing

Saya tidak mengatakan bahwa do'a itu adalah bentuk pengaturan kita atas kehendak tuhan
Atau do'a adalah seirama dengan ketidak ikhlasan kita menerima apa apa bentuk pemberian Alloh
Saya juga tidak mengatakan bahwa kita bisa mendikte tuhan
Karena sesungguhnya Alloh berkehendak semaunya sendiri saja
Karena memang kebijaksanaannya melebihi segala sudut pandang manusia

Yang saya maksud dengan kalimat "kita yang mengatur tuhan" sesungguhnya adalah sebuah kemustahilan
Yang menyebabkan seluruh doa kita tidak terkabulkan
Seluruh angan angan kita menjadi kosong tak berarti
Padahal sesungguhnya jika sesuatu yang terbesit di dalam benak kita itu adalah bentuk pengaturan dari Alloh
Maka hal itu akan mewujud "kun-fa-yakun"

Oke kita persantai bahasanya
Kita tentu pernah memimpikan banyak hal
Di dalam benak kita terurai banyak gambaran dan lalu menggerakkan lisan atau hati kita untuk berdoa
Dan doa itu ada terwujud dan ada yang tidak
Pernah kita memperhatikan ketika doa itu terwujud
Sesungguhnya yang menggerakkan kita untuk berdoa itu adalah Alloh?
Atau pernahkah kita menengok bahwa yang berdoa ketika doa itu tidak mewujud itu adalah refleksi hasil ego kita?
Nah ketika ego kita yang berkata kata
Atau yang membentuk suatu bayangan di dalam pikiran
Itulah yang dikatakan mendikte tuhan
Mengatur tuhan

Sudah tentu hal itu membuat tidak terkabulnya suatu permohonan
Padahal jelas jelas Alloh berfirman, "Berdoalah pasti akan Aku kabulkan", dan ditegaskan lagi oleh firmanNya (yg artinya), "dan janji Alloh itu adalah pasti"
Seringkali kalau doa kita tidak juga terkabul, kita akan mempertanyakan janji Alloh yang itu
Wajar.... Manusia....
Sungguh manusia itu sangatlah bodoh
Dalam kondisi yang demikian pun kita masih berani mempertanyakan janji tuhan
Bukannya malah intropeksi diri
Apakah kita telah terlanjur mencoba mengatur tuhan?
Ketika kita sadar bahwa kita telah mengatur tuhan,
Semestinya kita juga sadar siapa yang sedang berperan atas diri kita kala itu.
Ego, nafsu, sifat syaithoniah dan iblisiyah manusia, was was al-khonnas, yuwaswisufi shudurinnas min al-jinn wa an-nass.

Lain halnya kalau yang berperan di dalam diri kita adalah Alloh
Lisan kita, hati kita, benak kita, segala sesuatu yang ada di dalam diri kita adalah haqq Alloh
Yang menggerakkan kita berdoa adalah Alloh
Maka sudah barang tentu gerak selanjutnya yang untuk merealisasikan doa juga adalah merupakan af'al / gerak Alloh

Misal begini, ketika kita sudah berputus asa terhadap dunia
Lalu kita bertekad meninggalkan dunia
Lari beranjak ke Alloh
Dan berserah diri secara total kepadaNya
Ketika begitu kuatnya kita berasyik masyuk dengan Alloh
Kok tiba tiba muncul benak yang sangat kuat dan sangat meyakinkan bahwa kita masih harus menata dunia
Sehingga menjadi baldatun toyyibatun warobbun al-ghofur
Begitu pun selanjutnya kok kita terasa bergerak begitu ringan atas segala perbuatan yang merubah sesama ke arah yang lebih positif
Dan lisan kita ketika berdoa pun semuanya secara tiba tiba / spontan saja
Dan semua doa terealisasi
Di situlah letak pengaturan Alloh

Nah selanjutnya bagaimana agar kita semua dapat mencapai posisi itu?
Posisi yang segala sesuatunya digerakkan oleh Alloh
Posisi dimana Diri kita menjadi wadah tajalliNya Alloh, bukan tajallinya nafsu , was was , syaiton dan iblis

Yang pertama dan pasti adalah anda / kita musti sering sering berada dalam kondisi hening, sunyi, diam, kosong
Hening dari prasangka, sunyi dari pemikiran, diam dari berbagai gagasan, kosong atas keinginan.
Ini dapat kita latih (riyadhohi) melalui Dzikir Nafas Tahap Satu.

Seba'da itu sandarkan dan sadarkan diri anda hanya kepada Alloh dengan melatih dalam setiap masuk dan keluarnya nafas dibarengi dengan dzikir Huu Alloh.

Hal ini bermanfaat untuk mengabaikan ego nafsu kita
Dan mengembalikan seluruh eksisitensi diri kita kepada Alloh.
Selanjutnya latih untuk jumeneng
Yaitu tegap lurus ke Alloh
Suluk / berjalan kehadiratulloh
Ini dapat anda latih secara kontinyu dengan dzikir nafas tahap 3.

Selanjutnya terserah Alloh hendak mentajallikan DiriNya , af'alNya seperti apa dalam diri kita

Kita tak perlu takut untuk berjalan kehadiratnya
Penguasaan ilmu dan amalan bukanlah tolok ukur utamanya untuk mencapai maqom fana fillah tersebut
Tolok ukur utamanya adalah kebulatan tekad kita untuk melebur dalam kuasa Alloh
Dengan membersihkan seluruh bentuk ego diri kita
Semoga hal ini bermanfaat untuk kita semua
Yang merindukan Alloh

Rabu, 17 Agustus 2016

Menegakkan Syari'at

What the meaning of syariat?
hihihi gaya ...... bahasa linggis ....
Rosululloh s.a.w pernah bersabda, "kutinggalkan dua perkara kepada kalian yang apabila kalian berpegang padanya, kalian akan selamat ditengah kerusakan umat. dua perkara itu adalah al-qur'an dan sunnahku"
intinya demikian itu, untuk redaksi jelas kalimatnya silahkan search saja di kumpulan hadist shahih virtual.
next.... dua perkara tersebut adalah al-qur'an dan as-sunnah.
Al-qur'an,,, bukan tafsir al-qur'an....
dan as-sunnah,,, bukan riwayat sunnah.
dua paket itulah yang disebut sebagai syariat. atau singkat kata syariat adalah pemadatan partikel wahyu atau pematerialan kalam wahyu ilahiah. al-qur'an sebagaimana yang kita kenal dan tampak layaknya untaian kata, itu adalah pemadatan spiritual. bentuk materi dari kabar ruhaniah.
sejatinya al-qur'an kan bukan itu (yang berupa untaian kata). sejatinya al-qur'an adalah apa yang tertanam di dalam fitrah setiap partikel alam semesta termasuk diri kita. nah wujud daripada sunnah adalah gerak laku daripada ketaatan kita atas perintah ilahi di dalam diri kita.
kalau anda sempat mempelajari kisah nabi s.a.w yang dikatakan sebagai al-qur'an yang berjalan, dan anda mempelajari riwayat sunnah nabawi. tentu anda akan mendapati bahwa tidak satu celahpun dari sunnah itu yang menyelisihi al-qur'an. yang seperti itu sudah barang pasti karena sunnah dan al-qur'an itu satu paket.
al-qur'an itu perintah Alloh, assunnah itu amaliahnya.
kalau kita menemukan secarik perintah Alloh di dalam bathin kita, itulah al-qur'an. dan apabila kita menjalankan perintah tersebut, itulah yang disebut dengan sunnah.
kalau tidak percaya, coba samakan antara perintah itu dengan Al-Qur'an yang tertulis dan assunnah, sudah pasti selaras.
lho kok gitu? bagaimana bisa mengenali perintah Alloh di dalam diri? lantas kalau sudah demikian apa gunanya al-qur'an yang tertulis itu?
al-qur'an yang tertulis itu adalah ibarat penyelaras pikiran. seringkali pikiran itu memang tidak percaya / ragu akan ilham iliahiah yang ditangkap oleh jiwa. al-qur'an yang tertuils itu yang akan membuktikan kebenarannya. lain waktu semoga diberi izin oleh Alloh untuk ngobrol tentang hal tersebut.
sedangkan cara mengenali perintah Alloh tentu saja dengan sering berlatih. yakni berlatih untuk mengenali perintah dari hal - hal yang paling sederhana. contohnya perintah Alloh atas nafas kita, perintah Alloh atas segala gerak tubuh kita dlsb.

kembali pada penegakan syariat.

setelah kita tahu bahwa syariat adalah dua paket tersebut diatas (al-qur'an dan as-sunnah), maka selanjutnya insyaAlloh kita paham bagaimana tentang istilah menegakkan syariat itu.
sesuatu itu akan tegak apabila ada penopang yang kuat dari dalam.
tubuh kita bisa tegak, karena ada tulang keras yang menopang dari dalam tubuh kita.
bendera (umbul - umbul) itu bisa tegak menjulang karena ada tiang penyangganya.
demikian juga syariat, dia akan otomatis tegak tatkala ada yang menopangnya
apa itu yang menopangnya? tentu saja ruhaniahnya al-qur'an tersbut. anda tidak akan pernah menemukan ruhaniahnya al-qur'an tanpa anda menyadari peranan Alloh atas diri anda dan alam semesta. sadar akan peranan Alloh atas diri kita dan alam semesta inilah yang ramai disebut - sebut sebagai makrifatulloh.
Maka sudah sangat jelas bukan ketika nabi yang mulia s.a.w mengabarkan, "awwaludin makrifatulloh".
kunci dari tegaknya segala sesuatu adalah inti daripada sesuatu itu sendiri. sebuah spirit yang menyebabkannya tegak.
hasrat; daya yang beberapa hari sempat kita singgung.
oke,,,, semoga kita semua diberi paham oleh Alloh,,, tulisan iini cukup panjang dan waktu terus bergulir... (harus segera mergawe) menjalankan sunnahNya...
alfatihah ....... 

Kemerdekaan Sebagai Membran Semesta



kalau anda berpuasa, anda pasti merasakan kemerdekaan itu tatkala adzan maghrib sudah mulai berkumandang

kalau anda bekerja dalam sistem piket bergilir, tentu anda akan merasakan kemerdekaan itu ketika jam piket anda telah habis.

kalau anda bekerja dalam target - target tertentu, tentu kemerdekaan itu adalah ketika setiap target pekerjaan anda sudah terpenuhi.


sekarang apa batas kemerdekaan kita?




merdeka adalah sebuah membran semesta, lapisan halus yang berdesir membatasi materi dan inti dari materi itu sendiri.



anda mengenal diri anda? tentu anda mendapati batas - batas tersebut. batas yang menyekat halus jasad anda dan ruh yang menghidupi diri anda

sekali lagi, apa sebenarnya kemerdekaan kita?


Alloh, Sang Pencipta Alam semesta sudah berkali kali hampir di setiap zaman menunjukkan perjuangan untuk merdeka.

di zaman Putra putri nabi adam a.s, perjuangan kemerdekaan itu ada pada habil dan qobil. (saya rasa masing masing kita sudah mengetahui kisahnya)

zaman nabi musa, nabi isa, rosululloh muhammad, syaikh jalaludin rumi, ibnu rusyd, imam ghozali, syekh mansur al-hallaj, wali songo di tanah jawa, majapahit, hingga hut RI yang sedang semarak kita peringati.

berhenti kah proses perjuangan? tidak???

itu semua adalah visualisasi perjuangan dalam ranah materi.


ada perjuangan yang lebih besar lagi, yakni perjuangan di ranah lintas dimensi. dari dimensi materi beranjak ke dimensi bathin, ini juga butuh perjuangan. dari dimensi bathin menuju dimensi ruh, ini juga perjuangan. dari dimensi ruh ke dimensi ilahiah. ini juga butuh perjuangan.


dan yang namanya berjuang pasti memiliki seni peperangannya masing masing. butuh taktik yang lihai untuk mensiasati agar kemerdekaan itu dapat benar - benar kita raih. ups,, maaf bahasanya jangan kita raih, kita temukan saja.

karena selama kita meraih, kita justru tidak akan pernah merasakan merdeka.

merdeka itu juga merupakan momen pelepasan dari suatu kondisi ke kondisi yang lain.

yaaa kita fahamlah yang ini. karena ini sudah pasti otomatis demikian.


nah kembali lagi, seni peperangan yang diperlukan untuk berjuang lintas dimensi tentunya adalah pribadi kita masing masing yang perlu menatanya. sahabat bisa menjadi teman sharing, namun dalam realitas perjuangannya, diri kita masing - masing yang berperan.


asyiknya, banyak yang gugur di perjuangan lintas dimensi ini hanya dikarenakan ia terlalu mensiasati peperangannya sendiri. ia mengira melawan musuhnya, justru ia berserikat dengan musuh. ia dagelan namanya.


dalam perjuangan ini, justru yang dibutuhkan hanyalah pengabaian pengabaian. siasat yang dibutuhkan justru siasat untuk menjaga kesadaran akan kemenangan puncak yang sejati.

apa itu? tentu saja "inna lillahi wa inna ilaihi rojiun" capaian pada dimensi ilahiah.


orang yang sudah berada di pemakaman, itu juga masih berjuang kalau selama hidup di dunianya ia tidak inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. tidak kembali pada dimensi ilahiahNya yang merupakan sumber asal muasal dan tujuan akhir perjalanan dan perjuangan setiap manusia.


sekarang mari kita pandang diri kita masing - masing, mengheningkan cipta. sudahkah kita berada dalam dimensi ilahiah atau setidaknya kita menemukan secercah titik terang yang melegakan dan memperluas hati kita. sudahkah kita menemukan sumber dan tujuan akhir perjuangan kita.

karena itulah yang sejatinya pantas disebut sebagai cita - cita luhur. kalau anda sudah menemukan, perjuangkan untuk tidak anda lepaskan.


"weruh menet rin tutur tanpo balik lupa" -slogan kecil yang saya tempelkan pada logo Dzikir Nafas Jatim untuk sahabat - sahabat dan sedulur - sedulur seperjuangan dalam menemukan titik terang itu- tetap berpegang pada kesadaran akan asal muasal dan tujuan akhir. semoga kita dimerdekakan Oleh Sang Maha Merdeka.


salam ..... salam ..... salam ......




Jumat, 12 Agustus 2016

antara ILAH dan ROBB

افضل ذكر فعلم انه لا اله الا الله 
seutama utamanya dzikir, ketahuilah bahwa ia adalah Laa Ilaha Illa Alloh (tiada sesembahan kecuali Alloh)

mengapa Alloh menggunakan redaksinya dengan lafadz ilaha (اله) bukan Robbun (رب) ???

ketika manusia berdzikir, hendaknya bukan hanya berdzikir secara lisan saja
melainkan akal dan hati juga turut berdzikir
dan yang paling penting dan paling inti adalah bahwasannya kesadaran juga musti dzikir
yakni dengan menyadari kehadiran Alloh dibalik segala sesuatu yang tampak materi
dzat yang maha tak tergambarkan (laitsa kamitslihi syai'un)

dengan menyadari akan kebersamaan kita dengan Alloh dalam segala hal
itulah sejatinya yang disebut dengan dzikir
Laa Ilaha Illa Alloh adalah kesadaran mengenai ketiadaan segala sesuatu hal pun yang luput dari af'al Alloh (perbuatan Alloh)
tak ada satu hal pun yang terlepas dari shibghotalloh (celupan / campur tangan Alloh)

ilaha (اله) adalah sebuah perjalanan spiritual yang lurus hanya menuju kepada Alloh
- Alif, merupakan sebuah simbolisasi peta (panduan) dari Al-Haqq untuk membawa masuk setiap hamba - hambaNya pada jalan yang lurus. Hendaknya bagi setiap pejalan spiritual (salik) teguh pada satu tujuan lurus yang mengantarkannya pada jalan lurus menuju Allohul-Haqq
keteguhan untuk tetap berada pada tujuan yang satu -Alloh- itulah yang akan memposisikan kita pada satu jalan lurus. jalan yang penuh cahaya dan petunjuk (shirotol-mustaqim)

-Lam, merupakan simbolisasi untuk mengingatkan kita agar kita senantiasa bergantung hanya kepada Alloh. Dzat Yang Maha Membimbing dan Memberi Petunjuk kepada siapapun yang dikehendakiNya.
pada intinya mengajak kita untuk tetap beristiqomah pada satu tujuan dan satu jalan. senantiasa bersama Alloh dalam segala hal. hingga kita benar - benar sampai pada kondisi mati (inna lillahi wa inna ilaihi roji'un)

-Ha, ujung dari perjalanan adalah kematian, keberserahan / islam. penyaksian secara mendalam dan nyata (Haqq) mengenai makna dari lafadz Laa-Haula-Walaa-quwwata-illa-billah. Ha' adalah simbolik dari kondisi fana fillah, zero, fitrah diri manusia.

maka sesungguhnya dzikir laa-ilaha-illa-Alloh adalah merupakan perjalanan lurus nan suci. tidak tercampur niat apapun selain menuju kehadiratNya. yang kan mengantarkan diri tiap - tiap hamba untuk kembali mencapai titik fitrah dirinya.

manusia, seorang hamba yang sampai pada titik fitrah dirinya tentu akan sampai pula pada kondisi Aslim (islam). yang merupakan bentuk penyerahan diri secara totalitas kehadirat Alloh s.w.t.
قال اسلمت لرب العالمين

mengapa tidak menggunakan kata 'Robbun' saja??
Robbun adalah bentuk penguasaan Alloh akan segala sesuatu
manusia tidak dapat meloncat langsung pada dimensi Robbun
tanpa ia berjalan lurus dan istiqomah hingga ia sampai pada keadaan fana fillah
sebagaimana dijelaskan pada litelatur perjalanan lafadz ilaha di atas

manusia yang perah berada dalam titik ha', titik fana; titik islam
barulah ia dapat menikmati dimensi robbun

yang dimaksud penguasaan Alloh atas segala sesuatu adalah bahwa dimensi Robb adalah wilayah pengejahwantahan Alloh
hanya dengan berjalan lurus dan istiqomah
hanya bersandar pada Alloh lah seorang hamba akan benar - benar dapat menyaksikan dimensi Robbun ini
dimensi dimana tampak secara nyata Alloh mengatur segala partikel yang ada segenap ufuk alam semesta
sebagaimana firmanNya dalam al-qur'an yang maknanya, "tidaklah satu zarroh pun di alam semesta ini melainkan bergerak karena izin Alloh ta'ala"

sedangkan mengenai firman Alloh di dalam surah An-Nass yang juga merupakan petunjuk jalan kembali
adalah bahwa Robb adalah zat yang menyelimuti / mengejahwantah dalam segala sesuatu benda yang tampak materiil

قل اعوذ برب الناس
Robbin-Nass adalah eksistensi yang paling mutlak di balik segala bentuk keberadan
segala bentuk yang tampak seolah ada / hidup
eksistensi yang menguasai dan mengatur segala sesuatu
ملك الناس
Malikin-Nass adalah bentuk pemerintahan Alloh atas segala sesuatu
Dia (Alloh) yang setelah mengejahwantahkan DiriNya
dia kemudian menggerakkan seluruh partikel / zarroh yang adal di alam semesta
اله الناس
ialah dimensi suci sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya
dengan kata lain, "Robb" adalah menunjukkan tempat materi
"Malik" menunjukkan adanya hakikat jiwa
"Ilah" menunjukkan hakikat tertinggi yang terpancar dan terpaut dengan eksistensiNya

kembali pada makna terdalam dari Dzikir Laa-Ilaha-Illa-Alloh
adalah pencapaian manusia / hamba pada dimensi tertinggi
kesadaran tertinggi
yakni kesadaran ilahiah yang sering kita sebut dengan istilah supra sadar
dimana kita selalu menyadari betul akan kebersamaan dan kesinambungan kita dengan Alloh

Kamis, 04 Agustus 2016

Romantika Sunyi

"kalau anda sudah mengenal diri anda di dalam sepi, kalau anda sudah tegap berdiri di dalam sunyi, apakah anda akan berasyik masyuk disana selamanya?"
teriak lantang dari samudra langit.

aku terdiam, kemudian berujar dengan lirih dan penuh tanya, "lantas apakah yg harus kuperbuat? apakah harus kutinggalkan wilayah sunyimu ini?"

"tidakkah kau lihat diluar sana?"

"wahai kekasih, bukankah itu kuasamu?"
 "lantas untuk apa dikau berada diantara mereka?"

"kekasih......" tubuhku bergetar menahan degupan dada yg hampir tak tertahan... "apalah dayaku menggerakkan mereka, bukankah daku pun engkau yg menggerakkan?"

seruan itupun membalas dg penuh kasih.... "sayang... bukankah engkau dapat memohon kepadaku? bukankah aku sudah pasti akan mengabulkan apapun yg engkau minta? Akulah yg merubah mereka, tapi apakah engkau tak ada pedulinya sama sekali terhadap bagian dari dirimu sendiri itu? kemanakah pandanganmu wahai kekasih??"

"wahai sang penguasa,,," tangiskupun mulai meledak tak terbendung, "pandanganku silau akan cahayaMu, hampir saja tak kulihat apapun selain diriMu,..."

"kekasih..... engkau maha tak tergambarkan dan dapat ditebak, semua terserah engkau, maka apapun titahmu kan ku emban." tambahku

wilayah itu semakin hening, sementara tangisku kian menjadi namun semakin lembut...
"wahai kekasih, bukalah mataku didalam cahayaMu, tuntunlah daku sesuai kehendakMu, kalau harus berjalan di dunia, maka jalankan daku seiring kehendakmu, kalau daku kau letakkan di antara mereka yg masih dalam kegelapan, maka bukakala, limpahkanlah cahaya bagi siapapun yg berada di sekitarku."
masih tetap hening...

Minggu, 13 Maret 2016

Gerhana; Ketidak Tepatan Posisi Akal Dalam Diri Manusia

Bukanlah atas ego dan gerak pikir yg kemudian dilaksakan oleh anggota badan yang disebut ikhtiar itu
Bukan atas keinginan dan khayalan lantaskan kita bergegas beranjak bergerak yang dinamakan ikhtiar itu

Mungkin kita terlampau sering tercebur dalam buramnya makna
Ikhtiar diterjemahkan sebagai kepatuhan gerak badan atas perintah pikiran
Bukan sesuatu hal yang salah jika karena memang seringkali kita menterjemahkan ikhtiar sebagai kepatuhan atas angan dan gerak pikiran

Namun sangat perlu kita sadari bahwa ada dimensi mendasar yang terkurung wilayah pikiran.
Tatkala pikiran mendominasi tingkah laku
Tatkala angan dan khayalan mengiming imingi badan untuk bergerak,
Tatkala itu kesejatian gerak manusia terhalangi

Manusia tak terhubung lagi dengan kemurnian
Manusia terhijab dari kesejatian
Dikatakan bahwa bayi yang baru lahir adalah dalam kondisi fitrah (murni)
Karena kala itu si bayi tak terbendung pikir dan angan
Sangat benar apa yang disampaikan para arif billah tentang ajakan untuk kembali menjadi bayi
Dimana kita tidak mengedepankan ego pikir dan angan untuk menggerakkan badan
Namun berdasar kemurnian fitrah manusia

Menjadi bayi lagi itulah yang dikatakan sebagai kosong.
Pikiran berada di bawah kendali kesadaran murni
Bukan pikiran menghalau kesadaran murni
Ini namanya gerhana jika pikiran yang semestinya memantulkan cahaya murni justru menghalaunya

Manik kilau pikir dan akal semestinya adalah bagai rembulan,
Yang memantulkan cahaya ilahiah, cahaya kemurnian manusia

Proses pengembalian diri atas fitrah / kemurnian inilah yang dikatakan sebagai jihadun nafs oleh baginda yang mulia muhammad s.a.w
Proses penaklukan diri / nafs agar kembali berada pada tempatnya
Laksana rembulan lagi.

Nafs muncul dan tumbuh seiring pikiran; akal berkembang.
Ulil albaab / orang orang yang berakal yang sering disebut sebut dalam firman suci, adalah pengusikan oleh Sang Robb semesta alam untuk menyadarkan lagi posisi nafs manusia yang semestinya
Nafs semestinya tunduk akan aturan ilahiah, bukan justru mengakali
Secara lahirian gerak nafs yg mewujud dalam gerak anggota badan diwajibkan patuh akan undang undang wahyu (syariat)
Secara hakiki, gerak nafs wajib patuh akan sabda ghoib dari Yang Maha Bathin.

Suatu ketika baginda yang mulia muhammad s.a.w mengabarkan bahwa Awal mula beragama adalah mengenal Alloh
Adalah suatu ketukan kesadaran manusia mengenai kepada siapa hendaknya diri kita mengabdi
Atau mengikuti kehendak siapa kita harus patuh
Manusia yang menyadari tentang posisi dirinya dan robbnya, semestinya mulai menempatkan diri pada tempat yang tepat.

Sabtu, 13 Februari 2016

Imam Mahdi dan Nabi Khidhir

Kita tidak benar benar tahu adanya masa lalu apalagi masa depan
Masa lalu sangat bisa terjadi secara lahiriah,
Masa depan pun juga sangat bisa akan terjadi sebagaimana yg telah dikabarkan oleh orang orang terdahulu yg telah diberikan kabar ghoib.

Kita yg berada di sini, di saat ini, bukan di masa lalu maupun dari masa depan
Di tengah banyak keterbatasan pandangan kita
Kita masih dapat menyerap nilai nilai yg terkandung di balik segala kejadian lahiriah
Sebagaimana yg telah terjadi dan akan terjadi

Imam mahdi yg dikabarkan akan datang kelak di akhir zaman
Adalah sesosok manusia yg akan mengembalikan kedamaian di muka bumi
Akan kembali meluruskan perjalanan manusia
Membawa rahmat kesejahteraan di dunia

Nabi khidhir, digambarkan sebagai seorang nabi yg akan terus hidup hingga akhir zaman
Berperan sebagai guru pengetahuan secara terus menerus kepada hamba hamba yg benar benar dipilih Sang Maha Penguasa Jagad, Alloh s.w.t
Untuk menjadi pemimpin bagi suatu kaum
Beliau adalah guru yg tergambar sangat mistical.
Sangat ghoib, tiba tiba muncul dan hilang begitu saja.

Demikian kisah yg turun temurun kita terima.

===============

Nabi khidhir dan Imam Mahdi sebagai kandungan nilai nilai.

#Nabi Khidhir

An-nabiy adalah jabatan khusus seorang hamba yg ditugaskan untuk mengemban amanah Alloh. Gelar nabi dilekatkan pada hamba hamba Alloh yg dipilihNya untuk mencapai tingkatan pemahaman dan pengalaman spiritual yg tinggi dan suci.

Khidhir, bermakna sebuah kehadiran.
Digambarkan sebagai guru spiritual nabi musa a.s juga para waliyulloh.
Menyimpan nilai, pesan moral kepada kita untuk selalu menghadirkan diri kita secara utuh dalam segala kondisi.

Kehadiran diri secara utuh adalah sikap kesadaran secara penuh
Kesadaran jiwa, kesadaran jasad, kesadaran suksma / ruh.

Manusia yg kesadarannya benar telah utuh, akan dapat menyerap nilai nilai ilahiah yang kemudian akan tersalurkan dalam tingkah perbuatan.
Hal itulah yg secara fitrah diletakkan Alloh melalui ide penggambaran sosok nabi khidhir sebagai guru spiritual para wali juga nabi musa a.s

#Imam Mahdi

Masih bertautan,, Imam Mahdi juga menyimpan sebuah nilai / pesan moral ilahiah dari Alloh kepada seluruh manusia
Imam mahdi yg dikabarkan oleh baginda nabi yang mulia Muhammad s.a.w sebagai pemandu manusia akhir zaman untuk kembali ke fitrah dan jalan yg lurus
Juga akan menebarkan kesejahteraan dan keadilan di muka bumi
Memiliki pesan dalam yang semestinya diserap betul oleh setiap insan

Keadilan, kesejahteraan, akan benar benar didapati oleh mereka yg mengikuti Imam Mahdi
Imam adalah pemandu
Mahdi adalah sosok memiliki petunjuk

Satu satunya sosok yg benar benar mutlak memberi petunjuk (huda) adalah Alloh s.w.t
Orang yg mendapatkan petunjuk inilah yg disebut Mahdi (sosok / subjek)

==/=====

Hal ini kiranya sambung menyambung dengan nilai Khidhir, kehadiran penuh seluruh lapisan kesadaran manusia.

Manusia yg telah melakukan latihan latihan (riyadhoh) untuk menyatukan lapisan lapisan kesadaran dalam dirinya, maka ia akan dapat menangkap dan mengenali petunjuk (huda) dari Alloh (minimal) untuk dirinya sendiri. jika demikian, dialah mahdi, atau dapat dikatakan ia orang yg mendapat petunjuk.

Selama ia mengikuti petunjuk petunjuk dari Alloh tersebut, ia akan senantiasa dalam limpahan kesejahteraan, kedamaian, keadilan dlsb.
Rahmad benar benar terhampar baginya.

Semua diantara kita sangat berkesempatan mendapat petunjuk itu.
Dan memang kita harus mengenali dan memahami petunjuk dari Alloh s.w.t

Kuncinya ada pada kesadaran yg senantiasa hadir (khidir)
Petunjuk yg di dapat dari "khidhir" (dengan tanda kutip) tersebut mustilah diikuti
Itulah yg dikatakan mengikuti imam mahdi.

------
Mengenai imam mahdi yg datang di akhir zaman
Dimana akhir zaman dikatakan sebagai huru hara luar biasa
Saya kira mengenai apa yg dikatakan sebagai hari akhir (yaumid diin) telah dibahas di halaman sebelumnya
--------

Wallohu'alam bish-showab

Senin, 08 Februari 2016

Bab Doa

Pengetahuan, Pemahaman, Kesadaran..... tetaplah bertingkat
Pertama, dalam tingkatan terendah,
Orang orang yg berdoa, seperti bermain tebak tebakan
Tergantung keberuntungan
Seolah olah doa mereka terkadang diijabah, terkadang juga ditolak
Ada waktu mereka mengira doanya terkabul, namun ternyata tidak.
Jadi mereka hanya mengira-ira
Kalau terkabul ada yg mengira itu bentuk kebaikan tuhannya
Juga terkadang mengatakan bahwa itu karena keseringannya berdoa.

Dan jika doanya tidak terkabul,
Mereka mengira apa yg sedang diterimanya sekarang adalah bentuk ujian.
Atau tuhan sedang merencanakan yg lain.
Mereka hanya bisa mengira saja.

Hal semacam ini disebabkan masih adanya kabut penghalang di dalam basyiroh (mata hati) nya.
Mereka hanya bisa meraba raba
Dengan menggunakan tongkat khusnudhon
agar tidak semakin celaka jika haru ber-suudhon kepada tuhannya
Tingkatan ini paling banyak penghuninya
Bahkan hampir rata rata manusia menghuninya.

Pada tingkatan kedua terdapat pemahaman dari orang orang yg sedang memasuki wilayah hampir / seolah fana fil-aqli.
Ia atau mereka yakin betul bahwa semua ini sudah tertata rapi
Ia berdoa ataupun tidak, semua tetaplah akan terjadi
Karena akal mereka telah mencerna bahwa jauh jauh hari sebelum terlahir
Pola kehidupannya sudah tercatat dan terencana rapi
Serta sudah tertata, tak dapat digoyang lagi

Sekalipun ada kabar yg menyatakan bahwa takdir itu bisa dirubah dengan doa
Tetap saja ia menyatakan tidak mungkin
Karena di dalam benaknya, ia telah meyakini bahwa berdoa pun sesungguhnya adalah rancanganNya
Atau sudah tertulis di dalam kitab induk (lauhul mahfudz)
Bahwa saat itu ia memang harus berdoa

Jadi orang orang semacam ini sedang mengalami peleburan egoisitasnya
Egonya hampir hilang
Maka ia menyadari yg demikian itu
Seolah olah dia merasa bahwa tiap gerak geriknya adalah sudah ditetapkanNya.
Bahkan jika dijebloskan ke dalam kubangan kotoran pun dia bersedia
Tanpa minta untuk dikeluarkan dari sana.

Golongan ini seolah telah pasif
Namun tetap bergerak sesuai kehendakNya.
Pasifnya mereka adalah tidak punya keinginan
Gerakan mereka adalah mereka terjemahkan sebagai ketetapan induk
Di zaman ini mulai bertebaran golongan yg mengalami pemahaman kesadaran ini.

Sedangkan pada tingkatan selanjutnya,
Tingkat kepahaman ketiga
Orang orang mulai terlepas dari pemahaman kedua
Biasanya mereka telah melewati dua pemahaman sebelumnya.
Kabut yg menyelimuti basyirohnya telah tersibak
Ia dapat menatap dengan kebenaran
Dan ia pun tidak lagi terlebur,
Tapi sudah maujud adam-ahad
Satu bentuk kesadaran yg tetap satu bulat tak terpecah
Namun merangkul seluruh jagat semesta.
Ia adalah pribadi unggul yg bijak

Bagi mereka dalam hal berdoa,
Itu bukan lagi semacam kira kira,
Ataupun ketetapan masa lampau
Berdoa bagi mereka adalah komunikasi antara dia dan Khaliqnya.
Bisa jadi terjadi tawar menawar di sana.
Doanya pasti direspon atau ditanggapi oleh alam semesta selaku eksekutor sunnatulloh
Sesuai persetujuan Alloh s.w.t

Orang orang ini dapat menangkap apa yg ia mintakan itu baik baginya ataukah buruk
Semua tampak jelas
Namun pilihan tetap ada pada pribadinya
Alloh telah mengabarkan apa apa yg jarang dimengerti orang pada umumnya terhadap orang orang tersebut.
Wilayah ini masih merupakan wilayah eksklusif
Bahkan sampai hari ini
Kebanyakan para pemburu kebenaran hanya berhenti pada pemahaman kedua
Ia yg berada di wilayah ini tidak lagi menatap dengan sebelah mata
Namun dengan dua matanya
Sehingga jadilah ia manusia bijak
Manusia terpilih untuk mengemban khalifatulloh.

Wallohu'alam
"ادعوني أستجب لكم، والشكرلي ولا تكفرون"

Dzikir - Ingat - Sadar

Kesadaran itu sebagaimana Diri, terbagi dalam 3 wilayah.
- Kesadaran Jasad
- Kesadaran Jiwa
- Kesadaran Ruh

Ingat itu mengikuti kesadaran,
Pola hadirnya ingatan itu adalah datang sesudah sadar.
Contoh, ketika kita menyadari bahwa kita sedang makan, maka kemudian hal itu akan terekam dalam memori otak, yg kemudian akan memunculkan ingatan. Suatu saat dapat kita munculkan kembali.

Sedangkan sadar, hadirnya adalah saat ini, kini,
Bukan kemarin apalagi esok.
Sadar tidak untuk menjangkau masa lalu,
Masa lalu akan terekam dalam ingatan
Sadar sifatnya mengamati yg sedang terjadi, lalu direkam oleh otak dan disimpan dalam ingatan.
Sadar pun tidak untuk menjangkau masa depan.
Masa depan wujudnya semacam khayalan.
Namun ini dalam lingkup jasad.

Kesadaran jasad, adalah kesadaran yg menangkap tingkah laku atau tangkapan tangkapan dari panca indra.
Kesadaran semacam ini berlaku untuk menyadari kegiatan materiil saja.

Dalam tingkatan berikutnya adalah kesadaran jiwa.
Dimana kesadaran ini dapat menangkap segala sesuatu diluar maupun di dalam jasad.
Kesadaran ini wilayahnya lebih luas dibanding kesadaran jasad.
Apa yg ditangkapnya kelak akan dikabarkan ke dalam pikiran
Kemudian pikiran kembali akan merekamnya.

Contoh kesadaran ini adalah menyadari bahwa di bumi ini bukan hanya eksistensi materiil saja yang ada.
Melainkan eksistensi ghoib pun juga ada.
Ia dapat menyadari kehadiran eksistensi ghoib. Kegiatan kegiatan lintas dimensi / tempat / waktu.

Jiwa ini hubungannya adalah dengan alam semesta yg terbentang luas dan ada lebih dulu daripada wadag kasar manusia
Maka kesadaran jiwa juga dapat merangkul apa apa yg terbentang di alam semesta.
Ia juga dapat merangkul waktu lampau maupun masa yang akan datang.
Ia kemudian mengabarkan pada akal / pikiran untuk dapat merekamnya dan dapat dikabarkan pada manusia lain.

Dzikir yang diterjemahkan sebagai ingatan itu adalah dzikir (ingatan) yg diterima otak dari hati (qolbu)

Dzikir yg diterjemahkan sebagai kesadaran itu adalah Dzikir (sadar) yang telah diterima hari dari pancaran Nur Alloh.

Selanjutnya adalah kesadaran Ruh.
Yakni kesadaran yg cakupannya melebihi alam semesta
Ia ada dalam wilayah ilahiah
Karena ruh lah yg berhubungan langsung dengan Robbaniyah
Ia dapat menyadari Eksistensi Tuhannya

Jika dalam kesadaran jiwa ia dapat mengetahui Tuhannya melalui esensi alam semesta
Dan dalam kesadaran jasad ia dapat mengenal tuhannya melalui perantara panca indra
Maka dalam kesadaran Ruh, ia dapat mengenali Tuhannya karena Tuhannya

Disinilah yang sering dikatakan sebagai, "Man 'arofa nafsahu faqod 'arofa robbahu"
Juga yg dikatakan oleh para arif billah dengan perkataan, "'aroftu robbiy bi robbiy"

Sabtu, 06 Februari 2016

Tempat Kembali

Kemana arah perginya nafas ketika kelak kita telah tiada (mati)?
Sama halnya dengan akan kemana perginya jasad kita nanti...

Kalau jasad kita sudah mengetahui akan kemana ia perginya.
Tentu ia akan berpulang ke asalnya, Tanah.
Sedangkan nafas kita yg terbentuk dari udara, maka ia pun juga akan kembali menjadi udara
Ia akan menyatu dengan semesta
Melingkupi segala unsur yg tersimpan di dalamnya

Nafas hanyalah sebuah media pengikat antara jasad dan ruh
Sedangkan di antara keduanya itu ada jiwa
Yg membentuk apa yg kita sebut sebagai kesadaran
Ia dapat melihat dan mendengar, bahkan mengikuti jasad maupun ruh

Kita dapat mengamati apapun dengannya
Ia biasa kita kita sebut dengan Qolbu; Hati
Namun bukan hati secara penterjemahan linier sebagai sebongkah daging
Atau ada juga yg menyebutnya sebagai Akal.
Akal ini yg sering disebut dalam al-Qur'an sebagai sebutan Ulil Albab, Ulinnuha, dsb.

Qolbu dan akal itu bukan suatu entitas yg mewujud materi
Ia dikatakan ada, namun tak nampak kasat mata
Ia merupakan sisi ghaib diri manusia
Ia tak terbendung, tak terbatas

Selama ia melesat, lepas dari jasad,
Jadilah ia eksistensi yg lebih besar dan luas dari alam semesta

Ketika nafas terlebur menjadi bagian dari semesta,
Hendaknya jiwa tidak berhenti bersama nafas
Hendaknya ia terus melanjutkan perjalanannya menuju bahkan melampaui batas batas (langit - langit) pada semesta semesta berikutnya

Semesta ini berlapis lapis
Jin dan manusia berada di dalam dimensi atau semesta yg sama
Tempat yg serendah rendahnya

Berani kita melampaui semesta ini,
Maka kita akan menemukan semesta berikutnya
Letaknya para ruh dan eksistensi lainnya
Perbendaharaan ghoib yg tak mungkin dapat diceritakan
Musti dialami sendiri, dijalani secara pribadi.

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...