Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label perjumpaan agung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjumpaan agung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2016

Menggapai Sholat Daim dengan Dzikir Nafas

Tentang pengetahuan dan penjabaran sholat daim, semua sudah bisa diakses di google
Bahkan hampir seluruh penjabaran keilmuan yang dulu sangat sangat rahasia, kini sudah seolah bukan rahasia lagi
Yang dahulu untuk memperoleh suatu penjabaran keilmuan diperlukan perjalanan pencarian dan petualangan yang harus melintasi berbagai daerah
Kini anda / kita sudah bisa hanya dengan membuka hp atau pc.
Yaa ini memang zaman percepatan
Seluruh ilmu dibuat singkat proses penemuannya oleh Alloh.
Browsing jadi.

Tapi ...........

Inti dari ilmu itu yang tidak bisa kita temukan di google
Saripati ilmu itu tidak bisa kita temui hanya dengan membaca dan menyimpannya dalam memori otak saja
Rasa ; nikmat dari saripati ilmu itu hingga kini masih tersimpan di dalam keheningan dan kesucian
Yang tetap tak akan terjamah meskipun berjuta rujukan ilmiah kita kantongi
Selama kita tidak berjalan dengan suatu metode pejalanan,
Sholat daim mustahil anda rangkul secara haqq
Tanpa kita istiqomah menekuni suatu metode perjalanan,
Mustahil sholat daim itu terwujud

Jalan .... Iya jalan ........
Bukan diam diri tanpa bergerak
Kalau yang diam adalah jasad masih tidak masalah dan memang harus ada suatu waktu dimana jasad harus benar benar diam sediam diamnya
Namun kalau yang vakum adalah jiwanya
Ia diam ditempat tanpa beranjak sedikitpun kehadiratulloh
Itu yang salah

Yang namanya suluk itu adalah suatu proses perjalanan
Nonsen kita koar koar tentang sholat daim kalau jiwa kita sama sekali tidak beranjak mendekat kehadiratulloh
Nonsen kita bicara tentang sholat daim jika yang bergerak adalah pikirannya, bukan jiwanya.

Maka suatu metode semacam dzikir itu diperlukan
Untuk mendiamkan pikiran dan belajar menjalankan jiwa
Jalan ke mana? Bukankah Alloh itu dekat?!
Mengenai hal ini sudah banyak saya tuliskan, lain waktu saja jika Alloh menghendaki, akan kita bahas lagi

Nah salah satu metode yang tetap menjadi andalah dari dulu untuk melatih perjalanan jiwa ini adalah Dzikir Nafas
Dzikir yang memanfaatkan nafas pemberian Alloh untuk kita gunakan sebagai tasbih
Kita iringi setiap tarikan dan hembusan nafas ini dengan dzikir.
Oke .... Selanjutnya anda bisa langsung mempraktikkan dzikir nafas ini, bisa ke sini atau ke sini untuk metodenya

Atau langsung lihat gambar di bawah ini


Rabu, 31 Agustus 2016

Mursyid Sejati

Ing Ngarso Sung Thulodho
Ing Madyo Mangun Karso
Tut Wuri Handayani

saya menyunting pewanti wanti dari Ki Hajar Dewantoro
bukan tanpa sebab
tapi memang karena saya menangkap pelajaran spiritual yang cukup mengena di sana
ketika kita benar - benar berjalan suluk
mengenal diri
sebagaimana yang telah kita pahami bersama
awal mula perjalanan memang dari pengenalan diri
dari mengenal diri itulah lantas kita dapat melangkah ke hadiratNya
kalau jalannya saja tidak dimengerti bagaimana hendak berjalan

Ing Ngarso Sung Tulodho
kita membutuhkan Contoh atau setidaknya pemandu untuk ber-suluk (berjalan) kehadiratNya
siapa yang hendak kita jadikan pemandu itu?
guru? mursyid? oke kalau ini jawaban sementara kita

sekarang tanya coba tanya siapa guru atau mursyid yang harus kita ikuti?
yang berwujud manusia dan biasa memberi wejangan itukah?
ataukah bangsa jin dan malaikat yang sering memberi bisikan - bisikan halus ke dalam diri kita?
kalau jawaban anda adalah salah satu dari itu, berarti anda sama sekali belum menyadari realitas diri anda sendiri
atau kita , pandangan kita masih terhijab oleh penampakan lahiriah semata
lho apakah jin dan malaikat juga dalam wilayah lahiri?
iya, mereka juga sesuatu yang lahir namun dalam dimensi yang sedikit halus

lantas siapa mursyid / guru yang harus kita ikuti?
Dia tidak lain adalah Alloh Al-Mursyid
Alloh Yang Maha Ilmu, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Nyata,
Yang Maha Membimbing, Maha Kasih lagi Maha Memberi Petunjuk

Bentangan Petunjuk dan Tarikan BimbinganNya itu terselip dan memujud di dalam diri manusia
petunjuk dan bimbingan inilah yang dikatakan sirr
tarikan dan dorongan - dorongan dariNya secara langsung untuk untuk mengajak manusia kembali kehadiratNya secara kaffah dan fitrah

Ar-Ruh Al-Amin
tiupan dariNya yang memberi keamanan bagi hamba - hambaNya yang berjalan kepadaNya
maka ya inilah guru yang semestinya kita ikuti
Sang Guru yang sejati ini ada di dalam diri masing - masing manusia
namun wujudnya berupa sirr
rahasia yang tak tergambarkan seperti apa
kaarena ia bagian dari Alloh
maka benar ia benar benar laitsa kamitslihi syai'un
tak ada satupun bahasa dan kata yang dapat menyentuh kebenarannya
istilah sirr inilah yang paling mendekati untuuk mengungkapkannya.

lantas sekarang bagaimana cara mengikutinya
jika kebanyakana kita saja tidak tahu keberadaannya ?
maka perlu anda ketahui, anda tidak akan dapat memenuinya jika anda masih mengandalkan berbagai paradigma yang telah ternanam di dalam benak anda
anda musti benar - benar suci nan fitri
tanpa diikuti prasangka apa pun
lantas sadari keberadaan diri anda sendiri

inilah yang disebut tafakkur itu
proses mengenali diri sendiri
pandang diri kita ini melalui tiupan halus yang merasuk dari lubang hidung kita
sadari dan pandangi terus tiupan tiupan itu
sampai anda menyadari bahwa anda sejatinya tidaklah memiliki kuasa apapun atas nafas anda

dari sinilah pengenalan itu bermula
ternyata diri kita ada 3
ada diri yang mati, ia hanya tampak seolah hidup padahal ia hanya digerak gerakkan saja
dia inilah yang disebut jasad
ada diri yang nampak hidup, yang mengamati dan menyadari tarikan dan hembusan nafas
dia inilah yang disebut jiwa
dan ada diri yang menghidupi jasad, yang menggerakkan keluar masuk nafas
dia inilah yang Sejatinya Hidup
yang kelak akan kita ikuti arah kembalinya
dan kita jadikan mursyid / guru sejati kita

Ing Madyo Mangun Karso
setelah kita tahu siapa yang musti kita ikuti
selanjutnya sekarang kita ikuti dia
setelah anda/kita mengenal tiga diri itu
semestinya kita benar - benar faham siapa yang akan berjalan kembali kepada Alloh dengan mengikuti al-Mursyid itu.

jasad tidak mungkin
karena kita sama - sama tahu bahwa jasad sejatinya adalah benda mati

maka satu - satunya yang musti dikembalikan kepadaNya adalah Jiwa atau Nafs ini
yang perannya adalah mengamati keluar masuk nafas tadi

ing Madyo Mangun Karso ini adalah berarti yang di tengah memperhatikan
atau si Jiwa inilah yang semestinya memiliki (membangun) tekad untuk mau (kerso) kembali kepadaNya
setelah kita tahu jalanNya

yang dimaksud kehendak juga adalah penerjemahan perintah dariNya (selain kembali dalam ranah spiritual)
yang berupa dorongan - dorongan jiwa untuk menggerakkan jasad

Jiwa yang telah berserah kepadaNya
akan menerima pencerahan - pencerahan dan petunjuk hidup
untuk diselesaikan selama ia hidup di dunia ini


Tut Wuri Handayani
yang terakhir ini adalah benar - benar peranan jasad
ia hanya mengikuti kehendak yang telah sampai kepada jiwa
dorongan yang muncul dari jiwa mustinya diikuti oleh jasad ini
bukan membamkang

bagaimana jasad bisa membangkan?
ketika ia lebih mengutamakan logika akal pikir daripada dorongan ilahiah / kehendak jiwa




Minggu, 31 Juli 2016

ZUHUD fid-Dunya ilal-Baqo'

ada banyak sensasi dalam tiap - tiap perjalanan
ada banyak hadiah - hadiah, efek dari sebuah lelaku
suluk adalah perjalanan spiritual pribadi seorang hamba
yang tujuan utamanya harus dan wajib hanya kepada Alloh s.w.t
tentang efek dari lelaku,
setiap manusia boleh menyebutnya dengan apa saja sebutannya

ada yang menyebutnya godaan
ada yang menyebutnya hadiah
ada yang menyebutnya nikmat
dan ada banyak lagi sebutan - sebutannya

yang jelas kita hendaknya bersikap zuhud terhadap apaun yang kita temui dalam laku suluk kita
sampai benar - benar bermuwajjahah dengan Allohu Robbul izzah

zuhud adalah sikap sederhana
biasa - biasa saja menghadapi apapun
zuhud adalah menggenggam
tanpa harus masuk ke dalam hati apa yang digenggamnya

zuhud itu bertingkat - tingkat
pada tingkatan yang paling awal
adalah zuhud terhadap dunia
tatkala seorang salik (pejalan suluk) memulai perjalanannya
yakni perjalanan spiritualnya
ia akan seolah olah dihadapkan pada nikmatnya dunia
banyak hidangan - hidangan duniawi yang terhampar bagi dirinya
hal ini dipersilahkan bagi salik untuk memilih
boleh menolaknya ataupun menerimanya

jika ia menerimanya
ia musti menancapkan rasa syukur di dalam dirinya
tidak memasukkan kecintaan terhadap dunia yang telah digenggamnya kedalam hatinya
ia harus menyadari, siapa yang telah menghamparkan dunia atasnya
siapa yang telah menghidangkannya
Alloh. adalah satu - satunya dzat
yang memiliki akses penuh atas izin kepada siapa Dunia Ia kuasakan

seorang salik harusnya semakin tumbuh cintanya kepada Alloh
tatkala dunia dihamparkan oleh Alloh untuk dirinya
bukan yang sebaliknya
cintanya justru terbelokkan kepada dunia
jika yang terjadi adalah demikian yang terbalik
maka celakalah ia
ia telah terhenti pada nikmat yang sementara

Namun jika si salik menolaknya
ia harus berani berjalan teguh ke Alloh tanpa apa pun
kepasrahan dan ketundukan yang luar biasa
harus ia munculkan dalam dirinya
karena akan semakin banyak tantangan dan godaan yang berbisik kepadanya
mengenai ketakutan ketakutan, was - was, dan lain sebagainya
jika demikian
maka si salik wajib meyakin betul bahwa hanya Alloh lah yang akan mencukupi segala kebutuhannya
dan seandainya pun ia gagal, ia adalah seorang mujahid di jalanNya
inilah yang dijalani para sufi terdahulu
yang juga dijalani oleh para sahabat di zaman nabi s.a.w

mengenai ini, Alloh s.w.t telah berfirman yang menjelaskan bahwa barangsiapa yang memilih dunia,
maka baginya akan diberikan dunia tanpa ada kelebihannya.
dan barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka akan diberikan kepadanya kenikmatan akhirat dan ditambahkan pula nikmat dunia bagi dirinya.
Alloh juga berfirman, jangan lupakan bagianmu di dunia

zuhud pada tingkatan yang selanjutnya adalah zuhud atas surga
setelah seorang salik sedemikian kuatnya berpegang teguh
akan niatnya untuk berjumpa dengan alloh s.w.t
dunia sudah barang pasti akan dicampakkannya
dunia akan ia abaikan sampai pada tingkat berikutnya
wilayah nikmat akhirat yang disebut sebagai surga

di sini semestinya ia juga bersikap zuhud
karena jika ia terpesona akan indahnya surga
ia akan terhenti di sana tanpa menemukan apa yang dulunya ia niati
firman Alloh mengenai penduduk surga yang benar - benar mengharapkan perjumpaan denganNya,
"...kemudian mereka berkata menuntut janji akan perjumpaan dengan alloh,
maka Alloh pun memerintahkan para malaikat untuk menyingkap tabriNya
menampakkan wajahNya kepada para hambaNya yang benar - benar mengharapkan perjumpaan denganNya"

seseorang yang terpesona dengan indahnya surga
akan lalai terhadap pertemuan agung dengan Robbnya

zuhud selanjutnya adalah zuhud dari karomah dan limpahan ilmu
ketika seorang salik dihadapkan pada surga
ia tak bergeming
ia benar - benar zuhud
maka tatkala tabirNya benar - benar telah disingkap
sang salik akan sampai pada cahayaNya
yang menyebabkan ia bersujud
ini yang disampaikan oleh baginda nabi yang mulia s.a.w
"amal yang tanpa ilmu itu sia sia"

cahayaNya adalah ilmu itu
juga karomah, termasuk bagian dari cahaya itu
juga berbagai macam ilmu hikmah
ilmu akan menjelaskan kepadanya tentang Alloh
sifat - sifatNya, af'alNya
namun belum DzatNya secara nyata

seorang salik hendaknya tidak berhenti pada tataran ilmu
tetap berpegang teguh dan kuat niat awalnya
untuk bermuwajjahah dengan Alloh s.w.t
maka tatkala ia telah melewati samudra ilmu
samudra cahayaNya
sampailah ia pada perjumpaan agung dengan robbul 'alamin

Shodaqollohu wallohu 'alam bish-showab

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِÙŠْÙ†َ اِذَا ذُÙƒِرَ اللّٰÙ‡ُ ÙˆَجِÙ„َتْ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبُÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا لصّٰبِرِÙŠْÙ†َ عَÙ„ٰÙ‰ Ù…َاۤ اَصَا بَÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا Ù„ْÙ…ُÙ‚ِÙŠْÙ…ِÙ‰ الصَّÙ„ٰوةِ ۙ ÙˆَÙ…ِÙ…َّا رَزَÙ‚...