Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label Dimensi Ilahiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dimensi Ilahiah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 September 2017

Alloh diluar Alam

Bismillahirrohmaanirrohim........

Tulisan ini sebenarnya untuk mengungkapkan saja apa yang sempat dipertanyakan oleh beberapa sahabat seperjalanan.

Kita telah sama sama belajar berjalan kehadiratulloh secara berjamaah maupun sendiri sendiri
Dikarenakan ini adalah wilayah yang rahasia, yakni hanya pejalan sendiri yang memahami sampai mana perjalananannya.
Maka tentu ada beberapa sahabat yg telah benar benar lepas landas dari ragawinya hingga lepas dari alam semesta
Ada yang justru masih terjebak dalam ranah analogi fikir yang hampir tampak seperti nyata spiritual
Namun ternyata masih berupa khayalan.

Masih berada dalam rongga rongga kosong semesta.

Sahabat..........
Terkait pertanyaan klasik yg terus berulang hingga saat ini
Yakni Di Mana Alloh?
Maka tentu masing masing kita akan menemukan pemahamanny masing masing sesuai kadar perjalanan dirinya
Bagi yang tidak berjalan sama sekali dalam wilayah spiritual, atau tidak tertarik dengan perjalanan suluk,
Tentu pemahaman yang sebatas riwayat 'katanya' bin 'katanya' itu saja sudah cukup.
Yang kelak kemudian selesai dan berhenti pada lahirnya ilmu ma'rifat atau yg familiar dengan istilah ma'rifatulloh bil-'ilmi atau ilmul-yaqin.
Tahu tentang esensi dan keberadaan Alloh berdasar litelatur dan disiplin disiplin ilmu semata.
Tidak salah juga bagi mereka yg mengambil sikap demikian.

Dan telah cukup banyak riwayat yg menjelaskan tentang keAdaan Alloh.
Yang lalu dirumuskan dalam sifat 20, dirumuskan dalam penjabaran ma'rifatul-asma, ma'rifatul-fi'li (af'al), ma'rifatush-shifat, dlsb.
Semua yang telah dijelaskan oleh para ulama sepuh melalui metode metode penyelarasan pikiran semacam itu adalah benar.

Namun bagi sebagian orang pula,
Tentu ada terusik kesadarannya untuk menempuh jalan penyaksian
Sehingga pengetahuannya kepada Alloh tidak sebatas berhenti dalam khazanah katanya bin katanya, ilmul-yaqin semata
Ada sebagian yg tergerak untuk menyaksikan tentang apa yg telah ia peroleh dari pernyataan para ulama
Sehingga sampailah ia pada tataran / maqom / wilayah penyaksian.
Atau yg sering kita kenal dengan 'ainul yaqin.

Sahabat.........
Wilayah ainul yaqin adalah wilayah dimana anda, kita, benar benar menyaksikan realitas yang ada
Bukan lagi berupa analogi pikir
Atau sekedar tebak menebak
Bahkan sekedar menerima pernyataan yg terluap dari para guru dan masyayikh kita.

Terkadang luapan penyaksian seseorang itu benar namun karena keterbatas kosakata yg ada, maka luapan tersebut menjadi 'blur' bagi pendengar yg masih berada dalam tataran ilmul-yaqin
Seperti halnya pernyataan "Alloh ada di luar alam semesta" tentu saja hal ini secara sekilas akan bertentangan dengan pemahaman bahwa Alloh ada di mana mana.

Kejadian seperti ini tidak akan selesai hanya dengan klarifikasi secara tutur tinukar semata.
Hal semacam ini perlu benar benar kita jalani dan bertanya / minta petunjuk langsung kepada Alloh
Sekiranya hal ini benar tentu akan ditunjukkan oleh Alloh realitasNya
Pun sekiranya pernyataan yg mengusik kita itu salah, Alloh akan menunjukkan realitas yang sesungguhNya.

Sebagai contoh, kita kembali ke dalam pembahasan semula, yaitu di Mana SesungguhNya Alloh berada
Maka dengan tegas saya akan mengatakan, "Alloh ada di luar alam semesta ini".

Tentu akan ada yg bertanya, "bagaimana bisa?  Bukankah DIA sendiri menyatakan bahwa DIA lebih dekat dengan urat nadi kita? dan bahkan DIA juga menyatakan bahwa kemanapun kita menghadap, di situ kita dapati wajahNYA."

Sahabat,,,,,,, kiranya perlu kita sadari bersama bahwa apa yg kita saksikan sebagaimana dalam pertanyaan di atas sesungguhnya adalah ilmuNYA, af-alNYA dan ShifatNYA.
DIA ada di luar ruang dan waktu hingga alam semesta.
Kalau kita melihat cahaya, realitas yg kemana mana kita lihat adalah sinarnya.
Pancarannya. Cahayanya.
Sejatinya partikel partikel cahaya itu jika kita amati lebih jauh, ia tidak berada pada apa yg semula kita kira sebagai cahaya.

Kalau kita bicara tentang di mana Alloh berada.
Setidaknya ada satu firmanNya yg secara global telah memberikan permisalan keberadaanNya.
Yakni di dalam al-Qur'an Surah an-nur ayat 35
Di situlah permisalan yg paling mendekati realitas keberadaanNya.
ayat yg menyebutkan tentang keadaan pelita di dalam misykat yg tak tembus ini adalah menggambarkan tentang diriNYA yg ada di luar segala bentuk bentuk materi sekaligu di balik segala sesuatu

Tentu tidak ada permisalan yg lebih detail lagi dari ini, atau singkat kata saya belum pernah menemukan permisalan tentang keadaanNya yang lebib mendekati kenyataan yg ada secara rinci melebihi gambaran di dalam ayat ini.
Sedangkan firmanNya yg lain tentang persemayamanNya di atas arsy sekaligus lebih dekat adalah dengan kita adalah sebagian dari kebulatan total qs.an-nur:35

Kalau anda bersuluk, dalam tataran tertentu anda akan sampai pada kesadaran dimana diri anda sejatinya adalah bukan diri anda yg berbentuk fisik ini
Melainkan diri yg abstrak, ada didalam sekaligus diluar
Dikatakan di dalam raga fisik, tapi terkadang kita justru dapat melihat raga fisik kita dari sudut ketinggian
Maka Alloh saya katakan juga Maha Abstrak, menyatakan di dalam misykat yg tak tertembus, yg lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Namun secara lebih dalam ternyata itu hanya semacam pintu gerbang untuk memasuki dimensi alam lahut / alam ilahiah
Yang mana tak tersentuh oleh jisim jisim materiil.
Lepas dari alam semesta sebagaimana yg selama ini tampak sebagai perbendaharaan nyata
Di alam lahut tersebut pun ternyata kita dapat menyaksikan secara haqq bahwa alam lahut benar benar berada di luar alam nasut/kebendaan/alam semesta.

Maka berlakulah sabda nabi yang mulia s.a.w, "sholat itu adalah mi'rojnya kaum mukminin". Sebuah metoda suluk yg dirancang oleh Alloh untuk hamba hambanya yg beriman dan mendambakan perjumpaan sekaligus persaksian agung dengan diriNYA.
Di sini ilmul'yaqin itu tidak berlaku atau justru penyaksian ini menjadi penguat / penegasan / penunjuk kebenaran atau kekeliruan dari segala keilmuan yg pernah kita pelajari.

Selasa, 30 Agustus 2016

Titik Peradaban

kalau kita telusuri peradaban peradaban agung di masa silam
maka akan kita temui satu garis merah yang sama antara satu kaum dengan kaum lainnya
kita tidak membicarakan tentang kebendaan
kita berbicara tentang peradaban yang penuh maslahah
damai dan tentram, dari segi apapun saja
maka benang merah itu akan mewujud suatu penampakan yang sederhana
pemimpinnya sederhana kemudian mengajarkan tentang kesederhanaan kepada masyarakatnya pula
pemimpinnya tidak tergiur dunia yang lantas juga mengajarkan kepada rakyatnya untuk tidak tergiur perihal duniawi juga
pemimpinnya memiliki iman (keyakinan) yang kuat akan eksistensi Tuhan Yang Maha Segalanya
lantas ia mengajarkan kepada kaumnya pula untuk beriman pada Tuhan Yang Maha Segalanya

anda ambil contoh siapa?
byzantium? romawi? Persia? atau apa?
atau kita sentuh Nusantara saja, india, atau jazirah arab dan mesir?
terserah dari mana saja
atau peradaban maju yang negerinya saja sudah benar - benar tiada
seperti negeri Nuh, Kerajaan nabi Sulaiman, atau atlantik.

maka kalau benar - benar kita jujur mengulas sejarah - sejarah mereka
kita akan menemukan bahwa awal keagungan peradaban mereka semua adalah diawali dengan keimanan yang kuat kepada Alloh dan berakhirnya peradaban - peradaban agung itu pastilah karena mengkufuri perberianNya dengan jalan cinta dunia dan materi semata
menghilangkan esensitas Tuhan
dan tanpa syukur

oke jadi intinya pada tulisan saya kali ini saya mengajak pembaca sekalian untuk memulai sebuah peradaban maju
mungkin bukan untuk diri kita
tapi untuk generasi setelah kita
syukur syukur Alloh mempercepat agar kita semakin yakin dalam hidup / selama / mumpung masih hidup bahwa iman kepada dzat Yang Maha Tak Terbatas itu benar - benar membuahkan keagungan

sekarang mari kita bercermin ke dalam diri kita masing masing
apakah sholat kita, dzikir kita, dan berbagai amaliah yang konon itu buah dari ketakwaan kita
adalah masih kita pergunakan untuk diri sendiri atau sudah mulai kita tebarkan untuk orang lain?
kalau saya dapat merasakan sholat yang khusyu'
apakah kita sudah memberitakan kepada yang lain perihal bagaimana mencapai khusyu' itu
atau kalau kita bisa berangkat haji,
apakah kita sudah memastikan bahwa anak, sanak saudara kita bisa makan selama kita tinggal

oke jangan pandang makannya
tapi pandang apakah anak dan sanak saudara kita telah menemukan kunci untuk bertahan hidup
yang mana kunci itu adalah keimanan kepada Alloh Yang Maha Rahman dan Pemberi Rizki
bukan maling apalagi tipu tipu
apakah beda? toh sama - sama mencari jalan makan?
sangat beda, maling itu mencari makan, tapi iman itu akan dicari oleh makanan
maling dan tipu tipu itu mencari rizki, tapi iman itu akan dicari oleh rizki

peradaban yang luhur nan suci pun sebenarnya tidak perlu dicari kalau kita sudah faham ini
ia (peradaban agung) itu akan mencari dan menghampiri orang - orang / kaum / komunitas yang telah suci diri dan pikirannya
suci yang bagaimana? tidak terpacu oleh keinginan memiliki dunia dan berbagai materi di dalamnya

maka mari kita persiapkan diri kita masing - masing untuk memulai peradaban agung nan suci ini
sudah beratus - ratus tahun pasca para khalifatulloh diwafatkan olehNya
kita yang selanjutnya semakin terpaku pada materi - materi dunia
entah karena ketakutan olehnya atau ingin menguasainya
itu semua sama - sama kotornya

kita mulai dari diri kita masing - masing
tebarkan pemahaman bahwa kita bisa hidup bukan karena materi
tapi kita hidup benar - benar karena Alloh
kalu perlu, pergi ke tempat paling sepi, jauh dari hiruk pikuk dunia
maka alloh akan tetap menunjukkan bahwa kalau Dia menghendaki kita hidup
kita akan tetap hidup
sekali - sekali uzlah itu memang perlu untuk membuktikan bahwa Yang Maha Hidup dan Menjadi Sumber Hidup itu benar - benar Nyata AdaNya.

pandang Sumber hidupnya
terus pandang dan sadari Dia Sang Maha Hidup dan yang menjadi Sumber Hidup
itulah sebenarnya cikal bakal peradaban agung nan suci yang sesungguhnya



kalau anda perlu referensi lebih lanjut mengenai hal ini
atau mau protes, silahkan tinggalkan komen di sini atau menghubungi penulis

Selasa, 23 Agustus 2016

Membran Semesta

beberapa dari kita mungkin masih bertanya tanya
apa itu membran semesta?
seperti yang telah saya tuliskan di postingan sebelumnya yang berjudul kemerdekaan sebagai membran semesta

kalau kita sadari, sebenarnya kita semua tidak pernah saling bersentuhan
baik saya terhadap anda meskipun kita sedang berjabat tangan
ataupun antara kita dengan berbagai materi yang ada di lingkungan kita
ada batas - batas halus yang seperti gelombang elektromagnetik yang menyekat materi pembentuk diri kita dengan materi pembentuk benda yang lain
sekat tipis itulah yang saya katakan sebagai membran semesta

seluruh pergerakan dan kegiatan semesta tak pernah terlepas dari membran semesta tersebut
bahkan diri anda dengan anda pun tersekat membran semesta tersebut
"Aku Lebih Dekat Daripada Urat Leher Mereka Sendiri"
Alloh berfirman yang intinya seperti itu
yaa.... melalui membran semesta itulah setidaknya dapat kita terjemahkan bahwa Alloh sangat berkuasa atas segala sesuatu melalui itu.
meskipun tatkala nanti kita kupas lebih dalam lagi
ada membran di antara membran
demikian itulah Alloh
tak pernah dapat tersentuh oleh pemahaman makhluq secara totalitas
Dia senantiasa di atas segala sesuatu

oke kita lanjutkan
Alloh al-Wasi' , Alloh Al-bathin, Alloh al-lathif , Alloh al-Akbar
dan hampir seluruh nama - nama keagunganNya dapat kita akses dan fahami secara halus melalui membran semesta ini
Alloh yang Maha Megatur, Alloh yang Maha Mengetahui, Alloh yang Senantiasa bersama Hamba - HambaNya di manapun hambaNya berada
sekiranya mulai dapat kita tangkap secara nalar melalui ini
InsyaAlloh
Alloh mulai memperkenalkan diriNya ke alam pikir manusia
meskipun alam pikir manusia tidak akan pernah menemukan dan menyentuh secara benar - benar dan sebenar - benarNya
maka dari itu Alloh kemudian berfirman, "Aku sesuai persangkaan hambaKU"

membran semesta inilah yang oleh sebagian manusia jawa dikatakan sebagai Rasa.
maklum, seperti yang sudah di singgung sebelumnya, istilah Rasa itu pun merupakan suatu istilah yang paling mewakili untuk mengungkapkan membran semesta ini
maka tidak heran jika hal ini tidak tertangkap otak dan panca indra
keberadaannya hanya bisa dirasakan saja oleh manusia

di zaman ini, mungkin istilah yang lebih mendekati lagi adalah kesadaran
setelah kita merasakan keberadaannya, selanjutnya kita sadari keberadaan itu
dengan sadar inilah kita akan mengenalinya

oke kalau kita sudah menyadari keberadaan membran semesta ini
mari selanjutnya kita coba melangkah lebih ke dalam lagi
siapa yang ada di sebalik antar membran semesta ini ....
silahkan ditembus lebih dalam lagi

dan sekali lagi tentu cara menemukannya bukanlah dengan pikiran anda yang penuh dengan prasangka
melainkan dengan rasa yang disambung dengan kesadaran
coba rasakan saja ......

Yaa Alloh kita akan merasakan kenyataanNya
yang tak akan pernah dapat kita ungkap seperti apa dan bagaimanaNya
mentok kita akan mengakui sabdaNya "Laitsa Kamitslihi Syaiun"

silankan tenangkan diri anda dan mulailah menyadariNya
wallohu'alam bish-showab

Rabu, 17 Agustus 2016

Kemerdekaan Sebagai Membran Semesta



kalau anda berpuasa, anda pasti merasakan kemerdekaan itu tatkala adzan maghrib sudah mulai berkumandang

kalau anda bekerja dalam sistem piket bergilir, tentu anda akan merasakan kemerdekaan itu ketika jam piket anda telah habis.

kalau anda bekerja dalam target - target tertentu, tentu kemerdekaan itu adalah ketika setiap target pekerjaan anda sudah terpenuhi.


sekarang apa batas kemerdekaan kita?




merdeka adalah sebuah membran semesta, lapisan halus yang berdesir membatasi materi dan inti dari materi itu sendiri.



anda mengenal diri anda? tentu anda mendapati batas - batas tersebut. batas yang menyekat halus jasad anda dan ruh yang menghidupi diri anda

sekali lagi, apa sebenarnya kemerdekaan kita?


Alloh, Sang Pencipta Alam semesta sudah berkali kali hampir di setiap zaman menunjukkan perjuangan untuk merdeka.

di zaman Putra putri nabi adam a.s, perjuangan kemerdekaan itu ada pada habil dan qobil. (saya rasa masing masing kita sudah mengetahui kisahnya)

zaman nabi musa, nabi isa, rosululloh muhammad, syaikh jalaludin rumi, ibnu rusyd, imam ghozali, syekh mansur al-hallaj, wali songo di tanah jawa, majapahit, hingga hut RI yang sedang semarak kita peringati.

berhenti kah proses perjuangan? tidak???

itu semua adalah visualisasi perjuangan dalam ranah materi.


ada perjuangan yang lebih besar lagi, yakni perjuangan di ranah lintas dimensi. dari dimensi materi beranjak ke dimensi bathin, ini juga butuh perjuangan. dari dimensi bathin menuju dimensi ruh, ini juga perjuangan. dari dimensi ruh ke dimensi ilahiah. ini juga butuh perjuangan.


dan yang namanya berjuang pasti memiliki seni peperangannya masing masing. butuh taktik yang lihai untuk mensiasati agar kemerdekaan itu dapat benar - benar kita raih. ups,, maaf bahasanya jangan kita raih, kita temukan saja.

karena selama kita meraih, kita justru tidak akan pernah merasakan merdeka.

merdeka itu juga merupakan momen pelepasan dari suatu kondisi ke kondisi yang lain.

yaaa kita fahamlah yang ini. karena ini sudah pasti otomatis demikian.


nah kembali lagi, seni peperangan yang diperlukan untuk berjuang lintas dimensi tentunya adalah pribadi kita masing masing yang perlu menatanya. sahabat bisa menjadi teman sharing, namun dalam realitas perjuangannya, diri kita masing - masing yang berperan.


asyiknya, banyak yang gugur di perjuangan lintas dimensi ini hanya dikarenakan ia terlalu mensiasati peperangannya sendiri. ia mengira melawan musuhnya, justru ia berserikat dengan musuh. ia dagelan namanya.


dalam perjuangan ini, justru yang dibutuhkan hanyalah pengabaian pengabaian. siasat yang dibutuhkan justru siasat untuk menjaga kesadaran akan kemenangan puncak yang sejati.

apa itu? tentu saja "inna lillahi wa inna ilaihi rojiun" capaian pada dimensi ilahiah.


orang yang sudah berada di pemakaman, itu juga masih berjuang kalau selama hidup di dunianya ia tidak inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. tidak kembali pada dimensi ilahiahNya yang merupakan sumber asal muasal dan tujuan akhir perjalanan dan perjuangan setiap manusia.


sekarang mari kita pandang diri kita masing - masing, mengheningkan cipta. sudahkah kita berada dalam dimensi ilahiah atau setidaknya kita menemukan secercah titik terang yang melegakan dan memperluas hati kita. sudahkah kita menemukan sumber dan tujuan akhir perjuangan kita.

karena itulah yang sejatinya pantas disebut sebagai cita - cita luhur. kalau anda sudah menemukan, perjuangkan untuk tidak anda lepaskan.


"weruh menet rin tutur tanpo balik lupa" -slogan kecil yang saya tempelkan pada logo Dzikir Nafas Jatim untuk sahabat - sahabat dan sedulur - sedulur seperjuangan dalam menemukan titik terang itu- tetap berpegang pada kesadaran akan asal muasal dan tujuan akhir. semoga kita dimerdekakan Oleh Sang Maha Merdeka.


salam ..... salam ..... salam ......




Jumat, 12 Agustus 2016

TAHLIL - ISTIGHOTSAH - SHOLAWAT

Tahlil (serangkaian wirid / tahlilan) sebagaimana yang telah mafhum kita ketahui dan pahami selama ini
sesungguhnya menyimpan energi tersendiri yang menembus tiap - tiap batasan dan kedalaman
kedalaman bumi yang kita kenal dengan istilah Kubur 
dan juga kedalaman bathin, ini juga dapat kita katakan sebagai kubur
seperti yang telah kita pahami bahwa bathin kita memang terkubur oleh jasad
anda dapat merasakan hal ini jika anda memang telah mengasah diri anda dengan berbagai riyadhoh
tahlil yang kita wiridkan akan sampai menembus dimensi - dimensi kedalaman kubur
apabila kesadaran kita telah benar - benar terpaut dengan Alloh azza wa jalla

istighotsah adalah hubungan vertikal seorang hamba dengan Robbnya yang Maha Tinggi
kita tidak dapat membayangkan tinggi sebagaimana tinggi yang dikenal oleh alam fikir
tinggiNya adalah ketinggian dimensional spiritual / bathin
yang tak jarang sulit untuk diuraikan dalam bahasa verbal
anda yang telah menapaki perjalanan - perjalanan spiritual
telah melalui berbagai macam riyadhoh tentu insyaAlloh dapat memahaminya
istighotsah adalah perjalanan mi'rojnya seorang hamba
untuk bermunajat kepada Alloh azza wa jalla
penyerahan diri secara total untuk kemudian siap diproses olehNya

Sholawat adalah pengejahwantahan dari hubungan vertikal seorang hamba dengan RobbNya dalam istighotsah
sholawat adalah horizontalnya Daya yang telah diterima dari Alloh untuk ditebarkan kepada seluruh alam
sholawat inilah yang menjadi kunci respondnya alam semesta akan hajat - hajat kita
yang telah kita munajatkan kepada Alloh s.w.t
sholawat adalah dimensional sambungnya antar partikel semesta dengan diri kita
semesta yang sejati adalah melingkupi seluruh dimensi
baik dimensi materi hingga dimensi bathin
hingga alam arwah

3 Jenis Hujjah Yang Musti Dimiliki

Hendaklah kita dalam berbuat segala hal itu memiliki landasan
ada alasan - alasan atau dasar - dasar yang benar dan menguatkan atas apa - apa yang kita kerjakan
Segala tindak tanduk manusia itu pasti akan membuahkan pertikaian bathin tersendiri
bisikan keraguan itu pasti akan muncul mengiringi apa - apa yang telah kita perbuat
seolah - olah hendak menjerumuskan kita pada kufur fa'alulloh

di sini pentingnya landasan atau hujjah 
atas apa - apa yang telah maupun sedang kita perbuat
contoh ketika anda membatalkan puasa sunnah hanya untuk memakan jamuan makan dari seorang sahabat
yang apabila anda tidak memakan jamuan makan itu, tentulah kesedihan hati akan diperoleh oleh sahabat anda
mengenai hal ini tentu setelah anda membatalakan puasa akan muncul keresahan hati
jika kita tidak memegang kuat dasar kita tentang mengapa harus membatalkan puasa

nah alasan / dasar / hujjah yang haqq mustilah kita genggam dengan benar
untuk hujjah diri baik di dunia maupn di akhirat kelak

hujjah yang paling dasar adalah hujjah yang tersimpan di dalam memori otak
hujjah semacam ini adalah hujjah yang dimiliki oleh kebanyakan orang (kalangan)
yang telah menerima suatu ilmu mengenai hujjahnya tersebut
hujjah ini akan membantah keragu - raguan yang membisiki dirinya

selanjutnya dan yang utama adalah hujjah qolbu
hujjah ini telah terserap dengan benar di dalam hati
ia yang akan menguatkan hujjah pikiran
karena wilayah hujah qolbu ini merupakan wilayah pelimpahan cahaya dari Alloh s.w.t
yang mana di wilayah ini lah yang sejatinya kemudian menggerakkan seluruh anggota badan kita

dan yang lebih utama lagi adalah hujjah ilahiah
dimana keraguan tidaklah mungkin menolak hujjah ini
keraguan tidak akan dapat menyentuh wilayah kesadaran ilahiah
apalagi meracuni manusia yang memiliki hujjah ilahiah ini
orang yang telah mencapai dimensi kesadaran ilahiah tentu ia akan mendapatkan bimbingan langsung dari Alloh s.w.t dalam berbuat segala sesuatu
apapun yang mencoba meracuninya akan segera ditepiskan oleh Alloh
cahayaNya akan meleburkan segala sesuatu selainNya
hal ini yang menyebabkan orang yang memegang hujjah ilahiah tentulah tiadak kekhawatiran sama sekali dalam benaknya

sebaiknya manusia memang harus memasuki dimensi kesadaran ilahiah ini
namun jika memang belum dapat memasukinya
hendaknya ia berada atau mempunyai kedua jenis hujjah sebelumnya

3 titik wilayah tersebut juga dapat kita temui indikasi - indikasinya
kita dapat mengenali di mana posisi diri kita yang sebenarnya
dalam menanggapi beberapa model keraguan yang menghinggapi diri kita

apabila keraguan itu muncul sedemikian besar
dan kita berusaha menetralkannya dengan mengajukan berbagai hujjan melalui pikiran
tentu kita saat itu sedang berada dalam wilayah pikiran
wilayah terendah dari kesadaran manusia

apabila ketika keraguan itu muncul seimbang dengan ilmu ilmu yang telah kita miliki
dimana pikiranpun juga sudah tidak terlalu ambil andil melimpahkan hujjah
dan hati kita tetap tidak goyah akan bisikan keraguan itu
maka dapat kita kenali bahwa saat itu kita sedang berada dalam wilayah utama yang pertama

apabila pikiran tenang - tengan saja
dan hati juga tidak goyah
maka keraguan pun hampir - hampir tidak ada yang mencemari diri kita
maka dapat kita ketahui bahwa saat itu kita sedang berada dalam wilayah ilahiah
dimana walaa khoufun 'alaihim (tidak ada ketakutan sedikitpun bagi mereka)

cara - cara untuk memasuki masing - masing wilayah tersebut saya kira juga sudah terurai dalam bahasan - bahasan sebelumnya
sedangkan kalau memang perlu untuk di ulangi
maka perlu dipahami bahwa anda hanya perlu mengasah lagi kekotoran diri anda
dari berbagai kotoran yang telah hinggap melalui dunia yang anda tekuni

kosongkan diri anda dari segala sesuatu yang bersifat materiil duniawi
hilangkan prasangka - prasangka anda
dan ikuti irama tarikan danhembusan nafas yang mengalir alami
sedemikian sunyi dan jujur lillah billah
temukan setitik cahaya dalam diri anda sendiri
yang mana cahaya itu merupakan cahaya ilahiah yang memang tertanam dalam diri anda
masuk dan meleburlah dalam cahayaNya itu

3 Jenis Hujjah Yang Musti Dimiliki

Hendaklah kita dalam berbuat segala hal itu memiliki landasan
ada alasan - alasan atau dasar - dasar yang benar dan menguatkan atas apa - apa yang kita kerjakan
Segala tindak tanduk manusia itu pasti akan membuahkan pertikaian bathin tersendiri
bisikan keraguan itu pasti akan muncul mengiringi apa - apa yang telah kita perbuat
seolah - olah hendak menjerumuskan kita pada kufur fa'alulloh

di sini pentingnya landasan atau hujjah 
atas apa - apa yang telah maupun sedang kita perbuat
contoh ketika anda membatalkan puasa sunnah hanya untuk memakan jamuan makan dari seorang sahabat
yang apabila anda tidak memakan jamuan makan itu, tentulah kesedihan hati akan diperoleh oleh sahabat anda
mengenai hal ini tentu setelah anda membatalakan puasa akan muncul keresahan hati
jika kita tidak memegang kuat dasar kita tentang mengapa harus membatalkan puasa

nah alasan / dasar / hujjah yang haqq mustilah kita genggam dengan benar
untuk hujjah diri baik di dunia maupn di akhirat kelak

hujjah yang paling dasar adalah hujjah yang tersimpan di dalam memori otak
hujjah semacam ini adalah hujjah yang dimiliki oleh kebanyakan orang (kalangan)
yang telah menerima suatu ilmu mengenai hujjahnya tersebut
hujjah ini akan membantah keragu - raguan yang membisiki dirinya

selanjutnya dan yang utama adalah hujjah qolbu
hujjah ini telah terserap dengan benar di dalam hati
ia yang akan menguatkan hujjah pikiran
karena wilayah hujah qolbu ini merupakan wilayah pelimpahan cahaya dari Alloh s.w.t
yang mana di wilayah ini lah yang sejatinya kemudian menggerakkan seluruh anggota badan kita

dan yang lebih utama lagi adalah hujjah ilahiah
dimana keraguan tidaklah mungkin menolak hujjah ini
keraguan tidak akan dapat menyentuh wilayah kesadaran ilahiah
apalagi meracuni manusia yang memiliki hujjah ilahiah ini
orang yang telah mencapai dimensi kesadaran ilahiah tentu ia akan mendapatkan bimbingan langsung dari Alloh s.w.t dalam berbuat segala sesuatu
apapun yang mencoba meracuninya akan segera ditepiskan oleh Alloh
cahayaNya akan meleburkan segala sesuatu selainNya
hal ini yang menyebabkan orang yang memegang hujjah ilahiah tentulah tiadak kekhawatiran sama sekali dalam benaknya

sebaiknya manusia memang harus memasuki dimensi kesadaran ilahiah ini
namun jika memang belum dapat memasukinya
hendaknya ia berada atau mempunyai kedua jenis hujjah sebelumnya

3 titik wilayah tersebut juga dapat kita temui indikasi - indikasinya
kita dapat mengenali di mana posisi diri kita yang sebenarnya
dalam menanggapi beberapa model keraguan yang menghinggapi diri kita

apabila keraguan itu muncul sedemikian besar
dan kita berusaha menetralkannya dengan mengajukan berbagai hujjan melalui pikiran
tentu kita saat itu sedang berada dalam wilayah pikiran
wilayah terendah dari kesadaran manusia

apabila ketika keraguan itu muncul seimbang dengan ilmu ilmu yang telah kita miliki
dimana pikiranpun juga sudah tidak terlalu ambil andil melimpahkan hujjah
dan hati kita tetap tidak goyah akan bisikan keraguan itu
maka dapat kita kenali bahwa saat itu kita sedang berada dalam wilayah utama yang pertama

apabila pikiran tenang - tengan saja
dan hati juga tidak goyah
maka keraguan pun hampir - hampir tidak ada yang mencemari diri kita
maka dapat kita ketahui bahwa saat itu kita sedang berada dalam wilayah ilahiah
dimana walaa khoufun 'alaihim (tidak ada ketakutan sedikitpun bagi mereka)

cara - cara untuk memasuki masing - masing wilayah tersebut saya kira juga sudah terurai dalam bahasan - bahasan sebelumnya
sedangkan kalau memang perlu untuk di ulangi
maka perlu dipahami bahwa anda hanya perlu mengasah lagi kekotoran diri anda
dari berbagai kotoran yang telah hinggap melalui dunia yang anda tekuni

kosongkan diri anda dari segala sesuatu yang bersifat materiil duniawi
hilangkan prasangka - prasangka anda
dan ikuti irama tarikan danhembusan nafas yang mengalir alami
sedemikian sunyi dan jujur lillah billah
temukan setitik cahaya dalam diri anda sendiri
yang mana cahaya itu merupakan cahaya ilahiah yang memang tertanam dalam diri anda
masuk dan meleburlah dalam cahayaNya itu

antara ILAH dan ROBB

افضل ذكر فعلم انه لا اله الا الله 
seutama utamanya dzikir, ketahuilah bahwa ia adalah Laa Ilaha Illa Alloh (tiada sesembahan kecuali Alloh)

mengapa Alloh menggunakan redaksinya dengan lafadz ilaha (اله) bukan Robbun (رب) ???

ketika manusia berdzikir, hendaknya bukan hanya berdzikir secara lisan saja
melainkan akal dan hati juga turut berdzikir
dan yang paling penting dan paling inti adalah bahwasannya kesadaran juga musti dzikir
yakni dengan menyadari kehadiran Alloh dibalik segala sesuatu yang tampak materi
dzat yang maha tak tergambarkan (laitsa kamitslihi syai'un)

dengan menyadari akan kebersamaan kita dengan Alloh dalam segala hal
itulah sejatinya yang disebut dengan dzikir
Laa Ilaha Illa Alloh adalah kesadaran mengenai ketiadaan segala sesuatu hal pun yang luput dari af'al Alloh (perbuatan Alloh)
tak ada satu hal pun yang terlepas dari shibghotalloh (celupan / campur tangan Alloh)

ilaha (اله) adalah sebuah perjalanan spiritual yang lurus hanya menuju kepada Alloh
- Alif, merupakan sebuah simbolisasi peta (panduan) dari Al-Haqq untuk membawa masuk setiap hamba - hambaNya pada jalan yang lurus. Hendaknya bagi setiap pejalan spiritual (salik) teguh pada satu tujuan lurus yang mengantarkannya pada jalan lurus menuju Allohul-Haqq
keteguhan untuk tetap berada pada tujuan yang satu -Alloh- itulah yang akan memposisikan kita pada satu jalan lurus. jalan yang penuh cahaya dan petunjuk (shirotol-mustaqim)

-Lam, merupakan simbolisasi untuk mengingatkan kita agar kita senantiasa bergantung hanya kepada Alloh. Dzat Yang Maha Membimbing dan Memberi Petunjuk kepada siapapun yang dikehendakiNya.
pada intinya mengajak kita untuk tetap beristiqomah pada satu tujuan dan satu jalan. senantiasa bersama Alloh dalam segala hal. hingga kita benar - benar sampai pada kondisi mati (inna lillahi wa inna ilaihi roji'un)

-Ha, ujung dari perjalanan adalah kematian, keberserahan / islam. penyaksian secara mendalam dan nyata (Haqq) mengenai makna dari lafadz Laa-Haula-Walaa-quwwata-illa-billah. Ha' adalah simbolik dari kondisi fana fillah, zero, fitrah diri manusia.

maka sesungguhnya dzikir laa-ilaha-illa-Alloh adalah merupakan perjalanan lurus nan suci. tidak tercampur niat apapun selain menuju kehadiratNya. yang kan mengantarkan diri tiap - tiap hamba untuk kembali mencapai titik fitrah dirinya.

manusia, seorang hamba yang sampai pada titik fitrah dirinya tentu akan sampai pula pada kondisi Aslim (islam). yang merupakan bentuk penyerahan diri secara totalitas kehadirat Alloh s.w.t.
قال اسلمت لرب العالمين

mengapa tidak menggunakan kata 'Robbun' saja??
Robbun adalah bentuk penguasaan Alloh akan segala sesuatu
manusia tidak dapat meloncat langsung pada dimensi Robbun
tanpa ia berjalan lurus dan istiqomah hingga ia sampai pada keadaan fana fillah
sebagaimana dijelaskan pada litelatur perjalanan lafadz ilaha di atas

manusia yang perah berada dalam titik ha', titik fana; titik islam
barulah ia dapat menikmati dimensi robbun

yang dimaksud penguasaan Alloh atas segala sesuatu adalah bahwa dimensi Robb adalah wilayah pengejahwantahan Alloh
hanya dengan berjalan lurus dan istiqomah
hanya bersandar pada Alloh lah seorang hamba akan benar - benar dapat menyaksikan dimensi Robbun ini
dimensi dimana tampak secara nyata Alloh mengatur segala partikel yang ada segenap ufuk alam semesta
sebagaimana firmanNya dalam al-qur'an yang maknanya, "tidaklah satu zarroh pun di alam semesta ini melainkan bergerak karena izin Alloh ta'ala"

sedangkan mengenai firman Alloh di dalam surah An-Nass yang juga merupakan petunjuk jalan kembali
adalah bahwa Robb adalah zat yang menyelimuti / mengejahwantah dalam segala sesuatu benda yang tampak materiil

قل اعوذ برب الناس
Robbin-Nass adalah eksistensi yang paling mutlak di balik segala bentuk keberadan
segala bentuk yang tampak seolah ada / hidup
eksistensi yang menguasai dan mengatur segala sesuatu
ملك الناس
Malikin-Nass adalah bentuk pemerintahan Alloh atas segala sesuatu
Dia (Alloh) yang setelah mengejahwantahkan DiriNya
dia kemudian menggerakkan seluruh partikel / zarroh yang adal di alam semesta
اله الناس
ialah dimensi suci sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya
dengan kata lain, "Robb" adalah menunjukkan tempat materi
"Malik" menunjukkan adanya hakikat jiwa
"Ilah" menunjukkan hakikat tertinggi yang terpancar dan terpaut dengan eksistensiNya

kembali pada makna terdalam dari Dzikir Laa-Ilaha-Illa-Alloh
adalah pencapaian manusia / hamba pada dimensi tertinggi
kesadaran tertinggi
yakni kesadaran ilahiah yang sering kita sebut dengan istilah supra sadar
dimana kita selalu menyadari betul akan kebersamaan dan kesinambungan kita dengan Alloh

Senin, 01 Februari 2016

Hari Akhir

Yaumuddiin (يوم الدين)
Banyak yg menterjemahkan bahwa yaumiddin adalah Kiamat
Mungkin ada baiknya kita mendalami potongan ayat 14-19 surah al-insyiroh :
- وان الفجار لفی جحيم
"Dan sesungguhnya orang yg berbuat jahat, benar benar berada di dalam api neraka yg sangat panas"

Sesungguhnya setiap manusia yg berdosa,
Yg pernah melakukan perbuatan keji / jahat
Pribadi tersebut akan dihanguskan dengan api yg panas
Kita secara umum manusia, ketika pertama kali berdzikir dengan benar
Kebanyakan akan merasakan sensasi panas yg bervariatif dari dalam tubuhnya.
Seringkali sesuai kadar kekejian atau dosa yg pernah ia lakukan.

Untuk dapat menembus dimensi hening sebelum melangkah pada tahap berikutnya, yakni dimensi ilahiah
memang pembersihan semacam ini diperlukan bagi kita
Bahkan ini wajib dilalui oleh setiap pejalan suluk.
Dan ini adalah Alloh sendiri yg mensucikan.

Hal tersebut dilanjutkan / diperjelas oleh ayat ayat berikutnya :
- يصلونها يوم الدين
"Mereka masuk ke dalamnya pada -yaumid-diin-"

Secara litelatur kata, يوم الدين terdiri dari dua kata:
يوم dan الدين..
Yaum berarti hari, dan ad-diin berarti agama
Ini adalah gambaran tentang hari yg fitrah.
Hari dimana kejujuran, kejernihan dibabarkan.
Dan agama adalah merupakan fitrak setiap manusia.

Ketika seseorang telah dibersihkan dari dosa dosanya dalam api yg panas (جحيم), di situ ia mengalami metamorfosis, kelahiran baru.
Atau ia akan memasuki dimensi pembakaran ketika ia telah menyadari akan fitrahnya
Kesadaran akan fitrah manusia ini terbentuk ketika kita memasuki wilayah hening. Dzikirullohi akbar.

Dosa atau kesalahan yg terbakar sekali kali tidak akan dapat melesat keluar dari jahim tersebut.
Seolah jiwa kita sedang disaring
Yang buruk terkurung dalam jahim
Sedangkan yg fitrah akan bangkit

- وما هم عنها بغائبين
"Dan mereka sekali kali tidak dapat keluar dari itu"

Lantas apakah yaumiddin itu?

- وما ادراك ما يوم الدين
"Tahukah kamu apa yaumiddin itu?"

- ثم ما ادراك ما يوم الدين
"Sekali lagi, tahukah kamu apakah yaumiddin itu?"

Yaumuddin itu adalah hari kepasrahan
Sebuah masa, waktu dimana kita tiada berkuasa apapun dan atas siapapun
Kita telah melebur, pasrah, kembali dalam fitrah kita, tak punyai apa apa
Yang berkuasa di saat itu hanyalah Alloh semata
Ke-ego-an kita lenyap
Kekuatan kita tiada
Yang menggerakkan setiap titik nadi kita bukanlah kita, melainkan Alloh.
Ke-ego-an kita sama sekali tidak berlaku

Jika semula kita menggerakkan tangan (umpamanya) adalah atas kehendak ego atau otak kita,
Maka di hari ini, tangan kita bergerak atas perintah Alloh
Kalaupun otak berperan, ia berada di bawah kendali Alloh
Tiada seperti sebelumnya
Yang biasanya bersifat seenaknya sendiri
Kini ia tunduk patuh hanya pada Alloh

- يوم لا تملك نفس لنفس شيئا، والأمر يومإذ لله
"Hari ketika nafs (diri) tidak berkuasa sedikitpun untuk (bagian) diri (nafs) yg lain. Dan pada hari itu, seruan (komando) hanya milik Alloh"

Jadi hari kebangkitan ini adalah hari berpulangnya kesadaran jasad menuju kesadaran ilahiah.
Benar benar pasrah
Tak ada lagi yg mengaku-aku.
Yang ada hanyalah alloh

Rabu, 27 Januari 2016

Tempat Yang Tertinggi

Huu Alloh .........
dalam prosesi keluar masuknya nafas, jika kita amati dan pahami lebih dalam lagi. ternyata di sebalik proses keluar masuknya nafas ada sebuah dorongan kuat yang menyebabkan nafas ini tertarik masuk dan terdorong keluar.

Dalam khazanah kedokteran, yang menyebabkan nafas ini masuk adalah suatu organ yang letaknya ada di antara perut dan dada kita. ketika kita telisik lebih lanjut lagi, ternyata yang menggerakkan organ tersebut adalah otak.

suatu ketika, saya diberi kesempatan oleh Alloh untuk bertanya pada seorang mahasiswa kedokteran. dan paragraf di atas, penjelasannya adalah saya dapatkan dari mahasiswa kedokteran tersebut. dari kesempatan tersebut, saya bertanya terus mengenai siapa yang sebenarnya berperan menarik dan mendorong nafas? ia jawab; yang menyebabkan nafas keluar dan masuk adalah suatu organ yang berada di antara perut dan dada. kemudian saya bertanya lagi, siapa pula yang menggerakkan organ di antara perut dan dada tersebut? hingga pada ujungnya saya tanyakan siapa yang memerintahkan otak?. maka saya temukan sampai detik ini keilmuan kita baru bisa sampai pada otak saja. selebihnya banyak yang tidak tahu. bahkan hampir kebanyakan orang bingung atau linglung . yang kebetulan beragama islam akan menjawab bahwa yang menggerakkan otak adalah Alloh. selebihnya entah, saya tidak hendak membahasnya.

dari nafas ini kemudian kita dapat mengetahui adanya organ di antara perut dan dada. kemudian dapat juga kita sadari bahwa ternyata organ tersebut masih berada dibawah komando otak. dan selanjutnya, seperti yang sudah kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan kita sedang berhenti pada otak.

namun apakah benar hanya sebatas itu kita diijinkan oleh Alloh untuk menyibak kuasanya? apakah tidak diperbolehkan kita beranjakn lebih jauh dan lebih dalam lagi? mengingat jabatan kita sebagai khalifatulloh yang tentunya ada izin tersendiri dariNya untuk mengetahui secuil "rahasia" yang lebih dalam dari otak.

dalam sebuah peneletian ilmiah terakhir ini juga tampaknya telah ada suatu rumusan yang menyatakan bahwa otak sangat berpengaruh terhadap gerak semesta. pada golongan tertentu ada yang menyatakan bahwa otak tergerak akibat dari energi semesta.

terlepas dari sebuah atau juga banyak pendapat. kita coba selami sendiri siapa sebenarnya yang berperan menggerakkan / memerintahkan otak.

sebelum sampai pada pemahaman siapa yang memerintahkan otak, maka seringkali / biasanya kita akan sampai pada kondisi atau dimensi pemahaman bahwa justru otak kita adalah bagian dari semesta yang berwenang sebagai penggerak semesta.

dari otak ini kita dapat memerintahkan orang lain tanpa sepatah katapun (misalnya). dengan otak ini kita juga dapat menggerakkan pergerakan alam semesta, semisal mengendalikan hujan, angin dsb.
kita selami lebih dalam lagi, otak tergerak atas perintah atau sebab adanya Daya. sebuah energi murni dari Alloh untuk tiap tiap makhluqNya. Daya inilah yang sambung langsung dengan Alloh. dari kemurnian daya ini kemudian kita dapat mengenali banyak hal. otak dapat bekerja sebagaimana yang kita ketahui saat ini.

Daya inilah yang dapat saya katakan sebagai pintu Gerbang menuju hadirat Alloh.
pintu gerbang Makrifatulloh
Cahaya - cahaya ilahiah terpancar melaluinya
pesan pesan ilahiah juga turun atasnya
yang kemudian dapat kita kenali dengan sebutan Ide.
lantas ide murni yang kita ikuti akan disalurkan oleh otak ke sekujur tubuh
mewujud sebagai gerak

Laa Ilaha illa Alloh

semakin kita selami lagi, di sanalah kita sampai pada dimensi al-'Ala (yang tertinggi)


Dalam sebuah peribadatan, yang beribadah sesungguhnya dan semestinya adalah jiwa kita. Kita berada pada dimensi ruhaniah. dalam kondisi jiwa yang tenang (Muthmainnah). kondisi yang penuh keridhoan dan kepasrahan kepada Ilah.
Maka diserulah ia, "Yaa Aiyyatuhan-Nafsu al-Muthmainnah"
"wahai jiwa  (nafs/diri) yang tenang"
"Irji'i ila robbiki rodhiyatan mardhiyah" ; kembalilah kepada Robbmu dengan kondisi yang ridho lagi diridhoi.
"fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati" ; maka masuklah dalam golongan hamba - hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.

"Ash-Sholatu Mi'rojul Mukmin"; Sholat itu adalah Mi'rojnya mukmin.
Sholat sebagai mi'rojnya mukmin itu adalah benar,
sholat yang benar itu akan mengantarkan pada kondisi mi'roj.
Sholat yang dituntun dan digerakkan oleh Yang Maha Benar (Al-Haqq) akan menarik kita untuk melangkah pada dimensi tertinggi.

Dalam hal ini tentunya kondisi kita benar - benar telah pasrah dan ridho.
maka pencapaian terujung dari manusia adalah pasrah dan ridho pada Alloh saja.
dan selebihnya terserah Alloh.
Alloh yang memperjalankan,
Alloh yang menggerakkan,
Alloh yang mearik,
Alloh yang mengarahkan.

'Laa haula Wa LAa Quwwata Illa Billah, Laa Ilaha Illa Alloh"

Disana tak Ada Lagi Daya, Tak Ada Lagi Energi, Tak Ada Lagi Kekuatan
Yang ada hanyalah Alloh semata.
Tak pernah lagi ada yang lain
maka dikatakanlah Alloh itu Qodim, Baqo', Laitsa Kamistlihi Syai'
Karna memang tak ada apapun
Alloh itu tetap dan kekal

KalamNya "Kun Fa Yakun"

terlimpah pada dimensi Ruhaniah, kemudian Ruh menggerakkan otak, otak menggerakkan alam semesta; menggerakkan pula jasad / tubuh, dan alam semesta pun mendukung / merespon dengan baik dan patuh atas perintahNya.

Setan dapat perintah untuk bersujud kepada Adam bukan berarti Alloh memerintahkan mereka untuk menyembah Adam.
disinilah keindahan Adam. Makhluq ciptaaan Alloh yang disertai hijab. maka siapapun yang tak menyelami / menyadari apa yang ada dibalik hijab, tentulah ia terhijab.

Kebetulan saat itu mereka melihat adam hanya dari bentuk fisiknya saja.
maka timbullah kesombongannya, "Ana Khoirun Min-Hum"
maka muncullah ke-aku-annya; aku lebih baik dari dia.

dari peristiwa tersebut, kemudian Alloh mengabadikannya dalam bentuk "Hawa"
hingga saat ini, sampai detik ini masih dapat kita pelajari tentang sifat ke-aku-an dan hijab juga eksistensi.
Dari sesosok manusia yang dikenal sebagai sosok kaum "Hawa"

Sesungguhnya Alloh menyuruh Setan untuk tunduk pada Eksistensi adam, yang merupakan manifestasi Alloh. namun tampaknya mereka terhijab akan wujud Adam.

Kemudian Alloh menciptakan pasangan Adam, yakni Hawa.
Hawa pun dibekali kesucian oleh Alloh, hingga sekarang.
maka Hawa harus pula dibalut oleh hijab
layaknya kisah Adam,
Eksistensi adam itu suci, maka Alloh memakaikan hijab (Wadag)

Hanya kekasih lah yang boleh membuka hijab tersebut
dan menatap bahkan menikmati kesuciannya

Hawa-pun diciptakan Alloh sedemikian rupa
agar kita dapat membacanya
hanya yang telah memaharnya saja,
yang mengikatnya atas nama Alloh dan Rosululloh saja yang boleh menyentuhnya
menyibak hijabnya.

Sungguh Maha Indah Alloh..

Maka pelajarilah apa - apa yang tak tertulis
sungguh kalam Alloh demikian dahsyatnya
Ayat - ayatNya, IlmuNya sungguh luar biasa Luas tak terbendung.

Siapkan dirimu, siapkan kesadaranmu
untuk dikenalkanNya
berkenalan denganNya

"Aroftu Robbiy biRobbiy"

صدق الله العظيم

Selasa, 26 Januari 2016

Dibalik Ayat Kursi

Bismillah .....

Alloh s.w.t berfirman :
وسع كرسيه السموات والارض
"keluasan kursi-Nya (meliputi) langit dan bumi"
ولا يؤده حفظهما , وهو العلي العظيم
"Dan tiadalah Dia merasa berat memelihara keduanya (langit dan bumi), dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung"

dikisahkan bahwasannya 'Arsy Alloh lebih luas daripada kursiNya.
Dalam sebuah hadist Qudsi dikabarkan oleh baginda nabi s.a.w bahwa Alloh s.w.t telah berfirman,
"Langit dan bumi tidak dapat menampung Aku, yang dapat menampung Aku adalah hati HambaKu yang beriman"

Allohu Akbar,
ولا يحيطون بشيء من علمه الا بماشآء
"Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dari ilmuNya melebihi apa yang dikehendakiNya"

ayat ini memang luar biasa,
ke-Maha Dahsyat-an Alloh yang tersimpan dalam cuilan ayat ini memang benar - benar nyata
siapapun yang benar - benar menyelaminya, dengan izin Alloh akan mendapati kenyataan itu
sebagian kecil saja jika dipahami, tentulah semakin meluas hatinya
dan semakin kuat imannya.

ada dimensi dimensi yang tertuang dalam ayat tersebut.
dimensi keluasan Alloh
diimensi keagungan Alloh
dimensi ke-Maha Luar Biasa-an Alloh

Alloh yang demikian Maha Luas menyebutkan bahwa
langit dan bumi hanyalah kursi
SinggasanaNya justru adalah hati hambaNya yang beriman

tentang Arsy, sudah tertuang di halaman sebelumnya

hamba - hamba yang beriman adalah merupakan waliNya
yang dimandati oleh Alloh untuk mengkhalifahi bumi

"Dia Tidak merasa berat memelihara keduanya"

ada khalifahNya, ada waliNya
".....dia menyentuh dengan tanganKu, dia berjalan dengan kakiKu, dia memandang dengan mataKu, dia berucap dengan lidahKu" [hadist Qudsi]

KhalifahNya, waliNya adalah hambaNya yang beriman.
hamba yang beriman adalah mereka yang mengikuti jalan cahaya
kesadaran ilahiah adalah merupakan pintu untuk memasuki cahayaNya secara langsung
pancaranNya yang memancar melalui hati hambanya sering dikatakan nurani

"sesungguhnya di dalam diri anak adam terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. apabila dia buruk, maka akan buruk pula lah seluruh anggota tubuhnya. ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." [al-hadist]

Hati / segumpal daging yang dikatakan baik oleh Rosululloh s.a.w adalah hati yang bersih, yang berkilau
yang tidak terhijab oleh apapun untuk memantulkan sinarNya
sedangkan hati yang buruk adalah hati yang kotor,
yang terhijab oleh kerak kerak sehingga ia tidak dapat memantulkan cahaya ilahiah.

Hati yang baik akan menuntun anggota tubuh untuk bergerak dalam kebaikan - kebaikan
sehingga melaluinya lah Alloh mempercayakan kedudukan sebagai KhalifahNya
pancaran hatinya mempengaruhi tiap gerk energi yang ada di alam semesta
segala sesuatu patuh atasnya
karena EksistensiNya lah yang menjadikan segala sesuatu itu tunduk

Allohu akbar......
seandainya sudah tak ada lagi khalifahNya
yang menjadi pusat pergerakan tiap partikel alam semesta
untuk tunduk sujud mengabdi kepada Sang Pangeran sejati, Sang Maha Pencipta,
tentulah pagelaran dunia ini akan segera digulung dan usai

salah satu tanda bahwa khalifah - khalifatulloh mulai semakin hilang
adalah sedikitnya orang yang memahami al-Qur'an
semakin sedikitnyaorang yang meresapi al-Qur'an

Al-Qur'an memang dibaca
namun hanya sebatas dibaca
dan berhenti di kerongkongan saja
hatinya justru sangat beku dan berkarat
tak secercah cahaya pun yang diterimanya
Nabi yang mulia muhammad s.a.w menyebutnya sebagai golongan Khowarij.

Baginda nabi s.a.w dan para sahabat, para auliyaillah, ulama billah, arif billah, khalifatulloh
adalah mereka yang meresapi betul al-qur'an
yang seolah olah menjadikan al-Qur'an sebagai makanan hariannya
sehingga al-Qur'an dapat dikatakan sebagai sumber energi baginya
karena mereka demikian meresapi al-Qur'an
sehingga aliran darahnya adalah mewujud sebagai al-Qur'an
aliran darahnya, setiap sel-selnya, pori pori tubuuhnya, juga nafasnya
jadi senantiasa berdzikir, sambung menyadari akan eksistensi Robbnya.

maka melalui merekalah Alloh menitipkan kursiNya

namun dari sekian banyak manusia
hanya sedikit yang memahami ilmuNya
karena Alloh sendiri telah menetapkan mereka sebagaimana ayat di atas.

Allohu akbar
Maha Luas sekaligus Maha Agung
Dia yang meliputi segala sesuatu

Maha Benar Alloh dengan segala firmanNya

untuk menikmati al-Qur'an,
tentunya bukan hanya dengan sekedar membaca
namun juga merenung
bukan hanya merenung, tapi juga dengan membaca
namun bukan sekedar tulisan yang dibacanya
melainkan membaca juga sesuatu yang tak berbentuk
membaca dengan terpejam mata, namun bukanlah hafalan
menyaksikan kebenaran Alloh dengan sebenar - benarnya
bersaksi dengan kebenaran, bukan dengan sekedar persangkan belaka

Alloh itu Maha suci
maka untuk memasuki dimensi kesucianNya penting bagi kita untuk bersuci lebih dulu
bersuci dengan air jernih nan suci
dimana menemukan air jernih telah tertuang di halaman - halaman sebelumnya

Sesungguhnya Ilmu Alloh itu suci
tak tersentuh tanpa kesucian

jika masih belum suci, tentulah ilmuNya aadalah rahasia

"Sesungguhnya mereka itu tidaklah mengetahui apapun kecuali hanya sedikit"

"sesungguhnya mereka itu tidaklah mengetahui apapun kecuali yang dikehendaki oleh Alloh"

ketuklah pintuNya yang ada di dalam diri kita sendiri sendiri
Ya Alim ....Ya Alimm.... Ya Aliiimmmm ......

yaa Alloh, limpahilah kami sesuatu yang baik untuk kami menurut Engkau
masukkan kami dalam golongan orang - orang yang Engkau cintai
ke dalam golongan orang - orang yang beriman
sehingga kami dapat mengabdi dalam kuasaMu
sebagaimana tujuanMu menciptakan kami

Amin,,, kebenaran adalah milik Alloh semata.

Memahami Dimensi Arsy

Firman Alloh s.w.t:
" ثم استوى على العرش "
Kemudian (Alloh) bersemayam di atas 'Arsy

Di Atas .....
Memang benarlah hanya Alloh Yang Maha Tinggi
Maha Meliputi, Maha di Atas segala - galanya

Sering perdebatan kita saksikan tentang Alloh yang tidak bertempat
tidak di langit, tidak di atas, tidak di bawah, tidak pula di mana - mana

Namun sangat jelas apa yang telah disampaikan oleh baginda nabi yang mulia
Muhammad s.a.w, dari Jibril a.s, dari Alloh s.w.t
yang menyatakan bahwasannya Dia (Alloh) bersemayam di atas 'Arsy.

bukan tentang masalah tempatnya,
namun tentang pemahaman kita yang sering keliru
menerjemahkan kalamNya
karena seringkali kita memetak - metekkan berbagai hal

Sehingga seringkali pula kita terkecoh oleh makna yang semestinya dipandang secara luas
menjadi sempit dan terbatas
jadilah kita tergelincir pada sesuatu pola pemahaman yang kurang tepat

Wallohu'Alam

Jika kita kaji al-Qur'an,
minimal mengaji atau membacanya secara berulang - ulang
atau bahkan khatam berkail kali,
tentunya kita akan menemukan juga menyadari
bahwa al-Qur'an dengan sangat jelas mengabarkan tentang pernyatuan dari berbagai macam pertentangan.
termasuk juga dalam bab yang sedang kita bahas ini

mengenai bab ini,
dalam suatu ayat atau surat yang ada dalam al-Qur'an telah disebutkan / dikabarkan bahwa :

  • Alloh ada di atas
  • Ia ada di atas Arsy
  • ada di mana - mana
  • lebih dekat dari urat leher
  • Sangat - Sangat dekat
  • kemanapun kita menghadap, di situlah wajah Alloh
  • Maha Tinggi
  • Maha Luas
  • Maha Meliputi
Secara akal dan nalar, tentulah aneh dan membingungkan
bagaimana mungkin al-Qur'an yang kita kenal sebagai kalamNya yang pasti benar
peng-kabaran-nya malah tampak demikian bertentangan sati sama lain?
seolah simpang siur (katanya di atas, kok juga ada di mana - mana, bahkan sangat dekat)
bagaimana mungkin bisa demikian?

namun pada kenyataannya memang benar demikian adanya

Alloh adalah Dzat Yang Maha Tinggi sekaligus Maha Dekat, sangat - sangat dekat

secara akal dan nalar itu hampir tidak mungkin
akan tetapi, untuk dapat memahaminya, tentunbukan sekedar akal yang musti kita gunakan
karena dimensi akal ada dalam lingkup dimensi jasadiah
yang bisa dikatakan sebagai dimensi yang rendah juga sempit.

Akal musti dibantu dengan kelembutan Rahsa untuk memahaminya.
Namun rahsa sendiri terkadang juga tidak mampu / belum sepenuhnya dapat mengantarkan kita
pada pemahaman yang luas dan riil mengenai hal tersebut

Maka adalah perjalanan pribadi yang akan menyaksikan secara langsung kebenaran tersebut.

Pada suatu khabar (Hadist) dijelaskan / diterangkan bahwa ketika mi'roj,
Rosululloh s.a.w di dampingi oleh malaikat Jibril a.s melintasi 7 lapis langit.
namun pada langit yang terakhir, Jibril berkata pada Rosululloh,
"Yaa Rosululloh, aku hanya dapat mengantarkan engkau sampai di sini saja. selanjutnya silahkan Engkau lanjutkan sendiri. karena jika aku terus berlanjut kesana, turut serta denganmu, tentulah aku akan lebur"

Ada satu ruang tersendiri, atau dimensi tersendiri yang memang tak terjangkau oleh Rahsa maupun Akal
Dimensi Rahsa ada di atas rasa,
pada dimensi inilah Jibril a.s menularkan kalam ilahi.
dari Rahsa tersebut diturunkan lagi ke dimensi Akal.
Akal yang menggerakkan pikiran kemudian seluruh tubuh gemetar tatkala turun kalam ilahiah disebut sebagai Rasa.
Dan pada dimensi akal inilah butir - butir kalam ilahi yang sedemikian halus mengalami pengkristalan
sehingga berubah menjadi mutiara mutiara ilmu yang dapat ditangkap oleh berbagai indra kita.

Maka dari itu akal harus sering sering dijernihkan
dengan cara di endapkan,
akal itu laksana air. -mungkin dalam pengetahuan modern telah diketahui bahwa ternyata di dalam otak memang dipenuhi oleh air-

jika ia sering terguncang, ia akan menjadi keruh
maka cara agar ia kembali jernih adalah dengan mengendapkannya.

akal yang keruh tidak akan mampu menerima juga memantulkan Cahaya dariNya
yang di salurkan oleh dimensi Rahsa
apalagi mengkristalkannya.

jika ia jernih, barulah ia dapat menerima dan memantulkan cahaya tersebut.

Rahsa yang tidak tertata akan sulit menterjemahkan kalam ilahiah
dan cara untuk menatanya adalah dengan kesunyian dan keheningan.

semakin sunyi dan hening wilayah Rahsa,
maka ketertataan akan semakin merapat dan mendekati sempurna
kalam - kalam ilahiah yang terlimpah akan mudah dipahaminya.

kedewasaan itu ialah ketertataan dimensi Rahsa
dan istiqomahnya kesunyian juga keheningan

dari sini dapat kita pahami bahwa ada dimensi teratas (yang lebih utama)
dimensi di atasnya akal dan Rahsa
Dimensi Pribadi
ruang pertemuan suci Pribadi (Nafs) dengan Robb-nya
tak ada apa pun di sana,
bahkan Jibril a.s yang bertugas menyampaikan wahyu pun tidak dapat menjangkaunya.

pahamilah bahwa Robb Maha Tinggi

Ia ada di atas 'Arsy.

pada suatu kabar (Hadist),
baginda yang mulia s.a.w mengabarkan
bahwa 'Arsy Alloh itu berada di atas air.

secara aqliyah,
dari penjelasan di atas yang telah terbabar
bahwa otak ini adalah / terisi oleh air
dan ada dimensi di atas air

Sekaligus Alloh Sangat dekat dengan hambaNya
bahkan saking dekatnya, Ia menyatakan bahwa Ia lebih dekat dari urat leher hambaNya
pun juga Ia meliputi segala sesuatu
Dimensi - dimensi itu berada mulai dari fisik hingga melebihi fisik
lebih dalam lagi.

semakin tinggi dimensinya,
semakin dalam dan luas cakupannya.

jika semakin kita berada pada dimensi yang tinggi dan lebih tinggi
maka kita akan berada dalam kedalaman sekaligus keluasan

urat nadi, urat leher, letaknya ada di luar,
mereka ada di jasad.
sama halnya dengan otak.
semakin ke dalam akan menemukan apa yang dikatakan sebagai
rahsa , rasa , juga akal.
lebih dalam lagi ada dimensi ilahiah yang tak terbatas kedalaman dan keluasannya

maka mari kita pahami lagi istilah
"Lebih dekat dari urat leher"
 سبحنك لا علم لنا الا ما علمتنا

Alloh Maha Luas juga Maha Meliputi

telah terjabar pada penjelasan - penjelasan sebelumnya.
maka mari terus melatih akal agar ia senantiasa jernih
dengan cara pengendapan
dan Rahsa agar tetap dalam kesunyian dan keheningan
kemudian sadari tentang kehadiran Alloh dan sambutlah Ia
dengan kepasrahan dan keridhoan

firmannya yang terdokumentasi dalam hadist qudsi,
"Barangsiapa yang mendekat kepadaKU sejengkal, maka Aku akan menyambutnya sehasta,
barangsiapa yang mendekat kepadaKU sehasta, maka aku akan menyambutnya sedepa,
barangsiapa datang kepadaKU dengan berjalan, maka akan kusambut dengan berlari."

perjalanan kita adalah perjalanan sunyi
perjalanan kita adalah pendekatan kepada Sang Ilahi
pendekatan kita adalah berupa penjernihan - penjernihan
pengosongan kekosongan
kesunyian - kesunyian
dan keheningan - keheningan.

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu Akbar.
Wa Lillahil-khamd

Haiyya 'alash-Sholah
Haiyya 'alal-Falah

Laa ilaha Illa Alloh
Muhammad ar-Rosululloh

Asyhadu an-Laa ilaha illa alloh
Wa Asyhadu anna muhammad ar-Rosululloh

Allohu Akbar, Allohu Akbar,,,

صدق الله العظيم , وصدق الرسول النبي الكريم

Jumat, 22 Januari 2016

Jalan Menemukan AKU

Dia benar ada di atas
Maha Mengetahui, mewariskan diriNya dalam dada hambaNya

Seandainya si Hamba tidak Terkurung Jasad, tentu si hamba akan selalu putih dan suci
Karena si hamba terkurung jasad,
maka wajib bagi hamba untuk dilekati berbagai kotoran,
kerak dan segala sesuatu yang sifatnya melekat

Itulah sebabnya Alloh mewajibkan kita untuk sholat
Sholat yang sejati
Sholat yang tidak banyak dapat dikerjakan

Sholat itu merupakan wilayah pencapaian tertinggi seorang hamba
sholat adalah perjalanan ruhani yang tinggi
Ia berada di atasnya cahaya, Rasa, juga segala pemikiran

Sholat adalah pengendapan rahsa untuk kemudian melesat melampaui rahsa
melapaui pikir melampaui cahaya

maka benarlah jika baginda Nabi yang mulia s.a.w bersabda,
"Sholat itu adalah mi'rojnya seorang mukmin"

demikian sangat benar juga firman Alloh yang tertuang dalam al-Qur'an,
"Sesungguhnya Sholat itu berat, dan hanya sedikit dari hambaKU yang khusyu"

Mi'rojnya seorang mukmin adalah perjalanan pribadinya menuju ketinggian Sang Pangeran Sejati
melapui wilayah kekuasaan juga singgasanaNya
Pribadi yang pasrah yang dapat melewati berbagai bentuk tipu muslihat yang menggiurkan

Alloh ......
benarlah Dia yang Maha Luar Biasa
Tak Terbatas dan juga Maha Agung
Dia menitipkan sebagian diri dan kuasaNya pada manusia
".....ketika sudah KU-tiupkan padanya Ruh-KU"

Ketika cahaya Luar biasa dariNya memancar dan menerpa BaitNya
yakni qolbu hambaNya yang mukmin
maka leburlah segala kerak dan kotoran yang melekat pada diri hambaNya
terbebaslah RuhNya dari BaitNya
kembali dengan penuh kepasrahan dan kerinduan

Di sana semua saudara dan kekasih berkumpul
bukan kekasih duniawi, melainkan kekkasih ruhani
dan juga kekasih sejati

Kekasih ruhani kita adalah Rosululloh s.a.w
kekasih sejati kita adalah Alloh s.w.t
saudara yang penuh kasih adalah mereka para kekasih Alloh yang lain

Alloh ......
Benar tiada yang lain selain Dia
Segala bentuk pastilah lenyap kala berjumpa denganNya
Maka sangatlah benar Al-Qur'an menggambarkan leburnya gunung
dan pingsannya nabi Musa a.s tatkala Alloh mengundangnya untuk berjumpa di bukit thuwa

Kita ini terdiri dari tiga unsur yang kita sebut Aku
1. Aku Jasmani
2. Aku Ruhani
3. Aku Sejati

Akuan jasmani ini adalah akuan terendah.
aku jasmani inilah yang tertimpa sakit, sedih, senang, sakit, suka, sehat, dan lain semacamnya.
keinginannya sangat banyak dan tak akan pernah ada habisnya.
aku jasmani ini tidak akan pernah puas, selalu menuntut untuk lebih dan lebih.
ia bertempat di Dunia.

Akuan Ruhani ini bisa dikatakan sebagai tingkatan yang atas.
disini apa yang disebut aku juga bisa terkena tenang, damai, suntuk, gelisah, dan lain sebagainya.
inginnya surga takutnya neraka.
dialah yang bertempat di Surga ataupun neraka.
dia bisa mengalami kekeruhan / kekotoran dikarenakan imbas kelakuan jasmani yang melawan tatanan semesta.
Semestinya ia bersinergi dengan semesta
sayangnya sedikit manusia yang menyadarinya.
obat penenangnya adalah Dzikr, media bersucinya adalah Sholat,
kedamaiannya adalah istighfar, tempat terindahnya adalah 'Subhanalloh'

Akuan Sejati inilah yang disebut kesejatian, ia tak terkena mati, tak tersentuh sedih, sakit, bangga, bahagia, dan sebagainya.
lain halnya dengan akuan yang dua sebelumnya.
akuan sejati inilah yang dipanggil sebagai "Muthmainnah"
yang sejati inilah yang akan kembali padaNYA
dialah hakikat sejati dari manusia

Alloh ......
Maha Benar Engkau yang telah mengajarkan bermacam - macam ilmu tanpa perantara
tidak melalui jibril ataupun semua malaikat-Mu
Engkaulah yang memberi faham pada para malaikat tentang kesejatian adam.
hingga mereka patuh terhadapMu ketika engkau perintahkan mereka untuk bersujud kepada adam

Alloh .......
Sesungguhnya jika tidak Engkau kehendaki ilmuMu mengalir, tentulah kami jadi berbangga diri dan sombong
Sesungguhnya kami bukanlah apa - apa
Sesungguhnya kami hanyalah hambaMu yang ingin kembali berserah diri padaMu

Huuu Huuuu Alloh Huuu ..... Alloh ......

Rabu, 11 Februari 2015

Sisi Lain Al-Qur'an

Ngaji qur'an nyatanya memang perlu .....
‪#‎salah_satu_keistimewaan_al‬-Qur'an
Jika hati kita belum bisa menyadari dimensi alam ketuhanan, cahaya Al-Qur'an akan mengetuk ngetuk hati kita...
Karna pada dasarnya hati yg tak dapat menyadari eksistensi dimensi ketuhanan adalah hati yg sangat berkerak....
sehingga perlu sesuatu untuk menggosok , mencuci , merontokkan kerak kerak tersebut agar si hati dapat memandang sebuah kenyataan, dan tidak selamanya terkurung dalam tempurung khayalan , ketidak-nyataan...
cahaya dari masing-masing huruf yg tersusun rapi dan indah dalam al-Qur'an inilah yg akan mendobrak tempurung tersebut ...
antara pecaya dan tidak memang,,
saya pun juga baru menyadari sesaat sebelum menulis ini...

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...