Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 April 2023

Bersikap Menerima Ketika Dalam Keadaan Fasik



 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

"Maka Alloh mengilhamkan kepadanya (jiwa) kefasikan dan
ketakwaan" [Q.S. Asy-Syams : 8]

sejatinya, setiap segala sesuatu yang terhampar di sekeliling kita ini adalah sudah benar adanya. telah merupakan suatu ketentuan pasti dari Alloh azza wajalla. termasuk juga ketika kita dirundung keadaan fasik (misalnya) terpaksa melakukan sesuatu yang kita tau bahwa itu kurang tepat tapi entah kenapa kita terpaksa melaksanakannya juga. sebagai contoh ringan, kita tahu bahwa membayar hutang, itu baiknya adalah disegerakan jika kita sudah ada bekal untuk membayarnya. namun entah kenapa tiba tiba pas "punya" kita takut bahwa jika uang itu dibayarkan sekarang, maka esok mau makan apa, belanja dengan apa dan seterusnya dan seterusnya. maka jadilah kita menunda pembayaran hutang tersebut. maka kelakuan fasik ini terpaksa kita lakukan.

contoh lain yang sangat gampang adalah menggunjing teman dan sesamanya. menggunjing adalah tindakan yang fasik, namun tidak jarang muslimin terjerumus dalam tindakan seperti itu. sekalipun semua tahu bahwa ini adalah tindakan yang fasik.

nafsu / jiwa yang terkadang memiliki kecenderungan menyesal, (nafsul lawwamah) tidak jarang menjadi celah empuk bagi musuh nyata manusia (iblis/setan) untuk membisikkan prasangka tidak baik atas diri dan ketetapan Alloh s.w.t.
seringkali nafsu lawwamah akan menjadi jalan untuk membisikkan betapa kita ini tidak sempurna, betapa diri itu masih jahat, betapa diri itu masih suka maksiat, dan lebih bahayanya lagi ketika nafsu lawwamah itu digunakan jalan untuk membisikkan pernyataan menyesatkan "betapa Alloh tidak menyayangi dirinya, sehingga Alloh menetapkan bagi dirinya tindakan yang tidak benar"

sehingga jika akal kita tidak memfilter bisikan bisikan itu dengan ilmu, lalu serta merta membenarkannya. tentu ini akan membawa sikap ketidak puasan terhadap ketentuan Alloh. dan ini adalah kecelakaan yang fatal sebenarnya. dirinya menjadi tidak ridho Alloh sebagi pengatur hidupnya (robb), dengan kata lain, yang seperti ini adalah sikap kufur yang tersembunyi (halus). naudzubillah min dzalik.

mengenai ayat yang kita munculkan di atas, dikisahkan dalam tafsir ibnu katsir bahwa dahulu pernah ada seorang laki laki dari bani Muzayyanah atau bani Juhainah yang datang kepada Rosululloh s.a.w lalu bertanya, "wahai Rosululloh, bagaimanakah menurut anda tentang apa yang dikerjakan oleh manusia. yang mana mereka bersusah payah menanggulanginya. apakah hal itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dalam takdir terdahulu, ataukah hal itu merupakan sesuatu yang mereka terima dari apa yang disampaikan oleh Nabi mereka kepada mereka lantas diperkuat dengan hujjah atas diri mereka".
maka Rosululloh s.a.w menjawab, "Tidak demikian, sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas diri mereka"
lalu laki laki tersebut kembali bertanya, "lalu apakah gunanya kita beramal?"
Rosululloh s.a.w menjawab, "barangsiapa yang diciptakan oleh Alloh untuk mengerjakan salah satu di antara keduanya, maka Alloh telah menyiapkan untuk itu".
dan hal yang membenarkan (pernyataan) ini dalam kitabulloh adalah firmanNYA yang menyatakan, "demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan". [Asy-Syams : 7-8]

sejatinya, apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi diri hamba hambanya, maka Alloh akan menetapkan bagi hambanya untuk melakukan tindakan tindakan yang memang baik baginya. pun demikian sebaliknya, sesuatu yang tidak tidak bermanfaat yang ditetapkan bagi hambanya merupakan indikasi bahwa Alloh mencondongkan ilham fasik kepadanya.
sehingga dari sini kita dapat bermuhasabah atas diri kita masing masing. di posisi manakah kita saat ini?
apakah saat ini kita sedang diletakkan oleh Alloh dalam lingkaran tindakan yang penuh maslahat dan kebermanfaatan. ataukah justru sedang diletakkan oleh Alloh dalam keadaan tindak tanduk yang fasik?.

guru kami, pernah menuturkan kepada kami bahwa jika kita sedang diposisi kefasikan. pertama tama terima dan sadarilah dahulu bahwa keadaan itu adalah benar benar dari Alloh. kita ridho dulu atas ketentuan Alloh terhadap diri kita, lantas kita ber-istightighfar, dan mengakui bahwa kita adalah hambaNYA yang sedang dalam keadaan fasik, kita mohon ampun dan lalu mohon diperbaiki keadaan keadaan kita.

terkait hal ini, Rosululloh s.a.w telah bersabda, “Tiada yang bisa menolak takdir (ketetapan) Allah, kecuali doa.” [HR. Tirmidzi, Hakim, Ahmad, dan Ibnu Majah]

wallohu'alam bish-showab

Selasa, 25 April 2017

Rahasia Dhuha


وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
(Surah Asy-Syamsa,91:1)
-------------
Bismillahirrohmanirrohim ........
Segala sesuatu yang disebut oleh Alloh di dalam al-qur'an sesungguhnya tidak ada kesia siaan sama sekali. Semuanya memiliki arti dan spirit yg luar biasa. Terlebih apabila sesuatu tersebut diawali dengan huruf yang memiliki kandungan makna sumpah (demi)
Ketika Alloh berfirman, "Demi Matahari dan Demi cahayanya di pagi hari"
Sungguh secara sains modern pun para ilmuwan akan setuju semua dengan berbagai keutamaan dan khasiat cahaya matahari pagi. Bahkan orang paling bodoh pun di dunia ini akan mengakui bahwa cahaya yang berpijar di pagi hari adalah lebih menentramkan dan mendamaikan.
Namun di sini kita tidak akan membahas matahari dan cahaya pagi nya dari sisi sains. Karena suluk gemblung memang bukan penyaji khazanah sains.
Kita akan membahas bagaimana cahaya dhuha ini demikian utama hingga ada beberapa kekhususan yang dikandungnya antara lain melancarkan rizki .....

Tentunya dalam niat awal sholat dhuha jangan sekali kali mengharapkan rizki yg melimpah. Karena hal demikian akan memunculkan penyelewengan tujuan. Nabi s.a.w pernah mengingatkan, "sesungguhnya amal itu tergantung niatnya". Dalam sabda lain beliau s.a.w, beliau mengingatkan bahwa ada orang yg pergi hijrah karena harta maka ia akan hanya menerima harta tersebut saja, ada orang yg berhijrah karena wanita maka yg didapatnya hanyalah wanita saja selebihnya tidak, dan ada yg berhijrah karena Alloh maka ia pun akan mendapatkan apa yg ia niatkan.

Demikian pulalah sebaiknya sholat dhuha niatkan untuk bersyukur kepada Alloh. Sebagaimana firmanNya,
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Surah Ali 'Imran (3:145)

Dan juga firmanNya dalam surah al-baqoroh, "Berdoalah kepadaKU maka akan ku kabulkan, dan bersyukurlah kepadaKU dan janganlah engkau kufur"

Juga firmanNya dalam surah Al-'A`rāf:58
"Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur."

Kalau kita melaksanakan sholat dhuha dengan niat mohon tambah rizki, bukankah di dalam niat itu ada terselip rasa kufur meski hanya sedikit.
Sedangkan kufur meskipun hanya sedikit hendaknya segera ditepis dari benak seseorang yg mengharapkan perjumpaan dengan Alloh. Sebagaimana dalam surah asy-syams dikatakan, "dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori (jiwa) nya."
Setelah Alloh mengungkapkan tentang adanya ilham menuju jalan kefasikan dan ketakwaan. Beruntung bagi mereka yg memili ilham menuju jalan ketakwaan dan merugi bagi mereka yg menghendaki ilham jalan kefasikan.
Kufur itu adalah sumber dari segal bentuk kefasikan. Dalam surat asy-syams dikatakan sebagai orang yg mengitori jiwanya. Karena kotoran itu akan menghijab diri kita sehingga kita menjadi buta (bashirohnya). Kebutaan inilah yang menyebabkan manusia kufur, dan lantas kufur ini akan membawa kita pada berbagai jalan kefasikan.

Dhuha adalah penjernihan. Diman ba'da bergantinya kegelapan malam kita sambut dengan subuh yg masih cukup lumayan gelap. Barulah itu ketika matahari berpijar kita disunnahkan bersyukur kepada Alloh dengan sholat dhuha.
Rosululloh mengingatkan tentang siapa saja yg mengawali harinya dengan syukur, maka di sepanjang hari itu dia akan berada dalam liputan Alloh s.w.t.

Silahlan ditadabburi surah asy-syams dikala menjalankan sholat dhuha, insyaAlloh akan terang benderang bagi anda mengenai macam macam rahasia (sirr) Alloh.
Sebagian kecilnya adalah bagaimana doa dhuha energinya begitu luar biasa.

Dalam doa sholat dhuha, anda akan dibawa masuk dalam kesadaran fana billah fana fillah. Awaan doa sholat dhuha adalah pengakuan sejelas jelasnya bahwa tiada satupun yg berkuasa atas segala kondisi dan masa kecuali Alloh. (Yaa Alloh dhuha ini adalah dhuhaMU dst...) dalam doa yg pertama kita benar benar diajak mengakui dan melebur dalam kuasa Alloh Yang Maha Segalanya lagi Maha Meliputi lagi Maha Perkasa.

Selanjutnya permohonan yg demikian jernih yg bertumpu pada lafadz "...dan apabila haram maka bersihkanlah...."
Seringkali dalam berusaha di dunia kita tergelincir pada sesuatu yg sedikit mengarah pada syubhat karena kita tidak benar benar tahu sumber harta yg kita terima itu benar benar dari hal yg khalal ataukah syubhat. Seorang salikin sepantasnya senantiasa menjaga diri dari hal hal yg syubhat.

Adalah sayyidina abu bakar ash-shiddiq ketika beliau mengetahui tentang asal muasal susu yg beliau konsumsi adalah diragukan kehalalannya, maka beliau memuntahkan air susu tersebut.
Demikian memang sebaiknya, namun karena pada zaman ini amat sangat samar, maka kita memohon kepada Alloh untuk mensucikan segala rizki yg telah kita terima.

"Bihaqqi dhuhaika wa bahaika ........" dan ditutup dengan pengakuan bahwa yg bisa melalukan segala permohonan sebagaimana tertuang dalam lafadz pertengah doa sholat dhuha adalah hanya Alloh semata. Pengakuan bahwa laa haula wa laa quwwata illa billah itu adalah nyata senyata nyatanya dengan penuh tawadhu' dan pengakuan yg sedalam dalamnya.

Wallohu'alam

Sabtu, 24 September 2016

Alloh Yang Mengatur kita atau kita yang mengatur Tuhan

Siapapun anda yang tergerak untuk membaca ini
Mari kita diam sejenak dari macam macam prasangka yang ada di dalam benak kita
Mari kita sama sama memasuki kedalaman bathin kita masing masing

Saya tidak mengatakan bahwa do'a itu adalah bentuk pengaturan kita atas kehendak tuhan
Atau do'a adalah seirama dengan ketidak ikhlasan kita menerima apa apa bentuk pemberian Alloh
Saya juga tidak mengatakan bahwa kita bisa mendikte tuhan
Karena sesungguhnya Alloh berkehendak semaunya sendiri saja
Karena memang kebijaksanaannya melebihi segala sudut pandang manusia

Yang saya maksud dengan kalimat "kita yang mengatur tuhan" sesungguhnya adalah sebuah kemustahilan
Yang menyebabkan seluruh doa kita tidak terkabulkan
Seluruh angan angan kita menjadi kosong tak berarti
Padahal sesungguhnya jika sesuatu yang terbesit di dalam benak kita itu adalah bentuk pengaturan dari Alloh
Maka hal itu akan mewujud "kun-fa-yakun"

Oke kita persantai bahasanya
Kita tentu pernah memimpikan banyak hal
Di dalam benak kita terurai banyak gambaran dan lalu menggerakkan lisan atau hati kita untuk berdoa
Dan doa itu ada terwujud dan ada yang tidak
Pernah kita memperhatikan ketika doa itu terwujud
Sesungguhnya yang menggerakkan kita untuk berdoa itu adalah Alloh?
Atau pernahkah kita menengok bahwa yang berdoa ketika doa itu tidak mewujud itu adalah refleksi hasil ego kita?
Nah ketika ego kita yang berkata kata
Atau yang membentuk suatu bayangan di dalam pikiran
Itulah yang dikatakan mendikte tuhan
Mengatur tuhan

Sudah tentu hal itu membuat tidak terkabulnya suatu permohonan
Padahal jelas jelas Alloh berfirman, "Berdoalah pasti akan Aku kabulkan", dan ditegaskan lagi oleh firmanNya (yg artinya), "dan janji Alloh itu adalah pasti"
Seringkali kalau doa kita tidak juga terkabul, kita akan mempertanyakan janji Alloh yang itu
Wajar.... Manusia....
Sungguh manusia itu sangatlah bodoh
Dalam kondisi yang demikian pun kita masih berani mempertanyakan janji tuhan
Bukannya malah intropeksi diri
Apakah kita telah terlanjur mencoba mengatur tuhan?
Ketika kita sadar bahwa kita telah mengatur tuhan,
Semestinya kita juga sadar siapa yang sedang berperan atas diri kita kala itu.
Ego, nafsu, sifat syaithoniah dan iblisiyah manusia, was was al-khonnas, yuwaswisufi shudurinnas min al-jinn wa an-nass.

Lain halnya kalau yang berperan di dalam diri kita adalah Alloh
Lisan kita, hati kita, benak kita, segala sesuatu yang ada di dalam diri kita adalah haqq Alloh
Yang menggerakkan kita berdoa adalah Alloh
Maka sudah barang tentu gerak selanjutnya yang untuk merealisasikan doa juga adalah merupakan af'al / gerak Alloh

Misal begini, ketika kita sudah berputus asa terhadap dunia
Lalu kita bertekad meninggalkan dunia
Lari beranjak ke Alloh
Dan berserah diri secara total kepadaNya
Ketika begitu kuatnya kita berasyik masyuk dengan Alloh
Kok tiba tiba muncul benak yang sangat kuat dan sangat meyakinkan bahwa kita masih harus menata dunia
Sehingga menjadi baldatun toyyibatun warobbun al-ghofur
Begitu pun selanjutnya kok kita terasa bergerak begitu ringan atas segala perbuatan yang merubah sesama ke arah yang lebih positif
Dan lisan kita ketika berdoa pun semuanya secara tiba tiba / spontan saja
Dan semua doa terealisasi
Di situlah letak pengaturan Alloh

Nah selanjutnya bagaimana agar kita semua dapat mencapai posisi itu?
Posisi yang segala sesuatunya digerakkan oleh Alloh
Posisi dimana Diri kita menjadi wadah tajalliNya Alloh, bukan tajallinya nafsu , was was , syaiton dan iblis

Yang pertama dan pasti adalah anda / kita musti sering sering berada dalam kondisi hening, sunyi, diam, kosong
Hening dari prasangka, sunyi dari pemikiran, diam dari berbagai gagasan, kosong atas keinginan.
Ini dapat kita latih (riyadhohi) melalui Dzikir Nafas Tahap Satu.

Seba'da itu sandarkan dan sadarkan diri anda hanya kepada Alloh dengan melatih dalam setiap masuk dan keluarnya nafas dibarengi dengan dzikir Huu Alloh.

Hal ini bermanfaat untuk mengabaikan ego nafsu kita
Dan mengembalikan seluruh eksisitensi diri kita kepada Alloh.
Selanjutnya latih untuk jumeneng
Yaitu tegap lurus ke Alloh
Suluk / berjalan kehadiratulloh
Ini dapat anda latih secara kontinyu dengan dzikir nafas tahap 3.

Selanjutnya terserah Alloh hendak mentajallikan DiriNya , af'alNya seperti apa dalam diri kita

Kita tak perlu takut untuk berjalan kehadiratnya
Penguasaan ilmu dan amalan bukanlah tolok ukur utamanya untuk mencapai maqom fana fillah tersebut
Tolok ukur utamanya adalah kebulatan tekad kita untuk melebur dalam kuasa Alloh
Dengan membersihkan seluruh bentuk ego diri kita
Semoga hal ini bermanfaat untuk kita semua
Yang merindukan Alloh

Minggu, 14 Agustus 2016

Spirit Of InsyaAlloh wa ad-du'a

sebuah nyawa dari segala sesuatu adalah sangat penting
bahkan itulah yang paling penting dari sesuatu itu sendiri
maksudnya inti daripada sebuah materi itu yang lebih penting dari materi itu sendiri
Tubuh anda adalah materi, namun anda bukanlah materi
Ucapan, kata, bahasa, istilah itu adalah materi, namun isi daripada semua itu bukanlah materi
dan isi itulah yang lebih penting

Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki nyawa
biasa kita katakan sebagai bathin atau ruh
termasuk setiap ucapan
termasuk juga ungkapan InSyaAlloh

sering kali kita menganggap insyaalloh adalah ungkapan keraguan
mungkin ada benarnya
namun keraguan untuk kemudian mengucapkan insyaAlloh itu sesungguhnya adalah permainan ke-tidak sadar-an
jika kita menyadari betul isi daripada ungkapan insyaalloh,
maka sudah pasti tidak ada keraguan lagi di dalam diri kita
insyaalloh itu merupakan penyerahan diri
sebagaimana pula do'a
do'a itu adalah penyerahan
kalau sudah berdoa ya sudah jangan lagi memperkira - kirakan apa yang hendak kita lakukan atas doa itu
biarkan alloh yang memproses terwujudnya do'a itu

InsyaAlloh pun demikian.
jangan mengada - adakan usaha apapun untuk mewujudkan apa yang sudah kita serahkan kepada alloh
biarkan Alloh yang memproses diri kita
karena proses atas ego kita tentu tidaklah sama dengan proses dari Alloh
maksudnya bobot nilai hasil dari proses itu

InsyaAlloh itu berarti kita telah menyerahkan segala urusan kita kepada Alloh
barulah ketika Alloh menggerakkan diri kita untuk menjalankan prosesNya
maka kita ikuti.
InsyaAlloh ini bisa membongkar seluruh paradigma kita yang mungkin sempat tersesat
InsyaAlloh bisa membukakan segala kekeluan pikir kita
kengiluan lisan kita, pandangan kita, dan gerak kita dan sebagainya dan sebagainya

kalau memang sempat ada ragu ketika mengucapkan InsyaAlloh,
biarkan saja, karena sifat dasar dari otak manusia memang untuk menimbulkan keragu - raguan
kalau saya cuplik ucapan baginda nabi yang mulia s.a.w, "tinggalkanlah ragu - ragu, karena ragu ragu itu datangnya dari syetan"
- min syarril was was al-khonnas, alladzi yuwas wisufi shudurinnaas, minal jinnati wan nass -

abaikan saja ragu - ragu itu
kalau anda pegang terus ragu - ragu itu
maka keragu raguan itu akan menjadi nyata.
contoh anda mengharapkan suatu kondisi A, anda berkata "InsyaAlloh akan A"
lalu anda ragu akan itu dan anda pegang betul keragu - raguan itu
kun fa yakun, kondisi A tidak akan pernah anda temui.
demikian sebaliknya.

"Ud'uni Astajib lakum"
Alloh itu pasti akan mengabulkan semua doa hamba - hambaNya
tinggal hambanya sabar atau tidak saja untuk menjalani prosesNya
kalau tidak sabar tentu bisa terbengkalai doanya.
wallohu'alam bish-showab

Jumat, 12 Agustus 2016

TAHLIL - ISTIGHOTSAH - SHOLAWAT

Tahlil (serangkaian wirid / tahlilan) sebagaimana yang telah mafhum kita ketahui dan pahami selama ini
sesungguhnya menyimpan energi tersendiri yang menembus tiap - tiap batasan dan kedalaman
kedalaman bumi yang kita kenal dengan istilah Kubur 
dan juga kedalaman bathin, ini juga dapat kita katakan sebagai kubur
seperti yang telah kita pahami bahwa bathin kita memang terkubur oleh jasad
anda dapat merasakan hal ini jika anda memang telah mengasah diri anda dengan berbagai riyadhoh
tahlil yang kita wiridkan akan sampai menembus dimensi - dimensi kedalaman kubur
apabila kesadaran kita telah benar - benar terpaut dengan Alloh azza wa jalla

istighotsah adalah hubungan vertikal seorang hamba dengan Robbnya yang Maha Tinggi
kita tidak dapat membayangkan tinggi sebagaimana tinggi yang dikenal oleh alam fikir
tinggiNya adalah ketinggian dimensional spiritual / bathin
yang tak jarang sulit untuk diuraikan dalam bahasa verbal
anda yang telah menapaki perjalanan - perjalanan spiritual
telah melalui berbagai macam riyadhoh tentu insyaAlloh dapat memahaminya
istighotsah adalah perjalanan mi'rojnya seorang hamba
untuk bermunajat kepada Alloh azza wa jalla
penyerahan diri secara total untuk kemudian siap diproses olehNya

Sholawat adalah pengejahwantahan dari hubungan vertikal seorang hamba dengan RobbNya dalam istighotsah
sholawat adalah horizontalnya Daya yang telah diterima dari Alloh untuk ditebarkan kepada seluruh alam
sholawat inilah yang menjadi kunci respondnya alam semesta akan hajat - hajat kita
yang telah kita munajatkan kepada Alloh s.w.t
sholawat adalah dimensional sambungnya antar partikel semesta dengan diri kita
semesta yang sejati adalah melingkupi seluruh dimensi
baik dimensi materi hingga dimensi bathin
hingga alam arwah

Senin, 08 Februari 2016

Bab Doa

Pengetahuan, Pemahaman, Kesadaran..... tetaplah bertingkat
Pertama, dalam tingkatan terendah,
Orang orang yg berdoa, seperti bermain tebak tebakan
Tergantung keberuntungan
Seolah olah doa mereka terkadang diijabah, terkadang juga ditolak
Ada waktu mereka mengira doanya terkabul, namun ternyata tidak.
Jadi mereka hanya mengira-ira
Kalau terkabul ada yg mengira itu bentuk kebaikan tuhannya
Juga terkadang mengatakan bahwa itu karena keseringannya berdoa.

Dan jika doanya tidak terkabul,
Mereka mengira apa yg sedang diterimanya sekarang adalah bentuk ujian.
Atau tuhan sedang merencanakan yg lain.
Mereka hanya bisa mengira saja.

Hal semacam ini disebabkan masih adanya kabut penghalang di dalam basyiroh (mata hati) nya.
Mereka hanya bisa meraba raba
Dengan menggunakan tongkat khusnudhon
agar tidak semakin celaka jika haru ber-suudhon kepada tuhannya
Tingkatan ini paling banyak penghuninya
Bahkan hampir rata rata manusia menghuninya.

Pada tingkatan kedua terdapat pemahaman dari orang orang yg sedang memasuki wilayah hampir / seolah fana fil-aqli.
Ia atau mereka yakin betul bahwa semua ini sudah tertata rapi
Ia berdoa ataupun tidak, semua tetaplah akan terjadi
Karena akal mereka telah mencerna bahwa jauh jauh hari sebelum terlahir
Pola kehidupannya sudah tercatat dan terencana rapi
Serta sudah tertata, tak dapat digoyang lagi

Sekalipun ada kabar yg menyatakan bahwa takdir itu bisa dirubah dengan doa
Tetap saja ia menyatakan tidak mungkin
Karena di dalam benaknya, ia telah meyakini bahwa berdoa pun sesungguhnya adalah rancanganNya
Atau sudah tertulis di dalam kitab induk (lauhul mahfudz)
Bahwa saat itu ia memang harus berdoa

Jadi orang orang semacam ini sedang mengalami peleburan egoisitasnya
Egonya hampir hilang
Maka ia menyadari yg demikian itu
Seolah olah dia merasa bahwa tiap gerak geriknya adalah sudah ditetapkanNya.
Bahkan jika dijebloskan ke dalam kubangan kotoran pun dia bersedia
Tanpa minta untuk dikeluarkan dari sana.

Golongan ini seolah telah pasif
Namun tetap bergerak sesuai kehendakNya.
Pasifnya mereka adalah tidak punya keinginan
Gerakan mereka adalah mereka terjemahkan sebagai ketetapan induk
Di zaman ini mulai bertebaran golongan yg mengalami pemahaman kesadaran ini.

Sedangkan pada tingkatan selanjutnya,
Tingkat kepahaman ketiga
Orang orang mulai terlepas dari pemahaman kedua
Biasanya mereka telah melewati dua pemahaman sebelumnya.
Kabut yg menyelimuti basyirohnya telah tersibak
Ia dapat menatap dengan kebenaran
Dan ia pun tidak lagi terlebur,
Tapi sudah maujud adam-ahad
Satu bentuk kesadaran yg tetap satu bulat tak terpecah
Namun merangkul seluruh jagat semesta.
Ia adalah pribadi unggul yg bijak

Bagi mereka dalam hal berdoa,
Itu bukan lagi semacam kira kira,
Ataupun ketetapan masa lampau
Berdoa bagi mereka adalah komunikasi antara dia dan Khaliqnya.
Bisa jadi terjadi tawar menawar di sana.
Doanya pasti direspon atau ditanggapi oleh alam semesta selaku eksekutor sunnatulloh
Sesuai persetujuan Alloh s.w.t

Orang orang ini dapat menangkap apa yg ia mintakan itu baik baginya ataukah buruk
Semua tampak jelas
Namun pilihan tetap ada pada pribadinya
Alloh telah mengabarkan apa apa yg jarang dimengerti orang pada umumnya terhadap orang orang tersebut.
Wilayah ini masih merupakan wilayah eksklusif
Bahkan sampai hari ini
Kebanyakan para pemburu kebenaran hanya berhenti pada pemahaman kedua
Ia yg berada di wilayah ini tidak lagi menatap dengan sebelah mata
Namun dengan dua matanya
Sehingga jadilah ia manusia bijak
Manusia terpilih untuk mengemban khalifatulloh.

Wallohu'alam
"ادعوني أستجب لكم، والشكرلي ولا تكفرون"

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...