Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2016

Stabilisasi Syari'at

Syari'at itu mencakup dimensi dhohir dan bathin
bagi seorang hamba yang kesadarannya masih dalam tataran kesadaran materi, syariat diperlukan baginya untuk membiasakan diri jasadnya agar berlaku baik (hasan)
juga untuk membangkitkan gairah / kerinduan untuk berhijrah menuju kesadaran jiwa
yaitu tataran kesadaran yang lebih tinggi dan mendalam lagi daripada kesadaran materi

dalam tataran kesadaran jiwa pun, syariat tetap berlaku dan dibutuhkan untuk menyeimbangkan dan menjaga spirit dalam perjalanan hijrah tersebut (suluk)
seandainya ia melupakan syariat yang notabene mengatur langkah jasad /materi, tentu ia akan bermalas - malasan
walhasil jiwanya vakum, mandeg, bahkan terjatuh lagi dalam kesadaran materi
jika sudah demikian, ia akan merasakan kegalauan dan kegetiran laksana ia berada di dalam neraka
sampai ia memulai lagi perjalanan jiwanya dari syariat kesadaran materi

demikian pun jika ia telah semakin masuk ke dalam kesadaran ilahiah
yakni kesadaran yang lebih tinggi dan dalam lagi daripada kesadaran jiwa
syari'at itu dibutuhkan untuk menyelaraskan jasad - jiwa - ruh nya

Manusia yang telah selaras antara jasad - jiwa - ruh nya
maka dialah yang disebut sebagai insan kamil
manusia yang sempurna; khalifatulloh; waliyulloh
atau lebih pantas ia disebut sebagai hamba Alloh (abdulloh)
sebagai penghormatan atas penghambaannya kepada Alloh
Jasadnya sujud, Jiwanya rukuk, Ruhnya jumeneng (Aqimish-sholah)
senantiasa sambung dirinya dengan alloh
menegakkan sholat dalam setiap waktu
itulah yang disebut sholatud-daim
sholat yang berkepanjangan

Jumat, 12 Agustus 2016

Fakir dan Kaya

segala tingkah laku kebajikan (syariat) itu memiliki wilayah keutamaannya masing masing
seseorang tidak dapat dengan egois memaksakan dirinya untuk memperoleh atau mengamalkan seluruh bagian keutamaan dari berbagai laku kebajikan syariat sekaligus
orang fakir - orang kaya yang dermawan masing masing memiliki posisinya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh alloh baginya

memanglah sangat banyak keutamaan orang fakir yang bersikap zuhud
daripada keutamaan orang - orang yang kaya
namun apabila Alloh menetapkan hidup yang kaya bagi diri kita
maka kita tidak boleh mengharapkan penghiduan yang fakir
hanya karena kita melihat dari sudut fadhilah yang begitu banyak terlimpah bagi fakir
karena yang demikian itu dapat menumbuhkan egoisme secara halus namun efektif

sebaliknya apabila Alloh memposisikan kita dalam kondisi kaya
maka kita harus mensyukurinya
dan jangan memberikan motifasi kepada si miskin yang memang telah ditetapkan Alloh untuk berlaku zuhud
tetaplah kita mencintai mereka dengan cara memelihara kehidupan duniawi mereka / finansial mereka
hal demikian lebih menyelamatkan masing - masing pihak
apabila si kaya memaksakan diri untuk mengiming - imingi si fakir
dengan tujuan si fakir agar turut menjadi kaya agar pula ia menjadi mudah bersedekah
maka hal itu tidak baik disebabkan yang demikian itu akan dapat menggoncangkan keimanan si fakir yang sedang menapaki hidup zuhud
yang seperti ini justru membahayakan masing - masing fihak

demikian sebaliknya, apabila Alloh menetapkan kita dalam kefakiran
maka kitapun harus mensyukurinya dan tidak mengharap keutamaan sebagaimana keutamaan yang dimiliki oleh golongan kaya
telah banyak kejadian yang dapat kita ambil pelajaran
yakni adanya orang - orang fakir yang sangat bertakwa
namun ketika diberi kekayaan oleh alloh. ketakwaannya memudar
pun sebaliknya .... dan lain - lainnya dan lain - lainnya

dimanapun posisi kita, hendaknya kita syukuri dan tetap teguh memegang ketakwaan kita atas Alloh s.w.t

Sabtu, 11 Juni 2016

Muqoddimah Nderes qur'an Romadhon-1

Kalau kita dengar kata nderes (bahasa jawa), biasanya kita akan terpaku pada pemahaman bahwa nderes itu adalah membaca al-qur’an dengan keindahan suara secara tartil. Sama halnya dengan ketika kita mendengar istilah ‘membaca’ dalam bahasa arab (tilawah / qiro’ah) ataupun indonesia sendiri. Biasanya tangkapan kita justru akan menuju pada satu sudut membaca saja. Maksudnya pokoknya hanya membaca.

Terlebih kita yang berada jauh di tanah kelahiran bahasa arab. Pokoknya sudah membaca dengan suara yang indah ya sudah sah dan oke.
Sebenarnya bukan demikian. Yang dimaksud nderes (dalam bahasa jawa) ataupun qiro’ah (membaca dalam bahasa arab), titik leburnya adalah justru ada pada peresapan makna dari apa yang sedang kita baca. Mengenai hal ini salah satu ulama nusantara atau dapat kita sebut beliau sebagai guru bangsa di zaman ini mengatakan, “kesuksesan seorang qori’ (orang yang melantunkan ayat – ayat al-qur’an dengan nada – nada indah) bukanlah terletak pada seberapa banyak audien (orang yang mendengarkan) menjadi terpukau akan keindahan suaranya. Melainkan seberapa banyak audien yang jadi merenung memahami makna dari apa yang sedang dibacanya dan kemudian membangkitkan kesadaran ilahiah pada diri para audiensnya.”

Demikian itu sebenarnya apa yang selama ini mungkin kita pahami sekilas sedang mengalami pergeseran makna. Kalau orang arab sendiri, tentu sudah mengetahui tentang apa yang dibacanya ketika ia sedang melantunkan ayat – ayat suci al-qur’an. Minimal mereka tahu arti dari apa yang sedang mereka baca, sebagaimana kita tahu apa yang sedang kita baca dari tulisan ini.

Meskipun demikian, tentu tetap ada lintasan – lintasan yang musti di terjemahkan lebih luas lagi atau perlu ditafsirkan lebih mendetail lagi. Hal seperti ini tentu memang mafhum karena keluasan makna dari masing – masing ayat al-qur’an yang terpadatkan menjadi sedemikian indah dan singkat namun jelas. Ayat – ayat al-qur’an yang sedang kita baca saat ini mungkin dapat saya ibaratkan seperti file .rar / .zip dalam komputer yang untuk menguraikan isi – isinya tentu kita harus mengekstraknya. 
Demikan pula tafsir al-qur’an adalah seumpama hasil ekstrak dari tiap – tiap butiran ayat al-qur’an.

Nah nderes al-qur’an pada taraf pertama memang hanyalah sekedar membaca. Hal ini yang umum dilakukan oleh para muslimin luar arab di taraf awal pengenalannya akan islam. Terlebih meskipun hanya sekedar membaca, sesungguhnya al-qur’an sudah akan menelurkan cahaya – cahaya rahmat dari Alloh ke dalam diri si hamba yang sedang membacanya. Meskipun tidak secerah cahaya yang merasuk ketika kita membaca al-qur’an dengan disertai paham / mengerti artian dari apa yang sedang kita baca.

Yang kedua tentu taraf di mana muslimin mulai menguatkan imannya untuk memahami lebih dalam lagi tentang agamanya (islamnya). Yakni dengan berusaha untuk memahami bahasa yang telah digunakan dalam al-qur’an. Dimana dengan memahami bahasa yang digunakan oleh al-qur’an kita akan dapat memahami apa yang dikatakan oleh Alloh melalui firmanNya yang tertuang dalam al-qur’an. Jadi ketika kita membaca al-qur’an seolah olah kita tidak lagi membaca bahasa asing, melainkan seperti membaca menggunakan bahasa kita sendiri. Dengan begitu kita akan membacanya dengan langsung paham artiannya. Dan hal yang seperti ini akan memudahkan kita beranjak mengerti maksud dari apa yang sedang kita baca dari ayat – ayat Alloh s.w.t.

Taraf ketiga dari yang dimaksud dengan nderes sejatinya adalah beranjak belajar memahami apa yang dikandung oleh al-qur’an secara lebih luas. Yaitu dengan mempelajari tafsiran – tafsiran dari para ulama yang telah lebih dahulu menangkap pemahaman tentang keluasan keluasan dimensi al-Qur’an. Dengan mempelajari penafisran penafsiran dari para ulama setidaknya pemahaman kita mengenai keluasan al-qur’an akan bertambah. Yang tentu saja hal ini akan memicu keluasan peritahNya terhadap diri kita masing masing.

Dari tanjakan pembelajaran kita atas penafsiran para ulama yang tentunya lebih menguasai berbagai disiplin ilmu (mulai balaghoh / tata bahasa arab hingga asbabun nuzul dan hadist hingga lebih tinggi lagi), kita akan beranjak pula untuk menggapai pemahaman yang lebih original. Pemahaman yang langsung diturunkan oleh Alloh kepada setiap hamba – hambaNya yang memiliki iman barang sekecil zarroh sekalipun. Di taraf terakhir ini kita akan memahami makna – makna rahasia daripada tiap butiran ayat – ayat suci al-Qur’an.

Nderes al-Qur’an yang sebenarnya adalah perjalanan manusia tentang penyingkapan – penyingkapan rahasia firmanNya secara haq. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh baginda nabi yang mulia s.a.w, “bacalah al-qur’an dan temukanlah hal – hal yang rahasia daripadanya”, juga sabda beliau s.a.w, “al-qur’an itu memiliki dimensi dhohir dan bathin yang selaras”. Demikian juga sabda beliau s.a.w, Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca al-qur’an. [H.R Ad-Dailami dan Al-Baihaqi]

Hal seperti apa yang telah disabdakan oleh baginda nabi muhammad s.a.w tersebut akan mustahil digapai tanpa kita memahami apa – apa yang sedang kita baca dari ayat – ayat al-qur’an. Dan Mengenai makna dari nderes atau membaca al-qur’an sebagaimana yang telah saya sampaikan di atas pula, mungkin ada baiknya juga kita menyimak apa yang telah diuraikan oleh beberapa ulama tafsir yang pernah ada tentang membaca (tilawah) al-qur’an. Dalam hal ini saya ajukan ayat 29 surah fathir.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ يَرْجُونَ تِجَٰرَةًۭ لَّن تَبُورَ 
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah.........”

imam Baidhowi dalam tafsirnya “Tafsir Baidhowi” ketika beliau menafsirkan al-Qur’an surat Fathir ayat 29 tersebut, beliau menuliskan / menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ”yatluuna al-kitaballoh” (yang selalu membaca kitab Alloh) adalah mereka yang hanya sekedar membaca al-qur’an ataupun mereka yang senantiasa meneliti isi kandungan dari al-Qur’an tersebut.

Sedangkan dalam kitab tafsir Jalalain, pada ayat yang sama dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘selalu membaca kitab Alloh’ itu adalah selalu mempelajarinya. Lebih jelas lagi mengenai makna yang dimaksud dari membaca kitab Alloh dalam surah Fathir ayat 29, tertuang dalam kitab tafsir Fi Zilalil Qur’an adalah bahwa, “Membaca kitab Alloh bermakna selain melewati kata – katanya dengan suara atau tanpa suara. Membacanya bermakna juga merenunginya, yang berakhir pada kesadaran dan pengaruh pada diri, yang mengantarkan pada berbuat dan bertindak setelahnya. Oleh karena itu dalam ayat 29 surah fathir pembacaan dilanjutkan dengan mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rizki dari Alloh secara diam – diam maupun terang – terangan.”

Cukup jelas kiranya para ulama tafsir menguraikan makna dari membaca adalah bukan hanya membaca secara lisan atau membaca secara sirri tanpa mengetahui makna dari apa yang dibacanya, melainkan juga membaca yang disertai dengan renungan – renungan dari apa yang telah dibacanya. Dan renungan semacam ini tentu tidak akan didapatkan tanpa kita mengerti apa yang sedang kita bacakan. Jika saja kita hanya membaca dengan mengabaikan berbagai kanduungan yang ada di dalamnya, tentu kita akan menjadi buta akan firman Alloh alias kita akan tergurung untuk mengacuhkan perintahNya laksana apa yang telah kita baca seperti angin lalu saja. Kiranya hal seperti inilah yang dimaksud oleh baginda nabi s.a.w dalam sabda beliau, “betapa banyak orang yang membaca al-qur’an namun al-qur’an sendiri melaknatnya”.

Beberapa qori’ yang pernah saya temui sepakat bahwa al-qur’an akan melaknat mereka yang membacanya dengan asal – asalan. Mulanya asal – asalnya dari segi pelafalannya, namun ketika kita renungi lebih dalam lagi, tentu laknat dari al-qur’an yang paling besar adalah terletak pada asal – asalan dari penerjemahan / pengertian / pemaknaan daripadanya sendiri. Rosululloh s.a.w juga telah bersabda, “barangsiapa yang menafsirkan al-qur’an berdasarkan dari hawa nafsunya sendiri, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”.

Sampai di sini juga semoga kita dapat menangkap hikmah dan menelaah peristiwa turunnya wahyu pertama kepada baginda nabi s.a.w. Telah diriwayatkan bahwa ketika baginda nabi s.a.w mendapatkan wahyu “Iqro’ (bacalah)”, beliau kebingungan tentang apa yang harus beliau baca, sedangkan beliau sendiri adalah seorang yang tidak menguasai baca tulis. Hal ini terus berulang hingga jibril a.s mengulangnya sampai sebanyak tiga kali. Barulah rosululloh s.a.w menyadari tentang apa yang harus beliau baca ketika jibril a.s menyampaikan, “iqro’ bismirobbika al-ladzi kholaq”

Tentang wahyu pertama yang beliau s.a.w dapatkan ini juga telah ditafsirkan oleh beberapa ulama bahwa membaca yang sesungguhnya adalah perenungan terhadap segala apapun. Rosululloh yang hidup di masa jahiliyah quraisy mendapat titah pertama dari Alloh untuk merenung, mengendapkan rahsa dan diri tentang awal mula penciptaan. Perenungan yang diawali dengan asma Alloh yang telah menciptakan. Perenungan akan keluhuran derajat Robb atas segala makhluq. Juga perenungan mengenai Robb yang telah mengajarkan banyak hal kepada manusia. Yang tergambar pada peletakan kesadaran mengenai kesadaran baginda nabi ketika beliau menangkap maksud dari jibril a.s yang membawa wahyu iqro’.

Nah kembali lagi pada masalah nderes, apa yang mungkin selama ini telah kita pahami bahwa nderes adalah hanya membaca. Di romadhon ini saya ingin mengajak saudara sekalian untuk meningkatkan deresan kita. Dari yang semula hanya membaca, kini kita tingkatkan untuk mempelajari, kemudian memahami, merenungi dan selanjutnya menyibak rahasia al-qur’an dalam diri kita masing – masing insyaAlloh.

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ # خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ # ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ # ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَم#  عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ#  كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ#  أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ#  إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰٓ#  أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يَنْهَىٰ # عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰٓ # أَرَءَيْتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلْهُدَىٰٓ # أَوْ أَمَرَ بِٱلتَّقْوَىٰٓ # أَرَءَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ # أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ # كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ # نَاصِيَةٍۢ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍۢ # فَلْيَدْعُ نَادِيَهُۥ # سَنَدْعُ ٱلزَّبَانِيَةَ # كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب ۩

Selasa, 15 Maret 2016

Gugur Di Jalan Alloh

بسم الله الرحمن الريم
ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله امواتا ، بل احياء عند ربهم يروقون
..
"Dan janganlah kamu mengira orang orang yang gugur / terbunuh di jalan Alloh itu mati. Bahkan (sesungguhnya) mereka hidup di sisi robbnya, mereka mendapatkan rizkinya" [ali-imron : 169]

Dalam perjalanan suluk, seringkali seorang salik yang dihadapkan pada ketidak pahaman akan pelajaran atau kondisi yang sedang ia tempuh, ia kemudian menganggap bahwa ia belum mendapatkan pelajaran apapun dari Alloh.
Atau ia masih belum diberi rizki kefahaman olehNya
Atau sebagian mereka mengira dirinya gagal dalam perjalanannya.

Prasangka semacam inilah yang kemudian memupuskan pengharapannya akan Alloh lah yang justru akan menghambat lelakunya.

Sungguh sebenarnya tidaklah demikian
Tak pernah ada kegagalan dalam perjalanan kehadiratulloh
Semua adalah proses
Salik yang dihadapkan pada kondisi semacam demikian itu
Yang kemudian mereka kira sebagai kegagalan,
Dan sebagian lainnya mengira belum hadirnya rizki ilmu atasnya
Justru sesungguhnya itu juga merupakan percikan ilmu, hikmah dan pembelajaran yang mendalam dariNya

Alloh mengkondisikan demikian adalah agar si salik belajar menemukan makna "mati" dan "hidup"
Sesungguhnya "mati" itu ada dalam sudut pandang manusia saja
Hanya sebagian dari sisi pandang manusia
Sedangkan "hidup" itu adalah merupakan suatu keabadian.

Maksudnya mati itu ada di sisi manusia
Sedangkan hidup itu ada di sisi Robb

Maka jangan pernah mengira bahwa orang orang yang berjalan di jalan Alloh itu gugur / mati

Kalau anda sedang mengalami kondisi demikian
Kondisi seolah gugur dalam perjalan suluk / perjalanan spiritual
Maka perlu kiranya anda sadari bahwa sesungguhnya ada sisi hidup di balik keguguran sedang anda jumpai
Silahkan temukan sisi hidup itu
Jangan mengira bahwa Alloh tidak memberikan sesuatu dalam keguguran itu
Justru ada rizki dari Robb (dzat yang maha mengayomi, yang menguasai, Sang Pemilik) yang jarang disadari oleh para pejalan suluk.

Rizki dan hidup di balik wajah keguguran itulah yang musti kita sibak.
Belajar adalah menyadari, mengamati, memahami hal hal dari apa yang kita jadikan sebagai guru
Seorang salik hendaknya berguru kepada Alloh
Dan kalau berguru kepada Alloh, mustinya betul betul kita belajar apa saja yang dari Alloh
Dan sesungguhnya tak ada satupun hal yang tidak dari Alloh
Maka mari pelajari apapun itu
Termasuk keguguran dalam jalan Alloh

Kalau anda diberi kondisi semacam gugur ini, maka segera gugah kesadaran anda mengenai siapa sejatinya yang telah menggugurkan anda
Setelah anda menyadari siapa yang menggugurkan anda, selanjutnya amati apa apa dalam gugur itu
Prosesnya, pesannya, dan lain sebagainya

Komunikasikan hasil dari pengamatan tersebut kepada Dzat yang Maha Ilmu juga Maha Membimbing

Kepahaman adalah merupakan buah dari komunikasi anda dengan dzat yang mengkondisikan anda untuk mengalami apa apa yang telah anda dapati.

Salam ..... salam .... salam ....
Wallohu'alam
"Rohman dan RohimNya senantiasa memeluk para pejalan di jalanNya (fi sabilillah)"

Sabtu, 13 Desember 2014

Hikmah Laila Majnun

Jika kita ngaji kitab kitab tasawuf ... akan sering kita jumpai kisah tentang Laila Majnun ....
Kisah ini memang amat menarik, saking cintanya seorang laki laki pada si Laila... ia sampai memandang segala sesuatu seperti laila,
Ia memandang bintang, ia sebut laila...
Ia memandang dinding kamar laila, ia menyebutnya laila
Bahkan sampai ia menyebut dirinya pun sebagai laila
Wajar saja ia bersikap demikian karna dalam pikirannya yg ada hanyalah laila
Ia sangat bahagia walau hanya dengan mengingat laila saja tanpa bertemu dengan si laila
Semua tindak tanduknya diperuntukkan untuk laila ... walau si laila tidak melihatnya
Ia merasa seolah olah dirinya selalu diikuti pandangan laila
Memang sebuah kisah yg indah dan menyimpan khazanah kesadaran cukup tinggi
Yg patut kita ambil ibrah, apakah laila adalah bayangan dan khayalan yg ada di pikiran sahaja?
Apakah ketika majnun laila mengatakan bahwa bintang adalah laila, dirinya adalah laila itu sebuah pernyataan yg tepat???
padahal laila seorang yg nyata....
pujangga mengatakan "cinta itu bukan sekedar kata dan bualan... cinta itu butuh pertemuan peraduan dan pengorbanan..."
wallohu'alam bisshowab ....

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...