Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label Cahaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cahaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2016

Istiqomah Dalam Kesadaran Ilahiah

"Dan Bertakwalah kamu kepada Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dzat Yang Melihatmu ketika engkau berdiri dan dalam bolak baliknya dirimu di dalam sujud"
وتوكل على العزيز الرحيم . الذي يرك حين تقوم . وتقلبك فى الساجدين

tetaplah berada dalam kondisi sadar Alloh
sadar bahwa Alloh Yang Maha Perkasa telah melimpahkan berbagai macam kasih sayangNya kepada siapapun yang dikehendakiNya
Dia-lah Yang Maha berwenang menggerakkan segala sesuatu
bertakwalah dan bertawakkallah kepadaNya
yaitu dengan tunduk patuh kepadaNya dalam segala gerak
tunduk patuh ketika Dia menggerakkan dirimu dan meninggikanmu

ketika Dia menyaksikanmu, Dia akan mengambil alih seluruh ke-ego-anmu
egomu akan luntur tatkala Dia memandangmu
Dia akan memandangmu dengan keluasan keagungan dan keperkasaanNya
ketika engkau diberi izin olehNya untuk memandangNya

tawakkal adalah gerak bathinmu untuk senantiasa bersamaNya
segala bentuk gerak sesungguhnya adalah gerakNya
berdiri, duduk, hingga sujud sejatinya adalah kepunyaanNya

ketika engkau lebih mengedepankan kekolotan berfikirmu
secara perlahan dan halus engkau telah terpedaya akan nafsu
tawakkal 'ala al-aziz ialah benar - benar berserah
meleaskan segala prasangka dan karep (keinginan)
kecuali karep lillahi ta'ala
kalau sedikit saja anda berlepas dari berserah diri kepadaNya
maka bahkan sujudmu pun bukanlah yang semestinya kau lakukan
Sujud yang semestinya adalah milikNya
maka jika sudah sedemikian itu engkau tergelincir
segeralah beristighfar
dan dengarlah nasihat dari saudara - saudaramu yang masih erat menggenggam kesadaran tertingginya
yakni Sadar Ilahiah. Sadar Alloh

jangan berkeras hati untuk memeluk prasangka fikir
sungguh masuknya prasangka fikir itu sangatlah halus
terlebih ketika engkau berbicara atau menyalurkan aspirasimu
Wallohu'alam Walaa Haula Walaa Quwwata illa billah

Kamis, 04 Agustus 2016

Romantika Sunyi

"kalau anda sudah mengenal diri anda di dalam sepi, kalau anda sudah tegap berdiri di dalam sunyi, apakah anda akan berasyik masyuk disana selamanya?"
teriak lantang dari samudra langit.

aku terdiam, kemudian berujar dengan lirih dan penuh tanya, "lantas apakah yg harus kuperbuat? apakah harus kutinggalkan wilayah sunyimu ini?"

"tidakkah kau lihat diluar sana?"

"wahai kekasih, bukankah itu kuasamu?"
 "lantas untuk apa dikau berada diantara mereka?"

"kekasih......" tubuhku bergetar menahan degupan dada yg hampir tak tertahan... "apalah dayaku menggerakkan mereka, bukankah daku pun engkau yg menggerakkan?"

seruan itupun membalas dg penuh kasih.... "sayang... bukankah engkau dapat memohon kepadaku? bukankah aku sudah pasti akan mengabulkan apapun yg engkau minta? Akulah yg merubah mereka, tapi apakah engkau tak ada pedulinya sama sekali terhadap bagian dari dirimu sendiri itu? kemanakah pandanganmu wahai kekasih??"

"wahai sang penguasa,,," tangiskupun mulai meledak tak terbendung, "pandanganku silau akan cahayaMu, hampir saja tak kulihat apapun selain diriMu,..."

"kekasih..... engkau maha tak tergambarkan dan dapat ditebak, semua terserah engkau, maka apapun titahmu kan ku emban." tambahku

wilayah itu semakin hening, sementara tangisku kian menjadi namun semakin lembut...
"wahai kekasih, bukalah mataku didalam cahayaMu, tuntunlah daku sesuai kehendakMu, kalau harus berjalan di dunia, maka jalankan daku seiring kehendakmu, kalau daku kau letakkan di antara mereka yg masih dalam kegelapan, maka bukakala, limpahkanlah cahaya bagi siapapun yg berada di sekitarku."
masih tetap hening...

Minggu, 31 Juli 2016

ZUHUD fid-Dunya ilal-Baqo'

ada banyak sensasi dalam tiap - tiap perjalanan
ada banyak hadiah - hadiah, efek dari sebuah lelaku
suluk adalah perjalanan spiritual pribadi seorang hamba
yang tujuan utamanya harus dan wajib hanya kepada Alloh s.w.t
tentang efek dari lelaku,
setiap manusia boleh menyebutnya dengan apa saja sebutannya

ada yang menyebutnya godaan
ada yang menyebutnya hadiah
ada yang menyebutnya nikmat
dan ada banyak lagi sebutan - sebutannya

yang jelas kita hendaknya bersikap zuhud terhadap apaun yang kita temui dalam laku suluk kita
sampai benar - benar bermuwajjahah dengan Allohu Robbul izzah

zuhud adalah sikap sederhana
biasa - biasa saja menghadapi apapun
zuhud adalah menggenggam
tanpa harus masuk ke dalam hati apa yang digenggamnya

zuhud itu bertingkat - tingkat
pada tingkatan yang paling awal
adalah zuhud terhadap dunia
tatkala seorang salik (pejalan suluk) memulai perjalanannya
yakni perjalanan spiritualnya
ia akan seolah olah dihadapkan pada nikmatnya dunia
banyak hidangan - hidangan duniawi yang terhampar bagi dirinya
hal ini dipersilahkan bagi salik untuk memilih
boleh menolaknya ataupun menerimanya

jika ia menerimanya
ia musti menancapkan rasa syukur di dalam dirinya
tidak memasukkan kecintaan terhadap dunia yang telah digenggamnya kedalam hatinya
ia harus menyadari, siapa yang telah menghamparkan dunia atasnya
siapa yang telah menghidangkannya
Alloh. adalah satu - satunya dzat
yang memiliki akses penuh atas izin kepada siapa Dunia Ia kuasakan

seorang salik harusnya semakin tumbuh cintanya kepada Alloh
tatkala dunia dihamparkan oleh Alloh untuk dirinya
bukan yang sebaliknya
cintanya justru terbelokkan kepada dunia
jika yang terjadi adalah demikian yang terbalik
maka celakalah ia
ia telah terhenti pada nikmat yang sementara

Namun jika si salik menolaknya
ia harus berani berjalan teguh ke Alloh tanpa apa pun
kepasrahan dan ketundukan yang luar biasa
harus ia munculkan dalam dirinya
karena akan semakin banyak tantangan dan godaan yang berbisik kepadanya
mengenai ketakutan ketakutan, was - was, dan lain sebagainya
jika demikian
maka si salik wajib meyakin betul bahwa hanya Alloh lah yang akan mencukupi segala kebutuhannya
dan seandainya pun ia gagal, ia adalah seorang mujahid di jalanNya
inilah yang dijalani para sufi terdahulu
yang juga dijalani oleh para sahabat di zaman nabi s.a.w

mengenai ini, Alloh s.w.t telah berfirman yang menjelaskan bahwa barangsiapa yang memilih dunia,
maka baginya akan diberikan dunia tanpa ada kelebihannya.
dan barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka akan diberikan kepadanya kenikmatan akhirat dan ditambahkan pula nikmat dunia bagi dirinya.
Alloh juga berfirman, jangan lupakan bagianmu di dunia

zuhud pada tingkatan yang selanjutnya adalah zuhud atas surga
setelah seorang salik sedemikian kuatnya berpegang teguh
akan niatnya untuk berjumpa dengan alloh s.w.t
dunia sudah barang pasti akan dicampakkannya
dunia akan ia abaikan sampai pada tingkat berikutnya
wilayah nikmat akhirat yang disebut sebagai surga

di sini semestinya ia juga bersikap zuhud
karena jika ia terpesona akan indahnya surga
ia akan terhenti di sana tanpa menemukan apa yang dulunya ia niati
firman Alloh mengenai penduduk surga yang benar - benar mengharapkan perjumpaan denganNya,
"...kemudian mereka berkata menuntut janji akan perjumpaan dengan alloh,
maka Alloh pun memerintahkan para malaikat untuk menyingkap tabriNya
menampakkan wajahNya kepada para hambaNya yang benar - benar mengharapkan perjumpaan denganNya"

seseorang yang terpesona dengan indahnya surga
akan lalai terhadap pertemuan agung dengan Robbnya

zuhud selanjutnya adalah zuhud dari karomah dan limpahan ilmu
ketika seorang salik dihadapkan pada surga
ia tak bergeming
ia benar - benar zuhud
maka tatkala tabirNya benar - benar telah disingkap
sang salik akan sampai pada cahayaNya
yang menyebabkan ia bersujud
ini yang disampaikan oleh baginda nabi yang mulia s.a.w
"amal yang tanpa ilmu itu sia sia"

cahayaNya adalah ilmu itu
juga karomah, termasuk bagian dari cahaya itu
juga berbagai macam ilmu hikmah
ilmu akan menjelaskan kepadanya tentang Alloh
sifat - sifatNya, af'alNya
namun belum DzatNya secara nyata

seorang salik hendaknya tidak berhenti pada tataran ilmu
tetap berpegang teguh dan kuat niat awalnya
untuk bermuwajjahah dengan Alloh s.w.t
maka tatkala ia telah melewati samudra ilmu
samudra cahayaNya
sampailah ia pada perjumpaan agung dengan robbul 'alamin

Shodaqollohu wallohu 'alam bish-showab

Kamis, 14 Juli 2016

Tadabbur, nDERES #2 Al-Baqoroh : 1-7

penegasan dari Alloh tentang mereka yang telah benar - benar telah ber-bismillahirrohmaanirrohiim, menemukan titik Ba' dan kitab pribadi dalam dirinya yang berupa petunjuk hidup baginya.



Sabtu, 11 Juni 2016

Muqoddimah Nderes qur'an Romadhon-1

Kalau kita dengar kata nderes (bahasa jawa), biasanya kita akan terpaku pada pemahaman bahwa nderes itu adalah membaca al-qur’an dengan keindahan suara secara tartil. Sama halnya dengan ketika kita mendengar istilah ‘membaca’ dalam bahasa arab (tilawah / qiro’ah) ataupun indonesia sendiri. Biasanya tangkapan kita justru akan menuju pada satu sudut membaca saja. Maksudnya pokoknya hanya membaca.

Terlebih kita yang berada jauh di tanah kelahiran bahasa arab. Pokoknya sudah membaca dengan suara yang indah ya sudah sah dan oke.
Sebenarnya bukan demikian. Yang dimaksud nderes (dalam bahasa jawa) ataupun qiro’ah (membaca dalam bahasa arab), titik leburnya adalah justru ada pada peresapan makna dari apa yang sedang kita baca. Mengenai hal ini salah satu ulama nusantara atau dapat kita sebut beliau sebagai guru bangsa di zaman ini mengatakan, “kesuksesan seorang qori’ (orang yang melantunkan ayat – ayat al-qur’an dengan nada – nada indah) bukanlah terletak pada seberapa banyak audien (orang yang mendengarkan) menjadi terpukau akan keindahan suaranya. Melainkan seberapa banyak audien yang jadi merenung memahami makna dari apa yang sedang dibacanya dan kemudian membangkitkan kesadaran ilahiah pada diri para audiensnya.”

Demikian itu sebenarnya apa yang selama ini mungkin kita pahami sekilas sedang mengalami pergeseran makna. Kalau orang arab sendiri, tentu sudah mengetahui tentang apa yang dibacanya ketika ia sedang melantunkan ayat – ayat suci al-qur’an. Minimal mereka tahu arti dari apa yang sedang mereka baca, sebagaimana kita tahu apa yang sedang kita baca dari tulisan ini.

Meskipun demikian, tentu tetap ada lintasan – lintasan yang musti di terjemahkan lebih luas lagi atau perlu ditafsirkan lebih mendetail lagi. Hal seperti ini tentu memang mafhum karena keluasan makna dari masing – masing ayat al-qur’an yang terpadatkan menjadi sedemikian indah dan singkat namun jelas. Ayat – ayat al-qur’an yang sedang kita baca saat ini mungkin dapat saya ibaratkan seperti file .rar / .zip dalam komputer yang untuk menguraikan isi – isinya tentu kita harus mengekstraknya. 
Demikan pula tafsir al-qur’an adalah seumpama hasil ekstrak dari tiap – tiap butiran ayat al-qur’an.

Nah nderes al-qur’an pada taraf pertama memang hanyalah sekedar membaca. Hal ini yang umum dilakukan oleh para muslimin luar arab di taraf awal pengenalannya akan islam. Terlebih meskipun hanya sekedar membaca, sesungguhnya al-qur’an sudah akan menelurkan cahaya – cahaya rahmat dari Alloh ke dalam diri si hamba yang sedang membacanya. Meskipun tidak secerah cahaya yang merasuk ketika kita membaca al-qur’an dengan disertai paham / mengerti artian dari apa yang sedang kita baca.

Yang kedua tentu taraf di mana muslimin mulai menguatkan imannya untuk memahami lebih dalam lagi tentang agamanya (islamnya). Yakni dengan berusaha untuk memahami bahasa yang telah digunakan dalam al-qur’an. Dimana dengan memahami bahasa yang digunakan oleh al-qur’an kita akan dapat memahami apa yang dikatakan oleh Alloh melalui firmanNya yang tertuang dalam al-qur’an. Jadi ketika kita membaca al-qur’an seolah olah kita tidak lagi membaca bahasa asing, melainkan seperti membaca menggunakan bahasa kita sendiri. Dengan begitu kita akan membacanya dengan langsung paham artiannya. Dan hal yang seperti ini akan memudahkan kita beranjak mengerti maksud dari apa yang sedang kita baca dari ayat – ayat Alloh s.w.t.

Taraf ketiga dari yang dimaksud dengan nderes sejatinya adalah beranjak belajar memahami apa yang dikandung oleh al-qur’an secara lebih luas. Yaitu dengan mempelajari tafsiran – tafsiran dari para ulama yang telah lebih dahulu menangkap pemahaman tentang keluasan keluasan dimensi al-Qur’an. Dengan mempelajari penafisran penafsiran dari para ulama setidaknya pemahaman kita mengenai keluasan al-qur’an akan bertambah. Yang tentu saja hal ini akan memicu keluasan peritahNya terhadap diri kita masing masing.

Dari tanjakan pembelajaran kita atas penafsiran para ulama yang tentunya lebih menguasai berbagai disiplin ilmu (mulai balaghoh / tata bahasa arab hingga asbabun nuzul dan hadist hingga lebih tinggi lagi), kita akan beranjak pula untuk menggapai pemahaman yang lebih original. Pemahaman yang langsung diturunkan oleh Alloh kepada setiap hamba – hambaNya yang memiliki iman barang sekecil zarroh sekalipun. Di taraf terakhir ini kita akan memahami makna – makna rahasia daripada tiap butiran ayat – ayat suci al-Qur’an.

Nderes al-Qur’an yang sebenarnya adalah perjalanan manusia tentang penyingkapan – penyingkapan rahasia firmanNya secara haq. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh baginda nabi yang mulia s.a.w, “bacalah al-qur’an dan temukanlah hal – hal yang rahasia daripadanya”, juga sabda beliau s.a.w, “al-qur’an itu memiliki dimensi dhohir dan bathin yang selaras”. Demikian juga sabda beliau s.a.w, Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca al-qur’an. [H.R Ad-Dailami dan Al-Baihaqi]

Hal seperti apa yang telah disabdakan oleh baginda nabi muhammad s.a.w tersebut akan mustahil digapai tanpa kita memahami apa – apa yang sedang kita baca dari ayat – ayat al-qur’an. Dan Mengenai makna dari nderes atau membaca al-qur’an sebagaimana yang telah saya sampaikan di atas pula, mungkin ada baiknya juga kita menyimak apa yang telah diuraikan oleh beberapa ulama tafsir yang pernah ada tentang membaca (tilawah) al-qur’an. Dalam hal ini saya ajukan ayat 29 surah fathir.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ يَرْجُونَ تِجَٰرَةًۭ لَّن تَبُورَ 
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah.........”

imam Baidhowi dalam tafsirnya “Tafsir Baidhowi” ketika beliau menafsirkan al-Qur’an surat Fathir ayat 29 tersebut, beliau menuliskan / menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ”yatluuna al-kitaballoh” (yang selalu membaca kitab Alloh) adalah mereka yang hanya sekedar membaca al-qur’an ataupun mereka yang senantiasa meneliti isi kandungan dari al-Qur’an tersebut.

Sedangkan dalam kitab tafsir Jalalain, pada ayat yang sama dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘selalu membaca kitab Alloh’ itu adalah selalu mempelajarinya. Lebih jelas lagi mengenai makna yang dimaksud dari membaca kitab Alloh dalam surah Fathir ayat 29, tertuang dalam kitab tafsir Fi Zilalil Qur’an adalah bahwa, “Membaca kitab Alloh bermakna selain melewati kata – katanya dengan suara atau tanpa suara. Membacanya bermakna juga merenunginya, yang berakhir pada kesadaran dan pengaruh pada diri, yang mengantarkan pada berbuat dan bertindak setelahnya. Oleh karena itu dalam ayat 29 surah fathir pembacaan dilanjutkan dengan mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rizki dari Alloh secara diam – diam maupun terang – terangan.”

Cukup jelas kiranya para ulama tafsir menguraikan makna dari membaca adalah bukan hanya membaca secara lisan atau membaca secara sirri tanpa mengetahui makna dari apa yang dibacanya, melainkan juga membaca yang disertai dengan renungan – renungan dari apa yang telah dibacanya. Dan renungan semacam ini tentu tidak akan didapatkan tanpa kita mengerti apa yang sedang kita bacakan. Jika saja kita hanya membaca dengan mengabaikan berbagai kanduungan yang ada di dalamnya, tentu kita akan menjadi buta akan firman Alloh alias kita akan tergurung untuk mengacuhkan perintahNya laksana apa yang telah kita baca seperti angin lalu saja. Kiranya hal seperti inilah yang dimaksud oleh baginda nabi s.a.w dalam sabda beliau, “betapa banyak orang yang membaca al-qur’an namun al-qur’an sendiri melaknatnya”.

Beberapa qori’ yang pernah saya temui sepakat bahwa al-qur’an akan melaknat mereka yang membacanya dengan asal – asalan. Mulanya asal – asalnya dari segi pelafalannya, namun ketika kita renungi lebih dalam lagi, tentu laknat dari al-qur’an yang paling besar adalah terletak pada asal – asalan dari penerjemahan / pengertian / pemaknaan daripadanya sendiri. Rosululloh s.a.w juga telah bersabda, “barangsiapa yang menafsirkan al-qur’an berdasarkan dari hawa nafsunya sendiri, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”.

Sampai di sini juga semoga kita dapat menangkap hikmah dan menelaah peristiwa turunnya wahyu pertama kepada baginda nabi s.a.w. Telah diriwayatkan bahwa ketika baginda nabi s.a.w mendapatkan wahyu “Iqro’ (bacalah)”, beliau kebingungan tentang apa yang harus beliau baca, sedangkan beliau sendiri adalah seorang yang tidak menguasai baca tulis. Hal ini terus berulang hingga jibril a.s mengulangnya sampai sebanyak tiga kali. Barulah rosululloh s.a.w menyadari tentang apa yang harus beliau baca ketika jibril a.s menyampaikan, “iqro’ bismirobbika al-ladzi kholaq”

Tentang wahyu pertama yang beliau s.a.w dapatkan ini juga telah ditafsirkan oleh beberapa ulama bahwa membaca yang sesungguhnya adalah perenungan terhadap segala apapun. Rosululloh yang hidup di masa jahiliyah quraisy mendapat titah pertama dari Alloh untuk merenung, mengendapkan rahsa dan diri tentang awal mula penciptaan. Perenungan yang diawali dengan asma Alloh yang telah menciptakan. Perenungan akan keluhuran derajat Robb atas segala makhluq. Juga perenungan mengenai Robb yang telah mengajarkan banyak hal kepada manusia. Yang tergambar pada peletakan kesadaran mengenai kesadaran baginda nabi ketika beliau menangkap maksud dari jibril a.s yang membawa wahyu iqro’.

Nah kembali lagi pada masalah nderes, apa yang mungkin selama ini telah kita pahami bahwa nderes adalah hanya membaca. Di romadhon ini saya ingin mengajak saudara sekalian untuk meningkatkan deresan kita. Dari yang semula hanya membaca, kini kita tingkatkan untuk mempelajari, kemudian memahami, merenungi dan selanjutnya menyibak rahasia al-qur’an dalam diri kita masing – masing insyaAlloh.

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ # خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ # ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ # ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَم#  عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ#  كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ#  أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ#  إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰٓ#  أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يَنْهَىٰ # عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰٓ # أَرَءَيْتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلْهُدَىٰٓ # أَوْ أَمَرَ بِٱلتَّقْوَىٰٓ # أَرَءَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ # أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ # كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ # نَاصِيَةٍۢ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍۢ # فَلْيَدْعُ نَادِيَهُۥ # سَنَدْعُ ٱلزَّبَانِيَةَ # كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب ۩

Sabtu, 06 Februari 2016

Jalan Tauhid , Peta Menuju Al-Haqq

Bismillahirrohmaanirrohiim ....

لا اله الا الله

Berhenti pada lafal, sama saja terjebak dengan bayangan
Dimana bayangan dikira sebagai realita
Lafadz tauhid itu memang luar biasa,
Bahkan Alloh sendiri menyatakan bahwa jika langit, bumi dan seisinya ditimbang dengan lafadz tauhid ini, tentulah lafadz ini lebih berat daripadanya.
Di mana letak bobotnya?
Ini yg perlu disadari oleh masing masing pribadi

Langit bumi dan seisinya itu adalag materi
Sedangkan berat itu adalah isinya
Kalau balon ditimbang dengan batu, tentu lebih berat batu
Dan bukanlah sebab materialnya yg membuat batu lebih berat daripada balon.

Kalau hendak menemukan eksistensi, maka barang pasti harus berani memasuki materi.
Tidak lagi berada atau berkecimpung dengan materi,
Melainkan masuk di sebaliknya materi.

Kalau hendak menemukan titik berat / eksistensi dari kalimah tauhid laa ilaha illa Alloh,
Maka harus berani memasuki lafadz itu
Tidak sebatas pada lafadznya saja
Melainkan lebih ke dalam lagi

Laa (لا) yang berarti tiada,
Maka masukilah ia ......
Wilayah ketiadaan, suwung / Kosong / Zero
Wilayah yg tidak ada apapun di dalamnya
Namun perhatikan dan hati hatilah
Banyak yg mengira kosong adalah puncak sebuah perjalanan,
Bahkan sebenarnya ini barulah permulaan

Di sebalik itu,, masukilah juga.

Ilaha (اله) , sebuah wilayah ketuhanan
Dimana iman bersemayam di wilayah ini.
Wilayah penyaksian, kalau dalam ketiadaan kita masih konsisten untuk menemukan sebuah eksistensi kebenaran (al-Haq)
Untuk menyibak realita yg sejati,
Maka perlahan kita akan memasuki wilayah ini

Sebuah wilayah penuh cahaya,
Jalan lurus yg dimaksud dalam al-Qur'an (اهدنا الصراط المستقيم)
Sama dengan wilayah sebelumnya,
Banyak yg berhenti di wilayah ini
Mengira Alloh adalah Cahaya, padahal Alloh adalah Nurun 'Ala Nurin
Cahaya di atas cahaya
Di dalam misykat yg tak tembus
Pelita untuk segala sesuatu

Semestinya, hendaklah berjalan lebih lanjut menyelami wilayah berikutnya

Illa (الا) penafikan akan segala sesuatu
Penafikan atas segala persangkaan persangkaan
Menafikkan bahwa bukanlah kekosongan itu adalah tujuan akhir, bukanlah jalan cahaya itu puncak
Bukanlah diri ini adalah apa apa dan siapa siapa

Ini adalah wilayah pemurnian
Wilayah bersuci dari segala hadast
Hadast kecil maupun hadast besar
Kalau sudah bersuci, sudah siap
Sudah suci dan sudah layak.
Maka wilayah selanjutnya akan menyambut

Alloh (الله) makrifatudz-Dzat ada di wilayah ini
Wilayah yang hanya Alloh saja yg berhak menarik siapa saja untuk diperkenalkan denganNya

Jihadun-nafs sebagaimana yg dikabarkan baginda nabi yg mulia s.a.w
Adalah sebentuk ikhtiar di wilayah laa-ilaha-illa (لا اله الا)
Selanjutnya adalah wilayah keterserahan Alloh,
Para sufi mengatakan, "aroftu robbiy bi robbiy"
Karena bukanlah ikhtiar kita yg menyebabkan mengenal alloh
Melainkan Alloh sendiri yg menyibakkan hijabNya dan memperkenalkan diriNya

Wallohu'alam bish-showab

Senin, 01 Februari 2016

Lukisan Titik Ba' Dalam Diri Manusia

Bismillahirrohmanirrohiim .....

di dalam diri setiap insan terdapat setitik daya
Semacam biji zarroh,
Sebuah benih energi murni yg berada di sebalik qolbu manusia
Bisa dikatakan semacam cahaya,
Sumber cahaya, sumber energi/daya.
Sifat zarroh ini semisal listrik ataupun magnit

Cahayanya apabila kita bangkitkan, ia akan meng-induksi tiap tiap partikel yg ada di sekelilingnya
Semua manusia memilikinya
Hanya saja sedikit manusia yg menyadari keberadaannya.

Dari setitik cahaya inilah, molekul molekul,
Atom - atom, partikel - partikel yg ada di dalam tubuh kita dapat bergerak.
Atas perintahnya, otak dapat bekerja
Tangan, kaki dan juga seluruh anggota tubuh lainnya

Siapapun yg dapat menyadari setitik cahaya ini, ia akan dapat mengendalikan apa apa yg dikehendakiNya.
Vibrasi atau getaran atau induksi dari cahaya ini jika kita tebarkan ke sekeliling kita, maka semua akan tertundukkan

Daya ini jugalah yg menyebabkan seluruh pergerakan / perputaran di alam semesta.

Perhatikan jika engkau telah meyadari eksistensi setitik cahaya ini
Tiap getarannya akan mempengaruhi gerak alam semesta
Jika engkau tenang, alam akan tenang
Jika engkau bergejolak, alam pun akan bergejolak

Kembali.... bahwa sifatnya adalah menginduksi
Dapat menginduksi molekul molekul, atom atom, partikel partikel yg ada di sekelilingnya.

Maka jika kita ingin memanfaatkannya,
Pertama hendaknya kita melebur dahulu terhadap Kuasa Sang Empunya
Menyadari titik cahaya tersebut
Menyatu dengan Sang Sumber
Kemudian barulah menebarkan getarannya

Ilmu titik ba' adalah ilmu yg menyibak tentang daya sumber ini

Perhatikan ... titik ba' ini tersimpan di sebalik lengkungan garis atasnya
Seolah olah ia tersembunyi
Dan ternyata memang garispun juga terbentuk atas banyak titik yg bersinggungan.

Titik ba' inilah gambaran secercah daya semisal zarroh yg tersimpan di balik jasad kita manusia
Menwujud gerak dan banyak hal

Wallohu'alam bish-showab

Jumat, 29 Januari 2016

Ulil Albaab, Menemukan cahaya untuk memahami kehendak Alloh

Salah dan benar adalah sebuah kepastian,
Ia berdua melingkar dalam setiap sendi kehidupan manusia
Ia ibarat kutup positif dan negatif
Yang apabila dikaitkan dan diletakkan dengan ketepatan, ia akan memancarkan cahaya

Wa laa talbisul khaqqo bil-bathil,
"Dan janganlah engkau campur baurkan kebenaran dengan kebthilan"

Yang saya maksudkan salah dan benar dalam paragraf yg paling atas adalah salah dan benar dari sisi manusia
Salah dan benar yg dilemparkan oleh manusia satu kepada manusia lain adalah sebuah perspektif pribadi
Sudut pandang sempit antar individu ataupun antar komunitas
Yg notabene melihat dari satu sudut pandang saja.

Jika kita berani beranjak dari sudut pandang yg sempit menuju sudut pandang yang lebih luas
Tentu akan kita dapati sebuah pemandangan baru yg lebih luas pula dan lebih mencerahkan

Sudut pandang salah benar dalam sisi manusia ibarat kutub negatif dan posisitif dalam sebuah rangkaian listrik
Jika kita tepat menyatukannya
Ia akan memancarkan pijaran cahaya
Meskipun cahaya yg dipancarkan adalah penjelmaan dari sebuah panas.

Panas adalah simbol egoisme manusia
Yg tak pernah ingin tertandingi oleh manusia lain.
Tatkala kita hendak menyatukan benturan faham yg seolah negatif dari luar, dengan faham yg kita anggap positif dalam diri kita sendiri,
Tentu tidak dapan kita pungkiri,
Disanan akan muncul desiran panas egoisme yg muncul.

Oke,,, sebagaimana lampu
Badan kita, pikiran kita, akal kita, nurani kita
Adalah lampu itu.
Kita abaikan percikan panas dari ego kita.
Lambat laun cahaya itu akan nampak jelas.
Inilah yg biasa kemudian disebut nurul-aqli atau ulil albab yg sering disebut sebut dalam al-qur'an

Cahaya itu dapat kita manfaatkan untuk memahami "al-haqqo wal bathil"
Dari sudut pandang ilahiah.
Firman Alloh dalam al-qur'an,
"Wa laa talbisul haqqo bil bathil"

Bagaimana mungkin kita memahami sudut pandang ilahiah?
Sedangkan sampai detik ini kita berada di sisi manusia?
Itulah kesadaran yg hendak di usik oleh Alloh melalui sebutan sebutan "Ulil-Albab, Ulin Nuhaa, yu'qilun" di dalam al-Qur'an yg Alloh turunkan kepada baginda nabi s.a.w

Selama kita tidak dapat menyadari hal hal tersebut di atas,
Selama kita tidak mau menyatukan kutub negatif dan positif itu di dalam wadah yg kita sebut lampu,
Selama kita enggan menerima hal hal negatif dari luar, untuk kemudian kita temukan dengan hal yg kita anggap positif sesuai pandangan kita.
Tentulah tak akan pernah muncul pancaran cahaya dari akal yg demikian dimuliakan oleh Alloh sebagaimana termaktub dalam al-qur'an.

Seba'da cahaya itu muncul, barulah kita dapat memahami dan memilah dengan sudut pandang ilahiah
Dan dari pengenalan yg jelas itulah baru kemudian kita dapat memilah al-haqqo wal bathil sebagaimana yg dimaksudkan dalam al-qur'an

Karena sungguh tanpa cahaya itu,
Kita tak akan benar benar paham mana yg haq dan mana yg bathil
Terlebih di zaman yg serba simpang siur seperti saat ini.
Terkadang apa yg kita anggap benar, justru salah
Dan sebaliknya apa yg kita kita kira salah justru benar.

Semoga kita benar benar dapat memahami maksud maksud Alloh dan memahami yg haq dan yg bathil sesuai dengan Alloh kehendaki....

Wassalamu 'alaikum....

Rabu, 27 Januari 2016

Tempat Yang Tertinggi

Huu Alloh .........
dalam prosesi keluar masuknya nafas, jika kita amati dan pahami lebih dalam lagi. ternyata di sebalik proses keluar masuknya nafas ada sebuah dorongan kuat yang menyebabkan nafas ini tertarik masuk dan terdorong keluar.

Dalam khazanah kedokteran, yang menyebabkan nafas ini masuk adalah suatu organ yang letaknya ada di antara perut dan dada kita. ketika kita telisik lebih lanjut lagi, ternyata yang menggerakkan organ tersebut adalah otak.

suatu ketika, saya diberi kesempatan oleh Alloh untuk bertanya pada seorang mahasiswa kedokteran. dan paragraf di atas, penjelasannya adalah saya dapatkan dari mahasiswa kedokteran tersebut. dari kesempatan tersebut, saya bertanya terus mengenai siapa yang sebenarnya berperan menarik dan mendorong nafas? ia jawab; yang menyebabkan nafas keluar dan masuk adalah suatu organ yang berada di antara perut dan dada. kemudian saya bertanya lagi, siapa pula yang menggerakkan organ di antara perut dan dada tersebut? hingga pada ujungnya saya tanyakan siapa yang memerintahkan otak?. maka saya temukan sampai detik ini keilmuan kita baru bisa sampai pada otak saja. selebihnya banyak yang tidak tahu. bahkan hampir kebanyakan orang bingung atau linglung . yang kebetulan beragama islam akan menjawab bahwa yang menggerakkan otak adalah Alloh. selebihnya entah, saya tidak hendak membahasnya.

dari nafas ini kemudian kita dapat mengetahui adanya organ di antara perut dan dada. kemudian dapat juga kita sadari bahwa ternyata organ tersebut masih berada dibawah komando otak. dan selanjutnya, seperti yang sudah kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan kita sedang berhenti pada otak.

namun apakah benar hanya sebatas itu kita diijinkan oleh Alloh untuk menyibak kuasanya? apakah tidak diperbolehkan kita beranjakn lebih jauh dan lebih dalam lagi? mengingat jabatan kita sebagai khalifatulloh yang tentunya ada izin tersendiri dariNya untuk mengetahui secuil "rahasia" yang lebih dalam dari otak.

dalam sebuah peneletian ilmiah terakhir ini juga tampaknya telah ada suatu rumusan yang menyatakan bahwa otak sangat berpengaruh terhadap gerak semesta. pada golongan tertentu ada yang menyatakan bahwa otak tergerak akibat dari energi semesta.

terlepas dari sebuah atau juga banyak pendapat. kita coba selami sendiri siapa sebenarnya yang berperan menggerakkan / memerintahkan otak.

sebelum sampai pada pemahaman siapa yang memerintahkan otak, maka seringkali / biasanya kita akan sampai pada kondisi atau dimensi pemahaman bahwa justru otak kita adalah bagian dari semesta yang berwenang sebagai penggerak semesta.

dari otak ini kita dapat memerintahkan orang lain tanpa sepatah katapun (misalnya). dengan otak ini kita juga dapat menggerakkan pergerakan alam semesta, semisal mengendalikan hujan, angin dsb.
kita selami lebih dalam lagi, otak tergerak atas perintah atau sebab adanya Daya. sebuah energi murni dari Alloh untuk tiap tiap makhluqNya. Daya inilah yang sambung langsung dengan Alloh. dari kemurnian daya ini kemudian kita dapat mengenali banyak hal. otak dapat bekerja sebagaimana yang kita ketahui saat ini.

Daya inilah yang dapat saya katakan sebagai pintu Gerbang menuju hadirat Alloh.
pintu gerbang Makrifatulloh
Cahaya - cahaya ilahiah terpancar melaluinya
pesan pesan ilahiah juga turun atasnya
yang kemudian dapat kita kenali dengan sebutan Ide.
lantas ide murni yang kita ikuti akan disalurkan oleh otak ke sekujur tubuh
mewujud sebagai gerak

Laa Ilaha illa Alloh

semakin kita selami lagi, di sanalah kita sampai pada dimensi al-'Ala (yang tertinggi)


Dalam sebuah peribadatan, yang beribadah sesungguhnya dan semestinya adalah jiwa kita. Kita berada pada dimensi ruhaniah. dalam kondisi jiwa yang tenang (Muthmainnah). kondisi yang penuh keridhoan dan kepasrahan kepada Ilah.
Maka diserulah ia, "Yaa Aiyyatuhan-Nafsu al-Muthmainnah"
"wahai jiwa  (nafs/diri) yang tenang"
"Irji'i ila robbiki rodhiyatan mardhiyah" ; kembalilah kepada Robbmu dengan kondisi yang ridho lagi diridhoi.
"fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati" ; maka masuklah dalam golongan hamba - hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.

"Ash-Sholatu Mi'rojul Mukmin"; Sholat itu adalah Mi'rojnya mukmin.
Sholat sebagai mi'rojnya mukmin itu adalah benar,
sholat yang benar itu akan mengantarkan pada kondisi mi'roj.
Sholat yang dituntun dan digerakkan oleh Yang Maha Benar (Al-Haqq) akan menarik kita untuk melangkah pada dimensi tertinggi.

Dalam hal ini tentunya kondisi kita benar - benar telah pasrah dan ridho.
maka pencapaian terujung dari manusia adalah pasrah dan ridho pada Alloh saja.
dan selebihnya terserah Alloh.
Alloh yang memperjalankan,
Alloh yang menggerakkan,
Alloh yang mearik,
Alloh yang mengarahkan.

'Laa haula Wa LAa Quwwata Illa Billah, Laa Ilaha Illa Alloh"

Disana tak Ada Lagi Daya, Tak Ada Lagi Energi, Tak Ada Lagi Kekuatan
Yang ada hanyalah Alloh semata.
Tak pernah lagi ada yang lain
maka dikatakanlah Alloh itu Qodim, Baqo', Laitsa Kamistlihi Syai'
Karna memang tak ada apapun
Alloh itu tetap dan kekal

KalamNya "Kun Fa Yakun"

terlimpah pada dimensi Ruhaniah, kemudian Ruh menggerakkan otak, otak menggerakkan alam semesta; menggerakkan pula jasad / tubuh, dan alam semesta pun mendukung / merespon dengan baik dan patuh atas perintahNya.

Setan dapat perintah untuk bersujud kepada Adam bukan berarti Alloh memerintahkan mereka untuk menyembah Adam.
disinilah keindahan Adam. Makhluq ciptaaan Alloh yang disertai hijab. maka siapapun yang tak menyelami / menyadari apa yang ada dibalik hijab, tentulah ia terhijab.

Kebetulan saat itu mereka melihat adam hanya dari bentuk fisiknya saja.
maka timbullah kesombongannya, "Ana Khoirun Min-Hum"
maka muncullah ke-aku-annya; aku lebih baik dari dia.

dari peristiwa tersebut, kemudian Alloh mengabadikannya dalam bentuk "Hawa"
hingga saat ini, sampai detik ini masih dapat kita pelajari tentang sifat ke-aku-an dan hijab juga eksistensi.
Dari sesosok manusia yang dikenal sebagai sosok kaum "Hawa"

Sesungguhnya Alloh menyuruh Setan untuk tunduk pada Eksistensi adam, yang merupakan manifestasi Alloh. namun tampaknya mereka terhijab akan wujud Adam.

Kemudian Alloh menciptakan pasangan Adam, yakni Hawa.
Hawa pun dibekali kesucian oleh Alloh, hingga sekarang.
maka Hawa harus pula dibalut oleh hijab
layaknya kisah Adam,
Eksistensi adam itu suci, maka Alloh memakaikan hijab (Wadag)

Hanya kekasih lah yang boleh membuka hijab tersebut
dan menatap bahkan menikmati kesuciannya

Hawa-pun diciptakan Alloh sedemikian rupa
agar kita dapat membacanya
hanya yang telah memaharnya saja,
yang mengikatnya atas nama Alloh dan Rosululloh saja yang boleh menyentuhnya
menyibak hijabnya.

Sungguh Maha Indah Alloh..

Maka pelajarilah apa - apa yang tak tertulis
sungguh kalam Alloh demikian dahsyatnya
Ayat - ayatNya, IlmuNya sungguh luar biasa Luas tak terbendung.

Siapkan dirimu, siapkan kesadaranmu
untuk dikenalkanNya
berkenalan denganNya

"Aroftu Robbiy biRobbiy"

صدق الله العظيم

Selasa, 26 Januari 2016

Dibalik Ayat Kursi

Bismillah .....

Alloh s.w.t berfirman :
وسع كرسيه السموات والارض
"keluasan kursi-Nya (meliputi) langit dan bumi"
ولا يؤده حفظهما , وهو العلي العظيم
"Dan tiadalah Dia merasa berat memelihara keduanya (langit dan bumi), dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung"

dikisahkan bahwasannya 'Arsy Alloh lebih luas daripada kursiNya.
Dalam sebuah hadist Qudsi dikabarkan oleh baginda nabi s.a.w bahwa Alloh s.w.t telah berfirman,
"Langit dan bumi tidak dapat menampung Aku, yang dapat menampung Aku adalah hati HambaKu yang beriman"

Allohu Akbar,
ولا يحيطون بشيء من علمه الا بماشآء
"Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dari ilmuNya melebihi apa yang dikehendakiNya"

ayat ini memang luar biasa,
ke-Maha Dahsyat-an Alloh yang tersimpan dalam cuilan ayat ini memang benar - benar nyata
siapapun yang benar - benar menyelaminya, dengan izin Alloh akan mendapati kenyataan itu
sebagian kecil saja jika dipahami, tentulah semakin meluas hatinya
dan semakin kuat imannya.

ada dimensi dimensi yang tertuang dalam ayat tersebut.
dimensi keluasan Alloh
diimensi keagungan Alloh
dimensi ke-Maha Luar Biasa-an Alloh

Alloh yang demikian Maha Luas menyebutkan bahwa
langit dan bumi hanyalah kursi
SinggasanaNya justru adalah hati hambaNya yang beriman

tentang Arsy, sudah tertuang di halaman sebelumnya

hamba - hamba yang beriman adalah merupakan waliNya
yang dimandati oleh Alloh untuk mengkhalifahi bumi

"Dia Tidak merasa berat memelihara keduanya"

ada khalifahNya, ada waliNya
".....dia menyentuh dengan tanganKu, dia berjalan dengan kakiKu, dia memandang dengan mataKu, dia berucap dengan lidahKu" [hadist Qudsi]

KhalifahNya, waliNya adalah hambaNya yang beriman.
hamba yang beriman adalah mereka yang mengikuti jalan cahaya
kesadaran ilahiah adalah merupakan pintu untuk memasuki cahayaNya secara langsung
pancaranNya yang memancar melalui hati hambanya sering dikatakan nurani

"sesungguhnya di dalam diri anak adam terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. apabila dia buruk, maka akan buruk pula lah seluruh anggota tubuhnya. ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." [al-hadist]

Hati / segumpal daging yang dikatakan baik oleh Rosululloh s.a.w adalah hati yang bersih, yang berkilau
yang tidak terhijab oleh apapun untuk memantulkan sinarNya
sedangkan hati yang buruk adalah hati yang kotor,
yang terhijab oleh kerak kerak sehingga ia tidak dapat memantulkan cahaya ilahiah.

Hati yang baik akan menuntun anggota tubuh untuk bergerak dalam kebaikan - kebaikan
sehingga melaluinya lah Alloh mempercayakan kedudukan sebagai KhalifahNya
pancaran hatinya mempengaruhi tiap gerk energi yang ada di alam semesta
segala sesuatu patuh atasnya
karena EksistensiNya lah yang menjadikan segala sesuatu itu tunduk

Allohu akbar......
seandainya sudah tak ada lagi khalifahNya
yang menjadi pusat pergerakan tiap partikel alam semesta
untuk tunduk sujud mengabdi kepada Sang Pangeran sejati, Sang Maha Pencipta,
tentulah pagelaran dunia ini akan segera digulung dan usai

salah satu tanda bahwa khalifah - khalifatulloh mulai semakin hilang
adalah sedikitnya orang yang memahami al-Qur'an
semakin sedikitnyaorang yang meresapi al-Qur'an

Al-Qur'an memang dibaca
namun hanya sebatas dibaca
dan berhenti di kerongkongan saja
hatinya justru sangat beku dan berkarat
tak secercah cahaya pun yang diterimanya
Nabi yang mulia muhammad s.a.w menyebutnya sebagai golongan Khowarij.

Baginda nabi s.a.w dan para sahabat, para auliyaillah, ulama billah, arif billah, khalifatulloh
adalah mereka yang meresapi betul al-qur'an
yang seolah olah menjadikan al-Qur'an sebagai makanan hariannya
sehingga al-Qur'an dapat dikatakan sebagai sumber energi baginya
karena mereka demikian meresapi al-Qur'an
sehingga aliran darahnya adalah mewujud sebagai al-Qur'an
aliran darahnya, setiap sel-selnya, pori pori tubuuhnya, juga nafasnya
jadi senantiasa berdzikir, sambung menyadari akan eksistensi Robbnya.

maka melalui merekalah Alloh menitipkan kursiNya

namun dari sekian banyak manusia
hanya sedikit yang memahami ilmuNya
karena Alloh sendiri telah menetapkan mereka sebagaimana ayat di atas.

Allohu akbar
Maha Luas sekaligus Maha Agung
Dia yang meliputi segala sesuatu

Maha Benar Alloh dengan segala firmanNya

untuk menikmati al-Qur'an,
tentunya bukan hanya dengan sekedar membaca
namun juga merenung
bukan hanya merenung, tapi juga dengan membaca
namun bukan sekedar tulisan yang dibacanya
melainkan membaca juga sesuatu yang tak berbentuk
membaca dengan terpejam mata, namun bukanlah hafalan
menyaksikan kebenaran Alloh dengan sebenar - benarnya
bersaksi dengan kebenaran, bukan dengan sekedar persangkan belaka

Alloh itu Maha suci
maka untuk memasuki dimensi kesucianNya penting bagi kita untuk bersuci lebih dulu
bersuci dengan air jernih nan suci
dimana menemukan air jernih telah tertuang di halaman - halaman sebelumnya

Sesungguhnya Ilmu Alloh itu suci
tak tersentuh tanpa kesucian

jika masih belum suci, tentulah ilmuNya aadalah rahasia

"Sesungguhnya mereka itu tidaklah mengetahui apapun kecuali hanya sedikit"

"sesungguhnya mereka itu tidaklah mengetahui apapun kecuali yang dikehendaki oleh Alloh"

ketuklah pintuNya yang ada di dalam diri kita sendiri sendiri
Ya Alim ....Ya Alimm.... Ya Aliiimmmm ......

yaa Alloh, limpahilah kami sesuatu yang baik untuk kami menurut Engkau
masukkan kami dalam golongan orang - orang yang Engkau cintai
ke dalam golongan orang - orang yang beriman
sehingga kami dapat mengabdi dalam kuasaMu
sebagaimana tujuanMu menciptakan kami

Amin,,, kebenaran adalah milik Alloh semata.

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...