Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label syaitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syaitan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Juni 2017

ROMADHON, SETAN DIBELENGGU?

Sebagian dari mungkin pernah bertanya tanya di dalam dirinya,  "konon di bulan romadhon, setan itu dibelenggu, lantas kenapa kita masih menyaksikan banyak tingkah yg 'kesetanan' di hari hari romadhon?"

Pernah tidak, kita coba menyelidiki dari mana munculnya pertanyaan yang seperti demikian itu?
Atau dari bagian mana diri kita yang tiba tiba bisa terbesit pertanyaan seperti itu?
Sebuah pertanyaan unik menggelitik yang apabila secara nalar kita cerna akan dapat membawa kita pada 2 kondisi,
1) akan membawa kita pada penguatan iman dan kebajikan
2) akan membawa kita pada kekufuran.

Saya mulai dari akibat yg berupa poin ke dua dahulu.
Kenapa kami katakan bisa sampai membawa pada keadaan kufur/ingkar?
Karena secara sekilas kita akan merasa bahwa sabda rosul yg mulia s.a.w akan tampak hambar. Seolah olah kita jadi tidak percaya dengan adanya sabda nabi s.a.w yang menyatakan bahwa di bulan romadhon, setan setan itu dibelenggu.
Secara otomatis ketika kita mulai meragukan sabda kekasih Alloh, muhammad s.a.w, kita akan terjebak pada kekufuran kepada Alloh
Sebab Alloh dan Rosululloh ini tidak pernah terpisah. Sabda rosululloh adalah merupakan khabar dari Alloh juga, hanya saja Alloh menggunakan lisan (redaksi)  kekasihNya untuk menyampaikan khabar dariNya. Tidak mengatas namakan diriNya layaknya al-qur'an al-karim.

Pada efek yg berupa poin pertama,
Adalah karena kita benar benar kemudian menulusuri pertanyaan yg secara tiba tiba membesit di dalam benak kita.
Rosululloh s.a.w tidak mungkin bohong mengenai hal sepenting ini.
Meskipun realita di lapangan banyak sifat sifat syaitaniyah yg bertebaran, kita tidak lantas semata mata meragukan sabda beliau, namun kita lantas telaah dengan sungguh sungguh.
Maka yg terjadi berikutnya pastilah siapapun anda/kita akan menemukan titik kebenaran yg klop dari pertunjukan realita yg ada dengan sabda nabi s.a.w

Oke beranjak dari sini mari kita mulai sama sama menetralkan prasangka dan nalar logika kita.
Mari kita tafakkuri bersama sama tentang sabda nabi s.a.w yg mengabarkan bahwa setan, di bulan romadhon adalah dibelenggu.

Alloh tidak serta merta mengizinkan pertanyaan seperti paragraf paling awal hinggap di benak kita.
Alloh hendak menyadarkan kita tentang realitas yg sering terlupa oleh diri kita sendiri tentang diri kita.

Kalau kita perhatikan, jika diri kita sebelum romadhon jarang kita ajak untuk berlapar lapar, lantas begitu tiba tiba kita ajak untuk berpuasa,. Seringkali kita menjadi mudah terpancing emosi hingga marah marah tidak jelas.
Dari mana itu berasal?
Kalau kita perhatikan juga, apabila ada orang orang yg melanggar suatu aturan di wilayah tertentu, lantas ia tertangkap oleh penegak hukum setempat. Kenapa kebanyakan darinya akan berontak? Baik secara lisan ataupun tindakan.
Yang terakhir, di mana sebenarnya setan itu dibelenggu?

---------------
Dari ketiga clue di atas, semoga dapat menjadi pemicu kesadaran kita bahwa ada bagian dari diri kita yg sangat perlu untuk difitrahkan, dikembalikan kepada Alloh.

Suatu ketika nabi s.a.w bersabda, "sesungguhnya setan berjalan pada pembuluh darah di tubuh anak adam. Maka sempitkanlah jalannya dengan lapar"

Nah, sudah jelas bukan??!

Sekian dahulu, di lokasi saya sudah masuk adzan dhuhur

Rabu, 11 Februari 2015

Tauhid Setan (yang kurang sempurna)

barusan si setan datang lagi sowan ke tempat saya .... dia mengajukan taubat pada Tuhan ....
mungkin dia kemarin ngintip baca percakapan saya dengan seseorang 'pejalan' dari gresik... karna di dalam percakapan tersebut saya katakan kepada si pejalan bahwasannya kita rangkul saja semuanya, toh mereka sebenarnya juga ingin kembali ke Alloh...
lanjut cerita,,, si setan ngiba pada saya, "bukannya Tuhanmu itu maha pengasih lagi maha penyayang plus maha penerima tobat, mbok yo saya ini sampean mintakan tobat kepada Tuhan; Alloh... mbok ya rayukan ke Alloh, agar Alloh mau mengabulkan ajuan tobat dari saya" ...
saya mringis...
"gini lho kang,,, Alloh itu sudah bakal pasti akan mengabulkan tobat tiap hambanya, lhah njenengan lak juga termasuk hambanya to?"
"iya" ...
"jadi pasti dikabulkan"
"beneran kang?" tanya si setan
"beneran..."
sedikit dia tampak sumringah,..
"tapi ... ada tapinya lhoo..."
sumringahnya sedikit berganti merengut... "tapi apa kang?"
"tapi harus ada buktinya dong..." jawab saya
"halah pasti sampean pernah baca suatu kitab yg disitu diceritakan bahwa dulu kaum setan juga pernah mengajukan taubat melalui nabi musa, tapi kemudian kami diminta untuk sujud ke makam Adam"
ganti saya yg senyum, "terus?"
"ya kami ndak lakukan lah... gila apa, sewaktu Adam hidup aja kami ogah bersujud kepadanya, apalagi sekarang sesudah matinya..."
"bagus... like emoticon ... berarti tauhidmu kuat..."
melongo dianya...
baru sejenak kemudian dia berkata kata lagi "sampean i mesti aneh kang, padahal nabi musa dulu langsung marah mendengar pernyataan dari kami yg semacam itu"
"lhah itu kan nabi musa, sedangkan saya ini bukan musa, saya ini Doni.. tambah lagi beliau nabi, sedangkan saya bukan siapa siapa, jadi saya lebih bebas, sedangkan kanjeng nabi musa a.s beliau bertanggung jawab kalau sampai ada pengikutnya yg salah tangkap atas kelakuan beliau.. lhah saya? siapa juga yg mau ngikuti saya ... hahaa"
"terus apa yg harus saya buktikan pada Alloh, agar taubat saya diterima?"
"lebih menyempurnakan tauhid lagi!"
"caranya? lhah kata njenengan tadi tauhid saya sudah bagus?"
"bagus, tapi kurang sempurna"
"lhah sempurnanya gimana kang?"
"sampean kenapa ndak mau sujud pada Adam?" ganti saya yg bertanya.
dia diam saja, tampaknya dia percaya kalau saya pun sudah tau jawabannya kenapa kaum setan tak mau bersujud pada adam.
saya pun kemudian melanjutkan...
"njenengan itu ndak mau sujud karena anda mengira anda lebih baik dari adam bukan?"
si setan manggut manggut...
"di situlah letak ketidak sempurnaan tauhid njenengan"
"maksudnya kang? apa karena saya ndak patuh pada perintah Alloh. padahal saya ndak mau sujud itu karna saya mandang bahwa adam itu bukanlah Alloh yg pantas untuk disujudi"
"lhah terus sampean kira adam itu seperti apa?"
"adam itu ya makhluk semacam saya, seperti malaikat juga"
"disitulah letak ketidak sempurnaan tauhid sampean"
dianya tampak bingung dan penasaran dengan apa yg saya kemukakan.
"anda tidak melihat eksistensi adam, yg anda lihat hanya hijabnya adam. padahal justru dibalik hijab adam itulah yg seharusnya anda lihat. Alloh sengaja tidak menampakkan eksistensi adam yg merupakan manifestasi Tuhan agar kesuciannya terbaca oleh sekian banyak penghuni alam semesta."
si setan tampat mendengarkan dengan khidmat.
"tidakkah anda lihat ketika batu mengucapkan salam pada Muhammad s.a.w? tidakkan engkau perhatikan semut yg berbicara dengan Sulaiman a.s? tidakkah engkau perhatikan kenapa lautan sampai terbelah untuk jalan musa a.s?"
hampir berlinang air mata tampaknya.
"kenapa hanya engkau yg tidak juga menyadarinya duh setan? kenapa engaku tetap bersikeras dengan pandanganmu sendiri?"
"sekarang datanglah ke makam Adam a.s dan bersujudlah!! pelajari!!! kenapa Alloh memerintahkanmu seperti itu?? sadari siapa Adam itu!!!"
tampak berlinanglah air mata lah muka si setan dan langsung keluar tanpa berpamitan .... suara tangisnya masih terdengar dalam radius jarak yg lumayan cukup jauh ....
******
Subhanaka laa 'ilma lanaa illa maa 'allamtana ...
laa ilaha illa Alloh
Muhammad Rosululloh ...
laa haula wa laa quwwata illa billah ...

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِÙŠْÙ†َ اِذَا ذُÙƒِرَ اللّٰÙ‡ُ ÙˆَجِÙ„َتْ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبُÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا لصّٰبِرِÙŠْÙ†َ عَÙ„ٰÙ‰ Ù…َاۤ اَصَا بَÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا Ù„ْÙ…ُÙ‚ِÙŠْÙ…ِÙ‰ الصَّÙ„ٰوةِ ۙ ÙˆَÙ…ِÙ…َّا رَزَÙ‚...