Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label Otak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2016

Batas Dimensi Akal dan Pikiran

pikiran adalah pemberian dari Alloh s.w.t untuk melatih manusia
agar kuat berjalan kembali kepadaNya
pikiran dan akal merupakan isi dari otak manusia yang seolah tampak sama
namun sebenarnya berbeda
akal bukanlah merupakan produk dari pikiran
maksudnya, akal tdaklah condong akan hal - hal duniawiah dan materiil
akal lebih bersih dan murni serta condong kepada hal - hal yang bersifat ukhrowi atau substansial
ia lebih suka untuk kembali dan bersuci

sedangkan fikiran, ia lebih condong akan hal - hal yang bersifat duniawi
dan lebih suka berangan - angan maupun berkhayal
pikiran inilah yang ditunjuk oleh alloh untuk menggoda manusia
seberapa takwanya manusia kepada alloh akan tampak pada tingkah manusia
apakah mengikuti akal atukah pikiran

jangkauan akal lebih luas ketimbang jangkauan pikiran
akal lebih bisa menyaksikan realitas dan hikmah
sedangkan pikiran lebih condong pada manipulasi dan khayalan

seorang salik dalam perjalanannya akan sering menjumpai bayang - bayang dan berbagai bisikan
seringkali bayang - bayang dan bisikan tersebut lebih bersifat khayal
bukanlah hebat seorang salik yang terpukau dan terpaku akan bayangan dan bisikan - bisikan
justru hendaknya ia berzuhud akan kondisi yang demikian

Alloh sengaja menciptakan dan meletakkan pikiran pada manusia
sedemikian rupa untuk mencoba manusia
apakah manusia akan lengan dengan kemudian berbelok pada hal - hal yang sedemikian
ataukah mereka akan tetap lurus berjalan kehadiratNya
dengan tetap bersikap zuhud dalam perjalanannya

salik hendaknya mengabaikan hal - hal yang demikian
Akal sesungguhnya bukanlah pikiran
seorang salik yang terus mengabaikan pikiran dan khayalannya
akan sampai pada kondisi tiada fikir lagi
namun ia tidaklah mengigau / bukan tidak sadar
melainkan sadar dan tetap dapat mengamati
dimanapun ia berada

Alloh sering menyebut - nyebut hambanya dengan seruan semacam "orang - orang yang berakal",
ulil al-baab, ulin-nuhaa, afala ya'qilun dsb
"apakah mereka tidak menggunakan akal mereka"
adalah karena akal merupakan permisalan jibril dalam diri manusia
sebagai penterjemah wahyu / kalam ilahiah
ia lebih murni untuk mencerna berbagai kabar yang tak bersuara
dan tak berupa

manusia yang tidak berakal seringkali karena akalnya terhijab oleh khayalan pikirannya sendiri
juga bisa karena ia lebih suka berkhayal dan mengikuti khayalan pikir

akal sesungguhnya sangatlah luas jangkauan dan cakupannya
tangkapan pemahamannya juga sangat luas
salik yang satu dengan salik lainnya
yang tidak pernah saling berjumpa dan bertatap muka
juga tidak pernah belajar bersama dalam satu majlis
dan justru tempat belajar masing masing salik sangat berjauhan
akan tetap bisa memperoleh kepahaman yang sama
jika masing - masing salik tersebut berada dimensi yang sama
yakni dimensi akal

seorang muslim yang ada di akhir zaman yang tidak pernah berjumpa dengan baginda nabi muhammad s.a.w secara fisik
tetap memiliki kesempatan untuk mewarisi tingkah laku dan pemahaman yang sama dengan beliau s.a.w
jika ia berada wilayah ini
sebenarnya akal inilah yang dikatakan sebagai frekwensi ilahiah oleh generasi akhir zaman ini
sekali lagi akal bukanlah fikiran
fikiran lebih bersekat dan sempit
sedangkan akal lebih universal

semoga anda dan kita diberi kepahaman olehNya mengenai hal ini,
amin

Jumat, 29 Januari 2016

Ulil Albaab, Menemukan cahaya untuk memahami kehendak Alloh

Salah dan benar adalah sebuah kepastian,
Ia berdua melingkar dalam setiap sendi kehidupan manusia
Ia ibarat kutup positif dan negatif
Yang apabila dikaitkan dan diletakkan dengan ketepatan, ia akan memancarkan cahaya

Wa laa talbisul khaqqo bil-bathil,
"Dan janganlah engkau campur baurkan kebenaran dengan kebthilan"

Yang saya maksudkan salah dan benar dalam paragraf yg paling atas adalah salah dan benar dari sisi manusia
Salah dan benar yg dilemparkan oleh manusia satu kepada manusia lain adalah sebuah perspektif pribadi
Sudut pandang sempit antar individu ataupun antar komunitas
Yg notabene melihat dari satu sudut pandang saja.

Jika kita berani beranjak dari sudut pandang yg sempit menuju sudut pandang yang lebih luas
Tentu akan kita dapati sebuah pemandangan baru yg lebih luas pula dan lebih mencerahkan

Sudut pandang salah benar dalam sisi manusia ibarat kutub negatif dan posisitif dalam sebuah rangkaian listrik
Jika kita tepat menyatukannya
Ia akan memancarkan pijaran cahaya
Meskipun cahaya yg dipancarkan adalah penjelmaan dari sebuah panas.

Panas adalah simbol egoisme manusia
Yg tak pernah ingin tertandingi oleh manusia lain.
Tatkala kita hendak menyatukan benturan faham yg seolah negatif dari luar, dengan faham yg kita anggap positif dalam diri kita sendiri,
Tentu tidak dapan kita pungkiri,
Disanan akan muncul desiran panas egoisme yg muncul.

Oke,,, sebagaimana lampu
Badan kita, pikiran kita, akal kita, nurani kita
Adalah lampu itu.
Kita abaikan percikan panas dari ego kita.
Lambat laun cahaya itu akan nampak jelas.
Inilah yg biasa kemudian disebut nurul-aqli atau ulil albab yg sering disebut sebut dalam al-qur'an

Cahaya itu dapat kita manfaatkan untuk memahami "al-haqqo wal bathil"
Dari sudut pandang ilahiah.
Firman Alloh dalam al-qur'an,
"Wa laa talbisul haqqo bil bathil"

Bagaimana mungkin kita memahami sudut pandang ilahiah?
Sedangkan sampai detik ini kita berada di sisi manusia?
Itulah kesadaran yg hendak di usik oleh Alloh melalui sebutan sebutan "Ulil-Albab, Ulin Nuhaa, yu'qilun" di dalam al-Qur'an yg Alloh turunkan kepada baginda nabi s.a.w

Selama kita tidak dapat menyadari hal hal tersebut di atas,
Selama kita tidak mau menyatukan kutub negatif dan positif itu di dalam wadah yg kita sebut lampu,
Selama kita enggan menerima hal hal negatif dari luar, untuk kemudian kita temukan dengan hal yg kita anggap positif sesuai pandangan kita.
Tentulah tak akan pernah muncul pancaran cahaya dari akal yg demikian dimuliakan oleh Alloh sebagaimana termaktub dalam al-qur'an.

Seba'da cahaya itu muncul, barulah kita dapat memahami dan memilah dengan sudut pandang ilahiah
Dan dari pengenalan yg jelas itulah baru kemudian kita dapat memilah al-haqqo wal bathil sebagaimana yg dimaksudkan dalam al-qur'an

Karena sungguh tanpa cahaya itu,
Kita tak akan benar benar paham mana yg haq dan mana yg bathil
Terlebih di zaman yg serba simpang siur seperti saat ini.
Terkadang apa yg kita anggap benar, justru salah
Dan sebaliknya apa yg kita kita kira salah justru benar.

Semoga kita benar benar dapat memahami maksud maksud Alloh dan memahami yg haq dan yg bathil sesuai dengan Alloh kehendaki....

Wassalamu 'alaikum....

Rabu, 27 Januari 2016

Tempat Yang Tertinggi

Huu Alloh .........
dalam prosesi keluar masuknya nafas, jika kita amati dan pahami lebih dalam lagi. ternyata di sebalik proses keluar masuknya nafas ada sebuah dorongan kuat yang menyebabkan nafas ini tertarik masuk dan terdorong keluar.

Dalam khazanah kedokteran, yang menyebabkan nafas ini masuk adalah suatu organ yang letaknya ada di antara perut dan dada kita. ketika kita telisik lebih lanjut lagi, ternyata yang menggerakkan organ tersebut adalah otak.

suatu ketika, saya diberi kesempatan oleh Alloh untuk bertanya pada seorang mahasiswa kedokteran. dan paragraf di atas, penjelasannya adalah saya dapatkan dari mahasiswa kedokteran tersebut. dari kesempatan tersebut, saya bertanya terus mengenai siapa yang sebenarnya berperan menarik dan mendorong nafas? ia jawab; yang menyebabkan nafas keluar dan masuk adalah suatu organ yang berada di antara perut dan dada. kemudian saya bertanya lagi, siapa pula yang menggerakkan organ di antara perut dan dada tersebut? hingga pada ujungnya saya tanyakan siapa yang memerintahkan otak?. maka saya temukan sampai detik ini keilmuan kita baru bisa sampai pada otak saja. selebihnya banyak yang tidak tahu. bahkan hampir kebanyakan orang bingung atau linglung . yang kebetulan beragama islam akan menjawab bahwa yang menggerakkan otak adalah Alloh. selebihnya entah, saya tidak hendak membahasnya.

dari nafas ini kemudian kita dapat mengetahui adanya organ di antara perut dan dada. kemudian dapat juga kita sadari bahwa ternyata organ tersebut masih berada dibawah komando otak. dan selanjutnya, seperti yang sudah kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan kita sedang berhenti pada otak.

namun apakah benar hanya sebatas itu kita diijinkan oleh Alloh untuk menyibak kuasanya? apakah tidak diperbolehkan kita beranjakn lebih jauh dan lebih dalam lagi? mengingat jabatan kita sebagai khalifatulloh yang tentunya ada izin tersendiri dariNya untuk mengetahui secuil "rahasia" yang lebih dalam dari otak.

dalam sebuah peneletian ilmiah terakhir ini juga tampaknya telah ada suatu rumusan yang menyatakan bahwa otak sangat berpengaruh terhadap gerak semesta. pada golongan tertentu ada yang menyatakan bahwa otak tergerak akibat dari energi semesta.

terlepas dari sebuah atau juga banyak pendapat. kita coba selami sendiri siapa sebenarnya yang berperan menggerakkan / memerintahkan otak.

sebelum sampai pada pemahaman siapa yang memerintahkan otak, maka seringkali / biasanya kita akan sampai pada kondisi atau dimensi pemahaman bahwa justru otak kita adalah bagian dari semesta yang berwenang sebagai penggerak semesta.

dari otak ini kita dapat memerintahkan orang lain tanpa sepatah katapun (misalnya). dengan otak ini kita juga dapat menggerakkan pergerakan alam semesta, semisal mengendalikan hujan, angin dsb.
kita selami lebih dalam lagi, otak tergerak atas perintah atau sebab adanya Daya. sebuah energi murni dari Alloh untuk tiap tiap makhluqNya. Daya inilah yang sambung langsung dengan Alloh. dari kemurnian daya ini kemudian kita dapat mengenali banyak hal. otak dapat bekerja sebagaimana yang kita ketahui saat ini.

Daya inilah yang dapat saya katakan sebagai pintu Gerbang menuju hadirat Alloh.
pintu gerbang Makrifatulloh
Cahaya - cahaya ilahiah terpancar melaluinya
pesan pesan ilahiah juga turun atasnya
yang kemudian dapat kita kenali dengan sebutan Ide.
lantas ide murni yang kita ikuti akan disalurkan oleh otak ke sekujur tubuh
mewujud sebagai gerak

Laa Ilaha illa Alloh

semakin kita selami lagi, di sanalah kita sampai pada dimensi al-'Ala (yang tertinggi)


Dalam sebuah peribadatan, yang beribadah sesungguhnya dan semestinya adalah jiwa kita. Kita berada pada dimensi ruhaniah. dalam kondisi jiwa yang tenang (Muthmainnah). kondisi yang penuh keridhoan dan kepasrahan kepada Ilah.
Maka diserulah ia, "Yaa Aiyyatuhan-Nafsu al-Muthmainnah"
"wahai jiwa  (nafs/diri) yang tenang"
"Irji'i ila robbiki rodhiyatan mardhiyah" ; kembalilah kepada Robbmu dengan kondisi yang ridho lagi diridhoi.
"fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati" ; maka masuklah dalam golongan hamba - hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.

"Ash-Sholatu Mi'rojul Mukmin"; Sholat itu adalah Mi'rojnya mukmin.
Sholat sebagai mi'rojnya mukmin itu adalah benar,
sholat yang benar itu akan mengantarkan pada kondisi mi'roj.
Sholat yang dituntun dan digerakkan oleh Yang Maha Benar (Al-Haqq) akan menarik kita untuk melangkah pada dimensi tertinggi.

Dalam hal ini tentunya kondisi kita benar - benar telah pasrah dan ridho.
maka pencapaian terujung dari manusia adalah pasrah dan ridho pada Alloh saja.
dan selebihnya terserah Alloh.
Alloh yang memperjalankan,
Alloh yang menggerakkan,
Alloh yang mearik,
Alloh yang mengarahkan.

'Laa haula Wa LAa Quwwata Illa Billah, Laa Ilaha Illa Alloh"

Disana tak Ada Lagi Daya, Tak Ada Lagi Energi, Tak Ada Lagi Kekuatan
Yang ada hanyalah Alloh semata.
Tak pernah lagi ada yang lain
maka dikatakanlah Alloh itu Qodim, Baqo', Laitsa Kamistlihi Syai'
Karna memang tak ada apapun
Alloh itu tetap dan kekal

KalamNya "Kun Fa Yakun"

terlimpah pada dimensi Ruhaniah, kemudian Ruh menggerakkan otak, otak menggerakkan alam semesta; menggerakkan pula jasad / tubuh, dan alam semesta pun mendukung / merespon dengan baik dan patuh atas perintahNya.

Setan dapat perintah untuk bersujud kepada Adam bukan berarti Alloh memerintahkan mereka untuk menyembah Adam.
disinilah keindahan Adam. Makhluq ciptaaan Alloh yang disertai hijab. maka siapapun yang tak menyelami / menyadari apa yang ada dibalik hijab, tentulah ia terhijab.

Kebetulan saat itu mereka melihat adam hanya dari bentuk fisiknya saja.
maka timbullah kesombongannya, "Ana Khoirun Min-Hum"
maka muncullah ke-aku-annya; aku lebih baik dari dia.

dari peristiwa tersebut, kemudian Alloh mengabadikannya dalam bentuk "Hawa"
hingga saat ini, sampai detik ini masih dapat kita pelajari tentang sifat ke-aku-an dan hijab juga eksistensi.
Dari sesosok manusia yang dikenal sebagai sosok kaum "Hawa"

Sesungguhnya Alloh menyuruh Setan untuk tunduk pada Eksistensi adam, yang merupakan manifestasi Alloh. namun tampaknya mereka terhijab akan wujud Adam.

Kemudian Alloh menciptakan pasangan Adam, yakni Hawa.
Hawa pun dibekali kesucian oleh Alloh, hingga sekarang.
maka Hawa harus pula dibalut oleh hijab
layaknya kisah Adam,
Eksistensi adam itu suci, maka Alloh memakaikan hijab (Wadag)

Hanya kekasih lah yang boleh membuka hijab tersebut
dan menatap bahkan menikmati kesuciannya

Hawa-pun diciptakan Alloh sedemikian rupa
agar kita dapat membacanya
hanya yang telah memaharnya saja,
yang mengikatnya atas nama Alloh dan Rosululloh saja yang boleh menyentuhnya
menyibak hijabnya.

Sungguh Maha Indah Alloh..

Maka pelajarilah apa - apa yang tak tertulis
sungguh kalam Alloh demikian dahsyatnya
Ayat - ayatNya, IlmuNya sungguh luar biasa Luas tak terbendung.

Siapkan dirimu, siapkan kesadaranmu
untuk dikenalkanNya
berkenalan denganNya

"Aroftu Robbiy biRobbiy"

صدق الله العظيم

Selasa, 26 Januari 2016

Memahami Dimensi Arsy

Firman Alloh s.w.t:
" ثم استوى على العرش "
Kemudian (Alloh) bersemayam di atas 'Arsy

Di Atas .....
Memang benarlah hanya Alloh Yang Maha Tinggi
Maha Meliputi, Maha di Atas segala - galanya

Sering perdebatan kita saksikan tentang Alloh yang tidak bertempat
tidak di langit, tidak di atas, tidak di bawah, tidak pula di mana - mana

Namun sangat jelas apa yang telah disampaikan oleh baginda nabi yang mulia
Muhammad s.a.w, dari Jibril a.s, dari Alloh s.w.t
yang menyatakan bahwasannya Dia (Alloh) bersemayam di atas 'Arsy.

bukan tentang masalah tempatnya,
namun tentang pemahaman kita yang sering keliru
menerjemahkan kalamNya
karena seringkali kita memetak - metekkan berbagai hal

Sehingga seringkali pula kita terkecoh oleh makna yang semestinya dipandang secara luas
menjadi sempit dan terbatas
jadilah kita tergelincir pada sesuatu pola pemahaman yang kurang tepat

Wallohu'Alam

Jika kita kaji al-Qur'an,
minimal mengaji atau membacanya secara berulang - ulang
atau bahkan khatam berkail kali,
tentunya kita akan menemukan juga menyadari
bahwa al-Qur'an dengan sangat jelas mengabarkan tentang pernyatuan dari berbagai macam pertentangan.
termasuk juga dalam bab yang sedang kita bahas ini

mengenai bab ini,
dalam suatu ayat atau surat yang ada dalam al-Qur'an telah disebutkan / dikabarkan bahwa :

  • Alloh ada di atas
  • Ia ada di atas Arsy
  • ada di mana - mana
  • lebih dekat dari urat leher
  • Sangat - Sangat dekat
  • kemanapun kita menghadap, di situlah wajah Alloh
  • Maha Tinggi
  • Maha Luas
  • Maha Meliputi
Secara akal dan nalar, tentulah aneh dan membingungkan
bagaimana mungkin al-Qur'an yang kita kenal sebagai kalamNya yang pasti benar
peng-kabaran-nya malah tampak demikian bertentangan sati sama lain?
seolah simpang siur (katanya di atas, kok juga ada di mana - mana, bahkan sangat dekat)
bagaimana mungkin bisa demikian?

namun pada kenyataannya memang benar demikian adanya

Alloh adalah Dzat Yang Maha Tinggi sekaligus Maha Dekat, sangat - sangat dekat

secara akal dan nalar itu hampir tidak mungkin
akan tetapi, untuk dapat memahaminya, tentunbukan sekedar akal yang musti kita gunakan
karena dimensi akal ada dalam lingkup dimensi jasadiah
yang bisa dikatakan sebagai dimensi yang rendah juga sempit.

Akal musti dibantu dengan kelembutan Rahsa untuk memahaminya.
Namun rahsa sendiri terkadang juga tidak mampu / belum sepenuhnya dapat mengantarkan kita
pada pemahaman yang luas dan riil mengenai hal tersebut

Maka adalah perjalanan pribadi yang akan menyaksikan secara langsung kebenaran tersebut.

Pada suatu khabar (Hadist) dijelaskan / diterangkan bahwa ketika mi'roj,
Rosululloh s.a.w di dampingi oleh malaikat Jibril a.s melintasi 7 lapis langit.
namun pada langit yang terakhir, Jibril berkata pada Rosululloh,
"Yaa Rosululloh, aku hanya dapat mengantarkan engkau sampai di sini saja. selanjutnya silahkan Engkau lanjutkan sendiri. karena jika aku terus berlanjut kesana, turut serta denganmu, tentulah aku akan lebur"

Ada satu ruang tersendiri, atau dimensi tersendiri yang memang tak terjangkau oleh Rahsa maupun Akal
Dimensi Rahsa ada di atas rasa,
pada dimensi inilah Jibril a.s menularkan kalam ilahi.
dari Rahsa tersebut diturunkan lagi ke dimensi Akal.
Akal yang menggerakkan pikiran kemudian seluruh tubuh gemetar tatkala turun kalam ilahiah disebut sebagai Rasa.
Dan pada dimensi akal inilah butir - butir kalam ilahi yang sedemikian halus mengalami pengkristalan
sehingga berubah menjadi mutiara mutiara ilmu yang dapat ditangkap oleh berbagai indra kita.

Maka dari itu akal harus sering sering dijernihkan
dengan cara di endapkan,
akal itu laksana air. -mungkin dalam pengetahuan modern telah diketahui bahwa ternyata di dalam otak memang dipenuhi oleh air-

jika ia sering terguncang, ia akan menjadi keruh
maka cara agar ia kembali jernih adalah dengan mengendapkannya.

akal yang keruh tidak akan mampu menerima juga memantulkan Cahaya dariNya
yang di salurkan oleh dimensi Rahsa
apalagi mengkristalkannya.

jika ia jernih, barulah ia dapat menerima dan memantulkan cahaya tersebut.

Rahsa yang tidak tertata akan sulit menterjemahkan kalam ilahiah
dan cara untuk menatanya adalah dengan kesunyian dan keheningan.

semakin sunyi dan hening wilayah Rahsa,
maka ketertataan akan semakin merapat dan mendekati sempurna
kalam - kalam ilahiah yang terlimpah akan mudah dipahaminya.

kedewasaan itu ialah ketertataan dimensi Rahsa
dan istiqomahnya kesunyian juga keheningan

dari sini dapat kita pahami bahwa ada dimensi teratas (yang lebih utama)
dimensi di atasnya akal dan Rahsa
Dimensi Pribadi
ruang pertemuan suci Pribadi (Nafs) dengan Robb-nya
tak ada apa pun di sana,
bahkan Jibril a.s yang bertugas menyampaikan wahyu pun tidak dapat menjangkaunya.

pahamilah bahwa Robb Maha Tinggi

Ia ada di atas 'Arsy.

pada suatu kabar (Hadist),
baginda yang mulia s.a.w mengabarkan
bahwa 'Arsy Alloh itu berada di atas air.

secara aqliyah,
dari penjelasan di atas yang telah terbabar
bahwa otak ini adalah / terisi oleh air
dan ada dimensi di atas air

Sekaligus Alloh Sangat dekat dengan hambaNya
bahkan saking dekatnya, Ia menyatakan bahwa Ia lebih dekat dari urat leher hambaNya
pun juga Ia meliputi segala sesuatu
Dimensi - dimensi itu berada mulai dari fisik hingga melebihi fisik
lebih dalam lagi.

semakin tinggi dimensinya,
semakin dalam dan luas cakupannya.

jika semakin kita berada pada dimensi yang tinggi dan lebih tinggi
maka kita akan berada dalam kedalaman sekaligus keluasan

urat nadi, urat leher, letaknya ada di luar,
mereka ada di jasad.
sama halnya dengan otak.
semakin ke dalam akan menemukan apa yang dikatakan sebagai
rahsa , rasa , juga akal.
lebih dalam lagi ada dimensi ilahiah yang tak terbatas kedalaman dan keluasannya

maka mari kita pahami lagi istilah
"Lebih dekat dari urat leher"
 Ø³Ø¨Ø­Ù†Ùƒ لا علم لنا الا ما علمتنا

Alloh Maha Luas juga Maha Meliputi

telah terjabar pada penjelasan - penjelasan sebelumnya.
maka mari terus melatih akal agar ia senantiasa jernih
dengan cara pengendapan
dan Rahsa agar tetap dalam kesunyian dan keheningan
kemudian sadari tentang kehadiran Alloh dan sambutlah Ia
dengan kepasrahan dan keridhoan

firmannya yang terdokumentasi dalam hadist qudsi,
"Barangsiapa yang mendekat kepadaKU sejengkal, maka Aku akan menyambutnya sehasta,
barangsiapa yang mendekat kepadaKU sehasta, maka aku akan menyambutnya sedepa,
barangsiapa datang kepadaKU dengan berjalan, maka akan kusambut dengan berlari."

perjalanan kita adalah perjalanan sunyi
perjalanan kita adalah pendekatan kepada Sang Ilahi
pendekatan kita adalah berupa penjernihan - penjernihan
pengosongan kekosongan
kesunyian - kesunyian
dan keheningan - keheningan.

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu Akbar.
Wa Lillahil-khamd

Haiyya 'alash-Sholah
Haiyya 'alal-Falah

Laa ilaha Illa Alloh
Muhammad ar-Rosululloh

Asyhadu an-Laa ilaha illa alloh
Wa Asyhadu anna muhammad ar-Rosululloh

Allohu Akbar, Allohu Akbar,,,

صدق الله العظيم , وصدق الرسول النبي الكريم

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِÙŠْÙ†َ اِذَا ذُÙƒِرَ اللّٰÙ‡ُ ÙˆَجِÙ„َتْ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبُÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا لصّٰبِرِÙŠْÙ†َ عَÙ„ٰÙ‰ Ù…َاۤ اَصَا بَÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا Ù„ْÙ…ُÙ‚ِÙŠْÙ…ِÙ‰ الصَّÙ„ٰوةِ ۙ ÙˆَÙ…ِÙ…َّا رَزَÙ‚...