Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jiwa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Februari 2022

Gerak Diri Gerak Alloh

Setiap Percikan IDE atau GAGASAN, kerap kali itu muncul atas dorongan dorongan Daya Ilahiah.

Getaran yang kerap kali timbul di dalam diri kita, yang lalu kemudian biasa kita sebut sebagai "Gairah" atau "Hasrat", adalah merupakan perpaduan dari keinginan dan daya ilahiah.

Alloh selalu bergerak menyertai kita semua. DayaNya seirama dan selaras dengan do'a (Permohonan)serta kesiapan bathin kita. Kesadaran adalah laksana jari jemari yang menekan tombok aktivasi "Daya Ilahiah", sehinga berproseslah "Kun Fa Yakun" -Nya, ata berlaku PengAdaan PengadaanNya.

suatu proses Pengadaan (Yakuun) di balik segala hal atau peristiwa (Haula) pastilah memliki bobot / muatan kekuatan (Quwwata) Alloh. dan apabila ia Quwwata- ini diterima oleh seseorang, dan kemudian ia bergerak selaras denganNya, tindakan sedemikian itulah yang dinamakan 'Ikhtiar".

Jadi "Ikhtiar" adalah tindakan yang berdasarkan tuntunanNya melalui getaran Daya Ilahiah. bukan merupakan tindakan yang asal asalan layaknya tebak tebakan, kalau melakukan ini atau itu mudah mudahan mendapatkan ini dan itu. melainkan lebih ke arah "saya melakukan ini karena Alloh menghendaki saya melakukan ini". 

فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ - ٣٨

"Maka jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" [Q.S Al-baqoroh : 38]

Demikian itu ketetapan dariNya, sebuah kabar menggembirakan sekaligus informasi untuk menyadarkan kita semua bahwa DIA pasti menurunkan petunjukNya untuk membimbing kita dalam menapaki segala bentuk problematika hidup di dunia. Demikain pul dinyatakan bahwa memang benar Daya Ilahi itu jika kita ikuti , tidak kita ingkari , maka ia akan membawa kita pada banyak keadaan al-Falah (Kelapngan), kebahagiaan, keberuntungan, juga keselamatan.

Maka Alloh berkali kali menyadarkan kita melalui Al-Qur'an, kalamNya yang Agung. Bahwa DIA senaniasa membersamai kita (wa huwa ma'akum aina maa kuntum). DIA tidaklah jauh di luar diri kita, justru sangat sangat dekat di dalam kalbu kita (wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil warid). serta senantiasa bergerak menggerakkan akal pikiran kita (kulla yaumin huwa fi sya'n) yang kemudian memunculkan berbagai ide - ide lalu menjelma dalam bentuk gerak kita.

ide ide luhur ituakan berakhir pada tindakan tindakan yang didasari oleh kesadaran kita. Apakah kesadaran kita mau menerima serta mengakui bahwa ide ide tersebut murni dari Alloh ataukah justru enggan mengakui apalagi menerimanya. Sehingga ia akan menggerakkan atau memicu ide lain yang menjatuhkan yang menyengsarakan atau yang dalam bahasa al-Qur'an disebut sebagai ilham Fujur.

Maka Alloh selain menyatakan bahwa DIA adalah Sang Maha Pemberi Petunjuk / Al-Hadi, Sang Maha Kasih, Sang Maha Welas, DIA juga memperkenalkan DiriNya bahwa Dia jualah yang akan menyesatkan hamba hambaNya. yaitu tentu saja hambaNya yang mengingkari adanya petunjuk dariNya.


فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta." [Q.S Al-Baqoroh : 10]

hati manusialah yang sebenarnya berpenyakit, lantas DIA merespon dengan benar benar menambah penyakit yang kelak mengunci hati dan kesadarannya dalam menyaksikan eksistensiNya. serta tidak dapat lagi mengenali petunjuk petunjukNya / buta.

Berdasarkan kesiapan kesadaran kita, Dia akan melimphkan petunjukNya. Daya Ilahi hanya menyelaraskan kesesuaian bathiniah / alam bathin manusia kemana akan dihadirkan realitas bagi manusia.

Do'a dan Ijabahnya

Maka dari itu, Sang Rosul Alloh, manusia paripurna s.a.w mengingatkan kita bahwasannya Alloh s.w.t berfirman, "Aku sesuai persangkaan hamba hambaKU terhadapKU". 
hadirnya prasangka seringkali berupa rasa di dalam dada yang disertai gambaran gambaran dalam benak (visualisasi). sedangkan Do'a yang merupakan kegiatan memohon atau yang lebih tepatnya merupakan Komunikasi 'Menyapa' Alloh, akan sangat mujarab tatkala disertai sikap yang hadir / khudhur. artinya menta rasa dan visual dalam benak selaras atau sesuai dengan ucapan (lafal doa).

Sebagaimana janji Alloh, Ud'uni astajib Lakum -berdo'alah, Aku perkenankan bagi kalian- 

Setiap getaran hati sejatinya adalah merupakan perwujudan doa. perwujudan dari sapaan permohonan kepada Alloh s.w.t. setiap gerak pikiran adalah merupakan do'a.
Sedangkan Alloh s.w.t sangat mengetahui segala sesuatu hingga yang terhalus yang terbesit di dalam bathin manusia. DIA sangat mengetahui apa apa yang tergetar dan digetarkan dari dalam lubuk diri manusia. 

Gerak Pikiran

gerak dan getaran pikiran seringkali terpicu oleh berbagai keadaan realitas duniawi yang sedang dihadapinya, kemudian mewujudkan rasa butuh juga ingin di dalam diri. Realitas duniawi bisa jadi merupakan cara Alloh untuk membawa kita kembali menyapaNya. membawa kita merasakan butuh bercengkrama dengan EksistensiNya. maka sejatinya respond kita dalam menghadapi berbagai hal, akan dapat menjadi barometer seberapa iman dan ikhlasnya diri kita di hadapan Alloh s.w.t. sangat mungkin realitas duniawi menjadi ajang penentu seperti layaknya ujian di sekolah. Pada dasarnya, realita dan respond kita akan saling bercengkrama membentuk realitas baru berikutnya.

Maka Alloh telah menyatakan melalui lisan NabiNya, bahwasannya Pagelaran Dunia seisinya ini hanyalah merupakan ajang ujian semata untuk menguji siapakah yang bersyukur beriman dan siapakah yang kufur.

dalam penerapannya, seseorang yang ingin lepas dari suatu keadaan menuju keadaan lainnya, sebenarnya hanyalah perlu mengubah respondnya atas realitas yang sedang dihadapinya. dalam islam sangat banyak khazanah khazanah yang mengajarkan kita untuk merespond kehidupan. semisal ketika mulai jenuh dengan kemiskina (dalam hal finansial), respond kita terhadap kemiskinan bukanlah dengan membencinya, tapi justru dengan mencintai dan mensyukurinya. menerima dan menyadari bahwa itu merupakan bagian Alloh untuk memuliakan hambaNya. lihat saja dengan adanya pernyataan baginda nabi tentang keutamaan miskin.

selama kita tidak menyadari adanya peran Alloh di dalam suatu peristiwa, niscaya kita akan terkurung dalam lingkaran kekufuran. sekalipun miskin memliki banyak keutamaan, namun di dalam keadaan miskin juga menyimpan batas kekufuran. Rosululloh s.a.w bersabda, "fakir itu sangat dengan kufur". demikian juga keadaan kaya raya berkelimpahan. memiliki dua potensi syukur ataukah kufur. untuk berlepas dari suatu keadaan menuju keadaan yang lain, yang perlu kita rubah adalah cara pandang dan respond kita terhadap suatu keadaan itu. tatkala kita mengkufuri suatu keadaan, selama itu kita akan berkecimpung di dalam keadaan tersebut. sebaliknya, tatkala kita mensyukuri keadaan kita, Alloh akan menaikkan derajat kita dari keadaan yang semula. dan penaikan derajat ini ditandai dengan kematangan Mental bathin kita. atau kematangan / kesiapan jiwa kita untuk menerima keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.

Kesiapan Jiwa Kematangan Mental

Kesadaran bathin kita akan membentuk kesiapan baru bagi jiwa kita dalam hal menyambut suatu perubahan keadaan. tatkala jiwa lebih siap menerima suatu hal / peristiwa, ia (jiwa) akan memicu indrawi indrawi kita untuk lebih fokus mencerap hal hal yang berkaitan dengan kesiapan jiwa tersebut. dengan kata lain indrawi akan memiliki kecondongan tersendiri akan hal hal baru tersebut.

misal ketika jiwanya lebih siap dalam hal finansial, maka ia akan tergerak untuk menyukai berbagai hal yang berhubungan dan mendukun perkara perkara finansial. atau ketika jiwanya lebih siap dalam hal keilmuan keilmuan, maka ia akan sangat mudah menemukan berbagai hal yang menumbuhkan kesukaannya pada bidang keilmuan, yang menambahkan ilmu ilmu baru bagi dirinya. semua realitas peristiwa seolah mendukung apa yang menjadi kesiapan bagi jiwa kita.

Maka dahulu sesepuh tanah jawa, kanjeng Sunan Bonang pernah menuliskan dalam Serat Suluk Wujilnya "Perhatikanlah wujil, Dunia Ini Luluh lantak akibat gerak jiwamu". seolah beliau mengisyaratkan bahwa gerak jiwa, kesiapan jiwa, kematangan mental terhadap suatu hal itu sangat menentukan kondisi kita dalam pagelaran hidup ini berikutnya.

Jiwa, seringkali memperoleh kesiapan kesiapan mentalnya berdasarkan pergaulannya. bahkan pergaulannya semenjak kecil dapat mempengaruhi polah gerak jiwanya. sebagaimana isyarat Nabi s.a.w "Setiap bayi yang terlahir itu berada dalam keadaan fitrah, polos, suci, netral. ibu bapaknyalah yang kelak menjadikannya majusi-nasrani-yahudi", karena memang pergaulan seorang bayi paling pertama adalah ibu bapaknya. maka berangkat dari pergaulan itulah kemudian membentuk kebiasaan hingga kesiapan jiwa dalam mengundang dan menerima realitas kelak dikemudian hari. 


Senin, 14 Agustus 2017

Suluk adalah......

Secara bahasa suluk berarti perjalanan, secara budaya maupun tradisi, suluk dapat dipahami sebagai perjalanan jiwa.
Sedikit berbeda dengan thoriq yang juga jalan namun lebih condong ke ranah fisik / materi.
Shiroth adalah medianya atau jalannya.

Suluk adalah perjalanan jiwa
Dimana yang bergerak untuk melakukan perjalanan adalah jiwanya
Bukan raganya, bukan fisiknya lagi terlebih egonya
Ego sendiri adalah percikan dari momentum gerak fisik yg teradiasi oleh gerak angan angan / fikir.
Angan angan ini timbul karena efek tangkapan panca indra yang beradu padu di dalam memori otak yang kemudian juga kita sebut dengan fikiran.
Kebiasaan aktifnya fikiran dalam hal menangkap berbagai macam informasi dari panca indra ini lantas terbawa secara bebas dalam bentuk imajinasi
Ini lah cikal bakal angan angan

Thoriq, adalah perjalanan atau tahapan yang melibatkan unsur jasad termasuk fikiran
Terkadang lisan, jari jemari, hingga pikiran dipusatkan pada satu titik temu yang disebut dengan wirid.
Yakni melafalkan bacaan tertentu untuk menggerakkan ranah pikirnya dan raganya untuk mencapai satu kondisi ketertataan.
Secara simpel bisa kita katakan bahwa thoriq adalah proses penataan pikiran
Agar ia ia tidak liar dalam berkhayal atau berimajinasi atau berandai andai atau berangan angan.

Shiroth adalah bentuk jalannya
Ada yang menggunakan jalan sholawat, wirid asmaul husna, tasbih tahmid takbir, tahlil dan lain sebagainya.

Kembali lagi
Sedangkan suluk adalah diluar sekaligus di dalam itu semua
Atau sudah tidak terlepas dan terbebas dari itu semua
Jika thoriq yang ditekankan adalah penataan pikiran
Maka suluk adalah sudah selesai dari penataan pikiran
Atau langkah selanjutnya yg dilakukan setelah pikiran itu tertata sebagaimana mestinya/ sesuai fitrahnya

Suluk, yang digerakkan adalah jiwanya
Bukan lagi pikirannya.

Maka kalau anda menemui orang yang penuh dengan analogi pikir yg luar biasa ribetnya, dia sedang dalam proses pergerakan pikir.
Dimana dia sedang dalam tahap pencarian atau dengan kata lain sedang mensinkronkan pikirannya atas berbagai informasi yang masih belum jelas baginya apanya itu suatu capaian kebenaran ataukan bukan.

Orang orang suluk biasanya ia akan lebih damai atas berbagai bentuk nalar fikir.
Karena sudah bukan wilayahnya untuk berbelit belit dalam ranah pikiran lengkap dengan analogi analoginya.

Pikiran, fitrahnya adalah untuk menangkap bentuk perintah atau kehendak dari si jiwa.
Si jiwa pergerakannya adalah menuju Alloh. Sang Penguasa Sejati
Robb semesta Alam
Yang meliputi segala ruang dan waktu
Yang mengkondisikan berbagai macam keadaan
Dengan kata lain
Jiwa, fitrahnya adalah memerankan apa yg telah diperintahkan oleh Alloh
Maka dia disebut sebagai khalifatulloh fil-ardhi

Oke, sampai sini semoga kita diberi kefahaman oleh Alloh.
Wallohu'alam bish-showab

Rabu, 17 Agustus 2016

Kemerdekaan Sebagai Membran Semesta



kalau anda berpuasa, anda pasti merasakan kemerdekaan itu tatkala adzan maghrib sudah mulai berkumandang

kalau anda bekerja dalam sistem piket bergilir, tentu anda akan merasakan kemerdekaan itu ketika jam piket anda telah habis.

kalau anda bekerja dalam target - target tertentu, tentu kemerdekaan itu adalah ketika setiap target pekerjaan anda sudah terpenuhi.


sekarang apa batas kemerdekaan kita?




merdeka adalah sebuah membran semesta, lapisan halus yang berdesir membatasi materi dan inti dari materi itu sendiri.



anda mengenal diri anda? tentu anda mendapati batas - batas tersebut. batas yang menyekat halus jasad anda dan ruh yang menghidupi diri anda

sekali lagi, apa sebenarnya kemerdekaan kita?


Alloh, Sang Pencipta Alam semesta sudah berkali kali hampir di setiap zaman menunjukkan perjuangan untuk merdeka.

di zaman Putra putri nabi adam a.s, perjuangan kemerdekaan itu ada pada habil dan qobil. (saya rasa masing masing kita sudah mengetahui kisahnya)

zaman nabi musa, nabi isa, rosululloh muhammad, syaikh jalaludin rumi, ibnu rusyd, imam ghozali, syekh mansur al-hallaj, wali songo di tanah jawa, majapahit, hingga hut RI yang sedang semarak kita peringati.

berhenti kah proses perjuangan? tidak???

itu semua adalah visualisasi perjuangan dalam ranah materi.


ada perjuangan yang lebih besar lagi, yakni perjuangan di ranah lintas dimensi. dari dimensi materi beranjak ke dimensi bathin, ini juga butuh perjuangan. dari dimensi bathin menuju dimensi ruh, ini juga perjuangan. dari dimensi ruh ke dimensi ilahiah. ini juga butuh perjuangan.


dan yang namanya berjuang pasti memiliki seni peperangannya masing masing. butuh taktik yang lihai untuk mensiasati agar kemerdekaan itu dapat benar - benar kita raih. ups,, maaf bahasanya jangan kita raih, kita temukan saja.

karena selama kita meraih, kita justru tidak akan pernah merasakan merdeka.

merdeka itu juga merupakan momen pelepasan dari suatu kondisi ke kondisi yang lain.

yaaa kita fahamlah yang ini. karena ini sudah pasti otomatis demikian.


nah kembali lagi, seni peperangan yang diperlukan untuk berjuang lintas dimensi tentunya adalah pribadi kita masing masing yang perlu menatanya. sahabat bisa menjadi teman sharing, namun dalam realitas perjuangannya, diri kita masing - masing yang berperan.


asyiknya, banyak yang gugur di perjuangan lintas dimensi ini hanya dikarenakan ia terlalu mensiasati peperangannya sendiri. ia mengira melawan musuhnya, justru ia berserikat dengan musuh. ia dagelan namanya.


dalam perjuangan ini, justru yang dibutuhkan hanyalah pengabaian pengabaian. siasat yang dibutuhkan justru siasat untuk menjaga kesadaran akan kemenangan puncak yang sejati.

apa itu? tentu saja "inna lillahi wa inna ilaihi rojiun" capaian pada dimensi ilahiah.


orang yang sudah berada di pemakaman, itu juga masih berjuang kalau selama hidup di dunianya ia tidak inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. tidak kembali pada dimensi ilahiahNya yang merupakan sumber asal muasal dan tujuan akhir perjalanan dan perjuangan setiap manusia.


sekarang mari kita pandang diri kita masing - masing, mengheningkan cipta. sudahkah kita berada dalam dimensi ilahiah atau setidaknya kita menemukan secercah titik terang yang melegakan dan memperluas hati kita. sudahkah kita menemukan sumber dan tujuan akhir perjuangan kita.

karena itulah yang sejatinya pantas disebut sebagai cita - cita luhur. kalau anda sudah menemukan, perjuangkan untuk tidak anda lepaskan.


"weruh menet rin tutur tanpo balik lupa" -slogan kecil yang saya tempelkan pada logo Dzikir Nafas Jatim untuk sahabat - sahabat dan sedulur - sedulur seperjuangan dalam menemukan titik terang itu- tetap berpegang pada kesadaran akan asal muasal dan tujuan akhir. semoga kita dimerdekakan Oleh Sang Maha Merdeka.


salam ..... salam ..... salam ......




Jumat, 12 Agustus 2016

3 Jenis Hujjah Yang Musti Dimiliki

Hendaklah kita dalam berbuat segala hal itu memiliki landasan
ada alasan - alasan atau dasar - dasar yang benar dan menguatkan atas apa - apa yang kita kerjakan
Segala tindak tanduk manusia itu pasti akan membuahkan pertikaian bathin tersendiri
bisikan keraguan itu pasti akan muncul mengiringi apa - apa yang telah kita perbuat
seolah - olah hendak menjerumuskan kita pada kufur fa'alulloh

di sini pentingnya landasan atau hujjah 
atas apa - apa yang telah maupun sedang kita perbuat
contoh ketika anda membatalkan puasa sunnah hanya untuk memakan jamuan makan dari seorang sahabat
yang apabila anda tidak memakan jamuan makan itu, tentulah kesedihan hati akan diperoleh oleh sahabat anda
mengenai hal ini tentu setelah anda membatalakan puasa akan muncul keresahan hati
jika kita tidak memegang kuat dasar kita tentang mengapa harus membatalkan puasa

nah alasan / dasar / hujjah yang haqq mustilah kita genggam dengan benar
untuk hujjah diri baik di dunia maupn di akhirat kelak

hujjah yang paling dasar adalah hujjah yang tersimpan di dalam memori otak
hujjah semacam ini adalah hujjah yang dimiliki oleh kebanyakan orang (kalangan)
yang telah menerima suatu ilmu mengenai hujjahnya tersebut
hujjah ini akan membantah keragu - raguan yang membisiki dirinya

selanjutnya dan yang utama adalah hujjah qolbu
hujjah ini telah terserap dengan benar di dalam hati
ia yang akan menguatkan hujjah pikiran
karena wilayah hujah qolbu ini merupakan wilayah pelimpahan cahaya dari Alloh s.w.t
yang mana di wilayah ini lah yang sejatinya kemudian menggerakkan seluruh anggota badan kita

dan yang lebih utama lagi adalah hujjah ilahiah
dimana keraguan tidaklah mungkin menolak hujjah ini
keraguan tidak akan dapat menyentuh wilayah kesadaran ilahiah
apalagi meracuni manusia yang memiliki hujjah ilahiah ini
orang yang telah mencapai dimensi kesadaran ilahiah tentu ia akan mendapatkan bimbingan langsung dari Alloh s.w.t dalam berbuat segala sesuatu
apapun yang mencoba meracuninya akan segera ditepiskan oleh Alloh
cahayaNya akan meleburkan segala sesuatu selainNya
hal ini yang menyebabkan orang yang memegang hujjah ilahiah tentulah tiadak kekhawatiran sama sekali dalam benaknya

sebaiknya manusia memang harus memasuki dimensi kesadaran ilahiah ini
namun jika memang belum dapat memasukinya
hendaknya ia berada atau mempunyai kedua jenis hujjah sebelumnya

3 titik wilayah tersebut juga dapat kita temui indikasi - indikasinya
kita dapat mengenali di mana posisi diri kita yang sebenarnya
dalam menanggapi beberapa model keraguan yang menghinggapi diri kita

apabila keraguan itu muncul sedemikian besar
dan kita berusaha menetralkannya dengan mengajukan berbagai hujjan melalui pikiran
tentu kita saat itu sedang berada dalam wilayah pikiran
wilayah terendah dari kesadaran manusia

apabila ketika keraguan itu muncul seimbang dengan ilmu ilmu yang telah kita miliki
dimana pikiranpun juga sudah tidak terlalu ambil andil melimpahkan hujjah
dan hati kita tetap tidak goyah akan bisikan keraguan itu
maka dapat kita kenali bahwa saat itu kita sedang berada dalam wilayah utama yang pertama

apabila pikiran tenang - tengan saja
dan hati juga tidak goyah
maka keraguan pun hampir - hampir tidak ada yang mencemari diri kita
maka dapat kita ketahui bahwa saat itu kita sedang berada dalam wilayah ilahiah
dimana walaa khoufun 'alaihim (tidak ada ketakutan sedikitpun bagi mereka)

cara - cara untuk memasuki masing - masing wilayah tersebut saya kira juga sudah terurai dalam bahasan - bahasan sebelumnya
sedangkan kalau memang perlu untuk di ulangi
maka perlu dipahami bahwa anda hanya perlu mengasah lagi kekotoran diri anda
dari berbagai kotoran yang telah hinggap melalui dunia yang anda tekuni

kosongkan diri anda dari segala sesuatu yang bersifat materiil duniawi
hilangkan prasangka - prasangka anda
dan ikuti irama tarikan danhembusan nafas yang mengalir alami
sedemikian sunyi dan jujur lillah billah
temukan setitik cahaya dalam diri anda sendiri
yang mana cahaya itu merupakan cahaya ilahiah yang memang tertanam dalam diri anda
masuk dan meleburlah dalam cahayaNya itu

3 Jenis Hujjah Yang Musti Dimiliki

Hendaklah kita dalam berbuat segala hal itu memiliki landasan
ada alasan - alasan atau dasar - dasar yang benar dan menguatkan atas apa - apa yang kita kerjakan
Segala tindak tanduk manusia itu pasti akan membuahkan pertikaian bathin tersendiri
bisikan keraguan itu pasti akan muncul mengiringi apa - apa yang telah kita perbuat
seolah - olah hendak menjerumuskan kita pada kufur fa'alulloh

di sini pentingnya landasan atau hujjah 
atas apa - apa yang telah maupun sedang kita perbuat
contoh ketika anda membatalkan puasa sunnah hanya untuk memakan jamuan makan dari seorang sahabat
yang apabila anda tidak memakan jamuan makan itu, tentulah kesedihan hati akan diperoleh oleh sahabat anda
mengenai hal ini tentu setelah anda membatalakan puasa akan muncul keresahan hati
jika kita tidak memegang kuat dasar kita tentang mengapa harus membatalkan puasa

nah alasan / dasar / hujjah yang haqq mustilah kita genggam dengan benar
untuk hujjah diri baik di dunia maupn di akhirat kelak

hujjah yang paling dasar adalah hujjah yang tersimpan di dalam memori otak
hujjah semacam ini adalah hujjah yang dimiliki oleh kebanyakan orang (kalangan)
yang telah menerima suatu ilmu mengenai hujjahnya tersebut
hujjah ini akan membantah keragu - raguan yang membisiki dirinya

selanjutnya dan yang utama adalah hujjah qolbu
hujjah ini telah terserap dengan benar di dalam hati
ia yang akan menguatkan hujjah pikiran
karena wilayah hujah qolbu ini merupakan wilayah pelimpahan cahaya dari Alloh s.w.t
yang mana di wilayah ini lah yang sejatinya kemudian menggerakkan seluruh anggota badan kita

dan yang lebih utama lagi adalah hujjah ilahiah
dimana keraguan tidaklah mungkin menolak hujjah ini
keraguan tidak akan dapat menyentuh wilayah kesadaran ilahiah
apalagi meracuni manusia yang memiliki hujjah ilahiah ini
orang yang telah mencapai dimensi kesadaran ilahiah tentu ia akan mendapatkan bimbingan langsung dari Alloh s.w.t dalam berbuat segala sesuatu
apapun yang mencoba meracuninya akan segera ditepiskan oleh Alloh
cahayaNya akan meleburkan segala sesuatu selainNya
hal ini yang menyebabkan orang yang memegang hujjah ilahiah tentulah tiadak kekhawatiran sama sekali dalam benaknya

sebaiknya manusia memang harus memasuki dimensi kesadaran ilahiah ini
namun jika memang belum dapat memasukinya
hendaknya ia berada atau mempunyai kedua jenis hujjah sebelumnya

3 titik wilayah tersebut juga dapat kita temui indikasi - indikasinya
kita dapat mengenali di mana posisi diri kita yang sebenarnya
dalam menanggapi beberapa model keraguan yang menghinggapi diri kita

apabila keraguan itu muncul sedemikian besar
dan kita berusaha menetralkannya dengan mengajukan berbagai hujjan melalui pikiran
tentu kita saat itu sedang berada dalam wilayah pikiran
wilayah terendah dari kesadaran manusia

apabila ketika keraguan itu muncul seimbang dengan ilmu ilmu yang telah kita miliki
dimana pikiranpun juga sudah tidak terlalu ambil andil melimpahkan hujjah
dan hati kita tetap tidak goyah akan bisikan keraguan itu
maka dapat kita kenali bahwa saat itu kita sedang berada dalam wilayah utama yang pertama

apabila pikiran tenang - tengan saja
dan hati juga tidak goyah
maka keraguan pun hampir - hampir tidak ada yang mencemari diri kita
maka dapat kita ketahui bahwa saat itu kita sedang berada dalam wilayah ilahiah
dimana walaa khoufun 'alaihim (tidak ada ketakutan sedikitpun bagi mereka)

cara - cara untuk memasuki masing - masing wilayah tersebut saya kira juga sudah terurai dalam bahasan - bahasan sebelumnya
sedangkan kalau memang perlu untuk di ulangi
maka perlu dipahami bahwa anda hanya perlu mengasah lagi kekotoran diri anda
dari berbagai kotoran yang telah hinggap melalui dunia yang anda tekuni

kosongkan diri anda dari segala sesuatu yang bersifat materiil duniawi
hilangkan prasangka - prasangka anda
dan ikuti irama tarikan danhembusan nafas yang mengalir alami
sedemikian sunyi dan jujur lillah billah
temukan setitik cahaya dalam diri anda sendiri
yang mana cahaya itu merupakan cahaya ilahiah yang memang tertanam dalam diri anda
masuk dan meleburlah dalam cahayaNya itu

Sabtu, 06 Februari 2016

Tempat Kembali

Kemana arah perginya nafas ketika kelak kita telah tiada (mati)?
Sama halnya dengan akan kemana perginya jasad kita nanti...

Kalau jasad kita sudah mengetahui akan kemana ia perginya.
Tentu ia akan berpulang ke asalnya, Tanah.
Sedangkan nafas kita yg terbentuk dari udara, maka ia pun juga akan kembali menjadi udara
Ia akan menyatu dengan semesta
Melingkupi segala unsur yg tersimpan di dalamnya

Nafas hanyalah sebuah media pengikat antara jasad dan ruh
Sedangkan di antara keduanya itu ada jiwa
Yg membentuk apa yg kita sebut sebagai kesadaran
Ia dapat melihat dan mendengar, bahkan mengikuti jasad maupun ruh

Kita dapat mengamati apapun dengannya
Ia biasa kita kita sebut dengan Qolbu; Hati
Namun bukan hati secara penterjemahan linier sebagai sebongkah daging
Atau ada juga yg menyebutnya sebagai Akal.
Akal ini yg sering disebut dalam al-Qur'an sebagai sebutan Ulil Albab, Ulinnuha, dsb.

Qolbu dan akal itu bukan suatu entitas yg mewujud materi
Ia dikatakan ada, namun tak nampak kasat mata
Ia merupakan sisi ghaib diri manusia
Ia tak terbendung, tak terbatas

Selama ia melesat, lepas dari jasad,
Jadilah ia eksistensi yg lebih besar dan luas dari alam semesta

Ketika nafas terlebur menjadi bagian dari semesta,
Hendaknya jiwa tidak berhenti bersama nafas
Hendaknya ia terus melanjutkan perjalanannya menuju bahkan melampaui batas batas (langit - langit) pada semesta semesta berikutnya

Semesta ini berlapis lapis
Jin dan manusia berada di dalam dimensi atau semesta yg sama
Tempat yg serendah rendahnya

Berani kita melampaui semesta ini,
Maka kita akan menemukan semesta berikutnya
Letaknya para ruh dan eksistensi lainnya
Perbendaharaan ghoib yg tak mungkin dapat diceritakan
Musti dialami sendiri, dijalani secara pribadi.

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...