Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2016

Khazanah Hikmah Dzikir Nafas

Kalau dalam tataran keilmuan tasawuf, kita mengenal adanya 3 hal pokok perjalanan. Tahalli - takholli - tajalli
Pembersihan , pengisian , pengejahwantahan.

Pada dasarnya Tahalli merupakan Pembersihan dari sifat sifat buruk
Takholli merupakan pengisian diri dengan sikap2 yang baik
Tajalli merupakan pengejahwantahan tuhan dalam diri manusia

Selama ini proses ini cukup lama karena dipahami secara terpisah pisah.
Sebenarnya hal ini sangat sederhana dan mudah jika kita jalani secara bulat total.
Dzikir Nafas yg dikembangkan oleh Jamaah Dzikir Nafas Sadar Alloh saya kira adalah kebulatan dari proses ini secara utuh tanpa terpisah pisah satu sama lainnya.

Dzikir Nafas level-1 :
Di mana kita hanya mengamati keluar dan masuknya nafas secara istiqomah,
Anda sadar ataupun tidak, tahap ini akan memproses diri kita untuk berbersih diri / bertahalli. Saktinya, disini bukan kita yang berbersih, tapi dibersihkan oleh Alloh. Sebagaimana nafas ketika kita amati dengan seksama, ternyata nafas itu bukan kita yang bernafas sesungguhnya. Tapi Alloh yang menafaskan kita. Tidak ada peran kita sama sekali dalam proses bernafas. Sangat murni dan nyata Alloh lah yang menafaskan kita. Nah inilah dimana ketika kita sadar bahwa diri kita tidak memiliki peran apapun terhadap diri kita. Proses penyucian dari Alloh itu berlangsung otomatis.

Dzikir Nafas level-2 & level-3 :
Takholli berada pada tahap ini. Setelah kosong, sunyi dari berbagai macam prasangka, pemikiran, nafsu dlsb di level-1, jangan biarkan kosong terus terusan.
Isi kekosongan itu dengan kesadaran ilahiah. Ketika nafas masuk, barengi dengan dzikir Huu... Dan ketika nafas keluar barengi dengan dzikir Alloh. (Level-2).
Kemudian setelah cukup mudah mengiringi nafas dengan dzikir huu Alloh secara berlanjut.
Kemudian ketika dzikir huu, gerakkan jiwa anda menuju Alloh yang tak terbatas, dan begitu pula ketika mendzikirkan Alloh, pasrahkan jiwa (diri) anda kepada Alloh yang maha luas tak terbatas. (Level-3)
Ini adalah proses penyadaran diri atas eksistensi Alloh. Dalam tahap ini, proses takholli sebagaimana yang sudah disinggung di atas itu akan bekerja secara otomatis. Sikap buruk mulai terlebur di level-1, dan berlanjut pada pembentukan karakter sikap yang toyyib / karimah / baik secara lahir bathin secara otomatis diberlakukan pada level-2 dan level-3 ini.

Dzikir Nafas Level-4 :
Selanjutnya adalah tajalli. Yang mana hal ini merupakan hak khusus milik Alloh terhadap pengejahwantahan diriNya kepada hamba - hambaNya yang telah melakukan perjalanan spiritual (suluk) -yang dimulai dari level {tahap} 1 s/d 3.
Banyak dari pelaku Dzikir Nafas yang diberikan tajalli af'al dan sifat oleh Alloh. Sesiapa yang ditajallikan oleh Alloh, dia akan mewakili sifat dan af'alNya.
Contoh sahabat kita yang diberi tajali sifat al-Bashir, tiba tiba saja ia bisa melihat hal hal yang terjadi di bentangan ruang dan wakti yang mustahil dijangkau secara logika. Atau yang dilimpahi sifat al-hadi atau ar-rosyid, ya apa pun yang ia ucapkan akan menjadikan pencerahan hikmah pada sesiapa saja yang mendengarnya.

Namun sekali lagi.... Tajalli itu hak mutlak Alloh, kita tak perlu mengidamkannya. Peran kita yang sangat pasti dan perlu adalah istiqomah menjalankan level 1 s/d 3. Level 4 akan otomatis diberikan oleh Alloh kepada hamba hambaNya yang bersungguh sungguh berjalan kehadiratnya.

"Apabila hambaKU mendekat sejengkal, maka AKU akan menyambutnya sehasta. Apabila hambaKU mendekat sehasta, maka AKU akan menyambutnya sedepa. Apabila hambaKU medekat kepadaKU dengan berjalan, maka AKU akan menyambutnya dengan berlari.
Apabila hambaKU mendekat kepadaKU dengan berlari, maka AKU akan menyambutnya dengan lebih cepat lagi.
Apabila hambaKU telah menunaikan SunnahKU, maka AKU akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatan yang dengannya ia melihat, menjadi lisan yang dengannya ia berucap, menjadi tangan yang dengannya ia memukul, menjadi kaki yang dengannya ia berjalan." [Hadist Qudsy]

Wallohu'alam bish-showab

Sabtu, 24 September 2016

Alloh Yang Mengatur kita atau kita yang mengatur Tuhan

Siapapun anda yang tergerak untuk membaca ini
Mari kita diam sejenak dari macam macam prasangka yang ada di dalam benak kita
Mari kita sama sama memasuki kedalaman bathin kita masing masing

Saya tidak mengatakan bahwa do'a itu adalah bentuk pengaturan kita atas kehendak tuhan
Atau do'a adalah seirama dengan ketidak ikhlasan kita menerima apa apa bentuk pemberian Alloh
Saya juga tidak mengatakan bahwa kita bisa mendikte tuhan
Karena sesungguhnya Alloh berkehendak semaunya sendiri saja
Karena memang kebijaksanaannya melebihi segala sudut pandang manusia

Yang saya maksud dengan kalimat "kita yang mengatur tuhan" sesungguhnya adalah sebuah kemustahilan
Yang menyebabkan seluruh doa kita tidak terkabulkan
Seluruh angan angan kita menjadi kosong tak berarti
Padahal sesungguhnya jika sesuatu yang terbesit di dalam benak kita itu adalah bentuk pengaturan dari Alloh
Maka hal itu akan mewujud "kun-fa-yakun"

Oke kita persantai bahasanya
Kita tentu pernah memimpikan banyak hal
Di dalam benak kita terurai banyak gambaran dan lalu menggerakkan lisan atau hati kita untuk berdoa
Dan doa itu ada terwujud dan ada yang tidak
Pernah kita memperhatikan ketika doa itu terwujud
Sesungguhnya yang menggerakkan kita untuk berdoa itu adalah Alloh?
Atau pernahkah kita menengok bahwa yang berdoa ketika doa itu tidak mewujud itu adalah refleksi hasil ego kita?
Nah ketika ego kita yang berkata kata
Atau yang membentuk suatu bayangan di dalam pikiran
Itulah yang dikatakan mendikte tuhan
Mengatur tuhan

Sudah tentu hal itu membuat tidak terkabulnya suatu permohonan
Padahal jelas jelas Alloh berfirman, "Berdoalah pasti akan Aku kabulkan", dan ditegaskan lagi oleh firmanNya (yg artinya), "dan janji Alloh itu adalah pasti"
Seringkali kalau doa kita tidak juga terkabul, kita akan mempertanyakan janji Alloh yang itu
Wajar.... Manusia....
Sungguh manusia itu sangatlah bodoh
Dalam kondisi yang demikian pun kita masih berani mempertanyakan janji tuhan
Bukannya malah intropeksi diri
Apakah kita telah terlanjur mencoba mengatur tuhan?
Ketika kita sadar bahwa kita telah mengatur tuhan,
Semestinya kita juga sadar siapa yang sedang berperan atas diri kita kala itu.
Ego, nafsu, sifat syaithoniah dan iblisiyah manusia, was was al-khonnas, yuwaswisufi shudurinnas min al-jinn wa an-nass.

Lain halnya kalau yang berperan di dalam diri kita adalah Alloh
Lisan kita, hati kita, benak kita, segala sesuatu yang ada di dalam diri kita adalah haqq Alloh
Yang menggerakkan kita berdoa adalah Alloh
Maka sudah barang tentu gerak selanjutnya yang untuk merealisasikan doa juga adalah merupakan af'al / gerak Alloh

Misal begini, ketika kita sudah berputus asa terhadap dunia
Lalu kita bertekad meninggalkan dunia
Lari beranjak ke Alloh
Dan berserah diri secara total kepadaNya
Ketika begitu kuatnya kita berasyik masyuk dengan Alloh
Kok tiba tiba muncul benak yang sangat kuat dan sangat meyakinkan bahwa kita masih harus menata dunia
Sehingga menjadi baldatun toyyibatun warobbun al-ghofur
Begitu pun selanjutnya kok kita terasa bergerak begitu ringan atas segala perbuatan yang merubah sesama ke arah yang lebih positif
Dan lisan kita ketika berdoa pun semuanya secara tiba tiba / spontan saja
Dan semua doa terealisasi
Di situlah letak pengaturan Alloh

Nah selanjutnya bagaimana agar kita semua dapat mencapai posisi itu?
Posisi yang segala sesuatunya digerakkan oleh Alloh
Posisi dimana Diri kita menjadi wadah tajalliNya Alloh, bukan tajallinya nafsu , was was , syaiton dan iblis

Yang pertama dan pasti adalah anda / kita musti sering sering berada dalam kondisi hening, sunyi, diam, kosong
Hening dari prasangka, sunyi dari pemikiran, diam dari berbagai gagasan, kosong atas keinginan.
Ini dapat kita latih (riyadhohi) melalui Dzikir Nafas Tahap Satu.

Seba'da itu sandarkan dan sadarkan diri anda hanya kepada Alloh dengan melatih dalam setiap masuk dan keluarnya nafas dibarengi dengan dzikir Huu Alloh.

Hal ini bermanfaat untuk mengabaikan ego nafsu kita
Dan mengembalikan seluruh eksisitensi diri kita kepada Alloh.
Selanjutnya latih untuk jumeneng
Yaitu tegap lurus ke Alloh
Suluk / berjalan kehadiratulloh
Ini dapat anda latih secara kontinyu dengan dzikir nafas tahap 3.

Selanjutnya terserah Alloh hendak mentajallikan DiriNya , af'alNya seperti apa dalam diri kita

Kita tak perlu takut untuk berjalan kehadiratnya
Penguasaan ilmu dan amalan bukanlah tolok ukur utamanya untuk mencapai maqom fana fillah tersebut
Tolok ukur utamanya adalah kebulatan tekad kita untuk melebur dalam kuasa Alloh
Dengan membersihkan seluruh bentuk ego diri kita
Semoga hal ini bermanfaat untuk kita semua
Yang merindukan Alloh

Selasa, 02 Februari 2016

Lipatan Tauhid dan Kepasrahan dalam Al-Ikhlas

Qul Huwa Alloh ...... (قل هو الله)
Katakanlah... Huu Alloh
Huu membuka pintu qolbu menuju cakrawala semesta ilahiah.
Melintasi berbagai dimensi yg menyelimuti sekian jagat diri
Alloh .... ialah zat mutlak yg tak terbendung, satu satunya dzat hulu hilir kehidupan

Ahad. (احد)
Menuju satu satunya keberadaan
Melebur dalam kuasa ilahiah
menyatu dengan Sang Robb
Manunggal dengan Hyang Maha Mutlak
Tak ada wujud lain selain Alloh.

Alloh Ash-Shomad ... (الله الصمد)
Asal muasal
Lintas keberaadaan
Sumber segala sesuatu
Yg fana kembali pada kefanaan
Kembali pada ketiadaan
Di balik ketiadaan yg memang semestinya tiada, di sanalah keberadaan yg hakiki.

Lam yalid wa lam yuulad (لم يلد ولم يولد)
Keber-ada-an itu mutlak
Bukan asbab diada-adakan
Itulah yg tak diperanakkan
Juga tak beranak
Adapun penyatuan, itu bukan diaku-aku atau mengaku-aku, atau diaku-akukan.

Wa lam yakun lahuu kufuwan ahad
(ولم يكن له كفوا احد)
Tidak ada sesuatupun yg setara denganNya
Kemanunggalan itu bukanlah hamba menjadi Tuhan
Apalagi Tuhan menjadi hamba
Tidak ada yg demikian
Yg demikian itu itu manipulatif namanya
Diada adakan, diaku aku
Ilah tetaplah ilah
Hamba tetaplah hamba
Namun bukan 2 eksistensi yg saling berjauhan
Tuhan hanya satu (ahad)
Dia melingkupi segala sesuatu
Melingkupi seluruh hambaNya
Penyatuan itu kepasrahan (الدين) total.
Tak ada lagi ego
Sehingga ia mencapai apa disebut (الاسلام) keselamatan.
Mereka adalah Orang orang yg berani dan mau kembali pada ketiadaan
Menuju Dzat Yang Maha Mutlak.

Jumat, 22 Januari 2016

Jalan Kembali

لا اله الا الله

Laa Ilaha Illa Alloh adalah peta besar untuk kembali ke hadiratulloh.

Awal mula dari segala sesuatu adalah لا = Tiada,
disana semua berada dan dikumpulkan, titik ketiadan.
sebuah persaksian agung digelar.
Alloh berfirman, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"
dijawablah oleh para penyaksi, "Ya, Engkaulah Tuhan Kami" [Al-Qur'an]

Maka tersaksilah Ia sebagai اله = Sesembahan
manifestasinya terlahir, "Seandainya bukan karena engkau yaa Muhammad, tentu Aku tidak akan menciptakan makhluq" [Hadist Qudsi]
demikian juga yang telah dikabarkan oleh baginda yang mulia s.a.w,
"Sesungguhnya yang mula - mula diciptakan oleh Alloh adalah Nur Nabimu" [Al-Hadist]

الا = Melainkan; pengecualian
Hijab pun diturunkan
diciptakanlah makhluq
dan kemudian Dia tiupkan ruhNya untuk menyempurnakan khalifah di bumi
seluruh makhluk diminta sujud kepada Khalifah; waliNya
semua bersujud, kecuali satu golongan,
karena ia terhijab

الله = Alloh
Disandangkanlah nama yang terpilih untuk memperkenalkanNya
mengagungkanNya
tanpa nama, tentu manusia kebingungan
Maha Suci Alloh ....
Ia tetap terhijab selama jasad masih berperan
Ia kirimkan berpuluh puluh utusan dan nabi
untuk menyadarkan manusia tentang asal muasal dan tempat kembali

"Sesungguhya kita adalah dariNya, dan Sungguh kita akn kembali jua kepadaNya"

Jalan kembali menuju asal muasal,,,
Jasad Mati (berhenti berperan) => Jiwa bergerak melangkah menuju Ruh-Nya, menyatu dengannya => Ruh kembali ke asalnya.

"Wahai sekalian nafs yang tenang, kembalilah kepada Robbmu dengan penuh ridho lagi diridhoi" [Al-Qur'an]

nafs yang tenang adalah nafs yang telah ridho.
yang tidak lagi terikat berbagai kepentingan seperti tatkala jasad masih berperan.
nafs yang tenang adalah nafs yang pasrah
ia kembali kepada Robbnya dengan penuh kepasrahan, keridhoan dan kesadaran.

saat itulah hijab terangkat, dan terbukalah segala kenyataan

kembali pada ketiadaan.
apa yang dahulu dikira ada, ternyata kini ia temui bahwa sesungguhnya itu tiada.
dan apa yang dahulunya dikira tiada kini ia jumpai dengan keberadaan.

sabda nabi yang mulia, "kelak, ketika engkau meninggal dunia, barulah engkau tahu bahwa selama ini engkau hanyalah bermimpi"

Rabu, 11 Februari 2015

Tauhid Setan (yang kurang sempurna)

barusan si setan datang lagi sowan ke tempat saya .... dia mengajukan taubat pada Tuhan ....
mungkin dia kemarin ngintip baca percakapan saya dengan seseorang 'pejalan' dari gresik... karna di dalam percakapan tersebut saya katakan kepada si pejalan bahwasannya kita rangkul saja semuanya, toh mereka sebenarnya juga ingin kembali ke Alloh...
lanjut cerita,,, si setan ngiba pada saya, "bukannya Tuhanmu itu maha pengasih lagi maha penyayang plus maha penerima tobat, mbok yo saya ini sampean mintakan tobat kepada Tuhan; Alloh... mbok ya rayukan ke Alloh, agar Alloh mau mengabulkan ajuan tobat dari saya" ...
saya mringis...
"gini lho kang,,, Alloh itu sudah bakal pasti akan mengabulkan tobat tiap hambanya, lhah njenengan lak juga termasuk hambanya to?"
"iya" ...
"jadi pasti dikabulkan"
"beneran kang?" tanya si setan
"beneran..."
sedikit dia tampak sumringah,..
"tapi ... ada tapinya lhoo..."
sumringahnya sedikit berganti merengut... "tapi apa kang?"
"tapi harus ada buktinya dong..." jawab saya
"halah pasti sampean pernah baca suatu kitab yg disitu diceritakan bahwa dulu kaum setan juga pernah mengajukan taubat melalui nabi musa, tapi kemudian kami diminta untuk sujud ke makam Adam"
ganti saya yg senyum, "terus?"
"ya kami ndak lakukan lah... gila apa, sewaktu Adam hidup aja kami ogah bersujud kepadanya, apalagi sekarang sesudah matinya..."
"bagus... like emoticon ... berarti tauhidmu kuat..."
melongo dianya...
baru sejenak kemudian dia berkata kata lagi "sampean i mesti aneh kang, padahal nabi musa dulu langsung marah mendengar pernyataan dari kami yg semacam itu"
"lhah itu kan nabi musa, sedangkan saya ini bukan musa, saya ini Doni.. tambah lagi beliau nabi, sedangkan saya bukan siapa siapa, jadi saya lebih bebas, sedangkan kanjeng nabi musa a.s beliau bertanggung jawab kalau sampai ada pengikutnya yg salah tangkap atas kelakuan beliau.. lhah saya? siapa juga yg mau ngikuti saya ... hahaa"
"terus apa yg harus saya buktikan pada Alloh, agar taubat saya diterima?"
"lebih menyempurnakan tauhid lagi!"
"caranya? lhah kata njenengan tadi tauhid saya sudah bagus?"
"bagus, tapi kurang sempurna"
"lhah sempurnanya gimana kang?"
"sampean kenapa ndak mau sujud pada Adam?" ganti saya yg bertanya.
dia diam saja, tampaknya dia percaya kalau saya pun sudah tau jawabannya kenapa kaum setan tak mau bersujud pada adam.
saya pun kemudian melanjutkan...
"njenengan itu ndak mau sujud karena anda mengira anda lebih baik dari adam bukan?"
si setan manggut manggut...
"di situlah letak ketidak sempurnaan tauhid njenengan"
"maksudnya kang? apa karena saya ndak patuh pada perintah Alloh. padahal saya ndak mau sujud itu karna saya mandang bahwa adam itu bukanlah Alloh yg pantas untuk disujudi"
"lhah terus sampean kira adam itu seperti apa?"
"adam itu ya makhluk semacam saya, seperti malaikat juga"
"disitulah letak ketidak sempurnaan tauhid sampean"
dianya tampak bingung dan penasaran dengan apa yg saya kemukakan.
"anda tidak melihat eksistensi adam, yg anda lihat hanya hijabnya adam. padahal justru dibalik hijab adam itulah yg seharusnya anda lihat. Alloh sengaja tidak menampakkan eksistensi adam yg merupakan manifestasi Tuhan agar kesuciannya terbaca oleh sekian banyak penghuni alam semesta."
si setan tampat mendengarkan dengan khidmat.
"tidakkah anda lihat ketika batu mengucapkan salam pada Muhammad s.a.w? tidakkan engkau perhatikan semut yg berbicara dengan Sulaiman a.s? tidakkah engkau perhatikan kenapa lautan sampai terbelah untuk jalan musa a.s?"
hampir berlinang air mata tampaknya.
"kenapa hanya engkau yg tidak juga menyadarinya duh setan? kenapa engaku tetap bersikeras dengan pandanganmu sendiri?"
"sekarang datanglah ke makam Adam a.s dan bersujudlah!! pelajari!!! kenapa Alloh memerintahkanmu seperti itu?? sadari siapa Adam itu!!!"
tampak berlinanglah air mata lah muka si setan dan langsung keluar tanpa berpamitan .... suara tangisnya masih terdengar dalam radius jarak yg lumayan cukup jauh ....
******
Subhanaka laa 'ilma lanaa illa maa 'allamtana ...
laa ilaha illa Alloh
Muhammad Rosululloh ...
laa haula wa laa quwwata illa billah ...

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِÙŠْÙ†َ اِذَا ذُÙƒِرَ اللّٰÙ‡ُ ÙˆَجِÙ„َتْ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبُÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا لصّٰبِرِÙŠْÙ†َ عَÙ„ٰÙ‰ Ù…َاۤ اَصَا بَÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا Ù„ْÙ…ُÙ‚ِÙŠْÙ…ِÙ‰ الصَّÙ„ٰوةِ ۙ ÙˆَÙ…ِÙ…َّا رَزَÙ‚...