Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label muslim sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim sejati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2018

Khalifah adalah Pelayan

dalam pernyataan Alloh tentang penciptaan manusia,
ada misi penting di dalamnya
setidaknya ada 7-9 ayat di dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang misi/tugas
diciptakannya manusia yakni sebagai khalifatulloh fil-Ardh dan Abdi

Kebanyakan ayat ayat yang berbicara tentang khalifah
adalah dijelaskan atau diperuntukkan kepada kelompok atau golongan golongan secara khusus
seperti dalam Q.S Al-A'rof : 74, penjelasan kholifah lebih ditujukan kepada kaum Ad.
kemudian seperti pula di dalam Q.S Al-A'rof : 129, penggunaan kata kholifah ditujukan kepada kaum nabi Musa,
Q.S Shod : 26, kholifah ditujukan kepada nabi Daud a.s, sedangkan dalam Q.S Adz-Dzariyat : 56, secara global Alloh menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan Manusia adalah untuk mengabdi

abdi adalah pelayan
terlepas dari menjadi pelayannya siapa manusianya kelak
yang paling jelas, secara fitrah manusia ditanamkan rasa untuk melayani
kalau bukan melayani kebaikan, maka pasti dia akan melayani keburukan
kalau bukan melayani Alloh, maka manusia akan melayani yang selainnya Alloh
yakni materi materi yang tersebar di alam dunia

Maka sejatinya esensi dari misi utama diciptakannya manusia sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqoroh :30 adalah melayani Alloh di muka bumi (kholifatulloh). yakni menjadi pelaksana pelaksana dari kehendak Alloh di muka bumi.
juga saling melayani sesama
sebagaimana dalam hadist qudsy, tersirat "Aku sakit kenapa tidak engkau jenguk?". sakitNya Alloh terletak pada sakitnya saudara muslim / sesama manusia
maka sangat selaras kemudian dengan sabda baginda nabi s.a.w, "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
bahkan dicontohkan dalam sikap baginda nabi s.a.w
yang selalu melayani siapa saya yang butuh pelayanan dari beliau
banyak ajaran islam yang mencerminkan sikap pelayanan ini, mulai dari menyantuni anak yatim, saling bahu membahu yang diisyaratkan bahwa muslim satu dengan muslim lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi, mencintai fakir miskin, dlsb
yang menggambarkan bahwa sikap utama orang yang berikrar islam adalah harus melayani sesama
semuanya berhubungan erat dengan pelayanan atas alam semesta yang kita kenal dengan istilah rahmatan lil 'alamin

bukan hanya Rosululloh s.a.w, bahkan Alloh s.w.t pun memiliki sikap pelayan. sebagaimana tersirat dalam firmanNya "ud'uni astajib lakum" -memintalah akan aku perkenankan-
meskipun terbalut dalam bahasa yang elegan, namun esensinya adalah sama
melayani
karena sudah sangat fitrah jika manusia juga memiliki kefitrahan sikap melayani.
Maka agar tidak sampai salah kaprah, islam mendidik kita untuk mengarahkan fitrah pelayanan ini kepada hal hal yang lebih positif dan netral
bukan kepada hal hal yang negatif dan merusak
bukan melayani dalam kedholiman sehingga terbentuk kemungkaran kemungkaran
melayani kemungkaran artinya anda menyetujui atau membantu proses terjadinya kedholiman
maka dalam islam, kita ditekankan untuk ber-amar makruf nahi munkar
agar tidak terjadi proses saling membantu dalam berbuat kemungkaran
-wallohu'alam-

Sabtu, 13 Agustus 2016

Istiqomah Dalam Kesadaran Ilahiah

"Dan Bertakwalah kamu kepada Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dzat Yang Melihatmu ketika engkau berdiri dan dalam bolak baliknya dirimu di dalam sujud"
وتوكل على العزيز الرحيم . الذي يرك حين تقوم . وتقلبك فى الساجدين

tetaplah berada dalam kondisi sadar Alloh
sadar bahwa Alloh Yang Maha Perkasa telah melimpahkan berbagai macam kasih sayangNya kepada siapapun yang dikehendakiNya
Dia-lah Yang Maha berwenang menggerakkan segala sesuatu
bertakwalah dan bertawakkallah kepadaNya
yaitu dengan tunduk patuh kepadaNya dalam segala gerak
tunduk patuh ketika Dia menggerakkan dirimu dan meninggikanmu

ketika Dia menyaksikanmu, Dia akan mengambil alih seluruh ke-ego-anmu
egomu akan luntur tatkala Dia memandangmu
Dia akan memandangmu dengan keluasan keagungan dan keperkasaanNya
ketika engkau diberi izin olehNya untuk memandangNya

tawakkal adalah gerak bathinmu untuk senantiasa bersamaNya
segala bentuk gerak sesungguhnya adalah gerakNya
berdiri, duduk, hingga sujud sejatinya adalah kepunyaanNya

ketika engkau lebih mengedepankan kekolotan berfikirmu
secara perlahan dan halus engkau telah terpedaya akan nafsu
tawakkal 'ala al-aziz ialah benar - benar berserah
meleaskan segala prasangka dan karep (keinginan)
kecuali karep lillahi ta'ala
kalau sedikit saja anda berlepas dari berserah diri kepadaNya
maka bahkan sujudmu pun bukanlah yang semestinya kau lakukan
Sujud yang semestinya adalah milikNya
maka jika sudah sedemikian itu engkau tergelincir
segeralah beristighfar
dan dengarlah nasihat dari saudara - saudaramu yang masih erat menggenggam kesadaran tertingginya
yakni Sadar Ilahiah. Sadar Alloh

jangan berkeras hati untuk memeluk prasangka fikir
sungguh masuknya prasangka fikir itu sangatlah halus
terlebih ketika engkau berbicara atau menyalurkan aspirasimu
Wallohu'alam Walaa Haula Walaa Quwwata illa billah

Sabtu, 11 Juni 2016

Muqoddimah Nderes qur'an Romadhon-1

Kalau kita dengar kata nderes (bahasa jawa), biasanya kita akan terpaku pada pemahaman bahwa nderes itu adalah membaca al-qur’an dengan keindahan suara secara tartil. Sama halnya dengan ketika kita mendengar istilah ‘membaca’ dalam bahasa arab (tilawah / qiro’ah) ataupun indonesia sendiri. Biasanya tangkapan kita justru akan menuju pada satu sudut membaca saja. Maksudnya pokoknya hanya membaca.

Terlebih kita yang berada jauh di tanah kelahiran bahasa arab. Pokoknya sudah membaca dengan suara yang indah ya sudah sah dan oke.
Sebenarnya bukan demikian. Yang dimaksud nderes (dalam bahasa jawa) ataupun qiro’ah (membaca dalam bahasa arab), titik leburnya adalah justru ada pada peresapan makna dari apa yang sedang kita baca. Mengenai hal ini salah satu ulama nusantara atau dapat kita sebut beliau sebagai guru bangsa di zaman ini mengatakan, “kesuksesan seorang qori’ (orang yang melantunkan ayat – ayat al-qur’an dengan nada – nada indah) bukanlah terletak pada seberapa banyak audien (orang yang mendengarkan) menjadi terpukau akan keindahan suaranya. Melainkan seberapa banyak audien yang jadi merenung memahami makna dari apa yang sedang dibacanya dan kemudian membangkitkan kesadaran ilahiah pada diri para audiensnya.”

Demikian itu sebenarnya apa yang selama ini mungkin kita pahami sekilas sedang mengalami pergeseran makna. Kalau orang arab sendiri, tentu sudah mengetahui tentang apa yang dibacanya ketika ia sedang melantunkan ayat – ayat suci al-qur’an. Minimal mereka tahu arti dari apa yang sedang mereka baca, sebagaimana kita tahu apa yang sedang kita baca dari tulisan ini.

Meskipun demikian, tentu tetap ada lintasan – lintasan yang musti di terjemahkan lebih luas lagi atau perlu ditafsirkan lebih mendetail lagi. Hal seperti ini tentu memang mafhum karena keluasan makna dari masing – masing ayat al-qur’an yang terpadatkan menjadi sedemikian indah dan singkat namun jelas. Ayat – ayat al-qur’an yang sedang kita baca saat ini mungkin dapat saya ibaratkan seperti file .rar / .zip dalam komputer yang untuk menguraikan isi – isinya tentu kita harus mengekstraknya. 
Demikan pula tafsir al-qur’an adalah seumpama hasil ekstrak dari tiap – tiap butiran ayat al-qur’an.

Nah nderes al-qur’an pada taraf pertama memang hanyalah sekedar membaca. Hal ini yang umum dilakukan oleh para muslimin luar arab di taraf awal pengenalannya akan islam. Terlebih meskipun hanya sekedar membaca, sesungguhnya al-qur’an sudah akan menelurkan cahaya – cahaya rahmat dari Alloh ke dalam diri si hamba yang sedang membacanya. Meskipun tidak secerah cahaya yang merasuk ketika kita membaca al-qur’an dengan disertai paham / mengerti artian dari apa yang sedang kita baca.

Yang kedua tentu taraf di mana muslimin mulai menguatkan imannya untuk memahami lebih dalam lagi tentang agamanya (islamnya). Yakni dengan berusaha untuk memahami bahasa yang telah digunakan dalam al-qur’an. Dimana dengan memahami bahasa yang digunakan oleh al-qur’an kita akan dapat memahami apa yang dikatakan oleh Alloh melalui firmanNya yang tertuang dalam al-qur’an. Jadi ketika kita membaca al-qur’an seolah olah kita tidak lagi membaca bahasa asing, melainkan seperti membaca menggunakan bahasa kita sendiri. Dengan begitu kita akan membacanya dengan langsung paham artiannya. Dan hal yang seperti ini akan memudahkan kita beranjak mengerti maksud dari apa yang sedang kita baca dari ayat – ayat Alloh s.w.t.

Taraf ketiga dari yang dimaksud dengan nderes sejatinya adalah beranjak belajar memahami apa yang dikandung oleh al-qur’an secara lebih luas. Yaitu dengan mempelajari tafsiran – tafsiran dari para ulama yang telah lebih dahulu menangkap pemahaman tentang keluasan keluasan dimensi al-Qur’an. Dengan mempelajari penafisran penafsiran dari para ulama setidaknya pemahaman kita mengenai keluasan al-qur’an akan bertambah. Yang tentu saja hal ini akan memicu keluasan peritahNya terhadap diri kita masing masing.

Dari tanjakan pembelajaran kita atas penafsiran para ulama yang tentunya lebih menguasai berbagai disiplin ilmu (mulai balaghoh / tata bahasa arab hingga asbabun nuzul dan hadist hingga lebih tinggi lagi), kita akan beranjak pula untuk menggapai pemahaman yang lebih original. Pemahaman yang langsung diturunkan oleh Alloh kepada setiap hamba – hambaNya yang memiliki iman barang sekecil zarroh sekalipun. Di taraf terakhir ini kita akan memahami makna – makna rahasia daripada tiap butiran ayat – ayat suci al-Qur’an.

Nderes al-Qur’an yang sebenarnya adalah perjalanan manusia tentang penyingkapan – penyingkapan rahasia firmanNya secara haq. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh baginda nabi yang mulia s.a.w, “bacalah al-qur’an dan temukanlah hal – hal yang rahasia daripadanya”, juga sabda beliau s.a.w, “al-qur’an itu memiliki dimensi dhohir dan bathin yang selaras”. Demikian juga sabda beliau s.a.w, Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca al-qur’an. [H.R Ad-Dailami dan Al-Baihaqi]

Hal seperti apa yang telah disabdakan oleh baginda nabi muhammad s.a.w tersebut akan mustahil digapai tanpa kita memahami apa – apa yang sedang kita baca dari ayat – ayat al-qur’an. Dan Mengenai makna dari nderes atau membaca al-qur’an sebagaimana yang telah saya sampaikan di atas pula, mungkin ada baiknya juga kita menyimak apa yang telah diuraikan oleh beberapa ulama tafsir yang pernah ada tentang membaca (tilawah) al-qur’an. Dalam hal ini saya ajukan ayat 29 surah fathir.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ يَرْجُونَ تِجَٰرَةًۭ لَّن تَبُورَ 
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah.........”

imam Baidhowi dalam tafsirnya “Tafsir Baidhowi” ketika beliau menafsirkan al-Qur’an surat Fathir ayat 29 tersebut, beliau menuliskan / menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ”yatluuna al-kitaballoh” (yang selalu membaca kitab Alloh) adalah mereka yang hanya sekedar membaca al-qur’an ataupun mereka yang senantiasa meneliti isi kandungan dari al-Qur’an tersebut.

Sedangkan dalam kitab tafsir Jalalain, pada ayat yang sama dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘selalu membaca kitab Alloh’ itu adalah selalu mempelajarinya. Lebih jelas lagi mengenai makna yang dimaksud dari membaca kitab Alloh dalam surah Fathir ayat 29, tertuang dalam kitab tafsir Fi Zilalil Qur’an adalah bahwa, “Membaca kitab Alloh bermakna selain melewati kata – katanya dengan suara atau tanpa suara. Membacanya bermakna juga merenunginya, yang berakhir pada kesadaran dan pengaruh pada diri, yang mengantarkan pada berbuat dan bertindak setelahnya. Oleh karena itu dalam ayat 29 surah fathir pembacaan dilanjutkan dengan mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rizki dari Alloh secara diam – diam maupun terang – terangan.”

Cukup jelas kiranya para ulama tafsir menguraikan makna dari membaca adalah bukan hanya membaca secara lisan atau membaca secara sirri tanpa mengetahui makna dari apa yang dibacanya, melainkan juga membaca yang disertai dengan renungan – renungan dari apa yang telah dibacanya. Dan renungan semacam ini tentu tidak akan didapatkan tanpa kita mengerti apa yang sedang kita bacakan. Jika saja kita hanya membaca dengan mengabaikan berbagai kanduungan yang ada di dalamnya, tentu kita akan menjadi buta akan firman Alloh alias kita akan tergurung untuk mengacuhkan perintahNya laksana apa yang telah kita baca seperti angin lalu saja. Kiranya hal seperti inilah yang dimaksud oleh baginda nabi s.a.w dalam sabda beliau, “betapa banyak orang yang membaca al-qur’an namun al-qur’an sendiri melaknatnya”.

Beberapa qori’ yang pernah saya temui sepakat bahwa al-qur’an akan melaknat mereka yang membacanya dengan asal – asalan. Mulanya asal – asalnya dari segi pelafalannya, namun ketika kita renungi lebih dalam lagi, tentu laknat dari al-qur’an yang paling besar adalah terletak pada asal – asalan dari penerjemahan / pengertian / pemaknaan daripadanya sendiri. Rosululloh s.a.w juga telah bersabda, “barangsiapa yang menafsirkan al-qur’an berdasarkan dari hawa nafsunya sendiri, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”.

Sampai di sini juga semoga kita dapat menangkap hikmah dan menelaah peristiwa turunnya wahyu pertama kepada baginda nabi s.a.w. Telah diriwayatkan bahwa ketika baginda nabi s.a.w mendapatkan wahyu “Iqro’ (bacalah)”, beliau kebingungan tentang apa yang harus beliau baca, sedangkan beliau sendiri adalah seorang yang tidak menguasai baca tulis. Hal ini terus berulang hingga jibril a.s mengulangnya sampai sebanyak tiga kali. Barulah rosululloh s.a.w menyadari tentang apa yang harus beliau baca ketika jibril a.s menyampaikan, “iqro’ bismirobbika al-ladzi kholaq”

Tentang wahyu pertama yang beliau s.a.w dapatkan ini juga telah ditafsirkan oleh beberapa ulama bahwa membaca yang sesungguhnya adalah perenungan terhadap segala apapun. Rosululloh yang hidup di masa jahiliyah quraisy mendapat titah pertama dari Alloh untuk merenung, mengendapkan rahsa dan diri tentang awal mula penciptaan. Perenungan yang diawali dengan asma Alloh yang telah menciptakan. Perenungan akan keluhuran derajat Robb atas segala makhluq. Juga perenungan mengenai Robb yang telah mengajarkan banyak hal kepada manusia. Yang tergambar pada peletakan kesadaran mengenai kesadaran baginda nabi ketika beliau menangkap maksud dari jibril a.s yang membawa wahyu iqro’.

Nah kembali lagi pada masalah nderes, apa yang mungkin selama ini telah kita pahami bahwa nderes adalah hanya membaca. Di romadhon ini saya ingin mengajak saudara sekalian untuk meningkatkan deresan kita. Dari yang semula hanya membaca, kini kita tingkatkan untuk mempelajari, kemudian memahami, merenungi dan selanjutnya menyibak rahasia al-qur’an dalam diri kita masing – masing insyaAlloh.

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ # خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ # ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ # ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَم#  عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ#  كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ#  أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ#  إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰٓ#  أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يَنْهَىٰ # عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰٓ # أَرَءَيْتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلْهُدَىٰٓ # أَوْ أَمَرَ بِٱلتَّقْوَىٰٓ # أَرَءَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ # أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ # كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ # نَاصِيَةٍۢ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍۢ # فَلْيَدْعُ نَادِيَهُۥ # سَنَدْعُ ٱلزَّبَانِيَةَ # كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب ۩

Rabu, 11 Februari 2015

Sisi Lain Al-Qur'an

Ngaji qur'an nyatanya memang perlu .....
‪#‎salah_satu_keistimewaan_al‬-Qur'an
Jika hati kita belum bisa menyadari dimensi alam ketuhanan, cahaya Al-Qur'an akan mengetuk ngetuk hati kita...
Karna pada dasarnya hati yg tak dapat menyadari eksistensi dimensi ketuhanan adalah hati yg sangat berkerak....
sehingga perlu sesuatu untuk menggosok , mencuci , merontokkan kerak kerak tersebut agar si hati dapat memandang sebuah kenyataan, dan tidak selamanya terkurung dalam tempurung khayalan , ketidak-nyataan...
cahaya dari masing-masing huruf yg tersusun rapi dan indah dalam al-Qur'an inilah yg akan mendobrak tempurung tersebut ...
antara pecaya dan tidak memang,,
saya pun juga baru menyadari sesaat sebelum menulis ini...

Letak Keindahan

Kita itu kebanyakan terlalu repot melihat orang lain dan terlalu repot mendikte orang lain ....
Hingga ketika hati kita , pikiran kita hendak istirahat sejenak saja untuk tidak terlalu mengobok obok orang lain, ndak kita perbolehkan...
alhasil kita tak pernah tenang...
hati kemrungsung, pikiran kacau karep e dewe ...
ndak terkontrol ....
hmmm hmmmm .....
kalau memang sudah sedemikian parahnya kita,,
mungkin sudah saatnya kita rela berhenti sejenak, duduk bersandar tanpa sandaran... rileekkss ....
kita nikmati apa yg kita punya dan paling berharga ... nafas ....
kita masuk ke dalam diri kita sendiri ...
kita baca diri kita sendiri ....
ahhh....
rasanya tak perlu kita mencemooh orang lain karna ternyata banyak kecurangan dan ke-egoisme-an yg lebih parah dari orang lain yg musti kita cemooh sendiri...
rasanya tak perlu kita terpengaruh kemegahan orang lain sehingga kita jadi bingung sendiri untuk bisa menyamainya, karna kita ternyata telah memiliki kemagahan kita sendiri yg tak mungkin bisa ditirukan oleh yg lain....
ahhh....
kenapa pula kita berburu keindahan keindahan yg nampak diluar karna ternyata di dalam kita sendiri pun keindahan itu melebihi yg diluar ...
ahhh.... ahhhh.... aaahhhhh ......
ternyata kita terkecoh, bukan itu yg dinamakan kenyataan terindah ... tapi ini ....
didalam batin kita sendiri, di dalam diri kita sendiri ....
sebuah keabadian yg hakiki ....

Senin, 01 Desember 2014

Laku Lemah Lembut

"Al-yatalattof, wa laa yusy,ironnabikum ahada"
(Hendaklah berlaku baik dan jangan sekali-kali ceritakan halmu pada seorangpun"
Itulah inti dari setiap ajaran yang dibawa oleh tiap - tiap utusan
Sedang syariat merupakan suatu metodologi yang bertujuan untuk mengantarkan hamba pada inti tersebut.
Mari kita perhatikan salah satu firman Alloh untuk kita jadikan sample : "innassholata tanha anil fakhsya'i wal munkar" (sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar)
Yang kemudian didukung oleh adanya sabda Nabi s.a.w : "barang siapa yang sholatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka ia bukan semakin dekat dengan Alloh, melainkan semakin jauh"
Ini menunjukkan bahwasannya syariat adalah satu media untuk mencapi budi luhur.
Dalam hadis lain, rosululloh s.a.w ketika ditanya oleh seorang sahabat "muslim mana yang paling baik?", maka jawab beliau "ialah muslim yang paling terpuji akhlaqnya"
Jadi marilah kita merenung sejenak, apakah hasil dari syariat yang telah kita jalani selama ini telah mampu membawa kita pada tujuan yang benar? Yakni menjadikan kita berakhlaq karimah, ataukah malah sebaliknya?
Jika kita sudah menjalankan syariat namun masih saja belum mencapai sasaran, tentunya itu menandakan kejanggalan pada perjalanan kita.
Mari kita benahi lagi diri kita
Semoga kita senantiasa dilimpahi taufiq hidayahdari robbul 'alamin sehingga kita mampu menjadi kholifah yang benar-benar kholifah di muka bumi seperti yang dimaksudkan oleh Alloh ketika berfirman :
"Wa idz qoola robbuka lil malaaikati inni jaa'iluka fil ardhi kholifah"
(Dan ingatlah ketika tuhanmu berfirman pada para malaikat, sesungguhnya aku akan menjadikan kholifah di muka bumi)
Amin
Wassalamualaikum
~ gemblung ~

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...