Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Zuhud

adalah jalan mutlak seorang salik, penempuh jalan spiritual ilahiah. Zuhud adalah anda sama sekali tidak terpengaruh oleh dunia dalam bentuk apapun.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 20 Mei 2021

Di mana letak HATI manusia?


Dalam suatu hadist qudsi dikabarkan bahwa Alloh s.w.t telah berfirman, "sungguh langit dan bumi tidaklah dapat menampungKU, yang dapat menampungku adalah hati hamba hambaKU yang beriman"

Satu bab yang dari dulu hingga sekarang tidak selesai selesai dikaji adalah bab 'hati'. Hampir selalu mengalami perkembangan makna. Hingga hujjatul islam Imam hamid muhammad al-Ghozali secara hampir rinci membahas masalah ini dengan judul "Ajaib al-Qolb" dalam maha karya beliau Ihya' Ulumuddin.

Secara sederhana kita dapat menyimpulkan bahwa bukanlah hati fisik yang dimaksud oleh Alloh juga rosulNya s.a.w, melainkan hati sanubari. Tempat kita dapat merasakan banyak hal. Tempat di mana kita dapat memahami keluasan, kesempitan, kebahagiaan, kedamaian, ketakutan, harap, cemas dan lain sebagainya. Sehingga tidak sedikit yang memaknai hati tersebut adanya di dalam akal / otak. Sedangkan jika kita mau jujur objektif merasakan kehadiran 'rasa' itu sendiri. Adanya justru di dada. Secara fisik justru merupakan tempatnya paru paru juga jantung.

Apakah jantung itu yang disebut hati oleh khazanah bahasa peradaban arab kuno? Yang bahasanya telah dipilih Alloh sebagai bahasa kitabNya "al-qur'an al-karim".
InsyaAlloh bukan juga, karena 'qolb' ini apabila kita rasakan dengan seksama letaknya ada di kedalaman diri kita masing masing. Hanya dapat kita jangkau dengan keheningan maha sunyi. Tiada lintasan pikiran selain hanya difungsikan untuk mengamati hingga memahami keberadaan qolb ini sendiri. Selama pikiran ambil kendali dalam memutuskan tanpa pengamatan terhadap hal ini, insyaAlloh kita tidak akan benar benar menemukan realitas keberadaannya di dalam diri kita. Wallohu'alam.

Dan tampaknya, jika kita amai dengan seksama hampir hampir hati inilah yang seolah mengendalikan degup jantung sehingga tampak berdegup kencang ataupun lambat. Secara halus ia mengirimkan getaran kedalam otak untuk kemudian menggerakkan berbagai bagian dalam tubuh fisik kita.
Dari sini tentu kita kemudian dapat memahami sabda baginda nabi s.a.w, "di dalam hati anak adam terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka seluruh tubuh juga akan baik. Jika dia buruk maka seluruh tubuh akan buruk pula. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati"

Mau tidak mau melalui pengamatan atas diri sendiri kita akan sama sama menemukan bahwa terdapat semacam gelombang elektromagnetik atau desiran desiran halus yang senantiasa mengalir di dalam diri kita. Terkadang desiran itu bergetar hebat ketika kita merasakan ketakutan, atau terkadang jika berhadapan dengan perkara ghaib akan mewujud dalam rasa merinding. Lebih halus jika kita amati, desiran desiran ini pula yang mengaliri otak kita sehingga otak kita berperan seperti ujung antena yang memancarkan signal ke seluruh penjuru lingkungan. sehingga ia (otak) tampak seperti keberadaan yang hidup sebagai pusat diri manusia.

Kita kembali lagi, hati disebut sebut dalam hadist qudsi sebagai satu satunya wadah yang mampu menerima keberadaan Alloh sejatinya adalah karena ia perkara maha ghoib -kasat mata yang ada di balik sekat- dalam diri manusia. 
sehingga untuk mencapai esensi maha bathin -yakni esensi maha ada yang tak kasat mata, tak dapat diindra dengan indra fisik apapun, tak tersekat apapun, meliputi secara kasat mata tanpa terhalangi-, hanyalah dengan memasuki wilayah bathin dengan 'ghoib'nya diri kita.
Wallohu'alam.

Dikatakan bahwa hati dapat meluas dan menyempit sejatinya hanyalah terjadi asbab seberapa dalam atau dangkalnya kita memasuki kedalam bathin kita sendiri sendiri.
Semakin hening kita dari bermacam macam prasangka pikiran, maka semakin dalam kita mencapai bathin hati kita, dan semakin luas kita mendapati dimensi ghoib.

Dan hanya dengan keluasan hati terluaslah yang kemudian akan mengantarkan kita mencapai penyaksian Tuhan semesta Alam.

............................

Selasa, 18 Mei 2021

PUASA Untuk Alloh. bukan hanya dalam romadhon

Assalamu'alaikum sahabat salikin yang dirahmati Alloh,
Semoga senantiasa dalam samudra syukur dan Mahabbah kepada Alloh Yang Maha Mulia.
Sholawat dan Salam mari sama sama kita panjatkan kepada Alloh teruntuk baginda Nabi Agung Muhammad s.a.w,.. bersama beliau kita beranjak mengenal dan berjalan kehadiratulloh, bersama beliau kita berjalan di dalam bentangan cahayaNya. Bersama beliau InsyaAlloh Alloh ridho kepada kita semua, amiin.

Sahabat salikin yang dimuliakan Alloh, sepertinya romadhon ini tidak ada habisnya. Bulan dan namanya memang sudah selesai, namun esensinya tidak dapat kita pungkiri bahwa itu terus menerus mengiringi laju kehidupan kita. Dimana secara lahiriah Alloh menurunkan banyak khazanah keutamaan di dalam fisik romadhon. Sedangkan secara bathiniah, secara nilai, secara esensial keutamaan itu tiada habisnya.

Apa sih esensi nya romadhon? Apa sih yang paling masyhur terkenang di bulan romadhon? Tentu saja PUASA bukan??
Yap dimensi puasa memang tidak ada habisnya untuk dikupas. Seolah olah Alloh hendak menyadarkan kita tentang pentingnya puasa di segala lini kehidupan bagi kita semua, sehingga Alloh mengutus NabiNya yang mulia s.a.w untuk mengabarkan sekaligus mencontohkan bahwa setelah romadhon masih ada puasa puasa lain yang cukup banyak. senin-kamis, yaumul bidl, asy-syuro, yaumil syawal, puasa daud, dlsb. Tidak ada habisnya.

Sekarang kita kupas sedikit saja nilai dari puasa.
Dalam fikih kita memahami makna puasa adalah berarti 'menahan'. Mulai dari menahan lapar, dahaga, jimak, mengumpat dst. Dalam literatur lain kita mengenal puasa adalah menahan diri untuk berlatih menumbuhkan sikap waro' dan zuhud. Menahan diri untuk tidak mencintai dunia seisinya. sedangkan di sisi Spiritual kita akan diajak memahami bahwa puasa ini belajar untuk memasuki dimensi bathiniah hingga sirr nya diri kita sendiri. Untuk mencapai kesadaran ilahiah al'Ala .. yang tertinggi...

Bagaimana konsep puasa ini dapat menjadi kendaraan untuk mencapai relung bathin dan memasuki segala ruangnya hingga mencapai sirr (rahasia terdalam) dari diri manusianya / pelakunya sendiri?

Sahabat.... kalau kita benar benar menjalankan tuntunan fikih dalam mengatur urusan berpuasa, InsyaAlloh ketika kita renungi atau tafakkuri, kita akan mendapati bahwa segala hal ikhwal ketika berpuasa semata melatih diri kita untuk menanggalkan petentingan duniawi, diri fisik kita adalah termasuk urusan duniawi. Dalam Puasa kita belajar berperan aktif menahan ajakan nafsu untuk memuaskan urusan lahiriah kita. Kita ditunjukkan bahwa Tidak semua keinginan makan maka pasti harus makan. Tidak semua nafsu jimak harus jimak. Bahkan tidak semua pemikiran yang liar (uneg uneg) harus diluap luapkan. Sehingga mau tidak mau kita akan menjalankan dengan baik firman Alloh "..wa laa yusyironnabikum ahada" [al-kahfi] "jangan ceritakan hal mu kepada siapapun.

Aflatul-lisan, menjaga lisan juga menjadi salah satu muatan nilai dalam berpuasa. Kita tahu bahwa lisan menjadi sumber ancaman kerusakan terbesar sesudah hati dan pikiran. Tentu saja hati-pikiran-lisan ini adalah satu gandeng yang mana satu sama lainnya saling mempengaruhi.
Ketika lisannya diumbar berbicara kotor dan tidak pantas, maka ia akan mengotori hati dan memperkeruh pikiran. Demikian pula pikiran maupun hati, apabila ia rusuh, dan lisan tidak terkunci dengan baik, maka akan keluar juga ucapan yang rusuh pula. Bisa jadi fitnah, hasutan dlsb. Bisa jadi Sumber petaka bagi dirinya dan lingkungannya.

Puasa adalah mengajak kita untuk mengontrol itu semua.
Perutnya berpuasa, telinganya berpuasa, matanya berpuasa, lidahnya berpuasa, tangannya berpuasa, kakinya berpuasa, pikirannya berpuasa, bahkan hatinya pun berpuasa. Dan Nafs / Jiwa kita lah yang diajarkan oleh Alloh untuk menjaga itu semua. Susah? Tentu saja di awal awal akan susah, bahkan seterusnya hampir tidak mudah. Terlebih ketika jiwa mulai merasa sombong karena tertipu mengira dirinya bisa mengontrol mengendalikan itu semua. Sedangkan sejatinya ia hanya menerima anugrah kebaikan Alloh s.w.t semata. Makanya Nabi s.a.w mengingatkan bahwasannya JIHAD TERBESAR MANUSIA ADALAH JIHAD TERHADAP NAFSUNYA SENDIRI.

Jiwalah yang diajak Alloh untuk sadar atas eksistensi keberadaannya. Sadar betul dan bangun dari tidur panjangnya selama ini, bahwa ia ada untuk mengemban amanah dariNYA atas semesta raya. Kami katakan atas semesta raya karena memang manusia satu sama lainnya saling ambil peran untuk menjaga alam semesta. Sekecil apapun gerak hati manusia , disadari ataupun tidak, ia akan memberikan efek tersendiri bagi pergerakan alam. Mau baik ataukah buruk.

Sahabat... Setelah kita memahami dan menyadari keberadaan nafs kita sendiri, sudah semestinya kita terbawa menuju sikap zuhud dan waro'. Berangkat dari menahan segala kemauan lahiriah. Kemudian InsyaAlloh akan menemukan realitas rahasia yang tidak mungkin dapat diungkapkan secara verbal. di situlah esensi puasa yang sebenarnya. Pencapaian dimana Alloh berfirman menetapkan, "PUASA ITU ADALAH UNTUK-KU"

Wallohu'alam bish-showab

Selasa, 21 Juli 2020

Dimensi Hati itu tidak terkunci

Hati, yang oleh Rosululloh disebut dan diterangkan sebagai induk atau sumbernya perbuatan seseorang, yang baik maupun buruk gerakan seseorang adalah bersumber dari apa apa yang ada di dalam hati.
Apa apa yang ada di dalam hati ini adalah 'rasa' yang jika ia dipicu oleh sesuatu dari luar maka biasa kita sebut perasaan. Orang yang tidak berperasaan (misalnya) adalah orang yang tidak terpengaruh oleh sentuhan atau rangsangan dari berbagai macam keadaan di luar dirinya. Sedangkan jika ia dipicu oleh perkara di dalam dirinya sendiri, maka biasa kita sebut "merasakan". Semisal, merasakan pahit asin manis, sumbernya adalah di bagian tubuh kita sendiri. Atau keadaan merasakan apa yang dirasakan orang lain (misalnya) ini juga terjadinya bermula dari dalam dirinya sendiri. ia mengakses frekwensi yang sama dengan orang lain, maka ia akan dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.

Termasuk keadaan 'merasa' adalah dipicu oleh gerak polah pikiran atau yang biasa kita sebut sebagai prasangka.
Maka ini sebenarnya keadaan hati itu tidak pernah tertutup. Tidak pernah terkunci. Hanya saja ia sedang ternutrisi oleh apa sehingga seolah olah tampak mati atau terkunci.

Dimensi hati adalah dimensi yang tak pernah tutup. Kapanpun kita mau memasukinya, bisa. Tinggal kita secara ego mau apa tidak memasukinya
itu saja, 

Rabu, 27 November 2019

Energi Sejati

Dalam dzikir, meditasi, mengendapan rahsa dlsb, pasti ada suatu keadaan dimana mau tidak mau kita musti mengakui bahwa memang ada suatu kekuatan luar biasa diluar akal, nalar, dan kesadaran kita. Ada penguasa sejati yang memang benar benar mutlak menguasai segala bentuk gerak dan keadaan di jagat raya ini.

Islam mengajarkan suatu kunci untuk mengetuk dan membuka cakrawala kesadaran baru tentang realitas ini. Bukan sekedar kilasan lafadz atau mantra, melainkan benar benar dapat kita masuki ruang spiritualnya. Yakni "laa Haula wa laa quwwata Illa Billah".


Kesadaran baru sekaligus kuno, karena sejatinya pemilik ruang dan waktu adalah Baqo', maka ini berlangsung dan berfungsi untuk seluruh masa dulu-kini-kelak.

Dalam bermeditasi, berdzikir, pengendapan rahsa, kita selalu belajar untuk menep yang artinya benar benar mengendapkan segala bentuk imajinasi, pikiran, bahkan berbagai nuansa rasa.
Hingga benar benar kita mencapai rahsa sejati dimana diri kita yg murni benar benar dapat kita temui dan kita sadari adanya. Diri kita yang sejati adalah apa yg ada di pusat manah (di sekitaran dada) kita. Memiliki gelombang energi cukup besar karena ia hanya sebagai cerminan atau gerbang yang tersambung dengan energi sejati ilahiah. Sekali lagi ia hanya memantulkan atau menyalurkan saja dari Sang Maha Kuasa.

Kalau anda,saya,kita,siapa saja masih mengandalkan pikiran maupun lainnya tentu ini tidak akan benar benar dapat sempurna memancarkan daya ilahiah.
Namun ketika kita sedang berada dalam keadaan yang totalitas berserah, menyadari ketiadaan kita, memasuki ruang demi ruang, dimensi demi dimensi realitas ketiadaan daya upaya kita. Hingga totalitas kita tiada. Maka dari situlah daya ilahiah akan memancar sempurna.

Di wilayah itulah kita berdoa, memohon kepada Sang Penguasa Sejati, tentang apa saja. DIA tidaklah mungkin tidak mengabulkan apa yg kita pinta selama tidak ada muatan buruk , bobrok dan merusak di dalam doa kita.

Wallohu'alam, setidaknya itulah yg dapat kita pelajari dari perjalanan spiritual menuju kesejatian hidup dan kejernihan.

Sabtu, 16 Juni 2018

Kunci Bahagia


Sungguh sangat banyak keterangan dari Alloh dan rosulullo tentang berbagi dengan sesama. Pemenuhan kebutuhan kepada kerabat, sanak saudara, sahabat, tetangga yg memang sedang membutuhkan
Apapun saja, baik materi maupun tenaga.
Maka salah satu sabda kekasih alloh yg sangat terngiang adalah, "Sebaik Baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
Itu merupakan suatu perbuatan yg tentu masuk dalam kategori "amalan sholihan" / perbuatan baik.
Bahkan hal tersebut menjadi substansinya perbuatan baik.

Terkait perkara itu, Allah SWT berfirman:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ  ۖ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)

Tidak ada rasa takut serta tidak bersedih hati adala suasana kebahagiaan.
Yang dicari banyak orang dengan cara cara pemenuhan pemenuhan keinginannya pribadi yg konon ingin bahagia justru menjadi kebalikan dari sumber bahagia itu sendiri.
Sumber kebahagian sudah sangat jelas diinformasikan langsung oleh penguasa semesta, Alloh azza wa jalla.
Yaitu 1.Berserah diri secara totalitas kepada Alloh, dan 2.Berbuat Baik.

Sholat apakah merupakan perbuatan baik?
Haji apakah merupakan perbuatan baik?
Sedangkan ini merupakan pemenuhan kebutuhan pribadi?
Bagaimana kita hendak menemukan penjelasan ini?

Sahabat sebenarnya amalan amalan peribadatan dalam islam itu tidak untuk kita pribadi.
Kita sama sama tahu bab sholat.
Dipenghujungnya adalah kita mendoakan saudara saudara muslim kita dan mendoakan rosululloh s.a.w
Meskipun seolah untuk pribadi kita, sejatinya juga untuk orang lain.
Demikian juga peribadatan peribadatan yg lain.
Bahkan puasa pun juga demikian, getaran taqwa yg anda hasilkan dari puasa akan mengimbas kebahagiaan di kanan kiri anda secara sangat sirri, sehingga jarang kita sadari getarannya.

Jadi sebenarnya ini semua adalah tentang hablun minan nass.
Interaksi sosial kita dengan sesama.
Terserah dalam bagian apa anda ikut andil meringankan beban saudara kita.
Silahkan secara mental, ataupun materi.
Yg penting adalah memberikan spirit kebahagiaan.
Kalau yg anda limpahkan adalah justru mempersempit spirit semangat saudara kita.
Siap siap saja kita akan dipersempit pula oleh Alloh dalam macam macam urusan kita
Naudzubillah min dzalik.

Wallohu'alam bish-showab

Sahabat ........
Semoga kita senantiasa diberi keluasan hati dan kasih sayang untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.
Amin

Kamis, 19 April 2018

Khalifah adalah Pelayan

dalam pernyataan Alloh tentang penciptaan manusia,
ada misi penting di dalamnya
setidaknya ada 7-9 ayat di dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang misi/tugas
diciptakannya manusia yakni sebagai khalifatulloh fil-Ardh dan Abdi

Kebanyakan ayat ayat yang berbicara tentang khalifah
adalah dijelaskan atau diperuntukkan kepada kelompok atau golongan golongan secara khusus
seperti dalam Q.S Al-A'rof : 74, penjelasan kholifah lebih ditujukan kepada kaum Ad.
kemudian seperti pula di dalam Q.S Al-A'rof : 129, penggunaan kata kholifah ditujukan kepada kaum nabi Musa,
Q.S Shod : 26, kholifah ditujukan kepada nabi Daud a.s, sedangkan dalam Q.S Adz-Dzariyat : 56, secara global Alloh menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan Manusia adalah untuk mengabdi

abdi adalah pelayan
terlepas dari menjadi pelayannya siapa manusianya kelak
yang paling jelas, secara fitrah manusia ditanamkan rasa untuk melayani
kalau bukan melayani kebaikan, maka pasti dia akan melayani keburukan
kalau bukan melayani Alloh, maka manusia akan melayani yang selainnya Alloh
yakni materi materi yang tersebar di alam dunia

Maka sejatinya esensi dari misi utama diciptakannya manusia sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqoroh :30 adalah melayani Alloh di muka bumi (kholifatulloh). yakni menjadi pelaksana pelaksana dari kehendak Alloh di muka bumi.
juga saling melayani sesama
sebagaimana dalam hadist qudsy, tersirat "Aku sakit kenapa tidak engkau jenguk?". sakitNya Alloh terletak pada sakitnya saudara muslim / sesama manusia
maka sangat selaras kemudian dengan sabda baginda nabi s.a.w, "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
bahkan dicontohkan dalam sikap baginda nabi s.a.w
yang selalu melayani siapa saya yang butuh pelayanan dari beliau
banyak ajaran islam yang mencerminkan sikap pelayanan ini, mulai dari menyantuni anak yatim, saling bahu membahu yang diisyaratkan bahwa muslim satu dengan muslim lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi, mencintai fakir miskin, dlsb
yang menggambarkan bahwa sikap utama orang yang berikrar islam adalah harus melayani sesama
semuanya berhubungan erat dengan pelayanan atas alam semesta yang kita kenal dengan istilah rahmatan lil 'alamin

bukan hanya Rosululloh s.a.w, bahkan Alloh s.w.t pun memiliki sikap pelayan. sebagaimana tersirat dalam firmanNya "ud'uni astajib lakum" -memintalah akan aku perkenankan-
meskipun terbalut dalam bahasa yang elegan, namun esensinya adalah sama
melayani
karena sudah sangat fitrah jika manusia juga memiliki kefitrahan sikap melayani.
Maka agar tidak sampai salah kaprah, islam mendidik kita untuk mengarahkan fitrah pelayanan ini kepada hal hal yang lebih positif dan netral
bukan kepada hal hal yang negatif dan merusak
bukan melayani dalam kedholiman sehingga terbentuk kemungkaran kemungkaran
melayani kemungkaran artinya anda menyetujui atau membantu proses terjadinya kedholiman
maka dalam islam, kita ditekankan untuk ber-amar makruf nahi munkar
agar tidak terjadi proses saling membantu dalam berbuat kemungkaran
-wallohu'alam-

Minggu, 01 Oktober 2017

Jam'iyatud-Daim, refleksi sholat berjamaah

Bismillahirrohmanirrohim
Di dalam khazanah islam, kita sama sama paham bahwa ada satu amaliah yang cukup diutamakan. Yang mana amaliah tersebut akan menjadi penentu baik buruknya amaliah kita yang lainnya.
Bahkan suatu ketika, baginda nabi s.a.w menyatakan bahwa amaliah tersebut adalah menjadi tiangnya agama. Amaliah ini yg dimaksud adalah sholat.

Beranjak dari sholat baik secara lahiriyah berikut dengan tatanan fiqhnya, maupun secara bathiniah yg dapat kita pelajari melalui disiplin keilmuan tasawuf, kita akan menemukan bahwa sholat ini penerapannya memanglah sangat luas.
Secara nilai,  Fiqh sholat ternyata tidak melulu berlaku hanya pada kondisi kondisi tertentu (sholat nawafil) saja.
Melainkan juga dapat kita terapkan dalam segala lini kehidupan.
Yaa memang demikianlah sholat, sehingga sampai disebut sebagai penentu kebaikan hampir seluruh amaliah kita di hadapan Alloh

Sebagai contoh adalah dalam perilaku spiritual / suluk / tasawuf, tentu esensi sholat adalah untuk mencapai kesadaran hubungan kita dengan Alloh (...... Aqim ash-sholat lidzikri......)
Setiap sendi syarat rukun sholat ternyata memang memiliki nilai nilai nya masing masing. Seperti bagaimana menerapkan kesungguhan takbir di dalam keseharian, bagaimana berada dalam keadaan jumeneng tegak lurus menghadapkan wajah kepada Alloh, bagaimana bersujud dalam perilaku sehari hari, dan lain sebagainya.

Pun ternyata perihal ini tidak hanya berhenti pada keadaan sholat yg munfarid / sendiri saja. Nilai nilai sholat secara berjamaah pun dapat kita terapkan di dalam kehidupan sehari hari kita. Mengingat sabda nabi s.a.w, "sholat seseorang secara berjamaah adalah lebih utama daripada sholatnya sendirian selama 40 tahun", maka sudah sepatutnya kita juga selalu berada dalam kondisi berjamaah dalam segala hal.

Kalau para ulama sepuh dahulu meninggalkan warisan Sholatud-Daim, yakni sholat yg berkepanjangan. Kita sekarang dapat memperluas cakrawala pandangan kita menuju sholat berjamaah yg berkepanjangan pula.
Karena sesungguhnya mistahil umat islam akan kuat jika tanpa berjamaah. Maka sudah sangat jelas esensi daripada wanti wanti nabi s.a.w ketika beliau menegaskan agar kita, umat beliau tetap berada di dalam jamaah. Dan tentu jamaah yang beliau maksud ini adalah jamaah yg serupa dengan organisasi.
Meskipun bentuknya lebih fleksibel.

Oke mari sekarang kita pelajari lalu praktikkan sikap berjamaah sebagaimana yg beliau s.a.w maksud dalam keseharian.
Berbicara tentang jamaah tentu ada dua poin penting yang ada di dalam kelompok / jamaah. Yakni adanya imam dan makmum, adanya umaro / pemimpin dan yang dipimpin. Jika Pada zaman nabi s.a.w, imamnya adalah beliau sendiri yang langsung ditunjuk oleh Alloh s.w.t. makmumnya adalah muslimin dan mukminin sekalian. Maka saat ini adalah kita bermakmum kepada sesiapa yg telah kita percaya untuk menjadi imam.

Berangkat dari situ mari kita mulai memerankan apa yg semestinya kita perankan. Yakni menjadi makmum yang baik.
Sejak kita berada di tingkat sekolah dasar, Madrasah Ibtidaiyah, atau ketika kita ngaji bab sholat di TPQ TPQ Diniyah, kita sama sama tahu bahwa salah satu keharusan bagi makmum adalah mengikuti gerakan imam dan dilarang mendahului gerakan imam.
Kalaupun terlanjur mendahului gerakan imam, sebaiknya kita tidak lantas menyempurnakan rukun sholat yg berikutnya dahulu sebelum imam menyempurnakan rukun sholat yg seharusnya.

Demikian pula dalam berjamaah di masyarakat atau ormas atau organisasi manapun. Imam sudah ada, makmum sudah ada. Tinggal jalan. Yang sedang menjadi imam semestinya menjalankan dengan baik kewajiban kewajiban bagi seorang imam. Yang jadi makmum pun sudah seharusnya menjadi makmum yang baik.

Di sini berlaku firman Alloh, "athi'ulloh wa athiurrosul wa ulil amri minkum".
Kalau sebagian kita sedang dalam keadaan tidak enak hati dengan sang imam. Entah cemburu entah faktor apa saja yg menyebabkan kita sakit hati terhadap imam yg telah dipilih oleh anggota jamaah yg ada, sebaiknya kita segera menepis rasa sakit hati tersebut. Se-dongkol apapun kita terhadap sosok imam, kita musti bijak dalam menyikapi kondisi yg ada. 

Contoh dalam praktiknya jamaah sholat, sekalipun hati anda sedang dongkol dengan imam sholat saat itu, tetap saja anda musti mengikuti gerakan gerakan imam. Kalau ndak mau ya lebih baik keluar dari shof dan shokat sendiri. Yang seperti itu lebih menyelamatkan diri anda sendiri. Namun anda akan terlepas dari keutamaan berjamaah sebagaimana yg diwasiatkan oleh nabi s.a.w di atas, dan anda jadi menyelisihi wasiat nabi karena beliau lebih suka melihat ummatnya dalam keadaan berkelompok atau berjamaah, pun Alloh juga lebih suka dengan jamaah.

Oke kita lanjutkan, kenapa kita musti menepis ketidak sukaan hati kita dan harus manut patuh dengan imam yg kita sendiri tidak cocok dengannya?
Yang pertama Karena sejatinya jamaah adalah sebuah metode ilahiah.
Sebagaimana tertuang dalam Q.S al-fajr ayat 29, "fadkhulii fi 'ibadii" yang oleh para ulama telah disepakati tafsirnya bahwa itu adalah panggilan Alloh untuk masuk ke dalam jamaah hamba hambanya {lihat tafsir jalalain}

Sebuah metode yang dirancang oleh Alloh untuk menepiskan ego / nafsu kita sebagai manusia.
Kita berada di sini adalah bukan untuk menonjolkan keegoan kita, melainkan untuk menipiskan ego kita sehingga kita bisa menjadi ummatan wasathon yang saling berkasih sayang, bukan saling bercerai berai.

Al-An'am (الأنعام) / 6:12

قُلۡ لِّمَنۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلۡ لِّلّٰہِ ؕ کَتَبَ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ ؕ لَیَجۡمَعَنَّکُمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا رَیۡبَ فِیۡہِ ؕ اَلَّذِیۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ

Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.

Kita yang telah mengaku beriman dan berikrar islam, sudah semestinya menepiskan segala bentuk kecemburuan sosial di dalam hati kita masing masing. Dalam bentuk apa saja. Ya media belajar yg paling efektif untuk menepiskan segala bentuk rasa sakit hati sehingga berubah menjadi kasih sayang adalah dalam jamaah / organisasi / keluarga dan semacamnya.

Kenapa saya katakan demikian, karena kasih sayang adalah merupakan indikasi mutlak dari Alloh atas keimanan kita terhadapNYA dan juga refleksi kecintaan kepada nabiNya s.a.w, sebagaimana tertuang dalam Q.S maryam : 96

اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَیَجۡعَلُ لَہُمُ الرَّحۡمٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Wallohu'alam bishshowab
Semoga secarik tulisan ini bisa menyadarkan kita tentang pentingnya pengikisan ego diri kita. Jamaah apapun yg kita sedang ada di dalamnya, mari kita gunakan ia sebagai wasilah atau jalan kita untuk mencapai keridhoan Alloh s.w.t

-----------------
Al-Mumtahanah (الممتحنة) / 60:7

عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

-------------
Al-Ma'idah (المائدة) / 5:35

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Kamis, 28 September 2017

Alloh diluar Alam

Bismillahirrohmaanirrohim........

Tulisan ini sebenarnya untuk mengungkapkan saja apa yang sempat dipertanyakan oleh beberapa sahabat seperjalanan.

Kita telah sama sama belajar berjalan kehadiratulloh secara berjamaah maupun sendiri sendiri
Dikarenakan ini adalah wilayah yang rahasia, yakni hanya pejalan sendiri yang memahami sampai mana perjalananannya.
Maka tentu ada beberapa sahabat yg telah benar benar lepas landas dari ragawinya hingga lepas dari alam semesta
Ada yang justru masih terjebak dalam ranah analogi fikir yang hampir tampak seperti nyata spiritual
Namun ternyata masih berupa khayalan.

Masih berada dalam rongga rongga kosong semesta.

Sahabat..........
Terkait pertanyaan klasik yg terus berulang hingga saat ini
Yakni Di Mana Alloh?
Maka tentu masing masing kita akan menemukan pemahamanny masing masing sesuai kadar perjalanan dirinya
Bagi yang tidak berjalan sama sekali dalam wilayah spiritual, atau tidak tertarik dengan perjalanan suluk,
Tentu pemahaman yang sebatas riwayat 'katanya' bin 'katanya' itu saja sudah cukup.
Yang kelak kemudian selesai dan berhenti pada lahirnya ilmu ma'rifat atau yg familiar dengan istilah ma'rifatulloh bil-'ilmi atau ilmul-yaqin.
Tahu tentang esensi dan keberadaan Alloh berdasar litelatur dan disiplin disiplin ilmu semata.
Tidak salah juga bagi mereka yg mengambil sikap demikian.

Dan telah cukup banyak riwayat yg menjelaskan tentang keAdaan Alloh.
Yang lalu dirumuskan dalam sifat 20, dirumuskan dalam penjabaran ma'rifatul-asma, ma'rifatul-fi'li (af'al), ma'rifatush-shifat, dlsb.
Semua yang telah dijelaskan oleh para ulama sepuh melalui metode metode penyelarasan pikiran semacam itu adalah benar.

Namun bagi sebagian orang pula,
Tentu ada terusik kesadarannya untuk menempuh jalan penyaksian
Sehingga pengetahuannya kepada Alloh tidak sebatas berhenti dalam khazanah katanya bin katanya, ilmul-yaqin semata
Ada sebagian yg tergerak untuk menyaksikan tentang apa yg telah ia peroleh dari pernyataan para ulama
Sehingga sampailah ia pada tataran / maqom / wilayah penyaksian.
Atau yg sering kita kenal dengan 'ainul yaqin.

Sahabat.........
Wilayah ainul yaqin adalah wilayah dimana anda, kita, benar benar menyaksikan realitas yang ada
Bukan lagi berupa analogi pikir
Atau sekedar tebak menebak
Bahkan sekedar menerima pernyataan yg terluap dari para guru dan masyayikh kita.

Terkadang luapan penyaksian seseorang itu benar namun karena keterbatas kosakata yg ada, maka luapan tersebut menjadi 'blur' bagi pendengar yg masih berada dalam tataran ilmul-yaqin
Seperti halnya pernyataan "Alloh ada di luar alam semesta" tentu saja hal ini secara sekilas akan bertentangan dengan pemahaman bahwa Alloh ada di mana mana.

Kejadian seperti ini tidak akan selesai hanya dengan klarifikasi secara tutur tinukar semata.
Hal semacam ini perlu benar benar kita jalani dan bertanya / minta petunjuk langsung kepada Alloh
Sekiranya hal ini benar tentu akan ditunjukkan oleh Alloh realitasNya
Pun sekiranya pernyataan yg mengusik kita itu salah, Alloh akan menunjukkan realitas yang sesungguhNya.

Sebagai contoh, kita kembali ke dalam pembahasan semula, yaitu di Mana SesungguhNya Alloh berada
Maka dengan tegas saya akan mengatakan, "Alloh ada di luar alam semesta ini".

Tentu akan ada yg bertanya, "bagaimana bisa?  Bukankah DIA sendiri menyatakan bahwa DIA lebih dekat dengan urat nadi kita? dan bahkan DIA juga menyatakan bahwa kemanapun kita menghadap, di situ kita dapati wajahNYA."

Sahabat,,,,,,, kiranya perlu kita sadari bersama bahwa apa yg kita saksikan sebagaimana dalam pertanyaan di atas sesungguhnya adalah ilmuNYA, af-alNYA dan ShifatNYA.
DIA ada di luar ruang dan waktu hingga alam semesta.
Kalau kita melihat cahaya, realitas yg kemana mana kita lihat adalah sinarnya.
Pancarannya. Cahayanya.
Sejatinya partikel partikel cahaya itu jika kita amati lebih jauh, ia tidak berada pada apa yg semula kita kira sebagai cahaya.

Kalau kita bicara tentang di mana Alloh berada.
Setidaknya ada satu firmanNya yg secara global telah memberikan permisalan keberadaanNya.
Yakni di dalam al-Qur'an Surah an-nur ayat 35
Di situlah permisalan yg paling mendekati realitas keberadaanNya.
ayat yg menyebutkan tentang keadaan pelita di dalam misykat yg tak tembus ini adalah menggambarkan tentang diriNYA yg ada di luar segala bentuk bentuk materi sekaligu di balik segala sesuatu

Tentu tidak ada permisalan yg lebih detail lagi dari ini, atau singkat kata saya belum pernah menemukan permisalan tentang keadaanNya yang lebib mendekati kenyataan yg ada secara rinci melebihi gambaran di dalam ayat ini.
Sedangkan firmanNya yg lain tentang persemayamanNya di atas arsy sekaligus lebih dekat adalah dengan kita adalah sebagian dari kebulatan total qs.an-nur:35

Kalau anda bersuluk, dalam tataran tertentu anda akan sampai pada kesadaran dimana diri anda sejatinya adalah bukan diri anda yg berbentuk fisik ini
Melainkan diri yg abstrak, ada didalam sekaligus diluar
Dikatakan di dalam raga fisik, tapi terkadang kita justru dapat melihat raga fisik kita dari sudut ketinggian
Maka Alloh saya katakan juga Maha Abstrak, menyatakan di dalam misykat yg tak tertembus, yg lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Namun secara lebih dalam ternyata itu hanya semacam pintu gerbang untuk memasuki dimensi alam lahut / alam ilahiah
Yang mana tak tersentuh oleh jisim jisim materiil.
Lepas dari alam semesta sebagaimana yg selama ini tampak sebagai perbendaharaan nyata
Di alam lahut tersebut pun ternyata kita dapat menyaksikan secara haqq bahwa alam lahut benar benar berada di luar alam nasut/kebendaan/alam semesta.

Maka berlakulah sabda nabi yang mulia s.a.w, "sholat itu adalah mi'rojnya kaum mukminin". Sebuah metoda suluk yg dirancang oleh Alloh untuk hamba hambanya yg beriman dan mendambakan perjumpaan sekaligus persaksian agung dengan diriNYA.
Di sini ilmul'yaqin itu tidak berlaku atau justru penyaksian ini menjadi penguat / penegasan / penunjuk kebenaran atau kekeliruan dari segala keilmuan yg pernah kita pelajari.

Senin, 14 Agustus 2017

Ridho dan Ikhlas

Sering saya ungkapkan di dalam blog ini
Bahwa takaran dan alat ukur itu penting untuk menemukan kebenaran dalam menanggapi informasi yang ada
Kalau saya ngomong tentang Roda
Jangan asal dianggap setiap roda itu adalah roda motor.
Kecuali kalau anda benar benar telah menyimak secara kontinyu bahwa topik kita pada saat membicarakan roda itu adalah berkaitan dengan motor.

Wallohu'alam
Itu sekedar muqoddimah saja di awal tulisan ini.

Sahabat sekalian......
Beberapa diantara kita mungkin ada yg masih memerlukan sedikit uraian tentang apa itu yang disebut dengan Ridho dan apa itu yang disebut dengan Ikhlas.

Kalau anda sudah berada di dalam wilayah kesadaran ilahiah
Yaitu sadar total akan hubungan anda dengan Alloh, tentu ridho dan ilhlas ini adalah sesuatu yg sudah tidak rancu
Namun bagi beberapa sahabat dan saudara kita yg kebetulan masih terjebak dalam ranah fikiran
Dan sedang dalam perjalanan menfitrahkan kembali fikirannya
Tentu ini adalah sesuatu yg penting

Sahabat.........
Ridho dan Ikhlas ini sejatinya adalah sama, namun karena penerapannya saja yang kemudian menyebabkan dalam penyebutannya tampak beda

Ridho adalah posisi menerima yang disertai kesadaran secara mendalam bahwa yang diterimanya adalah benar benar dari Alloh (min-Alloh)
Ikhlas adalah posisi melepaskan / mengeluarkan sesuatu yang semula melekat pada diri kita. Dan tentunya dibarengi dengan kesadaran penuh bahwa yang pertama kali menerima apa apa yg kita lepaskan adalah Alloh (ilalloh)
Sehingga kedua hal tersebut akan membuahkan kesadaran secara mendalam bahwa hubungan kita dengan Alloh adalah benar benar sangat dekat (ma'alloh)

Kalau anda sedang berada dalam posisi apapun saat ini, maka sikap yg anda ambil tentu adalah ridho, sedangkan saat anda melepaskan apa saja yg sebelumnya sempat ada di dalam lingkupan diri anda, sikap yg sangat perlu anda ambil adalah ikhlas.

"Lho mas, kalau begitu bagaimana dengan adanya sikap ikhlas menerima dan rela/ridho memberikan?"

Sebenarnya itu adalah sikap yg sama, hanya saja penggunaan katanya yg sedikit mangalami kerancuan.
Ikhlas menerima ya sebenarnya Ridho itu sendiri
Sedangkan rela/ridho memberikan adalah ikhlas itu sendiri

Kalau anda secara pribadi paham bagaimana model ikhlas menerima tentunya anda paham apa yg dimaksud ridho
Begitupun sebaliknya

Wallohu'alam, saya selesai di sini dahulu, semoha bermanfaat
(Di sini sudah Isya')

Suluk adalah......

Secara bahasa suluk berarti perjalanan, secara budaya maupun tradisi, suluk dapat dipahami sebagai perjalanan jiwa.
Sedikit berbeda dengan thoriq yang juga jalan namun lebih condong ke ranah fisik / materi.
Shiroth adalah medianya atau jalannya.

Suluk adalah perjalanan jiwa
Dimana yang bergerak untuk melakukan perjalanan adalah jiwanya
Bukan raganya, bukan fisiknya lagi terlebih egonya
Ego sendiri adalah percikan dari momentum gerak fisik yg teradiasi oleh gerak angan angan / fikir.
Angan angan ini timbul karena efek tangkapan panca indra yang beradu padu di dalam memori otak yang kemudian juga kita sebut dengan fikiran.
Kebiasaan aktifnya fikiran dalam hal menangkap berbagai macam informasi dari panca indra ini lantas terbawa secara bebas dalam bentuk imajinasi
Ini lah cikal bakal angan angan

Thoriq, adalah perjalanan atau tahapan yang melibatkan unsur jasad termasuk fikiran
Terkadang lisan, jari jemari, hingga pikiran dipusatkan pada satu titik temu yang disebut dengan wirid.
Yakni melafalkan bacaan tertentu untuk menggerakkan ranah pikirnya dan raganya untuk mencapai satu kondisi ketertataan.
Secara simpel bisa kita katakan bahwa thoriq adalah proses penataan pikiran
Agar ia ia tidak liar dalam berkhayal atau berimajinasi atau berandai andai atau berangan angan.

Shiroth adalah bentuk jalannya
Ada yang menggunakan jalan sholawat, wirid asmaul husna, tasbih tahmid takbir, tahlil dan lain sebagainya.

Kembali lagi
Sedangkan suluk adalah diluar sekaligus di dalam itu semua
Atau sudah tidak terlepas dan terbebas dari itu semua
Jika thoriq yang ditekankan adalah penataan pikiran
Maka suluk adalah sudah selesai dari penataan pikiran
Atau langkah selanjutnya yg dilakukan setelah pikiran itu tertata sebagaimana mestinya/ sesuai fitrahnya

Suluk, yang digerakkan adalah jiwanya
Bukan lagi pikirannya.

Maka kalau anda menemui orang yang penuh dengan analogi pikir yg luar biasa ribetnya, dia sedang dalam proses pergerakan pikir.
Dimana dia sedang dalam tahap pencarian atau dengan kata lain sedang mensinkronkan pikirannya atas berbagai informasi yang masih belum jelas baginya apanya itu suatu capaian kebenaran ataukan bukan.

Orang orang suluk biasanya ia akan lebih damai atas berbagai bentuk nalar fikir.
Karena sudah bukan wilayahnya untuk berbelit belit dalam ranah pikiran lengkap dengan analogi analoginya.

Pikiran, fitrahnya adalah untuk menangkap bentuk perintah atau kehendak dari si jiwa.
Si jiwa pergerakannya adalah menuju Alloh. Sang Penguasa Sejati
Robb semesta Alam
Yang meliputi segala ruang dan waktu
Yang mengkondisikan berbagai macam keadaan
Dengan kata lain
Jiwa, fitrahnya adalah memerankan apa yg telah diperintahkan oleh Alloh
Maka dia disebut sebagai khalifatulloh fil-ardhi

Oke, sampai sini semoga kita diberi kefahaman oleh Alloh.
Wallohu'alam bish-showab

Jumat, 11 Agustus 2017

Sikap Saat berhadapan Dengan Hati Yang Keras

Alloh maha kuasa atas segala galanya, termasuk menciptakan banyak hal dari sesuatu yang sama sekali berada di luar nalar logika kita.
setidaknya itu salah satu hikmah yang diungkapkan di dalam Q.S Al-Baqoroh ayat 60
digambarkan dengan lugas tentang air yang memancar dari Bebatuan Padat nan Keras.
dapat kita ambil hikmah sedikit sekiranya bebatuan itu di zaman ini atau di ranah spiritual adalah rupa daripada hati yang mengeras.
sedangkan ayat yang ke-61 dari surah al-Baqoroh menggambarkan secara gamblang tentang keingkaran / kekufuran makhluqnya ketika diberi kecukupan rizki.

beberapa hikmah dapat kita petik dari 2 ayat ini, selengkapnya dapat disimak dalam vidio di bawah ini :
semoga bermanfaat. amin

Sabtu, 05 Agustus 2017

4 Nafsu yang Satu

Dari sekian banyaknya metode pengenalan diri, ada beberapa yg mungkin dapat kita serap dan padatkan.
Bicara tentang nafsu, mungkin di dalam benak kita akan bermunculan bermacam macam persepsi yang memunculkan imajinasi berbentuk sosok sosok.
Kalau nafsunya lawwamah, sosoknya bagaimana. Nafsunya amarah bagaimana dan semacamnya.

Saya akan berangkat dari takarannya dulu.
Kalau kita bicara tentang nafsu, berarti kita musti sepakati dulu. Ini yang dimaksud adalah nafsu yang merupakan kata serapan dari bahasa arab kah? Atau nafsu yg selama ini kita pahami sebagai macam macam keinginan?
Takaran ini memang penting. Kalau saya ngomong 'kilo' dalam ranah satuan meter, lalu lawan bicara saya memahami 'kilo' dalam satuan gram. Tentu akan sangat rancu. Bahkan apabila hal ini terjadi pada dialektika konsep spiritual, akan sangat lucu jadinya.

Oke mari kita mulai.
Nafsu yang saya maksudkan di sini adalah nafsu yang berarti 'diri'.
Berangkat dari kata 'an-nafs' dalam kosakata arab.
Secara umum sebagian dari kita mungkin telah memahami adanya bermacam macam jenis nafsu. Ada yang namanya sufiyah, lawwamah, muthmainnah, amarah dlsb.
Setidaknya dari keempat nama itu saja persepsi kita mulai terkotak kotak.
Maklum kita sekarang sedang disuguhi cara berpikir yg terkotak kotak, fakultatif. Jadi sangat wajar jika pola pikir kita musti lebih pelan dan santai untuk memahami hal hal yg bersifat universal. Kesatuan, kemanunggalan, tauhid.

Empat nama yg dilekatkan pada kata 'nafsu' di atas itu sebenarnya adalah pensifatan atas tingkah polah si diri manusianya.
Diri / nafsu dikatakan ammaroh adalah ketika dia dipenuhi oleh sifat sifat yang penuh keinginan. Dimana siapapun orangnya yg dalam benaknya dipenuhi oleh berbagai macam keinginan, rata rata ia akan mengambil sikap gegabah, terburu buru, bahkan sampai suka marah marah akibat banyaknya endapan keinginan yg belum tercapai.
Nafsu / diri dikatakan sufiyah apabila dia dipenuhi kehendak untuk berbuat kebajikan, keinginan untuk mendekat kepada Alloh. Kehendak untuk beribadah dan lain semacamnya.
Dikatakan sebagai lawwamah apabila ia cenderung bersikap malas dalam hal apapun termasuk melangkahkan dirinya kehadiratulloh hingga perkara perkara duniawiyah.
Dan dikatakan muthmainnah apabila dia telah mencapai kondisi ketenangan dan ridho atau menerima setiap bentuk ketentuan dari Alloh yg berlaku atas dirinya.

Nama nama atau sebutan sebutan itu hanyalah gelar yg disandangkan kepada si pelaku saja. Sebenarnya esensinya ya satu. Diri itu sendiri.
Sama halnya ketika si-A mencuri dia akan disebut maling, apabila si-A bersedekah dia akan dikatakan dermawan, apabila si-A bertaubat lantas menjadi rajin ibadah dia dikatakan sebagai 'Abid, apabila ia enggan berbuat apapun dikatakan sebagai pemalas.
Sama halnya apabila pakde paklek saya memanggil saya dengan sebutan Donie al-Murtadho, sahabat sahabat majlis suluk menggelari saya dengan sebutan Donie Gemblung, sedangkan orang tua saya sendiri memberi nama Donie Verdyan.
Orang nya sama, namun beda penyebutannya saja.

Begitupun Alloh. Ketika DIA berfirman, "berdoalah dengan menyebut ar-Rahman atau nama nama indahKU yang lain".
Bukan berarti ar-Rahman dan ar-Rohim adalah entitas yg berbeda.
Ini adalah hal yg sangat mendasar.
Kita jangan mudah terjebak pada bentuk betuk kosakata semata.
Kesadarandan sudut pandangnya musti meluas.

Jadi jangan mengira di dalam batang tubuh kita ini ada banyak bentuk bentuk jiwa.
Jiwa kita atau diri kita ini ya satu.
Sebagaimana raga kita yg hanya satu ini.
Jiwa adalah diri atau nafsu itu sendiri.
Biar tidak rancu lagi.
Selebihnya tentang pengenalan tentang diri saya kira sudah sering saya ulas di blog ini, semoga sedikit tulisan ini bermanfaat.
Jika ada yg masih bingung silahkan hubungi saya.

Minggu, 04 Juni 2017

ROMADHON, SETAN DIBELENGGU?

Sebagian dari mungkin pernah bertanya tanya di dalam dirinya,  "konon di bulan romadhon, setan itu dibelenggu, lantas kenapa kita masih menyaksikan banyak tingkah yg 'kesetanan' di hari hari romadhon?"

Pernah tidak, kita coba menyelidiki dari mana munculnya pertanyaan yang seperti demikian itu?
Atau dari bagian mana diri kita yang tiba tiba bisa terbesit pertanyaan seperti itu?
Sebuah pertanyaan unik menggelitik yang apabila secara nalar kita cerna akan dapat membawa kita pada 2 kondisi,
1) akan membawa kita pada penguatan iman dan kebajikan
2) akan membawa kita pada kekufuran.

Saya mulai dari akibat yg berupa poin ke dua dahulu.
Kenapa kami katakan bisa sampai membawa pada keadaan kufur/ingkar?
Karena secara sekilas kita akan merasa bahwa sabda rosul yg mulia s.a.w akan tampak hambar. Seolah olah kita jadi tidak percaya dengan adanya sabda nabi s.a.w yang menyatakan bahwa di bulan romadhon, setan setan itu dibelenggu.
Secara otomatis ketika kita mulai meragukan sabda kekasih Alloh, muhammad s.a.w, kita akan terjebak pada kekufuran kepada Alloh
Sebab Alloh dan Rosululloh ini tidak pernah terpisah. Sabda rosululloh adalah merupakan khabar dari Alloh juga, hanya saja Alloh menggunakan lisan (redaksi)  kekasihNya untuk menyampaikan khabar dariNya. Tidak mengatas namakan diriNya layaknya al-qur'an al-karim.

Pada efek yg berupa poin pertama,
Adalah karena kita benar benar kemudian menulusuri pertanyaan yg secara tiba tiba membesit di dalam benak kita.
Rosululloh s.a.w tidak mungkin bohong mengenai hal sepenting ini.
Meskipun realita di lapangan banyak sifat sifat syaitaniyah yg bertebaran, kita tidak lantas semata mata meragukan sabda beliau, namun kita lantas telaah dengan sungguh sungguh.
Maka yg terjadi berikutnya pastilah siapapun anda/kita akan menemukan titik kebenaran yg klop dari pertunjukan realita yg ada dengan sabda nabi s.a.w

Oke beranjak dari sini mari kita mulai sama sama menetralkan prasangka dan nalar logika kita.
Mari kita tafakkuri bersama sama tentang sabda nabi s.a.w yg mengabarkan bahwa setan, di bulan romadhon adalah dibelenggu.

Alloh tidak serta merta mengizinkan pertanyaan seperti paragraf paling awal hinggap di benak kita.
Alloh hendak menyadarkan kita tentang realitas yg sering terlupa oleh diri kita sendiri tentang diri kita.

Kalau kita perhatikan, jika diri kita sebelum romadhon jarang kita ajak untuk berlapar lapar, lantas begitu tiba tiba kita ajak untuk berpuasa,. Seringkali kita menjadi mudah terpancing emosi hingga marah marah tidak jelas.
Dari mana itu berasal?
Kalau kita perhatikan juga, apabila ada orang orang yg melanggar suatu aturan di wilayah tertentu, lantas ia tertangkap oleh penegak hukum setempat. Kenapa kebanyakan darinya akan berontak? Baik secara lisan ataupun tindakan.
Yang terakhir, di mana sebenarnya setan itu dibelenggu?

---------------
Dari ketiga clue di atas, semoga dapat menjadi pemicu kesadaran kita bahwa ada bagian dari diri kita yg sangat perlu untuk difitrahkan, dikembalikan kepada Alloh.

Suatu ketika nabi s.a.w bersabda, "sesungguhnya setan berjalan pada pembuluh darah di tubuh anak adam. Maka sempitkanlah jalannya dengan lapar"

Nah, sudah jelas bukan??!

Sekian dahulu, di lokasi saya sudah masuk adzan dhuhur

Sabtu, 20 Mei 2017

Menemukan kebenaran

Dalam setiap perputaran zaman, selalu ada kekeruhan dan penjernihan dalam hal kebenaran.
Ada suatu masa di mana tampak terang benderang mana yg benar dan mana yg salah. Layaknya kita melihat mana kursi dan mana kopi di siang hari.
Layaknya kita mengetahui dengan jelas mana bintang dan mana bulan di saat purnama.

Namun pasti ada pula suatu zaman yang namanya kebenaran dan kezaliman itu berbaur padu hingga kita tidak dapat membedakan mana itu yg haq dan mana itu batil
Manusia seolah meraba raba tentang kebenaran dan kemudian menyimpulkan beberapa hal yg justru jauh dari kebenaran itu sendiri.
Kita memang tidak akan pernah benar benar tau mana yg sejatinya haqq dan mana yg bathil jika kita sedang berada di dalam zaman yg seperti demikian itu
Demikian buram
Bahkan mengira yg benar adalah salah dan yg salah adalah benar
Naudzubillah mindzalik
------

Maka mari kita sama sama memohon kepada Alloh untuk ditunjukkan mana yg benar (haq) dan mana yg bathil (keliru)

Alloh adalah Dzat Yang Maha berfirman
Yg menjawab Doa dari setiap hambaNya yg berdoa
Yang Maha memberi petunjuk kepada hamba hambaNya yg memang benar benar mendambakan petunjukNya.

Dalam surah Al-Baqoroh, Alloh memberi gambaran tentang Adam a.s yg diturunkan ke bumi lantas DIA mewanti wanti agar adam a.s mengikuti petunjuk (huda) Nya agar ia tidak bersedih hati dan khawatir akan berbagai hal.
Dan hal ini tidak hanya berlaku untuk sayyidina adam a.s saja
Melainkan juga berlaku bagi kita hingga saat ini bahkan keturunan kita di masa yg akan datang.
Petunjuk dariNya tidak akan pernah ada putusnya, maka dari itu kita diajari olehNya melalui lisan nabiNya yg mulai s.a.w untuk memohon kepadaNya agar senantiasa mengenali petunjukNya (ihdina ash-shirotol mustaqim) dan mematuhi seruanNya.
------------

Di zaman sekarang ini, di tengah cepatnya pertukaran informasi
Banyak sekali gambar gambar atau tulisam tulisam yg sedikit banyak telah mempengaruhi sudut pamdamg dan cara berpikir kita.
Seperti halnya gambar singkat seperti yg saya lampirkan di bawah artikel ini.

Tentang dua orang yg memperdebatkan kebenaran dari sudut pandangnya masing masing.
Kita yg menyaksikan, apalagi jika dimintai pendapat oleh kedua kubu, bagaimanakah sikap kita?
Atau seolah olah gambaran itu memberikan kesan pemikiran "jika kita masih suka memperdebatkan sesuatu hanya karena sudut pandamg kita pribadi saja, maka kita adalah sosok yg ada di dalam gambar tersebut"
"Kalau kita perluas sudut pandang kita, seolah seolah dua orang itu adalah sama sama menyatakan kebenaran atas sudut pandangnya masing masing"

Kacaunya, seringkali kita hanya akan berhenti pada kesimpulan yg kedua tersebut tanpa melanjutkan dan memperluas lagi sudut pandang kita atas sebuah problematika.
Dan saat kita mulai meluaskan jangkauan pandangan kita, kita akan mendepati tentang ketepan dan kebenaran yg nyata. (Perhatikan gambar)
-------------

Sayyidina umar r.a, ketika dihadapkan kepada persoalan kaum muslimin yg mengadukan kedzaliman tetangganya bahwa budak dari tetangganya tersebut telah mencuri untanya, dan lantas si tersangka tersebut hampir tidak mau bertanggung jawab atas kelakuan budak budaknya. Maka sayyidina umar lantas bertanya kepada si budak mengapa ia sampai mencuri unta tetangganya.
Dan dari jawaban si budak, maka sayyidina umar baru bisa memahami yg terjadi lantas memutuskan hukum / penyelesaian bagi mereka.

Sikap seperti itu adalah sikap yg tertuang dalam gambar sebelah kanan.
Seandainya sayyidina umar kala itu hanya berhenti pada sudut pandang seperti pada gambar yg pertama (hanya tampak angka 6 dari kedua sisi) maka tentulah masalah yg ada tidak akan benar benar dapat diselesaikan.
----------------

Jadi kebenaran itu sendiri sebenarnya ada tiga jenis yg dapat kita pahami dari sudut pandangnya
1) benar individual
2) benar haqiqiyah
3) benar mutlak

Yg pertama adalah benar yg dilihat dari sisi egoisentris masing masing diri kita. Apapun yg beda dari kita adalah salah.
Hal yg seperti ini yg menimbulkan banyak pertikaian antar individu maupun kelompok / golongan.
Pada dasarnya pertikaian yg ada didominasi oleh sudut pandang egoisentris kelompoknya ataupun dirinya sendiri. Hal yg semacam ini adalah cukup jauh dari kebijaksanaan dan sangat jelas menunjukkan kedangkalan pola pikir. Padahal yg bersangkutan sendiri tidak benar benar tau apa yg terjadi sebenarnya.
Ini adalah seperti orang yg sakit tapi ia tidak tahu bahwa ia sedang sakit, atau seperti orang yg bodoh tapi ia tidak tau bahwa dia adalah bodoh sehingga sampai kapanpun kebidohannya tidak akan dapat terobati.

Yang ke dua adalah benar yg dilihat dari sudut hakikat. Karena segala sesuatu itu memang benar terjadi atas izin Alloh lantas kita membenarkan segala bentuk kemaksiatan yang ada dan membiarkannya menjamur begitu saja. "Faalhamahaa fujuroha wa taqwaha" dalihnya. Padahal firman Alloh itu sendiri adalah untuk mengusik kesadaran kita sebagaimana tertuang pada ayat berikutnya, "qod aflaha man zakkaha" beruntunglah bagi orang orang yg membersihkan jiwanya.
Pandangan semacam ini adalah pandangan yg bisa dikatakan masih blur
Pandangan seperti ini biasanya terjadi pada kalangan salikin yg berhenti bersuluk pada tataran menyatunya dirinya dengan alam semesta.
Memang benar adanya dalam wilayah itu, sensasi ketenangan luar biasa itu hadir, bahkan hampir hampir ra urus dengan kanan kirinya karena ia memandang serba benar semata. Orang berzina benar, minum khamr benar dll. Naudzubillah min dzalik.

Salikin memang tak boleh berhenti pada wilayah yg seperti itu
Ia musti melanjutkan perjalanan spiritualnya hingga mencapai wilayah yg ke tiga.
Memandang kebenaran yang memang sejatinya itulah kebenaran.
Keluasan yg lebih luas dari alam semesta
Keluasan yg lebih luas daripada luasnya wilayah hakikat
Di sinilah kita sama sama paham betul mana haq yg yg bathil (atas bimbinganNya)

Wallohu'alam bish-showab

Selasa, 25 April 2017

Rahasia Dhuha


وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
(Surah Asy-Syamsa,91:1)
-------------
Bismillahirrohmanirrohim ........
Segala sesuatu yang disebut oleh Alloh di dalam al-qur'an sesungguhnya tidak ada kesia siaan sama sekali. Semuanya memiliki arti dan spirit yg luar biasa. Terlebih apabila sesuatu tersebut diawali dengan huruf yang memiliki kandungan makna sumpah (demi)
Ketika Alloh berfirman, "Demi Matahari dan Demi cahayanya di pagi hari"
Sungguh secara sains modern pun para ilmuwan akan setuju semua dengan berbagai keutamaan dan khasiat cahaya matahari pagi. Bahkan orang paling bodoh pun di dunia ini akan mengakui bahwa cahaya yang berpijar di pagi hari adalah lebih menentramkan dan mendamaikan.
Namun di sini kita tidak akan membahas matahari dan cahaya pagi nya dari sisi sains. Karena suluk gemblung memang bukan penyaji khazanah sains.
Kita akan membahas bagaimana cahaya dhuha ini demikian utama hingga ada beberapa kekhususan yang dikandungnya antara lain melancarkan rizki .....

Tentunya dalam niat awal sholat dhuha jangan sekali kali mengharapkan rizki yg melimpah. Karena hal demikian akan memunculkan penyelewengan tujuan. Nabi s.a.w pernah mengingatkan, "sesungguhnya amal itu tergantung niatnya". Dalam sabda lain beliau s.a.w, beliau mengingatkan bahwa ada orang yg pergi hijrah karena harta maka ia akan hanya menerima harta tersebut saja, ada orang yg berhijrah karena wanita maka yg didapatnya hanyalah wanita saja selebihnya tidak, dan ada yg berhijrah karena Alloh maka ia pun akan mendapatkan apa yg ia niatkan.

Demikian pulalah sebaiknya sholat dhuha niatkan untuk bersyukur kepada Alloh. Sebagaimana firmanNya,
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Surah Ali 'Imran (3:145)

Dan juga firmanNya dalam surah al-baqoroh, "Berdoalah kepadaKU maka akan ku kabulkan, dan bersyukurlah kepadaKU dan janganlah engkau kufur"

Juga firmanNya dalam surah Al-'A`rāf:58
"Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur."

Kalau kita melaksanakan sholat dhuha dengan niat mohon tambah rizki, bukankah di dalam niat itu ada terselip rasa kufur meski hanya sedikit.
Sedangkan kufur meskipun hanya sedikit hendaknya segera ditepis dari benak seseorang yg mengharapkan perjumpaan dengan Alloh. Sebagaimana dalam surah asy-syams dikatakan, "dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori (jiwa) nya."
Setelah Alloh mengungkapkan tentang adanya ilham menuju jalan kefasikan dan ketakwaan. Beruntung bagi mereka yg memili ilham menuju jalan ketakwaan dan merugi bagi mereka yg menghendaki ilham jalan kefasikan.
Kufur itu adalah sumber dari segal bentuk kefasikan. Dalam surat asy-syams dikatakan sebagai orang yg mengitori jiwanya. Karena kotoran itu akan menghijab diri kita sehingga kita menjadi buta (bashirohnya). Kebutaan inilah yang menyebabkan manusia kufur, dan lantas kufur ini akan membawa kita pada berbagai jalan kefasikan.

Dhuha adalah penjernihan. Diman ba'da bergantinya kegelapan malam kita sambut dengan subuh yg masih cukup lumayan gelap. Barulah itu ketika matahari berpijar kita disunnahkan bersyukur kepada Alloh dengan sholat dhuha.
Rosululloh mengingatkan tentang siapa saja yg mengawali harinya dengan syukur, maka di sepanjang hari itu dia akan berada dalam liputan Alloh s.w.t.

Silahlan ditadabburi surah asy-syams dikala menjalankan sholat dhuha, insyaAlloh akan terang benderang bagi anda mengenai macam macam rahasia (sirr) Alloh.
Sebagian kecilnya adalah bagaimana doa dhuha energinya begitu luar biasa.

Dalam doa sholat dhuha, anda akan dibawa masuk dalam kesadaran fana billah fana fillah. Awaan doa sholat dhuha adalah pengakuan sejelas jelasnya bahwa tiada satupun yg berkuasa atas segala kondisi dan masa kecuali Alloh. (Yaa Alloh dhuha ini adalah dhuhaMU dst...) dalam doa yg pertama kita benar benar diajak mengakui dan melebur dalam kuasa Alloh Yang Maha Segalanya lagi Maha Meliputi lagi Maha Perkasa.

Selanjutnya permohonan yg demikian jernih yg bertumpu pada lafadz "...dan apabila haram maka bersihkanlah...."
Seringkali dalam berusaha di dunia kita tergelincir pada sesuatu yg sedikit mengarah pada syubhat karena kita tidak benar benar tahu sumber harta yg kita terima itu benar benar dari hal yg khalal ataukah syubhat. Seorang salikin sepantasnya senantiasa menjaga diri dari hal hal yg syubhat.

Adalah sayyidina abu bakar ash-shiddiq ketika beliau mengetahui tentang asal muasal susu yg beliau konsumsi adalah diragukan kehalalannya, maka beliau memuntahkan air susu tersebut.
Demikian memang sebaiknya, namun karena pada zaman ini amat sangat samar, maka kita memohon kepada Alloh untuk mensucikan segala rizki yg telah kita terima.

"Bihaqqi dhuhaika wa bahaika ........" dan ditutup dengan pengakuan bahwa yg bisa melalukan segala permohonan sebagaimana tertuang dalam lafadz pertengah doa sholat dhuha adalah hanya Alloh semata. Pengakuan bahwa laa haula wa laa quwwata illa billah itu adalah nyata senyata nyatanya dengan penuh tawadhu' dan pengakuan yg sedalam dalamnya.

Wallohu'alam

Di mana letak HATI manusia?

Dalam suatu hadist qudsi dikabarkan bahwa Alloh s.w.t telah berfirman, "sungguh langit dan bumi tidaklah dapat menampungKU,...