Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2016

Haya' (malu) merupakan Buah Penyaksian

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendengar seseorang memberi nasehat kepada saudaranya tentang rasa malu, lalu beliau bersabda: "Rasa malu itu adalah bagian dari iman". (HR. Ahmad)
dari Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati seorang laki-laki yang tengah mencela saudaranya karena malu, kata laki-laki itu; "Sesungguhnya kamu selalu malu hingga hal itu akan membahayakan bagimu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Biarkanlah ia, karena sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari iman." (HR. Bukhori)
Seorang salik, pejalan spiritual, mustahil ia tidak memiliki rasa malu (khaya')
Entah itu terhadap sesama, terlebih kepada Yang Maha Esa (Alloh)
Bagaimana malu itu muncul?
Rasa malu itu bisa muncul karena ia memandang apa yang dihadapannya lebih mulia daripada dirinya sendiri
Bukan berarti tidak percaya diri
Malu muncul memang karena adanya keyakinan / iman di dalam diri
Iman yang diperoleh secara nyata
Benar benar menyaksikan keagungan siapa yang sedang dipandangnya
Seorang santri atau salik, jika ia mengetahui keunggulan gurunya tentunya ia akan malu untuk bertutur kata atau berlaku yang kurang baik di hadapan gurunya
Dan ternyata hal ini juga berlaku di setiap lini kehidupan
Dimana jika kita memandang apapun yang lebih unggul dari kita, maka kita akan merasa malu dihadapannya.
Tapi ini dalam lingkup materi
Sekarang kita masuk ke dalam lagi
Siapa yang anda pandang saat ini?
Seluruh materi pada dasarnya adalah sama
Kalau kita menyaksikan kebenaran bahwa seluruh yang bersifat materi ini pada dasarnya sama
Maka kita akan bersikap zuhud terhadap materi
Yaitu bersikap sederhana, apa adanya, dan biasa biasa saja
Sedangkan jika kita bermakrifat
Mengetahui secara haqq atas Alloh Yang Maha Segalanya
Maka malu (haya') ini akan muncul secara otomatis
Zuhud lagi jadinya
Bersikap biasa biasa saja terhadap materi yang dalam islam sering disebutkan sebagai dunia
Malu kepada Alloh jika harus memendam banyak keinginan mengenai dunia
Malu jika ia berbuat sesuatu yang tidak diperintahkanNya.
Malu kalau musti ingkar,
Dan lain sebagainya.
Nah kunci malu adala makrifat secara haqq kepada Alloh.
Di mana anda / kita benar benar menemukan dan menyaksikan
Bahwa hanya Alloh lah yang tiada duanya, tiada tandingannya
Dan menyaksikan secara haqq bahwa diri kita, dunia ini, seluruh materi di alam
Adalah sangat kecil jika dihadapkan padaNya....
Salam salam salam .....
Semoga Alloh melimpahkan kemakrifatan kepada kita semua
Dan menyuburkan iman secara haqq
Amin

Rabu, 31 Agustus 2016

Rasa & Rahsa Manjing (mencuatnya) Iman

Pertanyaan sederhana dari para salik yang sering berlalu lalang
ketika mereka mulai terbentur keterbatasan bahasa
"Cak .... apa sih perbedaannya Rasa dan Rahsa itu?"

begini ....
kalau anda sedang dicaci maki, dihina, dikucilkan, dipuji, dihormati dlsb,
apa yang terbesit di dalam diri anda?
apakah marah, bangga, biasa saja ??
itulah sebagian dari rasa itu
atau kalau anda sedang menikmati suatu hidangan tertentu
pasti akan muncul sebuah sensasi atau lebih yang membuat anda paham tentang hidangan tersebut
itu juga adalah rasa

jadi rasa itu adalah efek timbal balik atau respon atau sensasi
yang muncul ketika ada sentuhan dari luar diri
ketika anda membaca qur'an
kok tiba tiba anda menemukan hardikan atau petunjuk dari Alloh kepada anda
ini juga bentuk rasa
ketika kita melihat seseorang yang serba kekurangan kemudian muncul iba
itu juga bagian dari rasa

sombong dan kawan - kawannya itu juga bagian dari rasa
maka orang - orang jawa kuno dahulu pernah berpesan
"jadilah orang yang bisa ruhmongso (merasa), bukan yang rumongso (merasa) bisa"
rasa ini perlu didudukkan pada kedudukan yang pas juga
bisa merasa itu adalah respond kepada lingkungan secara benar real
bukan menafikkan realita, atau merasa bisa ini

kalau merasa bisa, yang terjadi akhirnya adalah keegoan diri
yang kemudian menjadi serba menghijab pandangan sejati
seharusnya merasa iba, malah merasa sombong dan lain sebagainya
ini yang saya maksudkan mendudukkan rasa pada tempatnya

nah, rahsa adalah kebalikannya
ia adalah semacam dorongan dari dalam diri
yang timbul akibat desakan perintah Ilah dalam diri
contoh adalah dorongan yang mengharuskan anda bernafas atau berhenti bernafas
dorongan yang mengharuskan jantung dan paru - paru anda bergerak atau berhenti bergerak
dan lain sebagainya

termasuk juga apakah anda harus bertindak sesuatu atau diam
yang tanpa didahului keinginan apapun
yang tak bisa dihalang - halangi

kalau ulama sepuh kita bersyair, "Manjing e Rohso Tondo Yen Iman"
(Hampir/Mencuatnya Rahsa itu adalah tanda adanya iman)
kalau rahsa ini sudah kita ikuti dengan benar (mencuat mewujud dalam tindakan)
ya inilah tanda kalau orang itu beriman

maka iman ini tidak bisa dibuat buat
orang bisa saja mengaku beriman
tapi hanya mengaku ngaku saja bisanya
ia tidak akan bisa benar benar memunculkan iman
tanpa dilatih dengan bersikap jujur dalam mendudukkan rasa itu tadi

Rahsa yang manjing (mencuat) itu juga didapat dari kejujuran kita dalam merasa sesuatu
Bismillah wallohu'alam bish-showab

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِÙŠْÙ†َ اِذَا ذُÙƒِرَ اللّٰÙ‡ُ ÙˆَجِÙ„َتْ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبُÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا لصّٰبِرِÙŠْÙ†َ عَÙ„ٰÙ‰ Ù…َاۤ اَصَا بَÙ‡ُÙ…ْ Ùˆَا Ù„ْÙ…ُÙ‚ِÙŠْÙ…ِÙ‰ الصَّÙ„ٰوةِ ۙ ÙˆَÙ…ِÙ…َّا رَزَÙ‚...