Tentang Kemerdekaan
Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.
Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia
Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.
Titik Agung Peradaban
segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....
Selasa, 18 Mei 2021
PUASA Untuk Alloh. bukan hanya dalam romadhon
Kamis, 19 April 2018
Khalifah adalah Pelayan
ada misi penting di dalamnya
setidaknya ada 7-9 ayat di dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang misi/tugas
diciptakannya manusia yakni sebagai khalifatulloh fil-Ardh dan Abdi
Kebanyakan ayat ayat yang berbicara tentang khalifah
adalah dijelaskan atau diperuntukkan kepada kelompok atau golongan golongan secara khusus
seperti dalam Q.S Al-A'rof : 74, penjelasan kholifah lebih ditujukan kepada kaum Ad.
kemudian seperti pula di dalam Q.S Al-A'rof : 129, penggunaan kata kholifah ditujukan kepada kaum nabi Musa,
Q.S Shod : 26, kholifah ditujukan kepada nabi Daud a.s, sedangkan dalam Q.S Adz-Dzariyat : 56, secara global Alloh menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan Manusia adalah untuk mengabdi
abdi adalah pelayan
terlepas dari menjadi pelayannya siapa manusianya kelak
yang paling jelas, secara fitrah manusia ditanamkan rasa untuk melayani
kalau bukan melayani kebaikan, maka pasti dia akan melayani keburukan
kalau bukan melayani Alloh, maka manusia akan melayani yang selainnya Alloh
yakni materi materi yang tersebar di alam dunia
Maka sejatinya esensi dari misi utama diciptakannya manusia sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqoroh :30 adalah melayani Alloh di muka bumi (kholifatulloh). yakni menjadi pelaksana pelaksana dari kehendak Alloh di muka bumi.
juga saling melayani sesama
sebagaimana dalam hadist qudsy, tersirat "Aku sakit kenapa tidak engkau jenguk?". sakitNya Alloh terletak pada sakitnya saudara muslim / sesama manusia
maka sangat selaras kemudian dengan sabda baginda nabi s.a.w, "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
bahkan dicontohkan dalam sikap baginda nabi s.a.w
yang selalu melayani siapa saya yang butuh pelayanan dari beliau
banyak ajaran islam yang mencerminkan sikap pelayanan ini, mulai dari menyantuni anak yatim, saling bahu membahu yang diisyaratkan bahwa muslim satu dengan muslim lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi, mencintai fakir miskin, dlsb
yang menggambarkan bahwa sikap utama orang yang berikrar islam adalah harus melayani sesama
semuanya berhubungan erat dengan pelayanan atas alam semesta yang kita kenal dengan istilah rahmatan lil 'alamin
bukan hanya Rosululloh s.a.w, bahkan Alloh s.w.t pun memiliki sikap pelayan. sebagaimana tersirat dalam firmanNya "ud'uni astajib lakum" -memintalah akan aku perkenankan-
meskipun terbalut dalam bahasa yang elegan, namun esensinya adalah sama
melayani
karena sudah sangat fitrah jika manusia juga memiliki kefitrahan sikap melayani.
Maka agar tidak sampai salah kaprah, islam mendidik kita untuk mengarahkan fitrah pelayanan ini kepada hal hal yang lebih positif dan netral
bukan kepada hal hal yang negatif dan merusak
bukan melayani dalam kedholiman sehingga terbentuk kemungkaran kemungkaran
melayani kemungkaran artinya anda menyetujui atau membantu proses terjadinya kedholiman
maka dalam islam, kita ditekankan untuk ber-amar makruf nahi munkar
agar tidak terjadi proses saling membantu dalam berbuat kemungkaran
-wallohu'alam-
Sabtu, 20 Mei 2017
Menemukan kebenaran
Dalam setiap perputaran zaman, selalu ada kekeruhan dan penjernihan dalam hal kebenaran.
Ada suatu masa di mana tampak terang benderang mana yg benar dan mana yg salah. Layaknya kita melihat mana kursi dan mana kopi di siang hari.
Layaknya kita mengetahui dengan jelas mana bintang dan mana bulan di saat purnama.
Namun pasti ada pula suatu zaman yang namanya kebenaran dan kezaliman itu berbaur padu hingga kita tidak dapat membedakan mana itu yg haq dan mana itu batil
Manusia seolah meraba raba tentang kebenaran dan kemudian menyimpulkan beberapa hal yg justru jauh dari kebenaran itu sendiri.
Kita memang tidak akan pernah benar benar tau mana yg sejatinya haqq dan mana yg bathil jika kita sedang berada di dalam zaman yg seperti demikian itu
Demikian buram
Bahkan mengira yg benar adalah salah dan yg salah adalah benar
Naudzubillah mindzalik
------
Maka mari kita sama sama memohon kepada Alloh untuk ditunjukkan mana yg benar (haq) dan mana yg bathil (keliru)
Alloh adalah Dzat Yang Maha berfirman
Yg menjawab Doa dari setiap hambaNya yg berdoa
Yang Maha memberi petunjuk kepada hamba hambaNya yg memang benar benar mendambakan petunjukNya.
Dalam surah Al-Baqoroh, Alloh memberi gambaran tentang Adam a.s yg diturunkan ke bumi lantas DIA mewanti wanti agar adam a.s mengikuti petunjuk (huda) Nya agar ia tidak bersedih hati dan khawatir akan berbagai hal.
Dan hal ini tidak hanya berlaku untuk sayyidina adam a.s saja
Melainkan juga berlaku bagi kita hingga saat ini bahkan keturunan kita di masa yg akan datang.
Petunjuk dariNya tidak akan pernah ada putusnya, maka dari itu kita diajari olehNya melalui lisan nabiNya yg mulai s.a.w untuk memohon kepadaNya agar senantiasa mengenali petunjukNya (ihdina ash-shirotol mustaqim) dan mematuhi seruanNya.
------------
Di zaman sekarang ini, di tengah cepatnya pertukaran informasi
Banyak sekali gambar gambar atau tulisam tulisam yg sedikit banyak telah mempengaruhi sudut pamdamg dan cara berpikir kita.
Seperti halnya gambar singkat seperti yg saya lampirkan di bawah artikel ini.
Tentang dua orang yg memperdebatkan kebenaran dari sudut pandangnya masing masing.
Kita yg menyaksikan, apalagi jika dimintai pendapat oleh kedua kubu, bagaimanakah sikap kita?
Atau seolah olah gambaran itu memberikan kesan pemikiran "jika kita masih suka memperdebatkan sesuatu hanya karena sudut pandamg kita pribadi saja, maka kita adalah sosok yg ada di dalam gambar tersebut"
"Kalau kita perluas sudut pandang kita, seolah seolah dua orang itu adalah sama sama menyatakan kebenaran atas sudut pandangnya masing masing"
Kacaunya, seringkali kita hanya akan berhenti pada kesimpulan yg kedua tersebut tanpa melanjutkan dan memperluas lagi sudut pandang kita atas sebuah problematika.
Dan saat kita mulai meluaskan jangkauan pandangan kita, kita akan mendepati tentang ketepan dan kebenaran yg nyata. (Perhatikan gambar)
-------------
Sayyidina umar r.a, ketika dihadapkan kepada persoalan kaum muslimin yg mengadukan kedzaliman tetangganya bahwa budak dari tetangganya tersebut telah mencuri untanya, dan lantas si tersangka tersebut hampir tidak mau bertanggung jawab atas kelakuan budak budaknya. Maka sayyidina umar lantas bertanya kepada si budak mengapa ia sampai mencuri unta tetangganya.
Dan dari jawaban si budak, maka sayyidina umar baru bisa memahami yg terjadi lantas memutuskan hukum / penyelesaian bagi mereka.
Sikap seperti itu adalah sikap yg tertuang dalam gambar sebelah kanan.
Seandainya sayyidina umar kala itu hanya berhenti pada sudut pandang seperti pada gambar yg pertama (hanya tampak angka 6 dari kedua sisi) maka tentulah masalah yg ada tidak akan benar benar dapat diselesaikan.
----------------
Jadi kebenaran itu sendiri sebenarnya ada tiga jenis yg dapat kita pahami dari sudut pandangnya
1) benar individual
2) benar haqiqiyah
3) benar mutlak
Yg pertama adalah benar yg dilihat dari sisi egoisentris masing masing diri kita. Apapun yg beda dari kita adalah salah.
Hal yg seperti ini yg menimbulkan banyak pertikaian antar individu maupun kelompok / golongan.
Pada dasarnya pertikaian yg ada didominasi oleh sudut pandang egoisentris kelompoknya ataupun dirinya sendiri. Hal yg semacam ini adalah cukup jauh dari kebijaksanaan dan sangat jelas menunjukkan kedangkalan pola pikir. Padahal yg bersangkutan sendiri tidak benar benar tau apa yg terjadi sebenarnya.
Ini adalah seperti orang yg sakit tapi ia tidak tahu bahwa ia sedang sakit, atau seperti orang yg bodoh tapi ia tidak tau bahwa dia adalah bodoh sehingga sampai kapanpun kebidohannya tidak akan dapat terobati.
Yang ke dua adalah benar yg dilihat dari sudut hakikat. Karena segala sesuatu itu memang benar terjadi atas izin Alloh lantas kita membenarkan segala bentuk kemaksiatan yang ada dan membiarkannya menjamur begitu saja. "Faalhamahaa fujuroha wa taqwaha" dalihnya. Padahal firman Alloh itu sendiri adalah untuk mengusik kesadaran kita sebagaimana tertuang pada ayat berikutnya, "qod aflaha man zakkaha" beruntunglah bagi orang orang yg membersihkan jiwanya.
Pandangan semacam ini adalah pandangan yg bisa dikatakan masih blur
Pandangan seperti ini biasanya terjadi pada kalangan salikin yg berhenti bersuluk pada tataran menyatunya dirinya dengan alam semesta.
Memang benar adanya dalam wilayah itu, sensasi ketenangan luar biasa itu hadir, bahkan hampir hampir ra urus dengan kanan kirinya karena ia memandang serba benar semata. Orang berzina benar, minum khamr benar dll. Naudzubillah min dzalik.
Salikin memang tak boleh berhenti pada wilayah yg seperti itu
Ia musti melanjutkan perjalanan spiritualnya hingga mencapai wilayah yg ke tiga.
Memandang kebenaran yang memang sejatinya itulah kebenaran.
Keluasan yg lebih luas dari alam semesta
Keluasan yg lebih luas daripada luasnya wilayah hakikat
Di sinilah kita sama sama paham betul mana haq yg yg bathil (atas bimbinganNya)
Wallohu'alam bish-showab
Minggu, 09 Oktober 2016
Suluk Syar'i
Pernahkah kita menyadari bahwasannya seluruh tata laku peribadatan syariat
Tujuan utama adalah fana
Pelepasan akan keterikatan kita terhadap berbagai hal
Coba hayati benar benar ketika kita sedang menjalankan suatu peribadatan yg dianjurkan oleh syar'i
Hayati benar lalu masuki kedalaman dimensi dimensinya
Maka insyaalloh kita akan mendapati bahwa seluruh peribadatan itu adalah menuju kearah fana
Kosong, melebur ke dalam kuasa dan rahmatulloh
Inna lillagi wa inna ilaihi rojiun
Itu tujuan atau puncaknya
Senantiasa bersama Alloh dimana pun dan dalam kondisi apapun
Rukun islam misalnya.
Syahadat adalah proses penyadaran diri akan keesaan Alloh
Dalam perjalanan musyahadah,
Kita musti meniadakan ego kita
Kita melepaskan rasa ketertarikan dan keterikatan kita kepada selain Alloh
Lalu kita beranjak masuk dan melebur dalam keluasanNya
Wahidatusy-syuhud
Manunggal dalam kuasaNya s.w.t
Sholat, ini juga merupakan pelepasan terhadap gerak jasad
Manusia yang telah menyaksikan ketunggalan / keesaan Alloh
Semestinya ia juga harus tidak terjebak pada gerak jasad
Yang sejatinya merupakan gerakNya
Pandangannya musti tetap lurus memandang Sang Penggerak
Hal ini musti istiqomah ditempa terus
Yakni dengan sholat
Semakin sering kita menempa diri dengan tidak terpaku pada gerak lahiriah,
InsyaAlloh semakin fana dan mantab penyaksian kita dihadiratulloh
Puasa, pun demikian.....
Menanggalkan rasa, melepaskan diri dari hasrat rasa
Para pejalan suluk, ditengah perjalanannya
Sering kali terpaku pada rasa
Berbagai macamdan bentuk rasa
Rasa malak, rasa rasul, rasa tuhan sendiri dlsb
Sebaiknya itu semua dilewatinya hingga benar benar haqq apa yang disaksikannya
Memang benar merasakan hadirNya adalah sama dengan menyaksikanNya
Namun untuk benar benar mamandang samudra, tak mungkin kita hanya mencicipi asinnya lautan dari tengah pusat kota saja.
Zakat dan haji juga sudah barang pasti kita semua paham pelepasan apa yang diajarkan dan ditempa dari peribadatan teresebut.
Demikian pula adanya berbagai macam wirid syar'i
Yang sudah turun temurun diwariskan oleh baginda nabi s.a.w melalui para ulama r.a
Coba hayati , dalami, dan masuki
Seluruhnya akan membawa anda panda kondisi fana fillah.
Semestinya, seorang salik tidak lagi terpaku pada lisan jika memang ia sudah menjalani apa yang dibacanya
Awalnya iya memang musti paham apa yang dibacanya
Selanjutnya itu yang saya maksud dengan tidak terpaku pada lafadz yang keluar dari lisan
Wallohu'alam bish-showab
Silahkan diselami sendiri sendiri peribadatan peribadatan dan wirid yang selama ini sedang kita tunaikan.
Al-fatihah
Selasa, 23 Agustus 2016
Membran Semesta
Rabu, 17 Agustus 2016
Menegakkan Syari'at
hihihi gaya ...... bahasa linggis ....
next.... dua perkara tersebut adalah al-qur'an dan as-sunnah.
Al-qur'an,,, bukan tafsir al-qur'an....
dan as-sunnah,,, bukan riwayat sunnah.
sejatinya al-qur'an kan bukan itu (yang berupa untaian kata). sejatinya al-qur'an adalah apa yang tertanam di dalam fitrah setiap partikel alam semesta termasuk diri kita. nah wujud daripada sunnah adalah gerak laku daripada ketaatan kita atas perintah ilahi di dalam diri kita.
al-qur'an itu perintah Alloh, assunnah itu amaliahnya.
kalau tidak percaya, coba samakan antara perintah itu dengan Al-Qur'an yang tertulis dan assunnah, sudah pasti selaras.
sedangkan cara mengenali perintah Alloh tentu saja dengan sering berlatih. yakni berlatih untuk mengenali perintah dari hal - hal yang paling sederhana. contohnya perintah Alloh atas nafas kita, perintah Alloh atas segala gerak tubuh kita dlsb.
kembali pada penegakan syariat.setelah kita tahu bahwa syariat adalah dua paket tersebut diatas (al-qur'an dan as-sunnah), maka selanjutnya insyaAlloh kita paham bagaimana tentang istilah menegakkan syariat itu.
sesuatu itu akan tegak apabila ada penopang yang kuat dari dalam.
tubuh kita bisa tegak, karena ada tulang keras yang menopang dari dalam tubuh kita.
bendera (umbul - umbul) itu bisa tegak menjulang karena ada tiang penyangganya.
demikian juga syariat, dia akan otomatis tegak tatkala ada yang menopangnya
apa itu yang menopangnya? tentu saja ruhaniahnya al-qur'an tersbut. anda tidak akan pernah menemukan ruhaniahnya al-qur'an tanpa anda menyadari peranan Alloh atas diri anda dan alam semesta. sadar akan peranan Alloh atas diri kita dan alam semesta inilah yang ramai disebut - sebut sebagai makrifatulloh.
kunci dari tegaknya segala sesuatu adalah inti daripada sesuatu itu sendiri. sebuah spirit yang menyebabkannya tegak.
hasrat; daya yang beberapa hari sempat kita singgung.
alfatihah ....... :)
Minggu, 14 Agustus 2016
Stabilisasi Syari'at
bagi seorang hamba yang kesadarannya masih dalam tataran kesadaran materi, syariat diperlukan baginya untuk membiasakan diri jasadnya agar berlaku baik (hasan)
juga untuk membangkitkan gairah / kerinduan untuk berhijrah menuju kesadaran jiwa
yaitu tataran kesadaran yang lebih tinggi dan mendalam lagi daripada kesadaran materi
dalam tataran kesadaran jiwa pun, syariat tetap berlaku dan dibutuhkan untuk menyeimbangkan dan menjaga spirit dalam perjalanan hijrah tersebut (suluk)
seandainya ia melupakan syariat yang notabene mengatur langkah jasad /materi, tentu ia akan bermalas - malasan
walhasil jiwanya vakum, mandeg, bahkan terjatuh lagi dalam kesadaran materi
jika sudah demikian, ia akan merasakan kegalauan dan kegetiran laksana ia berada di dalam neraka
sampai ia memulai lagi perjalanan jiwanya dari syariat kesadaran materi
demikian pun jika ia telah semakin masuk ke dalam kesadaran ilahiah
yakni kesadaran yang lebih tinggi dan dalam lagi daripada kesadaran jiwa
syari'at itu dibutuhkan untuk menyelaraskan jasad - jiwa - ruh nya
Manusia yang telah selaras antara jasad - jiwa - ruh nya
maka dialah yang disebut sebagai insan kamil
manusia yang sempurna; khalifatulloh; waliyulloh
atau lebih pantas ia disebut sebagai hamba Alloh (abdulloh)
sebagai penghormatan atas penghambaannya kepada Alloh
Jasadnya sujud, Jiwanya rukuk, Ruhnya jumeneng (Aqimish-sholah)
senantiasa sambung dirinya dengan alloh
menegakkan sholat dalam setiap waktu
itulah yang disebut sholatud-daim
sholat yang berkepanjangan
Jumat, 12 Agustus 2016
antara ILAH dan ROBB
افضل ذكر فعلم انه لا اله الا الله
قال اسلمت لرب العالمين
Minggu, 06 Maret 2016
Sisi Lain Pendengaran
Litelatur datangnya pentunjuk itu melalui pendengaran
Kalam yang terdengar sesungguhnya dapat membolak balikkan hati maupun pikiran
Maka salah satu hal yang selaras dengan cahaya adalah suara
Memiliki getaran yang hampir sama
Terkadang cahaya ilahiah merasuk melalui pendengaran
(Suara yang tertangkap indra pendengaran)
Kalau hati seseorang itu terlampau beku atau kotor atau berkerak,
Apabila hati seseorang itu tak mampu menangkap cahaya dengan sendirinya
Karena terlampau sedemikian kotor atau berkeraknya
Atau cahaya fitrah di dalam hatinya tak mampu mendobrak kurungan kerak hati,
Maka salah satu bantuan yang dapat menggugah atau mencairkan hatinya Sehingga hatinya kembali bening
adalah dengan gelobang suara melalui pendengaran itu
Tak mengherankan jika ada suatu kisah yang menceritakan kisah tentang perjumpaan seseorang dengan nabi khidhir
Yang kemudian Sang Khidhir menyampaikan kabar bahwa jalan untuk menemui Hakikat adalah terletak pada telinga
Petunjuk yang didapat dari mendengar ini barulah kemudian ditulis
Diwujudkan dalam untaian aksara sebagai media pengingat
Karena jika tanpa ditulis, kebanyakan manusia akan melupakannya
Sedangkan fitrah manusia sebagaiannya adalah lalai / lupa
Hal semacam inilah yang dialami oleh baginda nabi tercinta s.a.w
Beliau mendengar dari jibril a.s
Lalu disimpan dalam memori ingatan beliau
Untuk kemudian disampaikan pada sahabat beliau r.a
Sahabat yang mendengar dari beliau s.a.w kemudian menyimpan juga dalam memori ingatan
Lantas kemudian menuliskannya untuk dapat diingat selamanya
Namun yang terjadi sekarang seringkali terbalik,
Kebanyakan melihat tanpa mendengar
Dan yang dilihat hanyalah tulisan
Penglihatan yang tak disertai pendengaran akan menghasilkan pemahaman yang buram
Terlebih jika tak disertai pendengaran yang sejati
Pendengaran yang bukan dari telinga fisik
فإنك لا تسمع الموت ولا تسمع الصم الدعآء اذا ولوا مدبرين
Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang orang yang mati itu dapat mendengar, dan tidak pula menjadikan orang orang yang tuli itu dapan mendengarkan seruan, Apabila mereka itu berpaling membelakang"
(Ar-Rum : 52)
Senin, 22 Februari 2016
Pintu kemenangan
بسم الله .... بسم الله .... بسم الله ....
Romadhon adalah wilayah penerang untuk bersuci,
Tentunya bukan lagi bersuci secara lahiriah
Lahiriah kita dapat disucikan dengan air, dengan cara berwudhu atau mandi jinabat
Batiniah kita, sisi yang lebih hakiki dalam diri kita
Cara bersucinya adalah dengan bermandikan Rohman RohimNya (Alloh)
Di bulan romadhon, mafhumnya selama bulan romadhon,
Tersimpan begitu banyak Daya ilahiah berujud rohman , rohim serta maghfirohNya
yang terbentang luas di seluruh permukaan hingga penjuru penjuru dunia
Bahkan seluruh alam semesta
Maka pantas jika para arif billah / ulama fillah mengibrohkan
Bahwa bulan puasa sebagai bulan bersucinya ruh
Kalimah lengkapnya beliau beliau rohimahullohu lahum, "Rojab merupakan bulan untuk mensucikan jasad, sya'ban untuk mensucikan jiwa, Romadhon untuk mensucikan ruh"
Kembali lagi bahwa romadhon adalah bulan yang paling pas untuk bersuci
Mengibrohkan kita akan bersuci menjelang sholat
Mengingatkan kita pada sholat yang sejati
Yakni sholat yang tak terbatas waktu
Dalam romadhon, kita diajarkan untuk mensucikan diri
Yaitu dengan meninggalkan apa apa yang disukai oleh ego kita
Kita meninggalkan makan, yang mana pada siang hari merupakan waktu makan yang melezatkan
Sedangkan kita berbuka pun demikian
Kita dilatih untuk tidak berbuka secara berlebihan
Bahkan ketika sahur pun juga demikian
Sedang pada hari hari selain romadhon kita terbiasa berlebih lebihan hampir pada hal apapun
Inti dari romadhon adalah mengajarkan sekaligus membiasakan diri kita untuk tidak memanjakan nafsu atau keinginan keinginan yang melelapkan
Yang bisa kita katakan sebagai ego
Keluar dari romadhon kita diajarkan untuk berzakat fitrah
Yang menurut baginda nabi s.a.w yang disampaikan secara turun temurun oleh para ulama adalah merupakan media untuk membersihkan diri
Waktu untuk berzakat adalah pada akhir romadhon
Tepat sekali, dan samgat jelas bahwa serangkaian puasa romadhon tujuan akhirnya adalah bersihnya diri
Bersihnya diri adalah bentuk dari maghfirohNya
Yang turun bagi hamba hambaNya yang benar benar berserah
Maka sangat benar jika baginda nabi yang terpuji s.a.w bersabda, "merugilah orang orang yang tak terampuni apabila romadhon telah lewat"
Bagaimana mungkin Alloh tidak mengampuni ketika para hambaNya menunjukkan kesungguhan kesungguhan mereka dalam berjuang untuk mendapatkan ridhoNya
"Orang yang berperang di jalan Alloh adalah Syahid"
"Jihad yang paling besar adalah Jihad melawan hawa nafsunya sendiri"
Demikianlah romadhon, mengajarkan kita untuk senantiasa berjihad tiap hari selama satu bulan penuh
Dan ini tidak hanya berlaku pada bulan ramadhan saja
Melainkan terus berlanjut
Hal ini tampak jelas pada saran yang mulia untuk berpuasa di 6 hari syawal
Jadi bukan hanya pada romadhon saja
Melainkan di luarnya juga
Sedangkan siapa saja yang menjalankan romadhon, ia akan menemui zakat fitrah
Zakat = perbersihan
Fitrah = kemurnian
Zakat fitrah => pembersihan untuk kembali pada fitrah
Inilah yang disebut minal aidzin wal faizin
"Dari golongan yang kembali dan menang"
Yakni golongan yang fitri, yang benar benar telah inna lillahi wa inna ilaihi rojiun
Yang telah benar benar mengembalikan segala urusannya kepada Robb semesta alam yang maha mengatur dan maha meliputi
Kepada Robb Sang pemilik segala kehendak sekaligus Robb yang mengurusi segala urusan
"Wal faizin" / dan menang
Siapapun yang telah berserah total hanya kepadaNya
Maka baginyalah segala kemenangan
Terbuka dan terbentang luas baginya jalan keluar dari segala kesempitan
اذا جآء نصر الله والفتح # ورايت الناس يدخلون فى دين الله افواجا # فسبح بحمد ربك والستغفر ، انه كان توابا
Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan, dan engkau telah menyaksikan orang orang berbondong bondong masuk dalam agama (diin) Alloh, maka bertasbihlah dengan memuji Robbmu dan beristighfarlah. Sungguh Dia maha penerima taubat
Kamis, 18 Februari 2016
Bersuci dan Eksistensi Syirik
Uيا ايها الذين امنوا انما المشركون نجس، فلا يقربو الميجد الحرام بعد عامهم هذا. وان حفتم علية فسوف يغنيكم الله من فضله ان شآء ، ان الله عليم حكيم
---------------
Wahai orang orang yang beriman (يا ايها الذين امنوا)
Yakni orang orang yang telah mengamankan hati mereka daripada apapun yang selain Alloh.
Kata "amanu" ini satu akar dengan "amana" dan "amina".
Seolah Alloh hendak menunjukkan bahwa orang orang yg telah mengamankan hatinya dari selain Alloh, membuang segala sesuatu yang bukan Alloh, maka ia dipastikan mendapatkan cahaya iman. Keyakinan yang haq.
Sedangkan mereka yang sudah dilimpahi cahaya iman, maka baginya kesejahteraan berupa "amina". Siapapun yg bersamaNya, maka pasti akan sejahtera dan aman.
Sebagaimana sabda baginda nabi s.a.w, "orang orang beriman adalah mereka yang dapat menjamin keamanan harta saudaranya, darah saudaranya, dan juga kehormatan saudaranya"
Kalau sudah menyentuh saudara, maka siapa di antara kita yang tidak bersaudara?
Semua satu dan saling terhubung
Sesungguhnya kita semua memang saudara
Namun kemudian Alloh menjelaskan.....
انما المشركون نجس
Sesungguhnya orang orang yang syirik (musyrikun) itu najis.
Yaitu mereka yang menyekutukan Alloh dalam hal apapun,
Di zaman ini memang tak banyak,
Bahkan tak ada patung patung patung (layaknya zaman jahiliah dahulu) yang disembah
Namun bukan berarti tidak ada yang menyembah patung dan berhala
Berhala berhala dan patung patung itu justru kebanyakan berada di dalam hati masiing masing pelakunya
Kemudian ditegaskan bahwa orang musyrik itu najis.
Mari kita masuk lagi ke dalam makna najis.
Najis itu merupakan apa apa yang mencampuri sesuatu yang suci, sehingga kesucian itu menjadi pudar nilainya
Setelah itu mari kita berkaca,
Mari kita tengok ke dalam diri dan hati kita masing masing kita
Apakah kesucian kita sudah tertempeli macam macam hal, ataukan masih suci?
Kalau masih tertempeli bermacam macam hal, mari kita sucikan segera.
Ingat, dalam kaidah fiqh, sesuatu yg paling afdhol untuk bersuci adalah air suci yang mensucikan.
Namun berhubung ini yang hendak disucikan adalah hati dan eksistensi sejati diri kita, maka kita perlu mendalami makna "air suci mensucikan"
Dalam suatu hadist dikatakan bahwa 'arsy Alloh, di bawahnya adalah air yang sangat jernih
Namun tidak dijelaskan seberapa luasnya
Yang dapat kita ketahui dari khabar lain adalah bahwa arsy Alloh lebih luas dari 7 langit dan 7 bumi.
Nah, dengan memanfaatkan air ghoib inilah kita akan bersuci
Sesungguhnya air inu terhubung pada diri manusia
Letaknya pada darah dan cairan cairan tubuh yang lain
Selama ini mungkin darah kita belum benar benar bersih ataupun jernih
Maka diperlukan pengendapan yang benar,
Yakni dengan duduk hening
Selanjutnya diperlukan juga proses penjernihan dari dalam
Yakni dengan dorongan keluar masuknya nafas yang juga mengikat darah
Baginda nabi s.a.w bersabda, "sesungguhnya setan bergerak / berjalan - jalan pada aliran darah manusia"
Dalam kesempatan lain, beliau juga mengabarkan bahwa setan akan melemah jika kita berdzikir
Inilah kunci bersuci untuk diri kita
Satu satunya yang konsisten menyertai darah adalah oksigen.
Maka kita buat oksigen yang kita hirup untuk turut berzikir sehingga apa yang ada (kotoran) di dalam darah (baca: setan) dapat dilemahkan
Dan semoga diri kita benar benar teraucikan.
-amin-
Jika kita dapati diri sudah bersih dari apa apa selain Alloh.
Atau sudah disucikan seperti di atas, maka kita harus waspada.
Sebagaimana firmannya...
فلا يقربو المسجد الحرام
"Maka janganlah mereka mendekati masjidil haram"
Masjid adalah tempat sujud atau tempat menyembah
Masjidil haram adalah suatu wilayah atau tempat bersujud, yang mana tidak boleh (haram) ada apa apa di sana selain yang menyembah dan yang disembah
Ini bukan masjidil haram yang di tanah arab sana
Melainkan masjidil haram yang ada di dalam diri
Yakni hati (qolbu), atau lebih dalam lagi dan terserah untuk penyebutannya.
Yang jelas masjidil haram adalah wilayahnya
Penyembahan yang tidak boleh ada sesuatu apa pun di dalamnya selain yang menyembah dan yang disembah
Maka diingatkan oleh Alloh,,, "janganlah mereka mendekati masjidil"
Yakni kemusyrikan kemusyrikan itu tadi
Segala sesuatu yang selain Alloh tidak diperkenankan ada di sana
Dan juga bermakna, "janganlah biarkan orang orang yang masih penuh dengan prasangka dan apa apa selain Alloh mempengaruhi keimananmu. Membuatmu kembali ragu dan kemudian dirimu menjadi tak suci lagi. Janganlah najis itu sampai menguasai kesucian. Jika itu terjadi, bersucilah lagi,, lagi,,, dan lagi..."
Kebanyakan kemusyrikan itu masuk melalui harta - benda - kekayaan.
Maka Alloh kembali menegur kita
"وان خفتم عيلة فسوفف يغنيكم الله من فضله"
Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Alloh nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya
Bagian ini sudah sangat jelas, apabila kita khawatir akan kemiskinan
Maka sepatutnya kita menyadari bahwa rahmat, kasih sayang dan keagungan serta kekayaan Alloh akan mencukupi tiap tiap urusan hambaNya.
Jangan sampai kemusyrikan kemusyrikan itu merasuki dan meracuni lagi melalui jalan harta benda dan kekayaan
"ان شآء"
Tinggal kita yakin atau tidaknya yang akan mempengaruhi tersambungnya limpahan rahmat Alloh tersebut
"ان الله عليم حكيم"
Sesungguhnya Alloh maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
Paling Sering Diakses
Akar dari Sikap Sabar
الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...





