Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Tampilkan postingan dengan label hakikat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hakikat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Mei 2021

PUASA Untuk Alloh. bukan hanya dalam romadhon

Assalamu'alaikum sahabat salikin yang dirahmati Alloh,
Semoga senantiasa dalam samudra syukur dan Mahabbah kepada Alloh Yang Maha Mulia.
Sholawat dan Salam mari sama sama kita panjatkan kepada Alloh teruntuk baginda Nabi Agung Muhammad s.a.w,.. bersama beliau kita beranjak mengenal dan berjalan kehadiratulloh, bersama beliau kita berjalan di dalam bentangan cahayaNya. Bersama beliau InsyaAlloh Alloh ridho kepada kita semua, amiin.

Sahabat salikin yang dimuliakan Alloh, sepertinya romadhon ini tidak ada habisnya. Bulan dan namanya memang sudah selesai, namun esensinya tidak dapat kita pungkiri bahwa itu terus menerus mengiringi laju kehidupan kita. Dimana secara lahiriah Alloh menurunkan banyak khazanah keutamaan di dalam fisik romadhon. Sedangkan secara bathiniah, secara nilai, secara esensial keutamaan itu tiada habisnya.

Apa sih esensi nya romadhon? Apa sih yang paling masyhur terkenang di bulan romadhon? Tentu saja PUASA bukan??
Yap dimensi puasa memang tidak ada habisnya untuk dikupas. Seolah olah Alloh hendak menyadarkan kita tentang pentingnya puasa di segala lini kehidupan bagi kita semua, sehingga Alloh mengutus NabiNya yang mulia s.a.w untuk mengabarkan sekaligus mencontohkan bahwa setelah romadhon masih ada puasa puasa lain yang cukup banyak. senin-kamis, yaumul bidl, asy-syuro, yaumil syawal, puasa daud, dlsb. Tidak ada habisnya.

Sekarang kita kupas sedikit saja nilai dari puasa.
Dalam fikih kita memahami makna puasa adalah berarti 'menahan'. Mulai dari menahan lapar, dahaga, jimak, mengumpat dst. Dalam literatur lain kita mengenal puasa adalah menahan diri untuk berlatih menumbuhkan sikap waro' dan zuhud. Menahan diri untuk tidak mencintai dunia seisinya. sedangkan di sisi Spiritual kita akan diajak memahami bahwa puasa ini belajar untuk memasuki dimensi bathiniah hingga sirr nya diri kita sendiri. Untuk mencapai kesadaran ilahiah al'Ala .. yang tertinggi...

Bagaimana konsep puasa ini dapat menjadi kendaraan untuk mencapai relung bathin dan memasuki segala ruangnya hingga mencapai sirr (rahasia terdalam) dari diri manusianya / pelakunya sendiri?

Sahabat.... kalau kita benar benar menjalankan tuntunan fikih dalam mengatur urusan berpuasa, InsyaAlloh ketika kita renungi atau tafakkuri, kita akan mendapati bahwa segala hal ikhwal ketika berpuasa semata melatih diri kita untuk menanggalkan petentingan duniawi, diri fisik kita adalah termasuk urusan duniawi. Dalam Puasa kita belajar berperan aktif menahan ajakan nafsu untuk memuaskan urusan lahiriah kita. Kita ditunjukkan bahwa Tidak semua keinginan makan maka pasti harus makan. Tidak semua nafsu jimak harus jimak. Bahkan tidak semua pemikiran yang liar (uneg uneg) harus diluap luapkan. Sehingga mau tidak mau kita akan menjalankan dengan baik firman Alloh "..wa laa yusyironnabikum ahada" [al-kahfi] "jangan ceritakan hal mu kepada siapapun.

Aflatul-lisan, menjaga lisan juga menjadi salah satu muatan nilai dalam berpuasa. Kita tahu bahwa lisan menjadi sumber ancaman kerusakan terbesar sesudah hati dan pikiran. Tentu saja hati-pikiran-lisan ini adalah satu gandeng yang mana satu sama lainnya saling mempengaruhi.
Ketika lisannya diumbar berbicara kotor dan tidak pantas, maka ia akan mengotori hati dan memperkeruh pikiran. Demikian pula pikiran maupun hati, apabila ia rusuh, dan lisan tidak terkunci dengan baik, maka akan keluar juga ucapan yang rusuh pula. Bisa jadi fitnah, hasutan dlsb. Bisa jadi Sumber petaka bagi dirinya dan lingkungannya.

Puasa adalah mengajak kita untuk mengontrol itu semua.
Perutnya berpuasa, telinganya berpuasa, matanya berpuasa, lidahnya berpuasa, tangannya berpuasa, kakinya berpuasa, pikirannya berpuasa, bahkan hatinya pun berpuasa. Dan Nafs / Jiwa kita lah yang diajarkan oleh Alloh untuk menjaga itu semua. Susah? Tentu saja di awal awal akan susah, bahkan seterusnya hampir tidak mudah. Terlebih ketika jiwa mulai merasa sombong karena tertipu mengira dirinya bisa mengontrol mengendalikan itu semua. Sedangkan sejatinya ia hanya menerima anugrah kebaikan Alloh s.w.t semata. Makanya Nabi s.a.w mengingatkan bahwasannya JIHAD TERBESAR MANUSIA ADALAH JIHAD TERHADAP NAFSUNYA SENDIRI.

Jiwalah yang diajak Alloh untuk sadar atas eksistensi keberadaannya. Sadar betul dan bangun dari tidur panjangnya selama ini, bahwa ia ada untuk mengemban amanah dariNYA atas semesta raya. Kami katakan atas semesta raya karena memang manusia satu sama lainnya saling ambil peran untuk menjaga alam semesta. Sekecil apapun gerak hati manusia , disadari ataupun tidak, ia akan memberikan efek tersendiri bagi pergerakan alam. Mau baik ataukah buruk.

Sahabat... Setelah kita memahami dan menyadari keberadaan nafs kita sendiri, sudah semestinya kita terbawa menuju sikap zuhud dan waro'. Berangkat dari menahan segala kemauan lahiriah. Kemudian InsyaAlloh akan menemukan realitas rahasia yang tidak mungkin dapat diungkapkan secara verbal. di situlah esensi puasa yang sebenarnya. Pencapaian dimana Alloh berfirman menetapkan, "PUASA ITU ADALAH UNTUK-KU"

Wallohu'alam bish-showab

Kamis, 19 April 2018

Khalifah adalah Pelayan

dalam pernyataan Alloh tentang penciptaan manusia,
ada misi penting di dalamnya
setidaknya ada 7-9 ayat di dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang misi/tugas
diciptakannya manusia yakni sebagai khalifatulloh fil-Ardh dan Abdi

Kebanyakan ayat ayat yang berbicara tentang khalifah
adalah dijelaskan atau diperuntukkan kepada kelompok atau golongan golongan secara khusus
seperti dalam Q.S Al-A'rof : 74, penjelasan kholifah lebih ditujukan kepada kaum Ad.
kemudian seperti pula di dalam Q.S Al-A'rof : 129, penggunaan kata kholifah ditujukan kepada kaum nabi Musa,
Q.S Shod : 26, kholifah ditujukan kepada nabi Daud a.s, sedangkan dalam Q.S Adz-Dzariyat : 56, secara global Alloh menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan Manusia adalah untuk mengabdi

abdi adalah pelayan
terlepas dari menjadi pelayannya siapa manusianya kelak
yang paling jelas, secara fitrah manusia ditanamkan rasa untuk melayani
kalau bukan melayani kebaikan, maka pasti dia akan melayani keburukan
kalau bukan melayani Alloh, maka manusia akan melayani yang selainnya Alloh
yakni materi materi yang tersebar di alam dunia

Maka sejatinya esensi dari misi utama diciptakannya manusia sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqoroh :30 adalah melayani Alloh di muka bumi (kholifatulloh). yakni menjadi pelaksana pelaksana dari kehendak Alloh di muka bumi.
juga saling melayani sesama
sebagaimana dalam hadist qudsy, tersirat "Aku sakit kenapa tidak engkau jenguk?". sakitNya Alloh terletak pada sakitnya saudara muslim / sesama manusia
maka sangat selaras kemudian dengan sabda baginda nabi s.a.w, "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
bahkan dicontohkan dalam sikap baginda nabi s.a.w
yang selalu melayani siapa saya yang butuh pelayanan dari beliau
banyak ajaran islam yang mencerminkan sikap pelayanan ini, mulai dari menyantuni anak yatim, saling bahu membahu yang diisyaratkan bahwa muslim satu dengan muslim lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi, mencintai fakir miskin, dlsb
yang menggambarkan bahwa sikap utama orang yang berikrar islam adalah harus melayani sesama
semuanya berhubungan erat dengan pelayanan atas alam semesta yang kita kenal dengan istilah rahmatan lil 'alamin

bukan hanya Rosululloh s.a.w, bahkan Alloh s.w.t pun memiliki sikap pelayan. sebagaimana tersirat dalam firmanNya "ud'uni astajib lakum" -memintalah akan aku perkenankan-
meskipun terbalut dalam bahasa yang elegan, namun esensinya adalah sama
melayani
karena sudah sangat fitrah jika manusia juga memiliki kefitrahan sikap melayani.
Maka agar tidak sampai salah kaprah, islam mendidik kita untuk mengarahkan fitrah pelayanan ini kepada hal hal yang lebih positif dan netral
bukan kepada hal hal yang negatif dan merusak
bukan melayani dalam kedholiman sehingga terbentuk kemungkaran kemungkaran
melayani kemungkaran artinya anda menyetujui atau membantu proses terjadinya kedholiman
maka dalam islam, kita ditekankan untuk ber-amar makruf nahi munkar
agar tidak terjadi proses saling membantu dalam berbuat kemungkaran
-wallohu'alam-

Sabtu, 20 Mei 2017

Menemukan kebenaran

Dalam setiap perputaran zaman, selalu ada kekeruhan dan penjernihan dalam hal kebenaran.
Ada suatu masa di mana tampak terang benderang mana yg benar dan mana yg salah. Layaknya kita melihat mana kursi dan mana kopi di siang hari.
Layaknya kita mengetahui dengan jelas mana bintang dan mana bulan di saat purnama.

Namun pasti ada pula suatu zaman yang namanya kebenaran dan kezaliman itu berbaur padu hingga kita tidak dapat membedakan mana itu yg haq dan mana itu batil
Manusia seolah meraba raba tentang kebenaran dan kemudian menyimpulkan beberapa hal yg justru jauh dari kebenaran itu sendiri.
Kita memang tidak akan pernah benar benar tau mana yg sejatinya haqq dan mana yg bathil jika kita sedang berada di dalam zaman yg seperti demikian itu
Demikian buram
Bahkan mengira yg benar adalah salah dan yg salah adalah benar
Naudzubillah mindzalik
------

Maka mari kita sama sama memohon kepada Alloh untuk ditunjukkan mana yg benar (haq) dan mana yg bathil (keliru)

Alloh adalah Dzat Yang Maha berfirman
Yg menjawab Doa dari setiap hambaNya yg berdoa
Yang Maha memberi petunjuk kepada hamba hambaNya yg memang benar benar mendambakan petunjukNya.

Dalam surah Al-Baqoroh, Alloh memberi gambaran tentang Adam a.s yg diturunkan ke bumi lantas DIA mewanti wanti agar adam a.s mengikuti petunjuk (huda) Nya agar ia tidak bersedih hati dan khawatir akan berbagai hal.
Dan hal ini tidak hanya berlaku untuk sayyidina adam a.s saja
Melainkan juga berlaku bagi kita hingga saat ini bahkan keturunan kita di masa yg akan datang.
Petunjuk dariNya tidak akan pernah ada putusnya, maka dari itu kita diajari olehNya melalui lisan nabiNya yg mulai s.a.w untuk memohon kepadaNya agar senantiasa mengenali petunjukNya (ihdina ash-shirotol mustaqim) dan mematuhi seruanNya.
------------

Di zaman sekarang ini, di tengah cepatnya pertukaran informasi
Banyak sekali gambar gambar atau tulisam tulisam yg sedikit banyak telah mempengaruhi sudut pamdamg dan cara berpikir kita.
Seperti halnya gambar singkat seperti yg saya lampirkan di bawah artikel ini.

Tentang dua orang yg memperdebatkan kebenaran dari sudut pandangnya masing masing.
Kita yg menyaksikan, apalagi jika dimintai pendapat oleh kedua kubu, bagaimanakah sikap kita?
Atau seolah olah gambaran itu memberikan kesan pemikiran "jika kita masih suka memperdebatkan sesuatu hanya karena sudut pandamg kita pribadi saja, maka kita adalah sosok yg ada di dalam gambar tersebut"
"Kalau kita perluas sudut pandang kita, seolah seolah dua orang itu adalah sama sama menyatakan kebenaran atas sudut pandangnya masing masing"

Kacaunya, seringkali kita hanya akan berhenti pada kesimpulan yg kedua tersebut tanpa melanjutkan dan memperluas lagi sudut pandang kita atas sebuah problematika.
Dan saat kita mulai meluaskan jangkauan pandangan kita, kita akan mendepati tentang ketepan dan kebenaran yg nyata. (Perhatikan gambar)
-------------

Sayyidina umar r.a, ketika dihadapkan kepada persoalan kaum muslimin yg mengadukan kedzaliman tetangganya bahwa budak dari tetangganya tersebut telah mencuri untanya, dan lantas si tersangka tersebut hampir tidak mau bertanggung jawab atas kelakuan budak budaknya. Maka sayyidina umar lantas bertanya kepada si budak mengapa ia sampai mencuri unta tetangganya.
Dan dari jawaban si budak, maka sayyidina umar baru bisa memahami yg terjadi lantas memutuskan hukum / penyelesaian bagi mereka.

Sikap seperti itu adalah sikap yg tertuang dalam gambar sebelah kanan.
Seandainya sayyidina umar kala itu hanya berhenti pada sudut pandang seperti pada gambar yg pertama (hanya tampak angka 6 dari kedua sisi) maka tentulah masalah yg ada tidak akan benar benar dapat diselesaikan.
----------------

Jadi kebenaran itu sendiri sebenarnya ada tiga jenis yg dapat kita pahami dari sudut pandangnya
1) benar individual
2) benar haqiqiyah
3) benar mutlak

Yg pertama adalah benar yg dilihat dari sisi egoisentris masing masing diri kita. Apapun yg beda dari kita adalah salah.
Hal yg seperti ini yg menimbulkan banyak pertikaian antar individu maupun kelompok / golongan.
Pada dasarnya pertikaian yg ada didominasi oleh sudut pandang egoisentris kelompoknya ataupun dirinya sendiri. Hal yg semacam ini adalah cukup jauh dari kebijaksanaan dan sangat jelas menunjukkan kedangkalan pola pikir. Padahal yg bersangkutan sendiri tidak benar benar tau apa yg terjadi sebenarnya.
Ini adalah seperti orang yg sakit tapi ia tidak tahu bahwa ia sedang sakit, atau seperti orang yg bodoh tapi ia tidak tau bahwa dia adalah bodoh sehingga sampai kapanpun kebidohannya tidak akan dapat terobati.

Yang ke dua adalah benar yg dilihat dari sudut hakikat. Karena segala sesuatu itu memang benar terjadi atas izin Alloh lantas kita membenarkan segala bentuk kemaksiatan yang ada dan membiarkannya menjamur begitu saja. "Faalhamahaa fujuroha wa taqwaha" dalihnya. Padahal firman Alloh itu sendiri adalah untuk mengusik kesadaran kita sebagaimana tertuang pada ayat berikutnya, "qod aflaha man zakkaha" beruntunglah bagi orang orang yg membersihkan jiwanya.
Pandangan semacam ini adalah pandangan yg bisa dikatakan masih blur
Pandangan seperti ini biasanya terjadi pada kalangan salikin yg berhenti bersuluk pada tataran menyatunya dirinya dengan alam semesta.
Memang benar adanya dalam wilayah itu, sensasi ketenangan luar biasa itu hadir, bahkan hampir hampir ra urus dengan kanan kirinya karena ia memandang serba benar semata. Orang berzina benar, minum khamr benar dll. Naudzubillah min dzalik.

Salikin memang tak boleh berhenti pada wilayah yg seperti itu
Ia musti melanjutkan perjalanan spiritualnya hingga mencapai wilayah yg ke tiga.
Memandang kebenaran yang memang sejatinya itulah kebenaran.
Keluasan yg lebih luas dari alam semesta
Keluasan yg lebih luas daripada luasnya wilayah hakikat
Di sinilah kita sama sama paham betul mana haq yg yg bathil (atas bimbinganNya)

Wallohu'alam bish-showab

Minggu, 09 Oktober 2016

Suluk Syar'i

Pernahkah kita menyadari bahwasannya seluruh tata laku peribadatan syariat
Tujuan utama adalah fana
Pelepasan akan keterikatan kita terhadap berbagai hal
Coba hayati benar benar ketika kita sedang menjalankan suatu peribadatan yg dianjurkan oleh syar'i
Hayati benar lalu masuki kedalaman dimensi dimensinya
Maka insyaalloh kita akan mendapati bahwa seluruh peribadatan itu adalah menuju kearah fana
Kosong, melebur ke dalam kuasa dan rahmatulloh
Inna lillagi wa inna ilaihi rojiun
Itu tujuan atau puncaknya
Senantiasa bersama Alloh dimana pun dan dalam kondisi apapun

Rukun islam misalnya.
Syahadat adalah proses penyadaran diri akan keesaan Alloh
Dalam perjalanan musyahadah,
Kita musti meniadakan ego kita
Kita melepaskan rasa ketertarikan dan keterikatan kita kepada selain Alloh
Lalu kita beranjak masuk dan melebur dalam keluasanNya
Wahidatusy-syuhud
Manunggal dalam kuasaNya s.w.t

Sholat, ini juga merupakan pelepasan terhadap gerak jasad
Manusia yang telah menyaksikan ketunggalan / keesaan Alloh
Semestinya ia juga harus tidak terjebak pada gerak jasad
Yang sejatinya merupakan gerakNya
Pandangannya musti tetap lurus memandang Sang Penggerak
Hal ini musti istiqomah ditempa terus
Yakni dengan sholat
Semakin sering kita menempa diri dengan tidak terpaku pada gerak lahiriah,
InsyaAlloh semakin fana dan mantab penyaksian kita dihadiratulloh

Puasa, pun demikian.....
Menanggalkan rasa, melepaskan diri dari hasrat rasa
Para pejalan suluk, ditengah perjalanannya
Sering kali terpaku pada rasa
Berbagai macamdan bentuk rasa
Rasa malak, rasa rasul, rasa tuhan sendiri dlsb
Sebaiknya itu semua dilewatinya hingga benar benar haqq apa yang disaksikannya
Memang benar merasakan hadirNya adalah sama dengan menyaksikanNya
Namun untuk benar benar mamandang samudra, tak mungkin kita hanya mencicipi asinnya lautan dari tengah pusat kota saja.

Zakat dan haji juga sudah barang pasti kita semua paham pelepasan apa yang diajarkan dan ditempa dari peribadatan teresebut.

Demikian pula adanya berbagai macam wirid syar'i
Yang sudah turun temurun diwariskan oleh baginda nabi s.a.w melalui para ulama r.a
Coba hayati , dalami, dan masuki
Seluruhnya akan membawa anda panda kondisi fana fillah.
Semestinya, seorang salik tidak lagi terpaku pada lisan jika memang ia sudah menjalani apa yang dibacanya
Awalnya iya memang musti paham apa yang dibacanya
Selanjutnya itu yang saya maksud dengan tidak terpaku pada lafadz yang keluar dari lisan

Wallohu'alam bish-showab
Silahkan diselami sendiri sendiri peribadatan peribadatan dan wirid yang selama ini sedang kita tunaikan.
Al-fatihah

Selasa, 23 Agustus 2016

Membran Semesta

beberapa dari kita mungkin masih bertanya tanya
apa itu membran semesta?
seperti yang telah saya tuliskan di postingan sebelumnya yang berjudul kemerdekaan sebagai membran semesta

kalau kita sadari, sebenarnya kita semua tidak pernah saling bersentuhan
baik saya terhadap anda meskipun kita sedang berjabat tangan
ataupun antara kita dengan berbagai materi yang ada di lingkungan kita
ada batas - batas halus yang seperti gelombang elektromagnetik yang menyekat materi pembentuk diri kita dengan materi pembentuk benda yang lain
sekat tipis itulah yang saya katakan sebagai membran semesta

seluruh pergerakan dan kegiatan semesta tak pernah terlepas dari membran semesta tersebut
bahkan diri anda dengan anda pun tersekat membran semesta tersebut
"Aku Lebih Dekat Daripada Urat Leher Mereka Sendiri"
Alloh berfirman yang intinya seperti itu
yaa.... melalui membran semesta itulah setidaknya dapat kita terjemahkan bahwa Alloh sangat berkuasa atas segala sesuatu melalui itu.
meskipun tatkala nanti kita kupas lebih dalam lagi
ada membran di antara membran
demikian itulah Alloh
tak pernah dapat tersentuh oleh pemahaman makhluq secara totalitas
Dia senantiasa di atas segala sesuatu

oke kita lanjutkan
Alloh al-Wasi' , Alloh Al-bathin, Alloh al-lathif , Alloh al-Akbar
dan hampir seluruh nama - nama keagunganNya dapat kita akses dan fahami secara halus melalui membran semesta ini
Alloh yang Maha Megatur, Alloh yang Maha Mengetahui, Alloh yang Senantiasa bersama Hamba - HambaNya di manapun hambaNya berada
sekiranya mulai dapat kita tangkap secara nalar melalui ini
InsyaAlloh
Alloh mulai memperkenalkan diriNya ke alam pikir manusia
meskipun alam pikir manusia tidak akan pernah menemukan dan menyentuh secara benar - benar dan sebenar - benarNya
maka dari itu Alloh kemudian berfirman, "Aku sesuai persangkaan hambaKU"

membran semesta inilah yang oleh sebagian manusia jawa dikatakan sebagai Rasa.
maklum, seperti yang sudah di singgung sebelumnya, istilah Rasa itu pun merupakan suatu istilah yang paling mewakili untuk mengungkapkan membran semesta ini
maka tidak heran jika hal ini tidak tertangkap otak dan panca indra
keberadaannya hanya bisa dirasakan saja oleh manusia

di zaman ini, mungkin istilah yang lebih mendekati lagi adalah kesadaran
setelah kita merasakan keberadaannya, selanjutnya kita sadari keberadaan itu
dengan sadar inilah kita akan mengenalinya

oke kalau kita sudah menyadari keberadaan membran semesta ini
mari selanjutnya kita coba melangkah lebih ke dalam lagi
siapa yang ada di sebalik antar membran semesta ini ....
silahkan ditembus lebih dalam lagi

dan sekali lagi tentu cara menemukannya bukanlah dengan pikiran anda yang penuh dengan prasangka
melainkan dengan rasa yang disambung dengan kesadaran
coba rasakan saja ......

Yaa Alloh kita akan merasakan kenyataanNya
yang tak akan pernah dapat kita ungkap seperti apa dan bagaimanaNya
mentok kita akan mengakui sabdaNya "Laitsa Kamitslihi Syaiun"

silankan tenangkan diri anda dan mulailah menyadariNya
wallohu'alam bish-showab

Rabu, 17 Agustus 2016

Menegakkan Syari'at

What the meaning of syariat?
hihihi gaya ...... bahasa linggis ....
Rosululloh s.a.w pernah bersabda, "kutinggalkan dua perkara kepada kalian yang apabila kalian berpegang padanya, kalian akan selamat ditengah kerusakan umat. dua perkara itu adalah al-qur'an dan sunnahku"
intinya demikian itu, untuk redaksi jelas kalimatnya silahkan search saja di kumpulan hadist shahih virtual.
next.... dua perkara tersebut adalah al-qur'an dan as-sunnah.
Al-qur'an,,, bukan tafsir al-qur'an....
dan as-sunnah,,, bukan riwayat sunnah.
dua paket itulah yang disebut sebagai syariat. atau singkat kata syariat adalah pemadatan partikel wahyu atau pematerialan kalam wahyu ilahiah. al-qur'an sebagaimana yang kita kenal dan tampak layaknya untaian kata, itu adalah pemadatan spiritual. bentuk materi dari kabar ruhaniah.
sejatinya al-qur'an kan bukan itu (yang berupa untaian kata). sejatinya al-qur'an adalah apa yang tertanam di dalam fitrah setiap partikel alam semesta termasuk diri kita. nah wujud daripada sunnah adalah gerak laku daripada ketaatan kita atas perintah ilahi di dalam diri kita.
kalau anda sempat mempelajari kisah nabi s.a.w yang dikatakan sebagai al-qur'an yang berjalan, dan anda mempelajari riwayat sunnah nabawi. tentu anda akan mendapati bahwa tidak satu celahpun dari sunnah itu yang menyelisihi al-qur'an. yang seperti itu sudah barang pasti karena sunnah dan al-qur'an itu satu paket.
al-qur'an itu perintah Alloh, assunnah itu amaliahnya.
kalau kita menemukan secarik perintah Alloh di dalam bathin kita, itulah al-qur'an. dan apabila kita menjalankan perintah tersebut, itulah yang disebut dengan sunnah.
kalau tidak percaya, coba samakan antara perintah itu dengan Al-Qur'an yang tertulis dan assunnah, sudah pasti selaras.
lho kok gitu? bagaimana bisa mengenali perintah Alloh di dalam diri? lantas kalau sudah demikian apa gunanya al-qur'an yang tertulis itu?
al-qur'an yang tertulis itu adalah ibarat penyelaras pikiran. seringkali pikiran itu memang tidak percaya / ragu akan ilham iliahiah yang ditangkap oleh jiwa. al-qur'an yang tertuils itu yang akan membuktikan kebenarannya. lain waktu semoga diberi izin oleh Alloh untuk ngobrol tentang hal tersebut.
sedangkan cara mengenali perintah Alloh tentu saja dengan sering berlatih. yakni berlatih untuk mengenali perintah dari hal - hal yang paling sederhana. contohnya perintah Alloh atas nafas kita, perintah Alloh atas segala gerak tubuh kita dlsb.

kembali pada penegakan syariat.

setelah kita tahu bahwa syariat adalah dua paket tersebut diatas (al-qur'an dan as-sunnah), maka selanjutnya insyaAlloh kita paham bagaimana tentang istilah menegakkan syariat itu.
sesuatu itu akan tegak apabila ada penopang yang kuat dari dalam.
tubuh kita bisa tegak, karena ada tulang keras yang menopang dari dalam tubuh kita.
bendera (umbul - umbul) itu bisa tegak menjulang karena ada tiang penyangganya.
demikian juga syariat, dia akan otomatis tegak tatkala ada yang menopangnya
apa itu yang menopangnya? tentu saja ruhaniahnya al-qur'an tersbut. anda tidak akan pernah menemukan ruhaniahnya al-qur'an tanpa anda menyadari peranan Alloh atas diri anda dan alam semesta. sadar akan peranan Alloh atas diri kita dan alam semesta inilah yang ramai disebut - sebut sebagai makrifatulloh.
Maka sudah sangat jelas bukan ketika nabi yang mulia s.a.w mengabarkan, "awwaludin makrifatulloh".
kunci dari tegaknya segala sesuatu adalah inti daripada sesuatu itu sendiri. sebuah spirit yang menyebabkannya tegak.
hasrat; daya yang beberapa hari sempat kita singgung.
oke,,,, semoga kita semua diberi paham oleh Alloh,,, tulisan iini cukup panjang dan waktu terus bergulir... (harus segera mergawe) menjalankan sunnahNya...
alfatihah ....... 

Minggu, 14 Agustus 2016

Stabilisasi Syari'at

Syari'at itu mencakup dimensi dhohir dan bathin
bagi seorang hamba yang kesadarannya masih dalam tataran kesadaran materi, syariat diperlukan baginya untuk membiasakan diri jasadnya agar berlaku baik (hasan)
juga untuk membangkitkan gairah / kerinduan untuk berhijrah menuju kesadaran jiwa
yaitu tataran kesadaran yang lebih tinggi dan mendalam lagi daripada kesadaran materi

dalam tataran kesadaran jiwa pun, syariat tetap berlaku dan dibutuhkan untuk menyeimbangkan dan menjaga spirit dalam perjalanan hijrah tersebut (suluk)
seandainya ia melupakan syariat yang notabene mengatur langkah jasad /materi, tentu ia akan bermalas - malasan
walhasil jiwanya vakum, mandeg, bahkan terjatuh lagi dalam kesadaran materi
jika sudah demikian, ia akan merasakan kegalauan dan kegetiran laksana ia berada di dalam neraka
sampai ia memulai lagi perjalanan jiwanya dari syariat kesadaran materi

demikian pun jika ia telah semakin masuk ke dalam kesadaran ilahiah
yakni kesadaran yang lebih tinggi dan dalam lagi daripada kesadaran jiwa
syari'at itu dibutuhkan untuk menyelaraskan jasad - jiwa - ruh nya

Manusia yang telah selaras antara jasad - jiwa - ruh nya
maka dialah yang disebut sebagai insan kamil
manusia yang sempurna; khalifatulloh; waliyulloh
atau lebih pantas ia disebut sebagai hamba Alloh (abdulloh)
sebagai penghormatan atas penghambaannya kepada Alloh
Jasadnya sujud, Jiwanya rukuk, Ruhnya jumeneng (Aqimish-sholah)
senantiasa sambung dirinya dengan alloh
menegakkan sholat dalam setiap waktu
itulah yang disebut sholatud-daim
sholat yang berkepanjangan

Jumat, 12 Agustus 2016

antara ILAH dan ROBB

افضل ذكر فعلم انه لا اله الا الله 
seutama utamanya dzikir, ketahuilah bahwa ia adalah Laa Ilaha Illa Alloh (tiada sesembahan kecuali Alloh)

mengapa Alloh menggunakan redaksinya dengan lafadz ilaha (اله) bukan Robbun (رب) ???

ketika manusia berdzikir, hendaknya bukan hanya berdzikir secara lisan saja
melainkan akal dan hati juga turut berdzikir
dan yang paling penting dan paling inti adalah bahwasannya kesadaran juga musti dzikir
yakni dengan menyadari kehadiran Alloh dibalik segala sesuatu yang tampak materi
dzat yang maha tak tergambarkan (laitsa kamitslihi syai'un)

dengan menyadari akan kebersamaan kita dengan Alloh dalam segala hal
itulah sejatinya yang disebut dengan dzikir
Laa Ilaha Illa Alloh adalah kesadaran mengenai ketiadaan segala sesuatu hal pun yang luput dari af'al Alloh (perbuatan Alloh)
tak ada satu hal pun yang terlepas dari shibghotalloh (celupan / campur tangan Alloh)

ilaha (اله) adalah sebuah perjalanan spiritual yang lurus hanya menuju kepada Alloh
- Alif, merupakan sebuah simbolisasi peta (panduan) dari Al-Haqq untuk membawa masuk setiap hamba - hambaNya pada jalan yang lurus. Hendaknya bagi setiap pejalan spiritual (salik) teguh pada satu tujuan lurus yang mengantarkannya pada jalan lurus menuju Allohul-Haqq
keteguhan untuk tetap berada pada tujuan yang satu -Alloh- itulah yang akan memposisikan kita pada satu jalan lurus. jalan yang penuh cahaya dan petunjuk (shirotol-mustaqim)

-Lam, merupakan simbolisasi untuk mengingatkan kita agar kita senantiasa bergantung hanya kepada Alloh. Dzat Yang Maha Membimbing dan Memberi Petunjuk kepada siapapun yang dikehendakiNya.
pada intinya mengajak kita untuk tetap beristiqomah pada satu tujuan dan satu jalan. senantiasa bersama Alloh dalam segala hal. hingga kita benar - benar sampai pada kondisi mati (inna lillahi wa inna ilaihi roji'un)

-Ha, ujung dari perjalanan adalah kematian, keberserahan / islam. penyaksian secara mendalam dan nyata (Haqq) mengenai makna dari lafadz Laa-Haula-Walaa-quwwata-illa-billah. Ha' adalah simbolik dari kondisi fana fillah, zero, fitrah diri manusia.

maka sesungguhnya dzikir laa-ilaha-illa-Alloh adalah merupakan perjalanan lurus nan suci. tidak tercampur niat apapun selain menuju kehadiratNya. yang kan mengantarkan diri tiap - tiap hamba untuk kembali mencapai titik fitrah dirinya.

manusia, seorang hamba yang sampai pada titik fitrah dirinya tentu akan sampai pula pada kondisi Aslim (islam). yang merupakan bentuk penyerahan diri secara totalitas kehadirat Alloh s.w.t.
قال اسلمت لرب العالمين

mengapa tidak menggunakan kata 'Robbun' saja??
Robbun adalah bentuk penguasaan Alloh akan segala sesuatu
manusia tidak dapat meloncat langsung pada dimensi Robbun
tanpa ia berjalan lurus dan istiqomah hingga ia sampai pada keadaan fana fillah
sebagaimana dijelaskan pada litelatur perjalanan lafadz ilaha di atas

manusia yang perah berada dalam titik ha', titik fana; titik islam
barulah ia dapat menikmati dimensi robbun

yang dimaksud penguasaan Alloh atas segala sesuatu adalah bahwa dimensi Robb adalah wilayah pengejahwantahan Alloh
hanya dengan berjalan lurus dan istiqomah
hanya bersandar pada Alloh lah seorang hamba akan benar - benar dapat menyaksikan dimensi Robbun ini
dimensi dimana tampak secara nyata Alloh mengatur segala partikel yang ada segenap ufuk alam semesta
sebagaimana firmanNya dalam al-qur'an yang maknanya, "tidaklah satu zarroh pun di alam semesta ini melainkan bergerak karena izin Alloh ta'ala"

sedangkan mengenai firman Alloh di dalam surah An-Nass yang juga merupakan petunjuk jalan kembali
adalah bahwa Robb adalah zat yang menyelimuti / mengejahwantah dalam segala sesuatu benda yang tampak materiil

قل اعوذ برب الناس
Robbin-Nass adalah eksistensi yang paling mutlak di balik segala bentuk keberadan
segala bentuk yang tampak seolah ada / hidup
eksistensi yang menguasai dan mengatur segala sesuatu
ملك الناس
Malikin-Nass adalah bentuk pemerintahan Alloh atas segala sesuatu
Dia (Alloh) yang setelah mengejahwantahkan DiriNya
dia kemudian menggerakkan seluruh partikel / zarroh yang adal di alam semesta
اله الناس
ialah dimensi suci sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya
dengan kata lain, "Robb" adalah menunjukkan tempat materi
"Malik" menunjukkan adanya hakikat jiwa
"Ilah" menunjukkan hakikat tertinggi yang terpancar dan terpaut dengan eksistensiNya

kembali pada makna terdalam dari Dzikir Laa-Ilaha-Illa-Alloh
adalah pencapaian manusia / hamba pada dimensi tertinggi
kesadaran tertinggi
yakni kesadaran ilahiah yang sering kita sebut dengan istilah supra sadar
dimana kita selalu menyadari betul akan kebersamaan dan kesinambungan kita dengan Alloh

Minggu, 06 Maret 2016

Sisi Lain Pendengaran

Litelatur datangnya pentunjuk itu melalui pendengaran
Kalam yang terdengar sesungguhnya dapat membolak balikkan hati maupun pikiran

Maka salah satu hal yang selaras dengan cahaya adalah suara
Memiliki getaran yang hampir sama
Terkadang cahaya ilahiah merasuk melalui pendengaran
(Suara yang tertangkap indra pendengaran)

Kalau hati seseorang itu terlampau beku atau kotor atau berkerak,
Apabila hati seseorang itu tak mampu menangkap cahaya dengan sendirinya
Karena terlampau sedemikian kotor atau berkeraknya
Atau cahaya fitrah di dalam hatinya tak mampu mendobrak kurungan kerak hati,
Maka salah satu bantuan yang dapat menggugah atau mencairkan hatinya Sehingga hatinya kembali bening
adalah dengan gelobang suara melalui pendengaran itu

Tak mengherankan jika ada suatu kisah yang menceritakan kisah tentang perjumpaan seseorang dengan nabi khidhir
Yang kemudian Sang Khidhir menyampaikan kabar bahwa jalan untuk menemui Hakikat adalah terletak pada telinga

Petunjuk yang didapat dari mendengar ini barulah kemudian ditulis
Diwujudkan dalam untaian aksara sebagai media pengingat
Karena jika tanpa ditulis, kebanyakan manusia akan melupakannya
Sedangkan fitrah manusia sebagaiannya adalah lalai / lupa

Hal semacam inilah yang dialami oleh baginda nabi tercinta s.a.w
Beliau mendengar dari jibril a.s
Lalu disimpan dalam memori ingatan beliau
Untuk kemudian disampaikan pada sahabat beliau r.a

Sahabat yang mendengar dari beliau s.a.w kemudian menyimpan juga dalam memori ingatan
Lantas kemudian menuliskannya untuk dapat diingat selamanya

Namun yang terjadi sekarang seringkali terbalik,
Kebanyakan melihat tanpa mendengar
Dan yang dilihat hanyalah tulisan
Penglihatan yang tak disertai pendengaran akan menghasilkan pemahaman yang buram

Terlebih jika tak disertai pendengaran yang sejati
Pendengaran yang bukan dari telinga fisik

فإنك لا تسمع الموت ولا تسمع الصم الدعآء اذا ولوا مدبرين
Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang orang yang mati itu dapat mendengar, dan tidak pula menjadikan orang orang yang tuli itu dapan mendengarkan seruan, Apabila mereka itu berpaling membelakang"
(Ar-Rum : 52)

Senin, 22 Februari 2016

Pintu kemenangan

بسم الله .... بسم الله .... بسم الله ....

Romadhon adalah wilayah penerang untuk bersuci,
Tentunya bukan lagi bersuci secara lahiriah
Lahiriah kita dapat disucikan dengan air, dengan cara berwudhu atau mandi jinabat

Batiniah kita, sisi yang lebih hakiki dalam diri kita
Cara bersucinya adalah dengan bermandikan Rohman RohimNya (Alloh)

Di bulan romadhon, mafhumnya selama bulan romadhon,
Tersimpan begitu banyak Daya ilahiah berujud rohman , rohim serta maghfirohNya
yang terbentang luas di seluruh permukaan hingga penjuru penjuru dunia
Bahkan seluruh alam semesta

Maka pantas jika para arif billah / ulama fillah mengibrohkan
Bahwa bulan puasa sebagai bulan bersucinya ruh
Kalimah lengkapnya beliau beliau rohimahullohu lahum, "Rojab merupakan bulan untuk mensucikan jasad, sya'ban untuk mensucikan jiwa, Romadhon untuk mensucikan ruh"

Kembali lagi bahwa romadhon adalah bulan yang paling pas untuk bersuci
Mengibrohkan kita akan bersuci menjelang sholat
Mengingatkan kita pada sholat yang sejati
Yakni sholat yang tak terbatas waktu

Dalam romadhon, kita diajarkan untuk mensucikan diri
Yaitu dengan meninggalkan apa apa yang disukai oleh ego kita
Kita meninggalkan makan, yang mana pada siang hari merupakan waktu makan yang melezatkan
Sedangkan kita berbuka pun demikian
Kita dilatih untuk tidak berbuka secara berlebihan
Bahkan ketika sahur pun juga demikian
Sedang pada hari hari selain romadhon kita terbiasa berlebih lebihan hampir pada hal apapun

Inti dari romadhon adalah mengajarkan sekaligus membiasakan diri kita untuk tidak memanjakan nafsu atau keinginan keinginan yang melelapkan
Yang bisa kita katakan sebagai ego

Keluar dari romadhon kita diajarkan untuk berzakat fitrah
Yang menurut baginda nabi s.a.w yang disampaikan secara turun temurun oleh para ulama adalah merupakan media untuk membersihkan diri
Waktu untuk berzakat adalah pada akhir romadhon

Tepat sekali, dan samgat jelas bahwa serangkaian puasa romadhon tujuan akhirnya adalah bersihnya diri
Bersihnya diri adalah bentuk dari maghfirohNya
Yang turun bagi hamba hambaNya yang benar benar berserah

Maka sangat benar jika baginda nabi yang terpuji s.a.w bersabda, "merugilah orang orang yang tak terampuni apabila romadhon telah lewat"

Bagaimana mungkin Alloh tidak mengampuni ketika para hambaNya menunjukkan kesungguhan kesungguhan mereka dalam berjuang untuk mendapatkan ridhoNya
"Orang yang berperang di jalan Alloh adalah Syahid"
"Jihad yang paling besar adalah Jihad melawan hawa nafsunya sendiri"

Demikianlah romadhon, mengajarkan kita untuk senantiasa berjihad tiap hari selama satu bulan penuh
Dan ini tidak hanya berlaku pada bulan ramadhan saja
Melainkan terus berlanjut
Hal ini tampak jelas pada saran yang mulia untuk berpuasa di 6 hari syawal
Jadi bukan hanya pada romadhon saja
Melainkan di luarnya juga

Sedangkan siapa saja yang menjalankan romadhon, ia akan menemui zakat fitrah
Zakat = perbersihan
Fitrah = kemurnian
Zakat fitrah => pembersihan untuk kembali pada fitrah

Inilah yang disebut minal aidzin wal faizin
"Dari golongan yang kembali dan menang"

Yakni golongan yang fitri, yang benar benar telah inna lillahi wa inna ilaihi rojiun
Yang telah benar benar mengembalikan segala urusannya kepada Robb semesta alam yang maha mengatur dan maha meliputi
Kepada Robb Sang pemilik segala kehendak sekaligus Robb yang mengurusi segala urusan

"Wal faizin" / dan menang

Siapapun yang telah berserah total hanya kepadaNya
Maka baginyalah segala kemenangan
Terbuka dan terbentang luas baginya jalan keluar dari segala kesempitan

اذا جآء نصر الله والفتح # ورايت الناس يدخلون فى دين الله افواجا # فسبح بحمد ربك والستغفر ، انه كان توابا

Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan, dan engkau telah menyaksikan orang orang berbondong bondong masuk dalam agama (diin) Alloh, maka bertasbihlah dengan memuji Robbmu dan beristighfarlah. Sungguh Dia maha penerima taubat

Kamis, 18 Februari 2016

Bersuci dan Eksistensi Syirik

Uيا ايها الذين امنوا انما المشركون نجس، فلا يقربو الميجد الحرام بعد عامهم هذا. وان حفتم علية فسوف يغنيكم الله من فضله ان شآء ، ان الله عليم حكيم
---------------

Wahai orang orang yang beriman (يا ايها الذين امنوا)
Yakni orang orang yang telah mengamankan hati mereka daripada apapun yang selain Alloh.

Kata "amanu" ini satu akar dengan "amana" dan "amina".
Seolah Alloh hendak menunjukkan bahwa orang orang yg telah mengamankan hatinya dari selain Alloh, membuang segala sesuatu yang bukan Alloh, maka ia dipastikan mendapatkan cahaya iman. Keyakinan yang haq.

Sedangkan mereka yang sudah dilimpahi cahaya iman, maka baginya kesejahteraan berupa "amina". Siapapun yg bersamaNya, maka pasti akan sejahtera dan aman.

Sebagaimana sabda baginda nabi s.a.w, "orang orang beriman adalah mereka yang dapat menjamin keamanan harta saudaranya, darah saudaranya, dan juga kehormatan saudaranya"

Kalau sudah menyentuh saudara, maka siapa di antara kita yang tidak bersaudara?
Semua satu dan saling terhubung
Sesungguhnya kita semua memang saudara

Namun kemudian Alloh menjelaskan.....
انما المشركون نجس
Sesungguhnya orang orang yang syirik (musyrikun) itu najis.

Yaitu mereka yang menyekutukan Alloh dalam hal apapun,
Di zaman ini memang tak banyak,
Bahkan tak ada patung patung patung (layaknya zaman jahiliah dahulu) yang disembah
Namun bukan berarti tidak ada yang menyembah patung dan berhala
Berhala berhala dan patung patung itu justru kebanyakan berada di dalam hati masiing masing pelakunya

Kemudian ditegaskan bahwa orang musyrik itu najis.

Mari kita masuk lagi ke dalam makna najis.
Najis itu merupakan apa apa yang mencampuri sesuatu yang suci, sehingga kesucian itu menjadi pudar nilainya

Setelah itu mari kita berkaca,
Mari kita tengok ke dalam diri dan hati kita masing masing kita
Apakah kesucian kita sudah tertempeli macam macam hal, ataukan masih suci?

Kalau masih tertempeli bermacam macam hal, mari kita sucikan segera.
Ingat, dalam kaidah fiqh, sesuatu yg paling afdhol untuk bersuci adalah air suci yang mensucikan.
Namun berhubung ini yang hendak disucikan adalah hati dan eksistensi sejati diri kita, maka kita perlu mendalami makna "air suci mensucikan"

Dalam suatu hadist dikatakan bahwa 'arsy Alloh, di bawahnya adalah air yang sangat jernih
Namun tidak dijelaskan seberapa luasnya
Yang dapat kita ketahui dari khabar lain adalah bahwa arsy Alloh lebih luas dari 7 langit dan 7 bumi.

Nah, dengan memanfaatkan air ghoib inilah kita akan bersuci
Sesungguhnya air inu terhubung pada diri manusia
Letaknya pada darah dan cairan cairan tubuh yang lain

Selama ini mungkin darah kita belum benar benar bersih ataupun jernih
Maka diperlukan pengendapan yang benar,
Yakni dengan duduk hening
Selanjutnya diperlukan juga proses penjernihan dari dalam
Yakni dengan dorongan keluar masuknya nafas yang juga mengikat darah

Baginda nabi s.a.w bersabda, "sesungguhnya setan bergerak / berjalan - jalan pada aliran darah manusia"

Dalam kesempatan lain, beliau juga mengabarkan bahwa setan akan melemah jika kita berdzikir

Inilah kunci bersuci untuk diri kita
Satu satunya yang konsisten menyertai darah adalah oksigen.
Maka kita buat oksigen yang kita hirup untuk turut berzikir sehingga apa yang ada (kotoran) di dalam darah (baca: setan) dapat dilemahkan
Dan semoga diri kita benar benar teraucikan.
-amin-

Jika kita dapati diri sudah bersih dari apa apa selain Alloh.
Atau sudah disucikan seperti di atas, maka kita harus waspada.
Sebagaimana firmannya...

فلا يقربو المسجد الحرام
"Maka janganlah mereka mendekati masjidil haram"

Masjid adalah tempat sujud atau tempat menyembah
Masjidil haram adalah suatu wilayah atau tempat bersujud, yang mana tidak boleh (haram) ada apa apa di sana selain yang menyembah dan yang disembah

Ini bukan masjidil haram yang di tanah arab sana
Melainkan masjidil haram yang ada di dalam diri
Yakni hati (qolbu), atau lebih dalam lagi dan terserah untuk penyebutannya.
Yang jelas masjidil haram adalah wilayahnya
Penyembahan yang tidak boleh ada sesuatu apa pun di dalamnya selain yang menyembah dan yang disembah

Maka diingatkan oleh Alloh,,, "janganlah mereka mendekati masjidil"

Yakni kemusyrikan kemusyrikan itu tadi
Segala sesuatu yang selain Alloh tidak diperkenankan ada di sana

Dan juga bermakna, "janganlah biarkan orang orang yang masih penuh dengan prasangka dan apa apa selain Alloh mempengaruhi keimananmu. Membuatmu kembali ragu dan kemudian dirimu menjadi tak suci lagi. Janganlah najis itu sampai menguasai kesucian. Jika itu terjadi, bersucilah lagi,, lagi,,, dan lagi..."

Kebanyakan kemusyrikan itu masuk melalui harta - benda - kekayaan.
Maka Alloh kembali menegur kita

"وان خفتم عيلة فسوفف يغنيكم الله من فضله"
Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Alloh nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya

Bagian ini sudah sangat jelas, apabila kita khawatir akan kemiskinan
Maka sepatutnya kita menyadari bahwa rahmat, kasih sayang dan keagungan serta kekayaan Alloh akan mencukupi tiap tiap urusan hambaNya.

Jangan sampai kemusyrikan kemusyrikan itu merasuki dan meracuni lagi melalui jalan harta benda dan kekayaan

"ان شآء"
Tinggal kita yakin atau tidaknya yang akan mempengaruhi tersambungnya limpahan rahmat Alloh tersebut

"ان الله عليم حكيم"
Sesungguhnya Alloh maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...