Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Kamis, 21 November 2024

Akar dari Sikap Sabar

 

الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

"(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan sholat, dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka."

(QS. Al-Hajj 22: Ayat 35)

===================


Jumhur mufassirin sepakat menyatakan bahwa ayat ini adalah penjelas dari ayat sebelumnya, yakni qs.al hajj : 8 :

..... "فالهكم اله وحد فله اسلموا ، وبشر المخبتين"

_....."maka, Tuhan kalian adalah Tuhan yang Esa, maka berserah dirilah kalian kepadaNYA, dan Berilah kabar gembira kepada orang² yang patuh"._


---

Sayyid Qutb dalam tafsir FiZilalil Qur'an menyebutkan bahwa Bergetarnya Hati orang² yang beriman adalah bentuk kondisi psikologis dari kesadaran akan keagungan Alloh. Ketika asma Alloh disebut, hati mereka langsung merespon dengan getaran karena saking hormatnya kepada Alloh.


Getaran dalam hati, sering dikaitkan dengan ketakutan. Meskipun sebenarnya makna sebenanrnya bukan semata² "takut". Orang yang saking hormatnya kepada sosok yang diagungkannya pun, ketika berhadapan juga akan menjumpai getaran hati yang serupa. Pun ketika bertemu dengan apapun yang ia cintai, ia rindukan, getaran hati itu juga pasti akan hadir menyertai.


Maka dalam Ayat ini, rasa takut ini disebutkan dengan lafadz "wajilat", bukan "khouf" ataupun "khosyiya". Karena lafadz "wajilat" (وجلت) dalam sastra arab berarti getaran dalam hati disebabkan rasa hormat yang mendalam akan pengagungan terhadap apa apa yang ada dihadapinya. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh sayyid qutb di atas.


Dan tentu ini sangat senada dengan pengalaman para pejalan spiritual, khususnya pengamal Dzikir Nafas Sadar Alloh. Dimana ketika kita menyadari Alloh secara haqq, hati kita bahkan seluruh badan kita akan tergetar. Tak peduli getaran itu halus ataupun bergemuruh.


Selanjutnya, getaran itu akan berlanjut dalam bentuk gerak takwa. Yakni pengamalan sikap² yang terpuji dalam islam. Seperti halnya disebutkan dalam ayat tersebut yang berupa tindakan sikap sabar, mendirikan sholat dan menginfakkan hartanya.


Tentu itu semua didasari karena Alloh semata, karena sejak awal getaran yg hadir dalam dirinya adalah diakibatkan akan pengagungannya kepada Alloh azza wajalla.


Kemudian tadabburan kami dalam Waskita Qur'an kali ini bertitik berat juga pada penyebutan kata "sabar" yang beriringan dengan "wajilat qulub" dan "muqimish sholat". Artinya, sabar itu bukanlah sikap yang didasari akan paksaan. Melainkan didasari karena kerelaan.


Sabar menghadapi apapun karena ia tahu bahwa segala apapun yang terjadi pada dirinya pastilah karena Alloh semata. Sehingga ia benar benar rela atas apa apa yang menimpanya. Maka dasar dari rasa sabar yang berupa kerelaan ini pernah dicontohkan oleh para Sahabat r.a di zaman Nabi Muhammad s.a.w, yakni ketika Rosulullah bertanya kepada para sahabat tentang bagaimana keadaan mereka, mereka pun menjawab bahwa mereka dalam keadaan ridho atas Alloh. Baik sebagai ilahnya maupun mengenai segala ketentuanNya.


wallohu'alam bish-showab

Penanggung Jawab utama

 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَاۤ    ۖ اِنَّا لَذَآئِقُوْنَ

"Maka pantas putusan (azab) Tuhan menimpa kita; pasti kita akan merasakan (azab itu)."


فَاَ غْوَيْنٰكُمْ اِنَّا كُنَّا غٰوِيْنَ

"Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami sendiri, orang-orang yang sesat.""

(QS. As-Saffat 37: Ayat 31-32)


==================


Potongan ayat ini merupakan serangkaian dari kisah yg berlatar "yaumil hisab". dimana ada segolongan orang sesat yang saat dihisab berdialog dengan pimpinannya yg saat di dunia mengajak mereka dalam kesesatan.

Orang² tersebut mengaku tersesat karena telah diajak oleh pemimpinnya dalam kesesatan. Sedangkan si pemimpin kaum tersebut, mengakui bahwa dirinya pun memang berada dalam kesesatan. Namun ia juga mengaku bahwa ia tidak ada kemampuan untuk menjadikan mereka (kaumnya) untuk tersesat, melainkan karena sejak awal mereka sendiri telah berada dalam tabiat kesesatan yang serupa.


Menyikapi fenomena ini, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Qur'an mengambil sudut pandang yg agak lain daripada mufassirin lainnya. Dimana beliau r.a melihat dari ayat ini bahwa manusia² yang tersesat cenderung akan mencari 'kambing hitam' atas apa apa yang menimpa pada mereka. Meskipun pada akhirnya mereka sendiripun akan tersadar bahwa penanggung jawab paling utama atas apa apa yg menimpa mereka adalah dirinya sendiri. Seperti halnya fenomena tersebut, mereka tersesat, pada dasarnya adalah karena sejak awal dalam hati mereka sudah menyimpan keraguan yang serupa, sehingga ketika ada oknum lain yang mengajak mereka pada kesesatan maka mereka pun spontan akan mengikutinya.


Sekiranya sejak awal di dalam hati mereka tidak ada kecenderungan dalam kesesatan, tentu ajakan berupa apapun tidak akan berefek atau tidak akan mampu mempengaruhi mereka.


Maka benarlah Firman Alloh s.w.t di ayat lainnya yg menegaskan bahwa perubahan atas suatu kaum itu dapat disebabkan tatkala mereka merubah tabiatnya sendiri.


Senada dengan Fi Zilalil Qur'an, Tafsir Kemenag RI menjelaskan bahwa pada dasarnya pengikut² yg tersesat itu mengikuti pemimpin²nya dikarenakan oleh tabiat dan usaha mereka sendiri untuk meraih jalan kesesatan itu.


---

Sebagai antitesis, tentu ini juga berlaku bagi orang² yang beriman. Dalam artian, kalau memang dalam hatinya penuh dengan keimanan maka ia tidak akan pernah mudah terpengaruh oleh ajakan kesesatan bagaimanapun lihainya para penyesat itu bersilat lidah. Sebaliknya ia akan mudah termotifasi dalam hal hal kebenaran.


Intinya, tabiat dan isi hati sejatinya berkitan erat dengan kesadaran yg telah dianugerahkan Alloh dalam dirinya. Mau diarahkan kemana kesadarannya, akan mempengaruhi cara berpikir dan merespon segala hal yg ada di sekelilingnya.


Wallohu'alam bish-showab

Dirajam Nafsu

 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


قَا لُوْا لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰـنُوْحُ لَـتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمَرْجُوْمِيْنَ 

_"Mereka berkata, "Wahai Nuh! Sungguh, jika engkau tidak (mau) berhenti, niscaya engkau termasuk orang yang dirajam (dilempari batu sampai mati).""_

(QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 116)


--------------

Secara dhohiriah, ayat ini mengkisahkan histori ancaman kaum Nabi Nuh a.s terhadap ajakan untuk beriman dan mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Nuh a.s.

Ancaman yang selalu dilakukan oleh orang² yang buta hatinya untuk menerima kebenaran, adalah sebagaimana yg dikabarkan dalam ayat ini. Yakni ancaman keras untuk membunuh NabiNYA.


Seperti yg dijelaskan oleh Sayid Qutb dalam tafsir FiZilalil Qur'an yang menyoroti reaksi keras kaum Nabi Nuh a.s sebagai refleksi dari penolakan yg mendalam terhadap ajakan tauhid.

demikian juga penafsiran ibn Abbas dalam Tanwir Al-Miqbas yang menjelaskan bahwa ancaman keras berupa akan merajam nabi Nuh hingga meninggal adalah bentuk ekspresi kebencian mereka terhadap ajakan nabi Nuh a.s untuk meninggalkan berhala.


Selain itu, sebagaimana telah kita ketahui bersama. Bahwa dimensi Al-Qur'an selalu tidak hanya berdimensi lahiriah semata, namun juga selalu memiliki dimensi Bathin. Hal ini yang tersirat oleh sabda Nabi s.a.w, *"Sesungguhnya Al-Qur'an memiliki makna lahiriah (terbuka) dan bathiniah (tersembunyi), memiliki batas dan permulaan"*. Juga pada riwayat yg lain, Rosululloh bersabda, *"Bacalah Al-Qur'an dan temukanlah hal hal tersembunyi (rahasia / bathiniah) darinua"*

Pada suatu riwayat yang ada dalam Ihya' Ulumuddin, Rosululloh s.a.w pernah mengulang ulang bacaan "Bismillahirrohmanirrohim" sebanyak 20 kali. Imam Ghozali r.a menerangkan bahwa hal itu semata mata dilakukan untuk menghayati pengertian bathiniahnya. Jika saja pemaknaan Al-Qur'an hanya sebatas Lahiriah saja tentu itu sangat mudah (tidak perlu sampai diulang ulang), terlebih lagi yang melakukan itu adalah Nabi s.a.w.


Maka, ayat ini pun juga memiliki ruang bathiniah tersendiri. Seperti halnya yang tertuang dalam tafsir Lathoiful Isyarot (Imam Qusyairi) dan tafsir al-Jaylani (Sulthonul Auliya Syaikh Abdul Qodir Jylani) yang cenderung penafsirannya bercorak Sufistik. Beliau beliau r.a menerangkan bahwa ayat ini merefleksikan ibaroh sisi "Self" dalam setiap diri salikin yang tercerahkan dalam bersuluk kehadirat Alloh. 


"Nuh" menyimbolkan tentang sisi yang tercerahkan (diri/nafs) itu, yang senantiasa mengajak seluruh _umatnya_ yang disimbolkan sebagai "kaum" untuk turut bergerak menuju Alloh. Namun dikarenakan si-"kaum" atau anggota tubuh terlalu lama berkecimpung dalam ketidak sadaran atau kealpaan, tentu saja kaum ini akan selalu menentang setiap ajakan untuk menuju kesadaran yg lebih tinggi.


Imam Qusyairi memaknai ayat ini sebagai berikut,

...لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰـنُوْحُ... (Jika kamu tidak berhenti wahai Nuh)

ini merupakan representasi dari suara nafsu yang menolak perbaikan dan kejernihan bathin. 

...لَـتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمَرْجُوْمِيْنَ. (Niscaya kamu akan dirajam)

Ancaman ini menggambarkan bagaimana kesadaran yg rendah enggan menerima perubahan kearah yg lebih baik, sehingga cenderung menghadirkan ketakutan ketakutan untuk berubah kearah yg lebih baik.


Syaikh Abdul Qodir al-Jylani memaknai kaum Nabi Nuh sebagai rintangan bathin yang menghalangi seseorang mencapai maqom Tauhid secara haq.

Sedangkan merajam erat kaitannya dengan Halangan spiritual berupa ketakutan - ketakutan untuk beranjak menuju wilayah tauhid.


Penjelasan seperti ini tentu sangat kompatibel dengan pengalaman perjalanan spiritual setiap hamba yang bermuroqobah ilalloh.

Pengalaman² berupa ketakutan² tersembunyi dan besitan² keraguan yang terkadang berkeliaran mengganggu dalam perjalanan spiritual, tentu tidak jarang didapati oleh setiap salikin. Tak jarang pula Salikin Dzikir Nafas yang ketika mendapatkan pencerahan, alam fikirannya mempertanyakan akan kadar kebenarannya.

Sepatutnya, jika memang kondisi bathin kita telah sambung kepada Alloh, maka perlu disadari bahwa segala pemahaman dan gerak ajakan adalah semata mata dari Alloh. Jika demikian, sudah semestinya kita mengabaikan segala bentuk lintasan ketakutan dan keraguan. Agar tidak sampai binasa layaknya kaum nabi Nuh a.s.


Wallohu'alam bish-showab 😌🙏🧘

---------

Selasa, 19 November 2024

Memandang Sumber Yang Memproses


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ وَ سُلَيْمٰنَ عِلْمًا ۚ وَقَا لَا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا عَلٰى كَثِيْرٍ مِّنْ عِبَا دِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya berkata, "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman.""

_[QS. An-Naml 27: Ayat 15]_

=================

Jumhur mufassirin sepakat menjelaskan bahwa rasa syukur yang dimiliki oleh Nabi Daud dan Sulaiman adalah didasari atas kesadaran beliau berdua akan karunia Alloh s.w.t yang diberikan kepada mereka.

Banyak keutamaan yang mereka dapatkan baik dari segi ilmu agama, ilmu kepemimpinan, hingga berbagai ilmu praktis.

dalam Tafsir Al-Ibris, KH. Bisri Mustofa menjelaskan, kedua Nabi tsb lebih memilih menyikapi nikmat yg dinilai sebagai ujian dari Alloh dengan Bentuk Syukur.

Hal ini tentu merupakan contoh yang luar biasa bagi kita semua. Di antara sebagian orang yang memilih bersikap sombong dan mengagungkan ilmunya entah karena banyaknya proses belajarnya, kemudian mengagungkan prosesnya. Kedua Nabi tersebut justru mencontohkan untuk mem-bypas yakni mengagungkan Sang Sumber Ilmunya. Meskipun ini merupakan sudut pandang, namun tentu sudut pandang yang digunakan oleh Nabi Sulaiman a.s dan Nabi Daud a.s ini lebih utama.

Diriwayatkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz pernah bersurat yang berisi keterangan Apabila Alloh memberikan Nikmat kepada suatu kaum/hamba, lalu si hamba itu memuji Alloh atas nikmat tersebut, maka Pujian seorang hamba itu bernilai lebih Utama daripada kenikmatan yang ia dapatkan.

Artinya, Limpahan Rasa Syukur kepada Alloh s.w.t yg tumbuh dalam Diri seorang hamba itu lebih Utama daripada limpahan nikmat apapun yang telah ia terima. Dengan kata lain, Syukur adalah kenikmatan yang paling Nikmat dari segala nikmat dari Alloh azza wajalla.

Uniknya, serupa dengan apa yg sedang kita pelajari bersama di DNSA ini, munculnya rasa Syukur semacam itu semua. Pada dasarnya adalah runtutan efek dari kesadaran seorang hamba bahwa sumber dari segala hal adalah Alloh semata. Penjelasan semacam ini bisa kita dapati juga dalam tafsir al-Baidhawi, di mana dijelaskan bahwa Rasa Syukur yang ada pada diri Nabi Sulaiman a.s dan Nabi Daud a.s adalah karena mendalamnya kesadaran mereka bahwasannya ilmu dan berbagai kenikmatan yang mereka peroleh bukanlah akibat dari Proses Usaha mereka, melainkan semata mata karena Karunia dari Alloh s.w.t

Maka dari itu, bisa menjadi sebuah bahan muhasabah diri kita apabila sedikit terbesit bahwa apa yang kita peroleh saat ini adalah asbab kasab / usaha kita, maka sudah selayaknya sudut pandang kita musti segera diswitch / diputar menuju sudut pandang bahwa ini semua yang terjadi adalah karena Alloh s.w.t semata, berbagai nikmat sekecil maupun sebesar apapun adalah bentuk karunia Alloh s.w.t.

Hal ini tentu akan memperlihatkan kualitas kita, apakah kita ada dalam shof hamba Alloh yg bersyukur ataukah di barisan hamba Alloh yang kufur.


Wallohu'alam bish-showab

Ma'an Mubarokan - Air Yang Penuh Berkah

 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً مُّبٰـرَكًا فَاَ نْۢبَـتْـنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِ 

"Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen,"

[QS. Qaf 50: Ayat 9]

--------------------------------------

Dalam ilmu tafsir, ada berbagai macam bentuk tafsir, ada yang bil ma'tsur (dengan riwayat nabi), ada yang bir-ro'yi (didasarkan pada pemikiran yg mendalam dari sekian disiplin ilmu, seperti ushul dlsb), ada yang isy'ari (didasarkan pada isyaroh bathin).

Waskita Qur'an, setelah dikaji secara seksana, insyaallah ini termasuk dalam kategori isy'ari atau yg disebut oleh sebagian kalangan sebagai tafsir sufisme.

Sebagaimana hasil Waskita Qur'an kami pagi ini, yang sampai pada QS.Qof:9 , kami mendapati makna lain dari kalimah _"ma'an mubarokan"_ itu bukanlah sekedar hujan dari langit. Meskipun secara tekstual ayat, baik dari runutan ayat ke-7nya adalah menunjukan fenomena alam berupa air hujan. Namun khusus di ayat ini, kami mendapati isyaroh bahwa _"ma'an mubarokan"_ adalah limpahan kefahaman tentang iman, ihsan, islam yang mendalam dan luas langsung dari sumbernya. Sehingga pemahaman itu akan menimbulkan suatu efek ketenangan bathin, melakukan berbagai gerak tanpa keraguan dan cemerlang. Yang digambarkan _"jannah"_ (kebun kebun). Yang mana biji²nya dapat dipanen dan dinikmati oleh siapapun (wa habbal hasiid)

Kalau kita baca rangkaian ayat ini hingga selesai di ayat ke-11 akan kita dapati bersama di mana _"ma'an"_ akan mampu menghidupi negri yang kering. Dengan kata lain, mampu memberikan nilai, spirit kepada banyak makhluk yang nihil akan nilai khusus.

Uniknya jika kita flashback ke ayat sebelumnya, yaitu ayat ke-8, kita akan menjumpai bahwa kunci untuk menerima luapan _"ma'an mubarokan"_ yang dimaksud adalah dengan Dzikr yang "tabshirotan" memicu hadirnya pelajaran. Tentu ini mengarah pada esensi Dzikir itu sendiri, yakni menyadari eksistensi Alloh azza wa jalla.


Wallohu'alam bish-showab

Kamis, 09 Mei 2024

Belajar Al-Qur'an - Spiritualitas Al-qur'an bukan hanya milik segelintir muslimin

 Dalam sebuah riwayat dikabarkan bahwa Nabi s.a.w bersabda,


خَيركُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعلَّمهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”
[HR. Tirmidzi]


sering kali ketika mendengar referensi kalam mulia tersebut, kita mengasumsikan bahwa istilah "mempelajari Al-qur'an" adalah sebatas membacanya semata. Meskipun hal ini tidaklah salah, namun mungkin kurang lengkap.

karena sejatinya mempelajari Al-qur'an semestinya tidak hanya mempelajari makhorijal huruf nya saja. tidak semata kemudian kita musti berlomba lomba dalam kefasihan memcaba tektualitas ayatnya semata. yang notabene ini adalah kegiatan yang bersifat lahiriah.

dalam kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghozali, sempat disinggung bahwa al-Qur'an ini lapisan atau dimensinya tidak hanya berkutat pada dimensi lahiriah saja, melainkan juga ada dimensi bathiniah yang sering kali terlupa oleh kebanyakan orang tentang keberadaan dan urgensinya. pendapat beliau r.a kemudian dikuatkan dengan kutipan beliau akan suatu riwayat yang menyatakan bahwa Rosululloh s.a.w pernah membaca bismillah hingga 20 kali hanya untuk mendapatkan siratan makna tersembunyi yang ada dalam kalimah Bismillah.

Dengan kata lain, Imam Ghozali hendak menunjukkan kepada kita bahwa kalimah mulia dari setiap untaian Al-Qu'an itu memiliki dimensi yang sepatutnya digali lebih dalam oleh para kaum muslimin.



melalui tulisan ini, setidaknya kami ingin mencatatkan bahwa dimensi bathiniah atau spiritual ini juga merupakan bagian dari ungkapan Baginda Nabi s.a.w di atas, yakni disebut dengan "Belajar Al-Qur'an".

lantas berikutnya, apakah semua muslimin bisa memperoleh pemahaman yang mendalam dari Al-qur'an, ataukah hanya muslimin tertentu yang sudah menguasai berbagai macam disiplin ilmu?

maka menurut hemat dan praktis kami, sebagaimana yang telah kami alami bersama para salikin lainnya yang juga sama sama haus akan realitas al-Haqq. Semua orang muslim sangat berpotensi untuk mendapat petunjuk atau menyibak realitas cahaya al-qur'an yang mendalam. Iya betul, semuanya. termasuk anda yang secara sirr digerakkan oleh Alloh s.w.t untuk membaca coretan ini.



tentu, kita semua tidak melewatkan Pembukaan Al-Qur'an setelah Surah Al-Fatihah.

الۤمّۤ ۚ . ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ .

Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, [Q.S. al-Baqoroh]


Jumhur Ulama sepakat menyatakan bahwa huruf muqoto'ah yang mengawali suatu surat, salah satu tujuannya adalah untuk menarik perhatian pembacanya. baru kemudian penegasan maksud suatu firman dimunculkan pada ayat berikutnya.

kembali pada pembahasan sebelumnya, bahwa kita semua berhak untuk mendapatkan kedalaman makna dari setiap ayat yang ada di dalam al-Qur'an. Salah satu dasar selain dari praktikum kami adalah Q.S Al-Baqoroh ayat ke-2 tersebut. dengan sangat jelas Alloh s.w.t menyatakan bahwa "ini" (Al-Qur'an) adalah ketetapan yang tiada keraguan sama sekali di dalamnya. yang sekaligus menjadi petunjuk bagi setiap orang yang bertakwa.




sebelum beranjak untuk menyadari kalimat "ketetapan yang tiada keraguan" (ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ) , ada baiknya kita coba pahami "adanya/sumber dari keraguan" itu sebenarnya adalah ketidak sesuaian maksud hati dengan panca indrawi maupun pikiran. contoh dalam sebuah perjalanan, kita akan mengalami keraguan menentukan arah ketika hati kita berkata belok kanan, namun pikiran mengasumsikan harus belok kiri. sedangkan mata justru memandang kondisi 'depan' lebih nyaman untuk hendak dilewati.

ketidak sesuaian dimensi bathin dan lahir akan menimbulkan keraguan ataupun kegalauan. Demikian juga kitab yang mulia ini, dikatakan sebagai "laa roiba" tidak ada keraguan sedikitpun, karena ia memiliki makna lahir dan bathin yang tepat dan serasi. bahkan ketika dikonsumsi oleh pihak lain, yaitu manusia. maka makna bathin yang terkandung dalam setiap ayat al-qur'an pasti akan dibenarkan oleh bathiniahnya manusia. sekalipun secara akal manusia ada beberapa yang mencoba memanipulasi makna maupun enggan percaya.

kepercayaan di tataran persepsi maupun manipulasi makna, ini tetap tidak akan mampu membohongi lingkup bathin atau spirit yang terkandung dalam diri masing masing manusia. sehingga ketika suatu ketika persepsi manusia yang cenderung dipengaruhi oleh indrawi menemukan keselarasan makna lahiriah al-qur'an dengan berbagai pembuktian fisik, maka mau ataupun tidak harus mengakui ketepatan / laa-roiba nya al-Qur'an tersebut.


Artinya, kita semua berpotensi luas untuk memasuki relung relung rahasia bathin setiap ayat al-Qur'an. Setiap kita juga tentu tidak bisa disalahkan apabila menyakan bahwa cakupan Sabda Mulia Rosululloh s.a.w itu pun juga meliputi "Pembelajaran akan Makna - Makna Spiritual dari Al-Qur'an"


Pertanyaan Berikutnya, Bagaimana Cara Kita untuk menyelami Dimensi Spiritual Al-Qur'an ??

Jumat, 28 April 2023

Bersikap Menerima Ketika Dalam Keadaan Fasik



 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

"Maka Alloh mengilhamkan kepadanya (jiwa) kefasikan dan
ketakwaan" [Q.S. Asy-Syams : 8]

sejatinya, setiap segala sesuatu yang terhampar di sekeliling kita ini adalah sudah benar adanya. telah merupakan suatu ketentuan pasti dari Alloh azza wajalla. termasuk juga ketika kita dirundung keadaan fasik (misalnya) terpaksa melakukan sesuatu yang kita tau bahwa itu kurang tepat tapi entah kenapa kita terpaksa melaksanakannya juga. sebagai contoh ringan, kita tahu bahwa membayar hutang, itu baiknya adalah disegerakan jika kita sudah ada bekal untuk membayarnya. namun entah kenapa tiba tiba pas "punya" kita takut bahwa jika uang itu dibayarkan sekarang, maka esok mau makan apa, belanja dengan apa dan seterusnya dan seterusnya. maka jadilah kita menunda pembayaran hutang tersebut. maka kelakuan fasik ini terpaksa kita lakukan.

contoh lain yang sangat gampang adalah menggunjing teman dan sesamanya. menggunjing adalah tindakan yang fasik, namun tidak jarang muslimin terjerumus dalam tindakan seperti itu. sekalipun semua tahu bahwa ini adalah tindakan yang fasik.

nafsu / jiwa yang terkadang memiliki kecenderungan menyesal, (nafsul lawwamah) tidak jarang menjadi celah empuk bagi musuh nyata manusia (iblis/setan) untuk membisikkan prasangka tidak baik atas diri dan ketetapan Alloh s.w.t.
seringkali nafsu lawwamah akan menjadi jalan untuk membisikkan betapa kita ini tidak sempurna, betapa diri itu masih jahat, betapa diri itu masih suka maksiat, dan lebih bahayanya lagi ketika nafsu lawwamah itu digunakan jalan untuk membisikkan pernyataan menyesatkan "betapa Alloh tidak menyayangi dirinya, sehingga Alloh menetapkan bagi dirinya tindakan yang tidak benar"

sehingga jika akal kita tidak memfilter bisikan bisikan itu dengan ilmu, lalu serta merta membenarkannya. tentu ini akan membawa sikap ketidak puasan terhadap ketentuan Alloh. dan ini adalah kecelakaan yang fatal sebenarnya. dirinya menjadi tidak ridho Alloh sebagi pengatur hidupnya (robb), dengan kata lain, yang seperti ini adalah sikap kufur yang tersembunyi (halus). naudzubillah min dzalik.

mengenai ayat yang kita munculkan di atas, dikisahkan dalam tafsir ibnu katsir bahwa dahulu pernah ada seorang laki laki dari bani Muzayyanah atau bani Juhainah yang datang kepada Rosululloh s.a.w lalu bertanya, "wahai Rosululloh, bagaimanakah menurut anda tentang apa yang dikerjakan oleh manusia. yang mana mereka bersusah payah menanggulanginya. apakah hal itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dalam takdir terdahulu, ataukah hal itu merupakan sesuatu yang mereka terima dari apa yang disampaikan oleh Nabi mereka kepada mereka lantas diperkuat dengan hujjah atas diri mereka".
maka Rosululloh s.a.w menjawab, "Tidak demikian, sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas diri mereka"
lalu laki laki tersebut kembali bertanya, "lalu apakah gunanya kita beramal?"
Rosululloh s.a.w menjawab, "barangsiapa yang diciptakan oleh Alloh untuk mengerjakan salah satu di antara keduanya, maka Alloh telah menyiapkan untuk itu".
dan hal yang membenarkan (pernyataan) ini dalam kitabulloh adalah firmanNYA yang menyatakan, "demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan". [Asy-Syams : 7-8]

sejatinya, apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi diri hamba hambanya, maka Alloh akan menetapkan bagi hambanya untuk melakukan tindakan tindakan yang memang baik baginya. pun demikian sebaliknya, sesuatu yang tidak tidak bermanfaat yang ditetapkan bagi hambanya merupakan indikasi bahwa Alloh mencondongkan ilham fasik kepadanya.
sehingga dari sini kita dapat bermuhasabah atas diri kita masing masing. di posisi manakah kita saat ini?
apakah saat ini kita sedang diletakkan oleh Alloh dalam lingkaran tindakan yang penuh maslahat dan kebermanfaatan. ataukah justru sedang diletakkan oleh Alloh dalam keadaan tindak tanduk yang fasik?.

guru kami, pernah menuturkan kepada kami bahwa jika kita sedang diposisi kefasikan. pertama tama terima dan sadarilah dahulu bahwa keadaan itu adalah benar benar dari Alloh. kita ridho dulu atas ketentuan Alloh terhadap diri kita, lantas kita ber-istightighfar, dan mengakui bahwa kita adalah hambaNYA yang sedang dalam keadaan fasik, kita mohon ampun dan lalu mohon diperbaiki keadaan keadaan kita.

terkait hal ini, Rosululloh s.a.w telah bersabda, “Tiada yang bisa menolak takdir (ketetapan) Allah, kecuali doa.” [HR. Tirmidzi, Hakim, Ahmad, dan Ibnu Majah]

wallohu'alam bish-showab

Jumat, 04 Februari 2022

Gerak Diri Gerak Alloh

Setiap Percikan IDE atau GAGASAN, kerap kali itu muncul atas dorongan dorongan Daya Ilahiah.

Getaran yang kerap kali timbul di dalam diri kita, yang lalu kemudian biasa kita sebut sebagai "Gairah" atau "Hasrat", adalah merupakan perpaduan dari keinginan dan daya ilahiah.

Alloh selalu bergerak menyertai kita semua. DayaNya seirama dan selaras dengan do'a (Permohonan)serta kesiapan bathin kita. Kesadaran adalah laksana jari jemari yang menekan tombok aktivasi "Daya Ilahiah", sehinga berproseslah "Kun Fa Yakun" -Nya, ata berlaku PengAdaan PengadaanNya.

suatu proses Pengadaan (Yakuun) di balik segala hal atau peristiwa (Haula) pastilah memliki bobot / muatan kekuatan (Quwwata) Alloh. dan apabila ia Quwwata- ini diterima oleh seseorang, dan kemudian ia bergerak selaras denganNya, tindakan sedemikian itulah yang dinamakan 'Ikhtiar".

Jadi "Ikhtiar" adalah tindakan yang berdasarkan tuntunanNya melalui getaran Daya Ilahiah. bukan merupakan tindakan yang asal asalan layaknya tebak tebakan, kalau melakukan ini atau itu mudah mudahan mendapatkan ini dan itu. melainkan lebih ke arah "saya melakukan ini karena Alloh menghendaki saya melakukan ini". 

فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ - ٣٨

"Maka jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" [Q.S Al-baqoroh : 38]

Demikian itu ketetapan dariNya, sebuah kabar menggembirakan sekaligus informasi untuk menyadarkan kita semua bahwa DIA pasti menurunkan petunjukNya untuk membimbing kita dalam menapaki segala bentuk problematika hidup di dunia. Demikain pul dinyatakan bahwa memang benar Daya Ilahi itu jika kita ikuti , tidak kita ingkari , maka ia akan membawa kita pada banyak keadaan al-Falah (Kelapngan), kebahagiaan, keberuntungan, juga keselamatan.

Maka Alloh berkali kali menyadarkan kita melalui Al-Qur'an, kalamNya yang Agung. Bahwa DIA senaniasa membersamai kita (wa huwa ma'akum aina maa kuntum). DIA tidaklah jauh di luar diri kita, justru sangat sangat dekat di dalam kalbu kita (wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil warid). serta senantiasa bergerak menggerakkan akal pikiran kita (kulla yaumin huwa fi sya'n) yang kemudian memunculkan berbagai ide - ide lalu menjelma dalam bentuk gerak kita.

ide ide luhur ituakan berakhir pada tindakan tindakan yang didasari oleh kesadaran kita. Apakah kesadaran kita mau menerima serta mengakui bahwa ide ide tersebut murni dari Alloh ataukah justru enggan mengakui apalagi menerimanya. Sehingga ia akan menggerakkan atau memicu ide lain yang menjatuhkan yang menyengsarakan atau yang dalam bahasa al-Qur'an disebut sebagai ilham Fujur.

Maka Alloh selain menyatakan bahwa DIA adalah Sang Maha Pemberi Petunjuk / Al-Hadi, Sang Maha Kasih, Sang Maha Welas, DIA juga memperkenalkan DiriNya bahwa Dia jualah yang akan menyesatkan hamba hambaNya. yaitu tentu saja hambaNya yang mengingkari adanya petunjuk dariNya.


فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta." [Q.S Al-Baqoroh : 10]

hati manusialah yang sebenarnya berpenyakit, lantas DIA merespon dengan benar benar menambah penyakit yang kelak mengunci hati dan kesadarannya dalam menyaksikan eksistensiNya. serta tidak dapat lagi mengenali petunjuk petunjukNya / buta.

Berdasarkan kesiapan kesadaran kita, Dia akan melimphkan petunjukNya. Daya Ilahi hanya menyelaraskan kesesuaian bathiniah / alam bathin manusia kemana akan dihadirkan realitas bagi manusia.

Do'a dan Ijabahnya

Maka dari itu, Sang Rosul Alloh, manusia paripurna s.a.w mengingatkan kita bahwasannya Alloh s.w.t berfirman, "Aku sesuai persangkaan hamba hambaKU terhadapKU". 
hadirnya prasangka seringkali berupa rasa di dalam dada yang disertai gambaran gambaran dalam benak (visualisasi). sedangkan Do'a yang merupakan kegiatan memohon atau yang lebih tepatnya merupakan Komunikasi 'Menyapa' Alloh, akan sangat mujarab tatkala disertai sikap yang hadir / khudhur. artinya menta rasa dan visual dalam benak selaras atau sesuai dengan ucapan (lafal doa).

Sebagaimana janji Alloh, Ud'uni astajib Lakum -berdo'alah, Aku perkenankan bagi kalian- 

Setiap getaran hati sejatinya adalah merupakan perwujudan doa. perwujudan dari sapaan permohonan kepada Alloh s.w.t. setiap gerak pikiran adalah merupakan do'a.
Sedangkan Alloh s.w.t sangat mengetahui segala sesuatu hingga yang terhalus yang terbesit di dalam bathin manusia. DIA sangat mengetahui apa apa yang tergetar dan digetarkan dari dalam lubuk diri manusia. 

Gerak Pikiran

gerak dan getaran pikiran seringkali terpicu oleh berbagai keadaan realitas duniawi yang sedang dihadapinya, kemudian mewujudkan rasa butuh juga ingin di dalam diri. Realitas duniawi bisa jadi merupakan cara Alloh untuk membawa kita kembali menyapaNya. membawa kita merasakan butuh bercengkrama dengan EksistensiNya. maka sejatinya respond kita dalam menghadapi berbagai hal, akan dapat menjadi barometer seberapa iman dan ikhlasnya diri kita di hadapan Alloh s.w.t. sangat mungkin realitas duniawi menjadi ajang penentu seperti layaknya ujian di sekolah. Pada dasarnya, realita dan respond kita akan saling bercengkrama membentuk realitas baru berikutnya.

Maka Alloh telah menyatakan melalui lisan NabiNya, bahwasannya Pagelaran Dunia seisinya ini hanyalah merupakan ajang ujian semata untuk menguji siapakah yang bersyukur beriman dan siapakah yang kufur.

dalam penerapannya, seseorang yang ingin lepas dari suatu keadaan menuju keadaan lainnya, sebenarnya hanyalah perlu mengubah respondnya atas realitas yang sedang dihadapinya. dalam islam sangat banyak khazanah khazanah yang mengajarkan kita untuk merespond kehidupan. semisal ketika mulai jenuh dengan kemiskina (dalam hal finansial), respond kita terhadap kemiskinan bukanlah dengan membencinya, tapi justru dengan mencintai dan mensyukurinya. menerima dan menyadari bahwa itu merupakan bagian Alloh untuk memuliakan hambaNya. lihat saja dengan adanya pernyataan baginda nabi tentang keutamaan miskin.

selama kita tidak menyadari adanya peran Alloh di dalam suatu peristiwa, niscaya kita akan terkurung dalam lingkaran kekufuran. sekalipun miskin memliki banyak keutamaan, namun di dalam keadaan miskin juga menyimpan batas kekufuran. Rosululloh s.a.w bersabda, "fakir itu sangat dengan kufur". demikian juga keadaan kaya raya berkelimpahan. memiliki dua potensi syukur ataukah kufur. untuk berlepas dari suatu keadaan menuju keadaan yang lain, yang perlu kita rubah adalah cara pandang dan respond kita terhadap suatu keadaan itu. tatkala kita mengkufuri suatu keadaan, selama itu kita akan berkecimpung di dalam keadaan tersebut. sebaliknya, tatkala kita mensyukuri keadaan kita, Alloh akan menaikkan derajat kita dari keadaan yang semula. dan penaikan derajat ini ditandai dengan kematangan Mental bathin kita. atau kematangan / kesiapan jiwa kita untuk menerima keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.

Kesiapan Jiwa Kematangan Mental

Kesadaran bathin kita akan membentuk kesiapan baru bagi jiwa kita dalam hal menyambut suatu perubahan keadaan. tatkala jiwa lebih siap menerima suatu hal / peristiwa, ia (jiwa) akan memicu indrawi indrawi kita untuk lebih fokus mencerap hal hal yang berkaitan dengan kesiapan jiwa tersebut. dengan kata lain indrawi akan memiliki kecondongan tersendiri akan hal hal baru tersebut.

misal ketika jiwanya lebih siap dalam hal finansial, maka ia akan tergerak untuk menyukai berbagai hal yang berhubungan dan mendukun perkara perkara finansial. atau ketika jiwanya lebih siap dalam hal keilmuan keilmuan, maka ia akan sangat mudah menemukan berbagai hal yang menumbuhkan kesukaannya pada bidang keilmuan, yang menambahkan ilmu ilmu baru bagi dirinya. semua realitas peristiwa seolah mendukung apa yang menjadi kesiapan bagi jiwa kita.

Maka dahulu sesepuh tanah jawa, kanjeng Sunan Bonang pernah menuliskan dalam Serat Suluk Wujilnya "Perhatikanlah wujil, Dunia Ini Luluh lantak akibat gerak jiwamu". seolah beliau mengisyaratkan bahwa gerak jiwa, kesiapan jiwa, kematangan mental terhadap suatu hal itu sangat menentukan kondisi kita dalam pagelaran hidup ini berikutnya.

Jiwa, seringkali memperoleh kesiapan kesiapan mentalnya berdasarkan pergaulannya. bahkan pergaulannya semenjak kecil dapat mempengaruhi polah gerak jiwanya. sebagaimana isyarat Nabi s.a.w "Setiap bayi yang terlahir itu berada dalam keadaan fitrah, polos, suci, netral. ibu bapaknyalah yang kelak menjadikannya majusi-nasrani-yahudi", karena memang pergaulan seorang bayi paling pertama adalah ibu bapaknya. maka berangkat dari pergaulan itulah kemudian membentuk kebiasaan hingga kesiapan jiwa dalam mengundang dan menerima realitas kelak dikemudian hari. 


Kamis, 20 Mei 2021

Di mana letak HATI manusia?


Dalam suatu hadist qudsi dikabarkan bahwa Alloh s.w.t telah berfirman, "sungguh langit dan bumi tidaklah dapat menampungKU, yang dapat menampungku adalah hati hamba hambaKU yang beriman"

Satu bab yang dari dulu hingga sekarang tidak selesai selesai dikaji adalah bab 'hati'. Hampir selalu mengalami perkembangan makna. Hingga hujjatul islam Imam hamid muhammad al-Ghozali secara hampir rinci membahas masalah ini dengan judul "Ajaib al-Qolb" dalam maha karya beliau Ihya' Ulumuddin.

Secara sederhana kita dapat menyimpulkan bahwa bukanlah hati fisik yang dimaksud oleh Alloh juga rosulNya s.a.w, melainkan hati sanubari. Tempat kita dapat merasakan banyak hal. Tempat di mana kita dapat memahami keluasan, kesempitan, kebahagiaan, kedamaian, ketakutan, harap, cemas dan lain sebagainya. Sehingga tidak sedikit yang memaknai hati tersebut adanya di dalam akal / otak. Sedangkan jika kita mau jujur objektif merasakan kehadiran 'rasa' itu sendiri. Adanya justru di dada. Secara fisik justru merupakan tempatnya paru paru juga jantung.

Apakah jantung itu yang disebut hati oleh khazanah bahasa peradaban arab kuno? Yang bahasanya telah dipilih Alloh sebagai bahasa kitabNya "al-qur'an al-karim".
InsyaAlloh bukan juga, karena 'qolb' ini apabila kita rasakan dengan seksama letaknya ada di kedalaman diri kita masing masing. Hanya dapat kita jangkau dengan keheningan maha sunyi. Tiada lintasan pikiran selain hanya difungsikan untuk mengamati hingga memahami keberadaan qolb ini sendiri. Selama pikiran ambil kendali dalam memutuskan tanpa pengamatan terhadap hal ini, insyaAlloh kita tidak akan benar benar menemukan realitas keberadaannya di dalam diri kita. Wallohu'alam.

Dan tampaknya, jika kita amai dengan seksama hampir hampir hati inilah yang seolah mengendalikan degup jantung sehingga tampak berdegup kencang ataupun lambat. Secara halus ia mengirimkan getaran kedalam otak untuk kemudian menggerakkan berbagai bagian dalam tubuh fisik kita.
Dari sini tentu kita kemudian dapat memahami sabda baginda nabi s.a.w, "di dalam hati anak adam terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka seluruh tubuh juga akan baik. Jika dia buruk maka seluruh tubuh akan buruk pula. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati"

Mau tidak mau melalui pengamatan atas diri sendiri kita akan sama sama menemukan bahwa terdapat semacam gelombang elektromagnetik atau desiran desiran halus yang senantiasa mengalir di dalam diri kita. Terkadang desiran itu bergetar hebat ketika kita merasakan ketakutan, atau terkadang jika berhadapan dengan perkara ghaib akan mewujud dalam rasa merinding. Lebih halus jika kita amati, desiran desiran ini pula yang mengaliri otak kita sehingga otak kita berperan seperti ujung antena yang memancarkan signal ke seluruh penjuru lingkungan. sehingga ia (otak) tampak seperti keberadaan yang hidup sebagai pusat diri manusia.

Kita kembali lagi, hati disebut sebut dalam hadist qudsi sebagai satu satunya wadah yang mampu menerima keberadaan Alloh sejatinya adalah karena ia perkara maha ghoib -kasat mata yang ada di balik sekat- dalam diri manusia. 
sehingga untuk mencapai esensi maha bathin -yakni esensi maha ada yang tak kasat mata, tak dapat diindra dengan indra fisik apapun, tak tersekat apapun, meliputi secara kasat mata tanpa terhalangi-, hanyalah dengan memasuki wilayah bathin dengan 'ghoib'nya diri kita.
Wallohu'alam.

Dikatakan bahwa hati dapat meluas dan menyempit sejatinya hanyalah terjadi asbab seberapa dalam atau dangkalnya kita memasuki kedalam bathin kita sendiri sendiri.
Semakin hening kita dari bermacam macam prasangka pikiran, maka semakin dalam kita mencapai bathin hati kita, dan semakin luas kita mendapati dimensi ghoib.

Dan hanya dengan keluasan hati terluaslah yang kemudian akan mengantarkan kita mencapai penyaksian Tuhan semesta Alam.

............................

Selasa, 18 Mei 2021

PUASA Untuk Alloh. bukan hanya dalam romadhon

Assalamu'alaikum sahabat salikin yang dirahmati Alloh,
Semoga senantiasa dalam samudra syukur dan Mahabbah kepada Alloh Yang Maha Mulia.
Sholawat dan Salam mari sama sama kita panjatkan kepada Alloh teruntuk baginda Nabi Agung Muhammad s.a.w,.. bersama beliau kita beranjak mengenal dan berjalan kehadiratulloh, bersama beliau kita berjalan di dalam bentangan cahayaNya. Bersama beliau InsyaAlloh Alloh ridho kepada kita semua, amiin.

Sahabat salikin yang dimuliakan Alloh, sepertinya romadhon ini tidak ada habisnya. Bulan dan namanya memang sudah selesai, namun esensinya tidak dapat kita pungkiri bahwa itu terus menerus mengiringi laju kehidupan kita. Dimana secara lahiriah Alloh menurunkan banyak khazanah keutamaan di dalam fisik romadhon. Sedangkan secara bathiniah, secara nilai, secara esensial keutamaan itu tiada habisnya.

Apa sih esensi nya romadhon? Apa sih yang paling masyhur terkenang di bulan romadhon? Tentu saja PUASA bukan??
Yap dimensi puasa memang tidak ada habisnya untuk dikupas. Seolah olah Alloh hendak menyadarkan kita tentang pentingnya puasa di segala lini kehidupan bagi kita semua, sehingga Alloh mengutus NabiNya yang mulia s.a.w untuk mengabarkan sekaligus mencontohkan bahwa setelah romadhon masih ada puasa puasa lain yang cukup banyak. senin-kamis, yaumul bidl, asy-syuro, yaumil syawal, puasa daud, dlsb. Tidak ada habisnya.

Sekarang kita kupas sedikit saja nilai dari puasa.
Dalam fikih kita memahami makna puasa adalah berarti 'menahan'. Mulai dari menahan lapar, dahaga, jimak, mengumpat dst. Dalam literatur lain kita mengenal puasa adalah menahan diri untuk berlatih menumbuhkan sikap waro' dan zuhud. Menahan diri untuk tidak mencintai dunia seisinya. sedangkan di sisi Spiritual kita akan diajak memahami bahwa puasa ini belajar untuk memasuki dimensi bathiniah hingga sirr nya diri kita sendiri. Untuk mencapai kesadaran ilahiah al'Ala .. yang tertinggi...

Bagaimana konsep puasa ini dapat menjadi kendaraan untuk mencapai relung bathin dan memasuki segala ruangnya hingga mencapai sirr (rahasia terdalam) dari diri manusianya / pelakunya sendiri?

Sahabat.... kalau kita benar benar menjalankan tuntunan fikih dalam mengatur urusan berpuasa, InsyaAlloh ketika kita renungi atau tafakkuri, kita akan mendapati bahwa segala hal ikhwal ketika berpuasa semata melatih diri kita untuk menanggalkan petentingan duniawi, diri fisik kita adalah termasuk urusan duniawi. Dalam Puasa kita belajar berperan aktif menahan ajakan nafsu untuk memuaskan urusan lahiriah kita. Kita ditunjukkan bahwa Tidak semua keinginan makan maka pasti harus makan. Tidak semua nafsu jimak harus jimak. Bahkan tidak semua pemikiran yang liar (uneg uneg) harus diluap luapkan. Sehingga mau tidak mau kita akan menjalankan dengan baik firman Alloh "..wa laa yusyironnabikum ahada" [al-kahfi] "jangan ceritakan hal mu kepada siapapun.

Aflatul-lisan, menjaga lisan juga menjadi salah satu muatan nilai dalam berpuasa. Kita tahu bahwa lisan menjadi sumber ancaman kerusakan terbesar sesudah hati dan pikiran. Tentu saja hati-pikiran-lisan ini adalah satu gandeng yang mana satu sama lainnya saling mempengaruhi.
Ketika lisannya diumbar berbicara kotor dan tidak pantas, maka ia akan mengotori hati dan memperkeruh pikiran. Demikian pula pikiran maupun hati, apabila ia rusuh, dan lisan tidak terkunci dengan baik, maka akan keluar juga ucapan yang rusuh pula. Bisa jadi fitnah, hasutan dlsb. Bisa jadi Sumber petaka bagi dirinya dan lingkungannya.

Puasa adalah mengajak kita untuk mengontrol itu semua.
Perutnya berpuasa, telinganya berpuasa, matanya berpuasa, lidahnya berpuasa, tangannya berpuasa, kakinya berpuasa, pikirannya berpuasa, bahkan hatinya pun berpuasa. Dan Nafs / Jiwa kita lah yang diajarkan oleh Alloh untuk menjaga itu semua. Susah? Tentu saja di awal awal akan susah, bahkan seterusnya hampir tidak mudah. Terlebih ketika jiwa mulai merasa sombong karena tertipu mengira dirinya bisa mengontrol mengendalikan itu semua. Sedangkan sejatinya ia hanya menerima anugrah kebaikan Alloh s.w.t semata. Makanya Nabi s.a.w mengingatkan bahwasannya JIHAD TERBESAR MANUSIA ADALAH JIHAD TERHADAP NAFSUNYA SENDIRI.

Jiwalah yang diajak Alloh untuk sadar atas eksistensi keberadaannya. Sadar betul dan bangun dari tidur panjangnya selama ini, bahwa ia ada untuk mengemban amanah dariNYA atas semesta raya. Kami katakan atas semesta raya karena memang manusia satu sama lainnya saling ambil peran untuk menjaga alam semesta. Sekecil apapun gerak hati manusia , disadari ataupun tidak, ia akan memberikan efek tersendiri bagi pergerakan alam. Mau baik ataukah buruk.

Sahabat... Setelah kita memahami dan menyadari keberadaan nafs kita sendiri, sudah semestinya kita terbawa menuju sikap zuhud dan waro'. Berangkat dari menahan segala kemauan lahiriah. Kemudian InsyaAlloh akan menemukan realitas rahasia yang tidak mungkin dapat diungkapkan secara verbal. di situlah esensi puasa yang sebenarnya. Pencapaian dimana Alloh berfirman menetapkan, "PUASA ITU ADALAH UNTUK-KU"

Wallohu'alam bish-showab

Selasa, 21 Juli 2020

Dimensi Hati itu tidak terkunci

Hati, yang oleh Rosululloh disebut dan diterangkan sebagai induk atau sumbernya perbuatan seseorang, yang baik maupun buruk gerakan seseorang adalah bersumber dari apa apa yang ada di dalam hati.
Apa apa yang ada di dalam hati ini adalah 'rasa' yang jika ia dipicu oleh sesuatu dari luar maka biasa kita sebut perasaan. Orang yang tidak berperasaan (misalnya) adalah orang yang tidak terpengaruh oleh sentuhan atau rangsangan dari berbagai macam keadaan di luar dirinya. Sedangkan jika ia dipicu oleh perkara di dalam dirinya sendiri, maka biasa kita sebut "merasakan". Semisal, merasakan pahit asin manis, sumbernya adalah di bagian tubuh kita sendiri. Atau keadaan merasakan apa yang dirasakan orang lain (misalnya) ini juga terjadinya bermula dari dalam dirinya sendiri. ia mengakses frekwensi yang sama dengan orang lain, maka ia akan dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.

Termasuk keadaan 'merasa' adalah dipicu oleh gerak polah pikiran atau yang biasa kita sebut sebagai prasangka.
Maka ini sebenarnya keadaan hati itu tidak pernah tertutup. Tidak pernah terkunci. Hanya saja ia sedang ternutrisi oleh apa sehingga seolah olah tampak mati atau terkunci.

Dimensi hati adalah dimensi yang tak pernah tutup. Kapanpun kita mau memasukinya, bisa. Tinggal kita secara ego mau apa tidak memasukinya
itu saja, 

Rabu, 27 November 2019

Energi Sejati

Dalam dzikir, meditasi, mengendapan rahsa dlsb, pasti ada suatu keadaan dimana mau tidak mau kita musti mengakui bahwa memang ada suatu kekuatan luar biasa diluar akal, nalar, dan kesadaran kita. Ada penguasa sejati yang memang benar benar mutlak menguasai segala bentuk gerak dan keadaan di jagat raya ini.

Islam mengajarkan suatu kunci untuk mengetuk dan membuka cakrawala kesadaran baru tentang realitas ini. Bukan sekedar kilasan lafadz atau mantra, melainkan benar benar dapat kita masuki ruang spiritualnya. Yakni "laa Haula wa laa quwwata Illa Billah".


Kesadaran baru sekaligus kuno, karena sejatinya pemilik ruang dan waktu adalah Baqo', maka ini berlangsung dan berfungsi untuk seluruh masa dulu-kini-kelak.

Dalam bermeditasi, berdzikir, pengendapan rahsa, kita selalu belajar untuk menep yang artinya benar benar mengendapkan segala bentuk imajinasi, pikiran, bahkan berbagai nuansa rasa.
Hingga benar benar kita mencapai rahsa sejati dimana diri kita yg murni benar benar dapat kita temui dan kita sadari adanya. Diri kita yang sejati adalah apa yg ada di pusat manah (di sekitaran dada) kita. Memiliki gelombang energi cukup besar karena ia hanya sebagai cerminan atau gerbang yang tersambung dengan energi sejati ilahiah. Sekali lagi ia hanya memantulkan atau menyalurkan saja dari Sang Maha Kuasa.

Kalau anda,saya,kita,siapa saja masih mengandalkan pikiran maupun lainnya tentu ini tidak akan benar benar dapat sempurna memancarkan daya ilahiah.
Namun ketika kita sedang berada dalam keadaan yang totalitas berserah, menyadari ketiadaan kita, memasuki ruang demi ruang, dimensi demi dimensi realitas ketiadaan daya upaya kita. Hingga totalitas kita tiada. Maka dari situlah daya ilahiah akan memancar sempurna.

Di wilayah itulah kita berdoa, memohon kepada Sang Penguasa Sejati, tentang apa saja. DIA tidaklah mungkin tidak mengabulkan apa yg kita pinta selama tidak ada muatan buruk , bobrok dan merusak di dalam doa kita.

Wallohu'alam, setidaknya itulah yg dapat kita pelajari dari perjalanan spiritual menuju kesejatian hidup dan kejernihan.

Sabtu, 16 Juni 2018

Kunci Bahagia


Sungguh sangat banyak keterangan dari Alloh dan rosulullo tentang berbagi dengan sesama. Pemenuhan kebutuhan kepada kerabat, sanak saudara, sahabat, tetangga yg memang sedang membutuhkan
Apapun saja, baik materi maupun tenaga.
Maka salah satu sabda kekasih alloh yg sangat terngiang adalah, "Sebaik Baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
Itu merupakan suatu perbuatan yg tentu masuk dalam kategori "amalan sholihan" / perbuatan baik.
Bahkan hal tersebut menjadi substansinya perbuatan baik.

Terkait perkara itu, Allah SWT berfirman:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ  ۖ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)

Tidak ada rasa takut serta tidak bersedih hati adala suasana kebahagiaan.
Yang dicari banyak orang dengan cara cara pemenuhan pemenuhan keinginannya pribadi yg konon ingin bahagia justru menjadi kebalikan dari sumber bahagia itu sendiri.
Sumber kebahagian sudah sangat jelas diinformasikan langsung oleh penguasa semesta, Alloh azza wa jalla.
Yaitu 1.Berserah diri secara totalitas kepada Alloh, dan 2.Berbuat Baik.

Sholat apakah merupakan perbuatan baik?
Haji apakah merupakan perbuatan baik?
Sedangkan ini merupakan pemenuhan kebutuhan pribadi?
Bagaimana kita hendak menemukan penjelasan ini?

Sahabat sebenarnya amalan amalan peribadatan dalam islam itu tidak untuk kita pribadi.
Kita sama sama tahu bab sholat.
Dipenghujungnya adalah kita mendoakan saudara saudara muslim kita dan mendoakan rosululloh s.a.w
Meskipun seolah untuk pribadi kita, sejatinya juga untuk orang lain.
Demikian juga peribadatan peribadatan yg lain.
Bahkan puasa pun juga demikian, getaran taqwa yg anda hasilkan dari puasa akan mengimbas kebahagiaan di kanan kiri anda secara sangat sirri, sehingga jarang kita sadari getarannya.

Jadi sebenarnya ini semua adalah tentang hablun minan nass.
Interaksi sosial kita dengan sesama.
Terserah dalam bagian apa anda ikut andil meringankan beban saudara kita.
Silahkan secara mental, ataupun materi.
Yg penting adalah memberikan spirit kebahagiaan.
Kalau yg anda limpahkan adalah justru mempersempit spirit semangat saudara kita.
Siap siap saja kita akan dipersempit pula oleh Alloh dalam macam macam urusan kita
Naudzubillah min dzalik.

Wallohu'alam bish-showab

Sahabat ........
Semoga kita senantiasa diberi keluasan hati dan kasih sayang untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.
Amin

Kamis, 19 April 2018

Khalifah adalah Pelayan

dalam pernyataan Alloh tentang penciptaan manusia,
ada misi penting di dalamnya
setidaknya ada 7-9 ayat di dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang misi/tugas
diciptakannya manusia yakni sebagai khalifatulloh fil-Ardh dan Abdi

Kebanyakan ayat ayat yang berbicara tentang khalifah
adalah dijelaskan atau diperuntukkan kepada kelompok atau golongan golongan secara khusus
seperti dalam Q.S Al-A'rof : 74, penjelasan kholifah lebih ditujukan kepada kaum Ad.
kemudian seperti pula di dalam Q.S Al-A'rof : 129, penggunaan kata kholifah ditujukan kepada kaum nabi Musa,
Q.S Shod : 26, kholifah ditujukan kepada nabi Daud a.s, sedangkan dalam Q.S Adz-Dzariyat : 56, secara global Alloh menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan Manusia adalah untuk mengabdi

abdi adalah pelayan
terlepas dari menjadi pelayannya siapa manusianya kelak
yang paling jelas, secara fitrah manusia ditanamkan rasa untuk melayani
kalau bukan melayani kebaikan, maka pasti dia akan melayani keburukan
kalau bukan melayani Alloh, maka manusia akan melayani yang selainnya Alloh
yakni materi materi yang tersebar di alam dunia

Maka sejatinya esensi dari misi utama diciptakannya manusia sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqoroh :30 adalah melayani Alloh di muka bumi (kholifatulloh). yakni menjadi pelaksana pelaksana dari kehendak Alloh di muka bumi.
juga saling melayani sesama
sebagaimana dalam hadist qudsy, tersirat "Aku sakit kenapa tidak engkau jenguk?". sakitNya Alloh terletak pada sakitnya saudara muslim / sesama manusia
maka sangat selaras kemudian dengan sabda baginda nabi s.a.w, "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
bahkan dicontohkan dalam sikap baginda nabi s.a.w
yang selalu melayani siapa saya yang butuh pelayanan dari beliau
banyak ajaran islam yang mencerminkan sikap pelayanan ini, mulai dari menyantuni anak yatim, saling bahu membahu yang diisyaratkan bahwa muslim satu dengan muslim lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi, mencintai fakir miskin, dlsb
yang menggambarkan bahwa sikap utama orang yang berikrar islam adalah harus melayani sesama
semuanya berhubungan erat dengan pelayanan atas alam semesta yang kita kenal dengan istilah rahmatan lil 'alamin

bukan hanya Rosululloh s.a.w, bahkan Alloh s.w.t pun memiliki sikap pelayan. sebagaimana tersirat dalam firmanNya "ud'uni astajib lakum" -memintalah akan aku perkenankan-
meskipun terbalut dalam bahasa yang elegan, namun esensinya adalah sama
melayani
karena sudah sangat fitrah jika manusia juga memiliki kefitrahan sikap melayani.
Maka agar tidak sampai salah kaprah, islam mendidik kita untuk mengarahkan fitrah pelayanan ini kepada hal hal yang lebih positif dan netral
bukan kepada hal hal yang negatif dan merusak
bukan melayani dalam kedholiman sehingga terbentuk kemungkaran kemungkaran
melayani kemungkaran artinya anda menyetujui atau membantu proses terjadinya kedholiman
maka dalam islam, kita ditekankan untuk ber-amar makruf nahi munkar
agar tidak terjadi proses saling membantu dalam berbuat kemungkaran
-wallohu'alam-

Minggu, 01 Oktober 2017

Jam'iyatud-Daim, refleksi sholat berjamaah

Bismillahirrohmanirrohim
Di dalam khazanah islam, kita sama sama paham bahwa ada satu amaliah yang cukup diutamakan. Yang mana amaliah tersebut akan menjadi penentu baik buruknya amaliah kita yang lainnya.
Bahkan suatu ketika, baginda nabi s.a.w menyatakan bahwa amaliah tersebut adalah menjadi tiangnya agama. Amaliah ini yg dimaksud adalah sholat.

Beranjak dari sholat baik secara lahiriyah berikut dengan tatanan fiqhnya, maupun secara bathiniah yg dapat kita pelajari melalui disiplin keilmuan tasawuf, kita akan menemukan bahwa sholat ini penerapannya memanglah sangat luas.
Secara nilai,  Fiqh sholat ternyata tidak melulu berlaku hanya pada kondisi kondisi tertentu (sholat nawafil) saja.
Melainkan juga dapat kita terapkan dalam segala lini kehidupan.
Yaa memang demikianlah sholat, sehingga sampai disebut sebagai penentu kebaikan hampir seluruh amaliah kita di hadapan Alloh

Sebagai contoh adalah dalam perilaku spiritual / suluk / tasawuf, tentu esensi sholat adalah untuk mencapai kesadaran hubungan kita dengan Alloh (...... Aqim ash-sholat lidzikri......)
Setiap sendi syarat rukun sholat ternyata memang memiliki nilai nilai nya masing masing. Seperti bagaimana menerapkan kesungguhan takbir di dalam keseharian, bagaimana berada dalam keadaan jumeneng tegak lurus menghadapkan wajah kepada Alloh, bagaimana bersujud dalam perilaku sehari hari, dan lain sebagainya.

Pun ternyata perihal ini tidak hanya berhenti pada keadaan sholat yg munfarid / sendiri saja. Nilai nilai sholat secara berjamaah pun dapat kita terapkan di dalam kehidupan sehari hari kita. Mengingat sabda nabi s.a.w, "sholat seseorang secara berjamaah adalah lebih utama daripada sholatnya sendirian selama 40 tahun", maka sudah sepatutnya kita juga selalu berada dalam kondisi berjamaah dalam segala hal.

Kalau para ulama sepuh dahulu meninggalkan warisan Sholatud-Daim, yakni sholat yg berkepanjangan. Kita sekarang dapat memperluas cakrawala pandangan kita menuju sholat berjamaah yg berkepanjangan pula.
Karena sesungguhnya mistahil umat islam akan kuat jika tanpa berjamaah. Maka sudah sangat jelas esensi daripada wanti wanti nabi s.a.w ketika beliau menegaskan agar kita, umat beliau tetap berada di dalam jamaah. Dan tentu jamaah yang beliau maksud ini adalah jamaah yg serupa dengan organisasi.
Meskipun bentuknya lebih fleksibel.

Oke mari sekarang kita pelajari lalu praktikkan sikap berjamaah sebagaimana yg beliau s.a.w maksud dalam keseharian.
Berbicara tentang jamaah tentu ada dua poin penting yang ada di dalam kelompok / jamaah. Yakni adanya imam dan makmum, adanya umaro / pemimpin dan yang dipimpin. Jika Pada zaman nabi s.a.w, imamnya adalah beliau sendiri yang langsung ditunjuk oleh Alloh s.w.t. makmumnya adalah muslimin dan mukminin sekalian. Maka saat ini adalah kita bermakmum kepada sesiapa yg telah kita percaya untuk menjadi imam.

Berangkat dari situ mari kita mulai memerankan apa yg semestinya kita perankan. Yakni menjadi makmum yang baik.
Sejak kita berada di tingkat sekolah dasar, Madrasah Ibtidaiyah, atau ketika kita ngaji bab sholat di TPQ TPQ Diniyah, kita sama sama tahu bahwa salah satu keharusan bagi makmum adalah mengikuti gerakan imam dan dilarang mendahului gerakan imam.
Kalaupun terlanjur mendahului gerakan imam, sebaiknya kita tidak lantas menyempurnakan rukun sholat yg berikutnya dahulu sebelum imam menyempurnakan rukun sholat yg seharusnya.

Demikian pula dalam berjamaah di masyarakat atau ormas atau organisasi manapun. Imam sudah ada, makmum sudah ada. Tinggal jalan. Yang sedang menjadi imam semestinya menjalankan dengan baik kewajiban kewajiban bagi seorang imam. Yang jadi makmum pun sudah seharusnya menjadi makmum yang baik.

Di sini berlaku firman Alloh, "athi'ulloh wa athiurrosul wa ulil amri minkum".
Kalau sebagian kita sedang dalam keadaan tidak enak hati dengan sang imam. Entah cemburu entah faktor apa saja yg menyebabkan kita sakit hati terhadap imam yg telah dipilih oleh anggota jamaah yg ada, sebaiknya kita segera menepis rasa sakit hati tersebut. Se-dongkol apapun kita terhadap sosok imam, kita musti bijak dalam menyikapi kondisi yg ada. 

Contoh dalam praktiknya jamaah sholat, sekalipun hati anda sedang dongkol dengan imam sholat saat itu, tetap saja anda musti mengikuti gerakan gerakan imam. Kalau ndak mau ya lebih baik keluar dari shof dan shokat sendiri. Yang seperti itu lebih menyelamatkan diri anda sendiri. Namun anda akan terlepas dari keutamaan berjamaah sebagaimana yg diwasiatkan oleh nabi s.a.w di atas, dan anda jadi menyelisihi wasiat nabi karena beliau lebih suka melihat ummatnya dalam keadaan berkelompok atau berjamaah, pun Alloh juga lebih suka dengan jamaah.

Oke kita lanjutkan, kenapa kita musti menepis ketidak sukaan hati kita dan harus manut patuh dengan imam yg kita sendiri tidak cocok dengannya?
Yang pertama Karena sejatinya jamaah adalah sebuah metode ilahiah.
Sebagaimana tertuang dalam Q.S al-fajr ayat 29, "fadkhulii fi 'ibadii" yang oleh para ulama telah disepakati tafsirnya bahwa itu adalah panggilan Alloh untuk masuk ke dalam jamaah hamba hambanya {lihat tafsir jalalain}

Sebuah metode yang dirancang oleh Alloh untuk menepiskan ego / nafsu kita sebagai manusia.
Kita berada di sini adalah bukan untuk menonjolkan keegoan kita, melainkan untuk menipiskan ego kita sehingga kita bisa menjadi ummatan wasathon yang saling berkasih sayang, bukan saling bercerai berai.

Al-An'am (الأنعام) / 6:12

قُلۡ لِّمَنۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلۡ لِّلّٰہِ ؕ کَتَبَ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ ؕ لَیَجۡمَعَنَّکُمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا رَیۡبَ فِیۡہِ ؕ اَلَّذِیۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ

Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.

Kita yang telah mengaku beriman dan berikrar islam, sudah semestinya menepiskan segala bentuk kecemburuan sosial di dalam hati kita masing masing. Dalam bentuk apa saja. Ya media belajar yg paling efektif untuk menepiskan segala bentuk rasa sakit hati sehingga berubah menjadi kasih sayang adalah dalam jamaah / organisasi / keluarga dan semacamnya.

Kenapa saya katakan demikian, karena kasih sayang adalah merupakan indikasi mutlak dari Alloh atas keimanan kita terhadapNYA dan juga refleksi kecintaan kepada nabiNya s.a.w, sebagaimana tertuang dalam Q.S maryam : 96

اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَیَجۡعَلُ لَہُمُ الرَّحۡمٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Wallohu'alam bishshowab
Semoga secarik tulisan ini bisa menyadarkan kita tentang pentingnya pengikisan ego diri kita. Jamaah apapun yg kita sedang ada di dalamnya, mari kita gunakan ia sebagai wasilah atau jalan kita untuk mencapai keridhoan Alloh s.w.t

-----------------
Al-Mumtahanah (الممتحنة) / 60:7

عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

-------------
Al-Ma'idah (المائدة) / 5:35

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Kamis, 28 September 2017

Alloh diluar Alam

Bismillahirrohmaanirrohim........

Tulisan ini sebenarnya untuk mengungkapkan saja apa yang sempat dipertanyakan oleh beberapa sahabat seperjalanan.

Kita telah sama sama belajar berjalan kehadiratulloh secara berjamaah maupun sendiri sendiri
Dikarenakan ini adalah wilayah yang rahasia, yakni hanya pejalan sendiri yang memahami sampai mana perjalananannya.
Maka tentu ada beberapa sahabat yg telah benar benar lepas landas dari ragawinya hingga lepas dari alam semesta
Ada yang justru masih terjebak dalam ranah analogi fikir yang hampir tampak seperti nyata spiritual
Namun ternyata masih berupa khayalan.

Masih berada dalam rongga rongga kosong semesta.

Sahabat..........
Terkait pertanyaan klasik yg terus berulang hingga saat ini
Yakni Di Mana Alloh?
Maka tentu masing masing kita akan menemukan pemahamanny masing masing sesuai kadar perjalanan dirinya
Bagi yang tidak berjalan sama sekali dalam wilayah spiritual, atau tidak tertarik dengan perjalanan suluk,
Tentu pemahaman yang sebatas riwayat 'katanya' bin 'katanya' itu saja sudah cukup.
Yang kelak kemudian selesai dan berhenti pada lahirnya ilmu ma'rifat atau yg familiar dengan istilah ma'rifatulloh bil-'ilmi atau ilmul-yaqin.
Tahu tentang esensi dan keberadaan Alloh berdasar litelatur dan disiplin disiplin ilmu semata.
Tidak salah juga bagi mereka yg mengambil sikap demikian.

Dan telah cukup banyak riwayat yg menjelaskan tentang keAdaan Alloh.
Yang lalu dirumuskan dalam sifat 20, dirumuskan dalam penjabaran ma'rifatul-asma, ma'rifatul-fi'li (af'al), ma'rifatush-shifat, dlsb.
Semua yang telah dijelaskan oleh para ulama sepuh melalui metode metode penyelarasan pikiran semacam itu adalah benar.

Namun bagi sebagian orang pula,
Tentu ada terusik kesadarannya untuk menempuh jalan penyaksian
Sehingga pengetahuannya kepada Alloh tidak sebatas berhenti dalam khazanah katanya bin katanya, ilmul-yaqin semata
Ada sebagian yg tergerak untuk menyaksikan tentang apa yg telah ia peroleh dari pernyataan para ulama
Sehingga sampailah ia pada tataran / maqom / wilayah penyaksian.
Atau yg sering kita kenal dengan 'ainul yaqin.

Sahabat.........
Wilayah ainul yaqin adalah wilayah dimana anda, kita, benar benar menyaksikan realitas yang ada
Bukan lagi berupa analogi pikir
Atau sekedar tebak menebak
Bahkan sekedar menerima pernyataan yg terluap dari para guru dan masyayikh kita.

Terkadang luapan penyaksian seseorang itu benar namun karena keterbatas kosakata yg ada, maka luapan tersebut menjadi 'blur' bagi pendengar yg masih berada dalam tataran ilmul-yaqin
Seperti halnya pernyataan "Alloh ada di luar alam semesta" tentu saja hal ini secara sekilas akan bertentangan dengan pemahaman bahwa Alloh ada di mana mana.

Kejadian seperti ini tidak akan selesai hanya dengan klarifikasi secara tutur tinukar semata.
Hal semacam ini perlu benar benar kita jalani dan bertanya / minta petunjuk langsung kepada Alloh
Sekiranya hal ini benar tentu akan ditunjukkan oleh Alloh realitasNya
Pun sekiranya pernyataan yg mengusik kita itu salah, Alloh akan menunjukkan realitas yang sesungguhNya.

Sebagai contoh, kita kembali ke dalam pembahasan semula, yaitu di Mana SesungguhNya Alloh berada
Maka dengan tegas saya akan mengatakan, "Alloh ada di luar alam semesta ini".

Tentu akan ada yg bertanya, "bagaimana bisa?  Bukankah DIA sendiri menyatakan bahwa DIA lebih dekat dengan urat nadi kita? dan bahkan DIA juga menyatakan bahwa kemanapun kita menghadap, di situ kita dapati wajahNYA."

Sahabat,,,,,,, kiranya perlu kita sadari bersama bahwa apa yg kita saksikan sebagaimana dalam pertanyaan di atas sesungguhnya adalah ilmuNYA, af-alNYA dan ShifatNYA.
DIA ada di luar ruang dan waktu hingga alam semesta.
Kalau kita melihat cahaya, realitas yg kemana mana kita lihat adalah sinarnya.
Pancarannya. Cahayanya.
Sejatinya partikel partikel cahaya itu jika kita amati lebih jauh, ia tidak berada pada apa yg semula kita kira sebagai cahaya.

Kalau kita bicara tentang di mana Alloh berada.
Setidaknya ada satu firmanNya yg secara global telah memberikan permisalan keberadaanNya.
Yakni di dalam al-Qur'an Surah an-nur ayat 35
Di situlah permisalan yg paling mendekati realitas keberadaanNya.
ayat yg menyebutkan tentang keadaan pelita di dalam misykat yg tak tembus ini adalah menggambarkan tentang diriNYA yg ada di luar segala bentuk bentuk materi sekaligu di balik segala sesuatu

Tentu tidak ada permisalan yg lebih detail lagi dari ini, atau singkat kata saya belum pernah menemukan permisalan tentang keadaanNya yang lebib mendekati kenyataan yg ada secara rinci melebihi gambaran di dalam ayat ini.
Sedangkan firmanNya yg lain tentang persemayamanNya di atas arsy sekaligus lebih dekat adalah dengan kita adalah sebagian dari kebulatan total qs.an-nur:35

Kalau anda bersuluk, dalam tataran tertentu anda akan sampai pada kesadaran dimana diri anda sejatinya adalah bukan diri anda yg berbentuk fisik ini
Melainkan diri yg abstrak, ada didalam sekaligus diluar
Dikatakan di dalam raga fisik, tapi terkadang kita justru dapat melihat raga fisik kita dari sudut ketinggian
Maka Alloh saya katakan juga Maha Abstrak, menyatakan di dalam misykat yg tak tertembus, yg lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Namun secara lebih dalam ternyata itu hanya semacam pintu gerbang untuk memasuki dimensi alam lahut / alam ilahiah
Yang mana tak tersentuh oleh jisim jisim materiil.
Lepas dari alam semesta sebagaimana yg selama ini tampak sebagai perbendaharaan nyata
Di alam lahut tersebut pun ternyata kita dapat menyaksikan secara haqq bahwa alam lahut benar benar berada di luar alam nasut/kebendaan/alam semesta.

Maka berlakulah sabda nabi yang mulia s.a.w, "sholat itu adalah mi'rojnya kaum mukminin". Sebuah metoda suluk yg dirancang oleh Alloh untuk hamba hambanya yg beriman dan mendambakan perjumpaan sekaligus persaksian agung dengan diriNYA.
Di sini ilmul'yaqin itu tidak berlaku atau justru penyaksian ini menjadi penguat / penegasan / penunjuk kebenaran atau kekeliruan dari segala keilmuan yg pernah kita pelajari.

Senin, 14 Agustus 2017

Ridho dan Ikhlas

Sering saya ungkapkan di dalam blog ini
Bahwa takaran dan alat ukur itu penting untuk menemukan kebenaran dalam menanggapi informasi yang ada
Kalau saya ngomong tentang Roda
Jangan asal dianggap setiap roda itu adalah roda motor.
Kecuali kalau anda benar benar telah menyimak secara kontinyu bahwa topik kita pada saat membicarakan roda itu adalah berkaitan dengan motor.

Wallohu'alam
Itu sekedar muqoddimah saja di awal tulisan ini.

Sahabat sekalian......
Beberapa diantara kita mungkin ada yg masih memerlukan sedikit uraian tentang apa itu yang disebut dengan Ridho dan apa itu yang disebut dengan Ikhlas.

Kalau anda sudah berada di dalam wilayah kesadaran ilahiah
Yaitu sadar total akan hubungan anda dengan Alloh, tentu ridho dan ilhlas ini adalah sesuatu yg sudah tidak rancu
Namun bagi beberapa sahabat dan saudara kita yg kebetulan masih terjebak dalam ranah fikiran
Dan sedang dalam perjalanan menfitrahkan kembali fikirannya
Tentu ini adalah sesuatu yg penting

Sahabat.........
Ridho dan Ikhlas ini sejatinya adalah sama, namun karena penerapannya saja yang kemudian menyebabkan dalam penyebutannya tampak beda

Ridho adalah posisi menerima yang disertai kesadaran secara mendalam bahwa yang diterimanya adalah benar benar dari Alloh (min-Alloh)
Ikhlas adalah posisi melepaskan / mengeluarkan sesuatu yang semula melekat pada diri kita. Dan tentunya dibarengi dengan kesadaran penuh bahwa yang pertama kali menerima apa apa yg kita lepaskan adalah Alloh (ilalloh)
Sehingga kedua hal tersebut akan membuahkan kesadaran secara mendalam bahwa hubungan kita dengan Alloh adalah benar benar sangat dekat (ma'alloh)

Kalau anda sedang berada dalam posisi apapun saat ini, maka sikap yg anda ambil tentu adalah ridho, sedangkan saat anda melepaskan apa saja yg sebelumnya sempat ada di dalam lingkupan diri anda, sikap yg sangat perlu anda ambil adalah ikhlas.

"Lho mas, kalau begitu bagaimana dengan adanya sikap ikhlas menerima dan rela/ridho memberikan?"

Sebenarnya itu adalah sikap yg sama, hanya saja penggunaan katanya yg sedikit mangalami kerancuan.
Ikhlas menerima ya sebenarnya Ridho itu sendiri
Sedangkan rela/ridho memberikan adalah ikhlas itu sendiri

Kalau anda secara pribadi paham bagaimana model ikhlas menerima tentunya anda paham apa yg dimaksud ridho
Begitupun sebaliknya

Wallohu'alam, saya selesai di sini dahulu, semoha bermanfaat
(Di sini sudah Isya')

Suluk adalah......

Secara bahasa suluk berarti perjalanan, secara budaya maupun tradisi, suluk dapat dipahami sebagai perjalanan jiwa.
Sedikit berbeda dengan thoriq yang juga jalan namun lebih condong ke ranah fisik / materi.
Shiroth adalah medianya atau jalannya.

Suluk adalah perjalanan jiwa
Dimana yang bergerak untuk melakukan perjalanan adalah jiwanya
Bukan raganya, bukan fisiknya lagi terlebih egonya
Ego sendiri adalah percikan dari momentum gerak fisik yg teradiasi oleh gerak angan angan / fikir.
Angan angan ini timbul karena efek tangkapan panca indra yang beradu padu di dalam memori otak yang kemudian juga kita sebut dengan fikiran.
Kebiasaan aktifnya fikiran dalam hal menangkap berbagai macam informasi dari panca indra ini lantas terbawa secara bebas dalam bentuk imajinasi
Ini lah cikal bakal angan angan

Thoriq, adalah perjalanan atau tahapan yang melibatkan unsur jasad termasuk fikiran
Terkadang lisan, jari jemari, hingga pikiran dipusatkan pada satu titik temu yang disebut dengan wirid.
Yakni melafalkan bacaan tertentu untuk menggerakkan ranah pikirnya dan raganya untuk mencapai satu kondisi ketertataan.
Secara simpel bisa kita katakan bahwa thoriq adalah proses penataan pikiran
Agar ia ia tidak liar dalam berkhayal atau berimajinasi atau berandai andai atau berangan angan.

Shiroth adalah bentuk jalannya
Ada yang menggunakan jalan sholawat, wirid asmaul husna, tasbih tahmid takbir, tahlil dan lain sebagainya.

Kembali lagi
Sedangkan suluk adalah diluar sekaligus di dalam itu semua
Atau sudah tidak terlepas dan terbebas dari itu semua
Jika thoriq yang ditekankan adalah penataan pikiran
Maka suluk adalah sudah selesai dari penataan pikiran
Atau langkah selanjutnya yg dilakukan setelah pikiran itu tertata sebagaimana mestinya/ sesuai fitrahnya

Suluk, yang digerakkan adalah jiwanya
Bukan lagi pikirannya.

Maka kalau anda menemui orang yang penuh dengan analogi pikir yg luar biasa ribetnya, dia sedang dalam proses pergerakan pikir.
Dimana dia sedang dalam tahap pencarian atau dengan kata lain sedang mensinkronkan pikirannya atas berbagai informasi yang masih belum jelas baginya apanya itu suatu capaian kebenaran ataukan bukan.

Orang orang suluk biasanya ia akan lebih damai atas berbagai bentuk nalar fikir.
Karena sudah bukan wilayahnya untuk berbelit belit dalam ranah pikiran lengkap dengan analogi analoginya.

Pikiran, fitrahnya adalah untuk menangkap bentuk perintah atau kehendak dari si jiwa.
Si jiwa pergerakannya adalah menuju Alloh. Sang Penguasa Sejati
Robb semesta Alam
Yang meliputi segala ruang dan waktu
Yang mengkondisikan berbagai macam keadaan
Dengan kata lain
Jiwa, fitrahnya adalah memerankan apa yg telah diperintahkan oleh Alloh
Maka dia disebut sebagai khalifatulloh fil-ardhi

Oke, sampai sini semoga kita diberi kefahaman oleh Alloh.
Wallohu'alam bish-showab

Jumat, 11 Agustus 2017

Sikap Saat berhadapan Dengan Hati Yang Keras

Alloh maha kuasa atas segala galanya, termasuk menciptakan banyak hal dari sesuatu yang sama sekali berada di luar nalar logika kita.
setidaknya itu salah satu hikmah yang diungkapkan di dalam Q.S Al-Baqoroh ayat 60
digambarkan dengan lugas tentang air yang memancar dari Bebatuan Padat nan Keras.
dapat kita ambil hikmah sedikit sekiranya bebatuan itu di zaman ini atau di ranah spiritual adalah rupa daripada hati yang mengeras.
sedangkan ayat yang ke-61 dari surah al-Baqoroh menggambarkan secara gamblang tentang keingkaran / kekufuran makhluqnya ketika diberi kecukupan rizki.

beberapa hikmah dapat kita petik dari 2 ayat ini, selengkapnya dapat disimak dalam vidio di bawah ini :
semoga bermanfaat. amin

Sabtu, 05 Agustus 2017

4 Nafsu yang Satu

Dari sekian banyaknya metode pengenalan diri, ada beberapa yg mungkin dapat kita serap dan padatkan.
Bicara tentang nafsu, mungkin di dalam benak kita akan bermunculan bermacam macam persepsi yang memunculkan imajinasi berbentuk sosok sosok.
Kalau nafsunya lawwamah, sosoknya bagaimana. Nafsunya amarah bagaimana dan semacamnya.

Saya akan berangkat dari takarannya dulu.
Kalau kita bicara tentang nafsu, berarti kita musti sepakati dulu. Ini yang dimaksud adalah nafsu yang merupakan kata serapan dari bahasa arab kah? Atau nafsu yg selama ini kita pahami sebagai macam macam keinginan?
Takaran ini memang penting. Kalau saya ngomong 'kilo' dalam ranah satuan meter, lalu lawan bicara saya memahami 'kilo' dalam satuan gram. Tentu akan sangat rancu. Bahkan apabila hal ini terjadi pada dialektika konsep spiritual, akan sangat lucu jadinya.

Oke mari kita mulai.
Nafsu yang saya maksudkan di sini adalah nafsu yang berarti 'diri'.
Berangkat dari kata 'an-nafs' dalam kosakata arab.
Secara umum sebagian dari kita mungkin telah memahami adanya bermacam macam jenis nafsu. Ada yang namanya sufiyah, lawwamah, muthmainnah, amarah dlsb.
Setidaknya dari keempat nama itu saja persepsi kita mulai terkotak kotak.
Maklum kita sekarang sedang disuguhi cara berpikir yg terkotak kotak, fakultatif. Jadi sangat wajar jika pola pikir kita musti lebih pelan dan santai untuk memahami hal hal yg bersifat universal. Kesatuan, kemanunggalan, tauhid.

Empat nama yg dilekatkan pada kata 'nafsu' di atas itu sebenarnya adalah pensifatan atas tingkah polah si diri manusianya.
Diri / nafsu dikatakan ammaroh adalah ketika dia dipenuhi oleh sifat sifat yang penuh keinginan. Dimana siapapun orangnya yg dalam benaknya dipenuhi oleh berbagai macam keinginan, rata rata ia akan mengambil sikap gegabah, terburu buru, bahkan sampai suka marah marah akibat banyaknya endapan keinginan yg belum tercapai.
Nafsu / diri dikatakan sufiyah apabila dia dipenuhi kehendak untuk berbuat kebajikan, keinginan untuk mendekat kepada Alloh. Kehendak untuk beribadah dan lain semacamnya.
Dikatakan sebagai lawwamah apabila ia cenderung bersikap malas dalam hal apapun termasuk melangkahkan dirinya kehadiratulloh hingga perkara perkara duniawiyah.
Dan dikatakan muthmainnah apabila dia telah mencapai kondisi ketenangan dan ridho atau menerima setiap bentuk ketentuan dari Alloh yg berlaku atas dirinya.

Nama nama atau sebutan sebutan itu hanyalah gelar yg disandangkan kepada si pelaku saja. Sebenarnya esensinya ya satu. Diri itu sendiri.
Sama halnya ketika si-A mencuri dia akan disebut maling, apabila si-A bersedekah dia akan dikatakan dermawan, apabila si-A bertaubat lantas menjadi rajin ibadah dia dikatakan sebagai 'Abid, apabila ia enggan berbuat apapun dikatakan sebagai pemalas.
Sama halnya apabila pakde paklek saya memanggil saya dengan sebutan Donie al-Murtadho, sahabat sahabat majlis suluk menggelari saya dengan sebutan Donie Gemblung, sedangkan orang tua saya sendiri memberi nama Donie Verdyan.
Orang nya sama, namun beda penyebutannya saja.

Begitupun Alloh. Ketika DIA berfirman, "berdoalah dengan menyebut ar-Rahman atau nama nama indahKU yang lain".
Bukan berarti ar-Rahman dan ar-Rohim adalah entitas yg berbeda.
Ini adalah hal yg sangat mendasar.
Kita jangan mudah terjebak pada bentuk betuk kosakata semata.
Kesadarandan sudut pandangnya musti meluas.

Jadi jangan mengira di dalam batang tubuh kita ini ada banyak bentuk bentuk jiwa.
Jiwa kita atau diri kita ini ya satu.
Sebagaimana raga kita yg hanya satu ini.
Jiwa adalah diri atau nafsu itu sendiri.
Biar tidak rancu lagi.
Selebihnya tentang pengenalan tentang diri saya kira sudah sering saya ulas di blog ini, semoga sedikit tulisan ini bermanfaat.
Jika ada yg masih bingung silahkan hubungi saya.

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...