Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Rabu, 27 November 2019

Energi Sejati

Dalam dzikir, meditasi, mengendapan rahsa dlsb, pasti ada suatu keadaan dimana mau tidak mau kita musti mengakui bahwa memang ada suatu kekuatan luar biasa diluar akal, nalar, dan kesadaran kita. Ada penguasa sejati yang memang benar benar mutlak menguasai segala bentuk gerak dan keadaan di jagat raya ini.

Islam mengajarkan suatu kunci untuk mengetuk dan membuka cakrawala kesadaran baru tentang realitas ini. Bukan sekedar kilasan lafadz atau mantra, melainkan benar benar dapat kita masuki ruang spiritualnya. Yakni "laa Haula wa laa quwwata Illa Billah".


Kesadaran baru sekaligus kuno, karena sejatinya pemilik ruang dan waktu adalah Baqo', maka ini berlangsung dan berfungsi untuk seluruh masa dulu-kini-kelak.

Dalam bermeditasi, berdzikir, pengendapan rahsa, kita selalu belajar untuk menep yang artinya benar benar mengendapkan segala bentuk imajinasi, pikiran, bahkan berbagai nuansa rasa.
Hingga benar benar kita mencapai rahsa sejati dimana diri kita yg murni benar benar dapat kita temui dan kita sadari adanya. Diri kita yang sejati adalah apa yg ada di pusat manah (di sekitaran dada) kita. Memiliki gelombang energi cukup besar karena ia hanya sebagai cerminan atau gerbang yang tersambung dengan energi sejati ilahiah. Sekali lagi ia hanya memantulkan atau menyalurkan saja dari Sang Maha Kuasa.

Kalau anda,saya,kita,siapa saja masih mengandalkan pikiran maupun lainnya tentu ini tidak akan benar benar dapat sempurna memancarkan daya ilahiah.
Namun ketika kita sedang berada dalam keadaan yang totalitas berserah, menyadari ketiadaan kita, memasuki ruang demi ruang, dimensi demi dimensi realitas ketiadaan daya upaya kita. Hingga totalitas kita tiada. Maka dari situlah daya ilahiah akan memancar sempurna.

Di wilayah itulah kita berdoa, memohon kepada Sang Penguasa Sejati, tentang apa saja. DIA tidaklah mungkin tidak mengabulkan apa yg kita pinta selama tidak ada muatan buruk , bobrok dan merusak di dalam doa kita.

Wallohu'alam, setidaknya itulah yg dapat kita pelajari dari perjalanan spiritual menuju kesejatian hidup dan kejernihan.

Sabtu, 16 Juni 2018

Kunci Bahagia


Sungguh sangat banyak keterangan dari Alloh dan rosulullo tentang berbagi dengan sesama. Pemenuhan kebutuhan kepada kerabat, sanak saudara, sahabat, tetangga yg memang sedang membutuhkan
Apapun saja, baik materi maupun tenaga.
Maka salah satu sabda kekasih alloh yg sangat terngiang adalah, "Sebaik Baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
Itu merupakan suatu perbuatan yg tentu masuk dalam kategori "amalan sholihan" / perbuatan baik.
Bahkan hal tersebut menjadi substansinya perbuatan baik.

Terkait perkara itu, Allah SWT berfirman:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ  ۖ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)

Tidak ada rasa takut serta tidak bersedih hati adala suasana kebahagiaan.
Yang dicari banyak orang dengan cara cara pemenuhan pemenuhan keinginannya pribadi yg konon ingin bahagia justru menjadi kebalikan dari sumber bahagia itu sendiri.
Sumber kebahagian sudah sangat jelas diinformasikan langsung oleh penguasa semesta, Alloh azza wa jalla.
Yaitu 1.Berserah diri secara totalitas kepada Alloh, dan 2.Berbuat Baik.

Sholat apakah merupakan perbuatan baik?
Haji apakah merupakan perbuatan baik?
Sedangkan ini merupakan pemenuhan kebutuhan pribadi?
Bagaimana kita hendak menemukan penjelasan ini?

Sahabat sebenarnya amalan amalan peribadatan dalam islam itu tidak untuk kita pribadi.
Kita sama sama tahu bab sholat.
Dipenghujungnya adalah kita mendoakan saudara saudara muslim kita dan mendoakan rosululloh s.a.w
Meskipun seolah untuk pribadi kita, sejatinya juga untuk orang lain.
Demikian juga peribadatan peribadatan yg lain.
Bahkan puasa pun juga demikian, getaran taqwa yg anda hasilkan dari puasa akan mengimbas kebahagiaan di kanan kiri anda secara sangat sirri, sehingga jarang kita sadari getarannya.

Jadi sebenarnya ini semua adalah tentang hablun minan nass.
Interaksi sosial kita dengan sesama.
Terserah dalam bagian apa anda ikut andil meringankan beban saudara kita.
Silahkan secara mental, ataupun materi.
Yg penting adalah memberikan spirit kebahagiaan.
Kalau yg anda limpahkan adalah justru mempersempit spirit semangat saudara kita.
Siap siap saja kita akan dipersempit pula oleh Alloh dalam macam macam urusan kita
Naudzubillah min dzalik.

Wallohu'alam bish-showab

Sahabat ........
Semoga kita senantiasa diberi keluasan hati dan kasih sayang untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.
Amin

Kamis, 19 April 2018

Khalifah adalah Pelayan

dalam pernyataan Alloh tentang penciptaan manusia,
ada misi penting di dalamnya
setidaknya ada 7-9 ayat di dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang misi/tugas
diciptakannya manusia yakni sebagai khalifatulloh fil-Ardh dan Abdi

Kebanyakan ayat ayat yang berbicara tentang khalifah
adalah dijelaskan atau diperuntukkan kepada kelompok atau golongan golongan secara khusus
seperti dalam Q.S Al-A'rof : 74, penjelasan kholifah lebih ditujukan kepada kaum Ad.
kemudian seperti pula di dalam Q.S Al-A'rof : 129, penggunaan kata kholifah ditujukan kepada kaum nabi Musa,
Q.S Shod : 26, kholifah ditujukan kepada nabi Daud a.s, sedangkan dalam Q.S Adz-Dzariyat : 56, secara global Alloh menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan Manusia adalah untuk mengabdi

abdi adalah pelayan
terlepas dari menjadi pelayannya siapa manusianya kelak
yang paling jelas, secara fitrah manusia ditanamkan rasa untuk melayani
kalau bukan melayani kebaikan, maka pasti dia akan melayani keburukan
kalau bukan melayani Alloh, maka manusia akan melayani yang selainnya Alloh
yakni materi materi yang tersebar di alam dunia

Maka sejatinya esensi dari misi utama diciptakannya manusia sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqoroh :30 adalah melayani Alloh di muka bumi (kholifatulloh). yakni menjadi pelaksana pelaksana dari kehendak Alloh di muka bumi.
juga saling melayani sesama
sebagaimana dalam hadist qudsy, tersirat "Aku sakit kenapa tidak engkau jenguk?". sakitNya Alloh terletak pada sakitnya saudara muslim / sesama manusia
maka sangat selaras kemudian dengan sabda baginda nabi s.a.w, "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
bahkan dicontohkan dalam sikap baginda nabi s.a.w
yang selalu melayani siapa saya yang butuh pelayanan dari beliau
banyak ajaran islam yang mencerminkan sikap pelayanan ini, mulai dari menyantuni anak yatim, saling bahu membahu yang diisyaratkan bahwa muslim satu dengan muslim lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi, mencintai fakir miskin, dlsb
yang menggambarkan bahwa sikap utama orang yang berikrar islam adalah harus melayani sesama
semuanya berhubungan erat dengan pelayanan atas alam semesta yang kita kenal dengan istilah rahmatan lil 'alamin

bukan hanya Rosululloh s.a.w, bahkan Alloh s.w.t pun memiliki sikap pelayan. sebagaimana tersirat dalam firmanNya "ud'uni astajib lakum" -memintalah akan aku perkenankan-
meskipun terbalut dalam bahasa yang elegan, namun esensinya adalah sama
melayani
karena sudah sangat fitrah jika manusia juga memiliki kefitrahan sikap melayani.
Maka agar tidak sampai salah kaprah, islam mendidik kita untuk mengarahkan fitrah pelayanan ini kepada hal hal yang lebih positif dan netral
bukan kepada hal hal yang negatif dan merusak
bukan melayani dalam kedholiman sehingga terbentuk kemungkaran kemungkaran
melayani kemungkaran artinya anda menyetujui atau membantu proses terjadinya kedholiman
maka dalam islam, kita ditekankan untuk ber-amar makruf nahi munkar
agar tidak terjadi proses saling membantu dalam berbuat kemungkaran
-wallohu'alam-

Minggu, 01 Oktober 2017

Jam'iyatud-Daim, refleksi sholat berjamaah

Bismillahirrohmanirrohim
Di dalam khazanah islam, kita sama sama paham bahwa ada satu amaliah yang cukup diutamakan. Yang mana amaliah tersebut akan menjadi penentu baik buruknya amaliah kita yang lainnya.
Bahkan suatu ketika, baginda nabi s.a.w menyatakan bahwa amaliah tersebut adalah menjadi tiangnya agama. Amaliah ini yg dimaksud adalah sholat.

Beranjak dari sholat baik secara lahiriyah berikut dengan tatanan fiqhnya, maupun secara bathiniah yg dapat kita pelajari melalui disiplin keilmuan tasawuf, kita akan menemukan bahwa sholat ini penerapannya memanglah sangat luas.
Secara nilai,  Fiqh sholat ternyata tidak melulu berlaku hanya pada kondisi kondisi tertentu (sholat nawafil) saja.
Melainkan juga dapat kita terapkan dalam segala lini kehidupan.
Yaa memang demikianlah sholat, sehingga sampai disebut sebagai penentu kebaikan hampir seluruh amaliah kita di hadapan Alloh

Sebagai contoh adalah dalam perilaku spiritual / suluk / tasawuf, tentu esensi sholat adalah untuk mencapai kesadaran hubungan kita dengan Alloh (...... Aqim ash-sholat lidzikri......)
Setiap sendi syarat rukun sholat ternyata memang memiliki nilai nilai nya masing masing. Seperti bagaimana menerapkan kesungguhan takbir di dalam keseharian, bagaimana berada dalam keadaan jumeneng tegak lurus menghadapkan wajah kepada Alloh, bagaimana bersujud dalam perilaku sehari hari, dan lain sebagainya.

Pun ternyata perihal ini tidak hanya berhenti pada keadaan sholat yg munfarid / sendiri saja. Nilai nilai sholat secara berjamaah pun dapat kita terapkan di dalam kehidupan sehari hari kita. Mengingat sabda nabi s.a.w, "sholat seseorang secara berjamaah adalah lebih utama daripada sholatnya sendirian selama 40 tahun", maka sudah sepatutnya kita juga selalu berada dalam kondisi berjamaah dalam segala hal.

Kalau para ulama sepuh dahulu meninggalkan warisan Sholatud-Daim, yakni sholat yg berkepanjangan. Kita sekarang dapat memperluas cakrawala pandangan kita menuju sholat berjamaah yg berkepanjangan pula.
Karena sesungguhnya mistahil umat islam akan kuat jika tanpa berjamaah. Maka sudah sangat jelas esensi daripada wanti wanti nabi s.a.w ketika beliau menegaskan agar kita, umat beliau tetap berada di dalam jamaah. Dan tentu jamaah yang beliau maksud ini adalah jamaah yg serupa dengan organisasi.
Meskipun bentuknya lebih fleksibel.

Oke mari sekarang kita pelajari lalu praktikkan sikap berjamaah sebagaimana yg beliau s.a.w maksud dalam keseharian.
Berbicara tentang jamaah tentu ada dua poin penting yang ada di dalam kelompok / jamaah. Yakni adanya imam dan makmum, adanya umaro / pemimpin dan yang dipimpin. Jika Pada zaman nabi s.a.w, imamnya adalah beliau sendiri yang langsung ditunjuk oleh Alloh s.w.t. makmumnya adalah muslimin dan mukminin sekalian. Maka saat ini adalah kita bermakmum kepada sesiapa yg telah kita percaya untuk menjadi imam.

Berangkat dari situ mari kita mulai memerankan apa yg semestinya kita perankan. Yakni menjadi makmum yang baik.
Sejak kita berada di tingkat sekolah dasar, Madrasah Ibtidaiyah, atau ketika kita ngaji bab sholat di TPQ TPQ Diniyah, kita sama sama tahu bahwa salah satu keharusan bagi makmum adalah mengikuti gerakan imam dan dilarang mendahului gerakan imam.
Kalaupun terlanjur mendahului gerakan imam, sebaiknya kita tidak lantas menyempurnakan rukun sholat yg berikutnya dahulu sebelum imam menyempurnakan rukun sholat yg seharusnya.

Demikian pula dalam berjamaah di masyarakat atau ormas atau organisasi manapun. Imam sudah ada, makmum sudah ada. Tinggal jalan. Yang sedang menjadi imam semestinya menjalankan dengan baik kewajiban kewajiban bagi seorang imam. Yang jadi makmum pun sudah seharusnya menjadi makmum yang baik.

Di sini berlaku firman Alloh, "athi'ulloh wa athiurrosul wa ulil amri minkum".
Kalau sebagian kita sedang dalam keadaan tidak enak hati dengan sang imam. Entah cemburu entah faktor apa saja yg menyebabkan kita sakit hati terhadap imam yg telah dipilih oleh anggota jamaah yg ada, sebaiknya kita segera menepis rasa sakit hati tersebut. Se-dongkol apapun kita terhadap sosok imam, kita musti bijak dalam menyikapi kondisi yg ada. 

Contoh dalam praktiknya jamaah sholat, sekalipun hati anda sedang dongkol dengan imam sholat saat itu, tetap saja anda musti mengikuti gerakan gerakan imam. Kalau ndak mau ya lebih baik keluar dari shof dan shokat sendiri. Yang seperti itu lebih menyelamatkan diri anda sendiri. Namun anda akan terlepas dari keutamaan berjamaah sebagaimana yg diwasiatkan oleh nabi s.a.w di atas, dan anda jadi menyelisihi wasiat nabi karena beliau lebih suka melihat ummatnya dalam keadaan berkelompok atau berjamaah, pun Alloh juga lebih suka dengan jamaah.

Oke kita lanjutkan, kenapa kita musti menepis ketidak sukaan hati kita dan harus manut patuh dengan imam yg kita sendiri tidak cocok dengannya?
Yang pertama Karena sejatinya jamaah adalah sebuah metode ilahiah.
Sebagaimana tertuang dalam Q.S al-fajr ayat 29, "fadkhulii fi 'ibadii" yang oleh para ulama telah disepakati tafsirnya bahwa itu adalah panggilan Alloh untuk masuk ke dalam jamaah hamba hambanya {lihat tafsir jalalain}

Sebuah metode yang dirancang oleh Alloh untuk menepiskan ego / nafsu kita sebagai manusia.
Kita berada di sini adalah bukan untuk menonjolkan keegoan kita, melainkan untuk menipiskan ego kita sehingga kita bisa menjadi ummatan wasathon yang saling berkasih sayang, bukan saling bercerai berai.

Al-An'am (الأنعام) / 6:12

قُلۡ لِّمَنۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلۡ لِّلّٰہِ ؕ کَتَبَ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ ؕ لَیَجۡمَعَنَّکُمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا رَیۡبَ فِیۡہِ ؕ اَلَّذِیۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ

Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.

Kita yang telah mengaku beriman dan berikrar islam, sudah semestinya menepiskan segala bentuk kecemburuan sosial di dalam hati kita masing masing. Dalam bentuk apa saja. Ya media belajar yg paling efektif untuk menepiskan segala bentuk rasa sakit hati sehingga berubah menjadi kasih sayang adalah dalam jamaah / organisasi / keluarga dan semacamnya.

Kenapa saya katakan demikian, karena kasih sayang adalah merupakan indikasi mutlak dari Alloh atas keimanan kita terhadapNYA dan juga refleksi kecintaan kepada nabiNya s.a.w, sebagaimana tertuang dalam Q.S maryam : 96

اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَیَجۡعَلُ لَہُمُ الرَّحۡمٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Wallohu'alam bishshowab
Semoga secarik tulisan ini bisa menyadarkan kita tentang pentingnya pengikisan ego diri kita. Jamaah apapun yg kita sedang ada di dalamnya, mari kita gunakan ia sebagai wasilah atau jalan kita untuk mencapai keridhoan Alloh s.w.t

-----------------
Al-Mumtahanah (الممتحنة) / 60:7

عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

-------------
Al-Ma'idah (المائدة) / 5:35

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Kamis, 28 September 2017

Alloh diluar Alam

Bismillahirrohmaanirrohim........

Tulisan ini sebenarnya untuk mengungkapkan saja apa yang sempat dipertanyakan oleh beberapa sahabat seperjalanan.

Kita telah sama sama belajar berjalan kehadiratulloh secara berjamaah maupun sendiri sendiri
Dikarenakan ini adalah wilayah yang rahasia, yakni hanya pejalan sendiri yang memahami sampai mana perjalananannya.
Maka tentu ada beberapa sahabat yg telah benar benar lepas landas dari ragawinya hingga lepas dari alam semesta
Ada yang justru masih terjebak dalam ranah analogi fikir yang hampir tampak seperti nyata spiritual
Namun ternyata masih berupa khayalan.

Masih berada dalam rongga rongga kosong semesta.

Sahabat..........
Terkait pertanyaan klasik yg terus berulang hingga saat ini
Yakni Di Mana Alloh?
Maka tentu masing masing kita akan menemukan pemahamanny masing masing sesuai kadar perjalanan dirinya
Bagi yang tidak berjalan sama sekali dalam wilayah spiritual, atau tidak tertarik dengan perjalanan suluk,
Tentu pemahaman yang sebatas riwayat 'katanya' bin 'katanya' itu saja sudah cukup.
Yang kelak kemudian selesai dan berhenti pada lahirnya ilmu ma'rifat atau yg familiar dengan istilah ma'rifatulloh bil-'ilmi atau ilmul-yaqin.
Tahu tentang esensi dan keberadaan Alloh berdasar litelatur dan disiplin disiplin ilmu semata.
Tidak salah juga bagi mereka yg mengambil sikap demikian.

Dan telah cukup banyak riwayat yg menjelaskan tentang keAdaan Alloh.
Yang lalu dirumuskan dalam sifat 20, dirumuskan dalam penjabaran ma'rifatul-asma, ma'rifatul-fi'li (af'al), ma'rifatush-shifat, dlsb.
Semua yang telah dijelaskan oleh para ulama sepuh melalui metode metode penyelarasan pikiran semacam itu adalah benar.

Namun bagi sebagian orang pula,
Tentu ada terusik kesadarannya untuk menempuh jalan penyaksian
Sehingga pengetahuannya kepada Alloh tidak sebatas berhenti dalam khazanah katanya bin katanya, ilmul-yaqin semata
Ada sebagian yg tergerak untuk menyaksikan tentang apa yg telah ia peroleh dari pernyataan para ulama
Sehingga sampailah ia pada tataran / maqom / wilayah penyaksian.
Atau yg sering kita kenal dengan 'ainul yaqin.

Sahabat.........
Wilayah ainul yaqin adalah wilayah dimana anda, kita, benar benar menyaksikan realitas yang ada
Bukan lagi berupa analogi pikir
Atau sekedar tebak menebak
Bahkan sekedar menerima pernyataan yg terluap dari para guru dan masyayikh kita.

Terkadang luapan penyaksian seseorang itu benar namun karena keterbatas kosakata yg ada, maka luapan tersebut menjadi 'blur' bagi pendengar yg masih berada dalam tataran ilmul-yaqin
Seperti halnya pernyataan "Alloh ada di luar alam semesta" tentu saja hal ini secara sekilas akan bertentangan dengan pemahaman bahwa Alloh ada di mana mana.

Kejadian seperti ini tidak akan selesai hanya dengan klarifikasi secara tutur tinukar semata.
Hal semacam ini perlu benar benar kita jalani dan bertanya / minta petunjuk langsung kepada Alloh
Sekiranya hal ini benar tentu akan ditunjukkan oleh Alloh realitasNya
Pun sekiranya pernyataan yg mengusik kita itu salah, Alloh akan menunjukkan realitas yang sesungguhNya.

Sebagai contoh, kita kembali ke dalam pembahasan semula, yaitu di Mana SesungguhNya Alloh berada
Maka dengan tegas saya akan mengatakan, "Alloh ada di luar alam semesta ini".

Tentu akan ada yg bertanya, "bagaimana bisa?  Bukankah DIA sendiri menyatakan bahwa DIA lebih dekat dengan urat nadi kita? dan bahkan DIA juga menyatakan bahwa kemanapun kita menghadap, di situ kita dapati wajahNYA."

Sahabat,,,,,,, kiranya perlu kita sadari bersama bahwa apa yg kita saksikan sebagaimana dalam pertanyaan di atas sesungguhnya adalah ilmuNYA, af-alNYA dan ShifatNYA.
DIA ada di luar ruang dan waktu hingga alam semesta.
Kalau kita melihat cahaya, realitas yg kemana mana kita lihat adalah sinarnya.
Pancarannya. Cahayanya.
Sejatinya partikel partikel cahaya itu jika kita amati lebih jauh, ia tidak berada pada apa yg semula kita kira sebagai cahaya.

Kalau kita bicara tentang di mana Alloh berada.
Setidaknya ada satu firmanNya yg secara global telah memberikan permisalan keberadaanNya.
Yakni di dalam al-Qur'an Surah an-nur ayat 35
Di situlah permisalan yg paling mendekati realitas keberadaanNya.
ayat yg menyebutkan tentang keadaan pelita di dalam misykat yg tak tembus ini adalah menggambarkan tentang diriNYA yg ada di luar segala bentuk bentuk materi sekaligu di balik segala sesuatu

Tentu tidak ada permisalan yg lebih detail lagi dari ini, atau singkat kata saya belum pernah menemukan permisalan tentang keadaanNya yang lebib mendekati kenyataan yg ada secara rinci melebihi gambaran di dalam ayat ini.
Sedangkan firmanNya yg lain tentang persemayamanNya di atas arsy sekaligus lebih dekat adalah dengan kita adalah sebagian dari kebulatan total qs.an-nur:35

Kalau anda bersuluk, dalam tataran tertentu anda akan sampai pada kesadaran dimana diri anda sejatinya adalah bukan diri anda yg berbentuk fisik ini
Melainkan diri yg abstrak, ada didalam sekaligus diluar
Dikatakan di dalam raga fisik, tapi terkadang kita justru dapat melihat raga fisik kita dari sudut ketinggian
Maka Alloh saya katakan juga Maha Abstrak, menyatakan di dalam misykat yg tak tertembus, yg lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Namun secara lebih dalam ternyata itu hanya semacam pintu gerbang untuk memasuki dimensi alam lahut / alam ilahiah
Yang mana tak tersentuh oleh jisim jisim materiil.
Lepas dari alam semesta sebagaimana yg selama ini tampak sebagai perbendaharaan nyata
Di alam lahut tersebut pun ternyata kita dapat menyaksikan secara haqq bahwa alam lahut benar benar berada di luar alam nasut/kebendaan/alam semesta.

Maka berlakulah sabda nabi yang mulia s.a.w, "sholat itu adalah mi'rojnya kaum mukminin". Sebuah metoda suluk yg dirancang oleh Alloh untuk hamba hambanya yg beriman dan mendambakan perjumpaan sekaligus persaksian agung dengan diriNYA.
Di sini ilmul'yaqin itu tidak berlaku atau justru penyaksian ini menjadi penguat / penegasan / penunjuk kebenaran atau kekeliruan dari segala keilmuan yg pernah kita pelajari.

Senin, 14 Agustus 2017

Ridho dan Ikhlas

Sering saya ungkapkan di dalam blog ini
Bahwa takaran dan alat ukur itu penting untuk menemukan kebenaran dalam menanggapi informasi yang ada
Kalau saya ngomong tentang Roda
Jangan asal dianggap setiap roda itu adalah roda motor.
Kecuali kalau anda benar benar telah menyimak secara kontinyu bahwa topik kita pada saat membicarakan roda itu adalah berkaitan dengan motor.

Wallohu'alam
Itu sekedar muqoddimah saja di awal tulisan ini.

Sahabat sekalian......
Beberapa diantara kita mungkin ada yg masih memerlukan sedikit uraian tentang apa itu yang disebut dengan Ridho dan apa itu yang disebut dengan Ikhlas.

Kalau anda sudah berada di dalam wilayah kesadaran ilahiah
Yaitu sadar total akan hubungan anda dengan Alloh, tentu ridho dan ilhlas ini adalah sesuatu yg sudah tidak rancu
Namun bagi beberapa sahabat dan saudara kita yg kebetulan masih terjebak dalam ranah fikiran
Dan sedang dalam perjalanan menfitrahkan kembali fikirannya
Tentu ini adalah sesuatu yg penting

Sahabat.........
Ridho dan Ikhlas ini sejatinya adalah sama, namun karena penerapannya saja yang kemudian menyebabkan dalam penyebutannya tampak beda

Ridho adalah posisi menerima yang disertai kesadaran secara mendalam bahwa yang diterimanya adalah benar benar dari Alloh (min-Alloh)
Ikhlas adalah posisi melepaskan / mengeluarkan sesuatu yang semula melekat pada diri kita. Dan tentunya dibarengi dengan kesadaran penuh bahwa yang pertama kali menerima apa apa yg kita lepaskan adalah Alloh (ilalloh)
Sehingga kedua hal tersebut akan membuahkan kesadaran secara mendalam bahwa hubungan kita dengan Alloh adalah benar benar sangat dekat (ma'alloh)

Kalau anda sedang berada dalam posisi apapun saat ini, maka sikap yg anda ambil tentu adalah ridho, sedangkan saat anda melepaskan apa saja yg sebelumnya sempat ada di dalam lingkupan diri anda, sikap yg sangat perlu anda ambil adalah ikhlas.

"Lho mas, kalau begitu bagaimana dengan adanya sikap ikhlas menerima dan rela/ridho memberikan?"

Sebenarnya itu adalah sikap yg sama, hanya saja penggunaan katanya yg sedikit mangalami kerancuan.
Ikhlas menerima ya sebenarnya Ridho itu sendiri
Sedangkan rela/ridho memberikan adalah ikhlas itu sendiri

Kalau anda secara pribadi paham bagaimana model ikhlas menerima tentunya anda paham apa yg dimaksud ridho
Begitupun sebaliknya

Wallohu'alam, saya selesai di sini dahulu, semoha bermanfaat
(Di sini sudah Isya')

Suluk adalah......

Secara bahasa suluk berarti perjalanan, secara budaya maupun tradisi, suluk dapat dipahami sebagai perjalanan jiwa.
Sedikit berbeda dengan thoriq yang juga jalan namun lebih condong ke ranah fisik / materi.
Shiroth adalah medianya atau jalannya.

Suluk adalah perjalanan jiwa
Dimana yang bergerak untuk melakukan perjalanan adalah jiwanya
Bukan raganya, bukan fisiknya lagi terlebih egonya
Ego sendiri adalah percikan dari momentum gerak fisik yg teradiasi oleh gerak angan angan / fikir.
Angan angan ini timbul karena efek tangkapan panca indra yang beradu padu di dalam memori otak yang kemudian juga kita sebut dengan fikiran.
Kebiasaan aktifnya fikiran dalam hal menangkap berbagai macam informasi dari panca indra ini lantas terbawa secara bebas dalam bentuk imajinasi
Ini lah cikal bakal angan angan

Thoriq, adalah perjalanan atau tahapan yang melibatkan unsur jasad termasuk fikiran
Terkadang lisan, jari jemari, hingga pikiran dipusatkan pada satu titik temu yang disebut dengan wirid.
Yakni melafalkan bacaan tertentu untuk menggerakkan ranah pikirnya dan raganya untuk mencapai satu kondisi ketertataan.
Secara simpel bisa kita katakan bahwa thoriq adalah proses penataan pikiran
Agar ia ia tidak liar dalam berkhayal atau berimajinasi atau berandai andai atau berangan angan.

Shiroth adalah bentuk jalannya
Ada yang menggunakan jalan sholawat, wirid asmaul husna, tasbih tahmid takbir, tahlil dan lain sebagainya.

Kembali lagi
Sedangkan suluk adalah diluar sekaligus di dalam itu semua
Atau sudah tidak terlepas dan terbebas dari itu semua
Jika thoriq yang ditekankan adalah penataan pikiran
Maka suluk adalah sudah selesai dari penataan pikiran
Atau langkah selanjutnya yg dilakukan setelah pikiran itu tertata sebagaimana mestinya/ sesuai fitrahnya

Suluk, yang digerakkan adalah jiwanya
Bukan lagi pikirannya.

Maka kalau anda menemui orang yang penuh dengan analogi pikir yg luar biasa ribetnya, dia sedang dalam proses pergerakan pikir.
Dimana dia sedang dalam tahap pencarian atau dengan kata lain sedang mensinkronkan pikirannya atas berbagai informasi yang masih belum jelas baginya apanya itu suatu capaian kebenaran ataukan bukan.

Orang orang suluk biasanya ia akan lebih damai atas berbagai bentuk nalar fikir.
Karena sudah bukan wilayahnya untuk berbelit belit dalam ranah pikiran lengkap dengan analogi analoginya.

Pikiran, fitrahnya adalah untuk menangkap bentuk perintah atau kehendak dari si jiwa.
Si jiwa pergerakannya adalah menuju Alloh. Sang Penguasa Sejati
Robb semesta Alam
Yang meliputi segala ruang dan waktu
Yang mengkondisikan berbagai macam keadaan
Dengan kata lain
Jiwa, fitrahnya adalah memerankan apa yg telah diperintahkan oleh Alloh
Maka dia disebut sebagai khalifatulloh fil-ardhi

Oke, sampai sini semoga kita diberi kefahaman oleh Alloh.
Wallohu'alam bish-showab

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...