Tentang Kemerdekaan
Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.
Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia
Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.
Titik Agung Peradaban
segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....
Kamis, 20 Mei 2021
Di mana letak HATI manusia?
Selasa, 18 Mei 2021
PUASA Untuk Alloh. bukan hanya dalam romadhon
Selasa, 21 Juli 2020
Dimensi Hati itu tidak terkunci
Rabu, 27 November 2019
Energi Sejati
Sabtu, 16 Juni 2018
Kunci Bahagia
Sungguh sangat banyak keterangan dari Alloh dan rosulullo tentang berbagi dengan sesama. Pemenuhan kebutuhan kepada kerabat, sanak saudara, sahabat, tetangga yg memang sedang membutuhkan
Apapun saja, baik materi maupun tenaga.
Maka salah satu sabda kekasih alloh yg sangat terngiang adalah, "Sebaik Baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
Itu merupakan suatu perbuatan yg tentu masuk dalam kategori "amalan sholihan" / perbuatan baik.
Bahkan hal tersebut menjadi substansinya perbuatan baik.
Terkait perkara itu, Allah SWT berfirman:
بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ ۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)
Tidak ada rasa takut serta tidak bersedih hati adala suasana kebahagiaan.
Yang dicari banyak orang dengan cara cara pemenuhan pemenuhan keinginannya pribadi yg konon ingin bahagia justru menjadi kebalikan dari sumber bahagia itu sendiri.
Sumber kebahagian sudah sangat jelas diinformasikan langsung oleh penguasa semesta, Alloh azza wa jalla.
Yaitu 1.Berserah diri secara totalitas kepada Alloh, dan 2.Berbuat Baik.
Sholat apakah merupakan perbuatan baik?
Haji apakah merupakan perbuatan baik?
Sedangkan ini merupakan pemenuhan kebutuhan pribadi?
Bagaimana kita hendak menemukan penjelasan ini?
Sahabat sebenarnya amalan amalan peribadatan dalam islam itu tidak untuk kita pribadi.
Kita sama sama tahu bab sholat.
Dipenghujungnya adalah kita mendoakan saudara saudara muslim kita dan mendoakan rosululloh s.a.w
Meskipun seolah untuk pribadi kita, sejatinya juga untuk orang lain.
Demikian juga peribadatan peribadatan yg lain.
Bahkan puasa pun juga demikian, getaran taqwa yg anda hasilkan dari puasa akan mengimbas kebahagiaan di kanan kiri anda secara sangat sirri, sehingga jarang kita sadari getarannya.
Jadi sebenarnya ini semua adalah tentang hablun minan nass.
Interaksi sosial kita dengan sesama.
Terserah dalam bagian apa anda ikut andil meringankan beban saudara kita.
Silahkan secara mental, ataupun materi.
Yg penting adalah memberikan spirit kebahagiaan.
Kalau yg anda limpahkan adalah justru mempersempit spirit semangat saudara kita.
Siap siap saja kita akan dipersempit pula oleh Alloh dalam macam macam urusan kita
Naudzubillah min dzalik.
Wallohu'alam bish-showab
Sahabat ........
Semoga kita senantiasa diberi keluasan hati dan kasih sayang untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.
Amin
Kamis, 19 April 2018
Khalifah adalah Pelayan
ada misi penting di dalamnya
setidaknya ada 7-9 ayat di dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang misi/tugas
diciptakannya manusia yakni sebagai khalifatulloh fil-Ardh dan Abdi
Kebanyakan ayat ayat yang berbicara tentang khalifah
adalah dijelaskan atau diperuntukkan kepada kelompok atau golongan golongan secara khusus
seperti dalam Q.S Al-A'rof : 74, penjelasan kholifah lebih ditujukan kepada kaum Ad.
kemudian seperti pula di dalam Q.S Al-A'rof : 129, penggunaan kata kholifah ditujukan kepada kaum nabi Musa,
Q.S Shod : 26, kholifah ditujukan kepada nabi Daud a.s, sedangkan dalam Q.S Adz-Dzariyat : 56, secara global Alloh menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan Manusia adalah untuk mengabdi
abdi adalah pelayan
terlepas dari menjadi pelayannya siapa manusianya kelak
yang paling jelas, secara fitrah manusia ditanamkan rasa untuk melayani
kalau bukan melayani kebaikan, maka pasti dia akan melayani keburukan
kalau bukan melayani Alloh, maka manusia akan melayani yang selainnya Alloh
yakni materi materi yang tersebar di alam dunia
Maka sejatinya esensi dari misi utama diciptakannya manusia sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqoroh :30 adalah melayani Alloh di muka bumi (kholifatulloh). yakni menjadi pelaksana pelaksana dari kehendak Alloh di muka bumi.
juga saling melayani sesama
sebagaimana dalam hadist qudsy, tersirat "Aku sakit kenapa tidak engkau jenguk?". sakitNya Alloh terletak pada sakitnya saudara muslim / sesama manusia
maka sangat selaras kemudian dengan sabda baginda nabi s.a.w, "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
bahkan dicontohkan dalam sikap baginda nabi s.a.w
yang selalu melayani siapa saya yang butuh pelayanan dari beliau
banyak ajaran islam yang mencerminkan sikap pelayanan ini, mulai dari menyantuni anak yatim, saling bahu membahu yang diisyaratkan bahwa muslim satu dengan muslim lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi, mencintai fakir miskin, dlsb
yang menggambarkan bahwa sikap utama orang yang berikrar islam adalah harus melayani sesama
semuanya berhubungan erat dengan pelayanan atas alam semesta yang kita kenal dengan istilah rahmatan lil 'alamin
bukan hanya Rosululloh s.a.w, bahkan Alloh s.w.t pun memiliki sikap pelayan. sebagaimana tersirat dalam firmanNya "ud'uni astajib lakum" -memintalah akan aku perkenankan-
meskipun terbalut dalam bahasa yang elegan, namun esensinya adalah sama
melayani
karena sudah sangat fitrah jika manusia juga memiliki kefitrahan sikap melayani.
Maka agar tidak sampai salah kaprah, islam mendidik kita untuk mengarahkan fitrah pelayanan ini kepada hal hal yang lebih positif dan netral
bukan kepada hal hal yang negatif dan merusak
bukan melayani dalam kedholiman sehingga terbentuk kemungkaran kemungkaran
melayani kemungkaran artinya anda menyetujui atau membantu proses terjadinya kedholiman
maka dalam islam, kita ditekankan untuk ber-amar makruf nahi munkar
agar tidak terjadi proses saling membantu dalam berbuat kemungkaran
-wallohu'alam-
Minggu, 01 Oktober 2017
Jam'iyatud-Daim, refleksi sholat berjamaah
Bismillahirrohmanirrohim
Di dalam khazanah islam, kita sama sama paham bahwa ada satu amaliah yang cukup diutamakan. Yang mana amaliah tersebut akan menjadi penentu baik buruknya amaliah kita yang lainnya.
Bahkan suatu ketika, baginda nabi s.a.w menyatakan bahwa amaliah tersebut adalah menjadi tiangnya agama. Amaliah ini yg dimaksud adalah sholat.
Beranjak dari sholat baik secara lahiriyah berikut dengan tatanan fiqhnya, maupun secara bathiniah yg dapat kita pelajari melalui disiplin keilmuan tasawuf, kita akan menemukan bahwa sholat ini penerapannya memanglah sangat luas.
Secara nilai, Fiqh sholat ternyata tidak melulu berlaku hanya pada kondisi kondisi tertentu (sholat nawafil) saja.
Melainkan juga dapat kita terapkan dalam segala lini kehidupan.
Yaa memang demikianlah sholat, sehingga sampai disebut sebagai penentu kebaikan hampir seluruh amaliah kita di hadapan Alloh
Sebagai contoh adalah dalam perilaku spiritual / suluk / tasawuf, tentu esensi sholat adalah untuk mencapai kesadaran hubungan kita dengan Alloh (...... Aqim ash-sholat lidzikri......)
Setiap sendi syarat rukun sholat ternyata memang memiliki nilai nilai nya masing masing. Seperti bagaimana menerapkan kesungguhan takbir di dalam keseharian, bagaimana berada dalam keadaan jumeneng tegak lurus menghadapkan wajah kepada Alloh, bagaimana bersujud dalam perilaku sehari hari, dan lain sebagainya.
Pun ternyata perihal ini tidak hanya berhenti pada keadaan sholat yg munfarid / sendiri saja. Nilai nilai sholat secara berjamaah pun dapat kita terapkan di dalam kehidupan sehari hari kita. Mengingat sabda nabi s.a.w, "sholat seseorang secara berjamaah adalah lebih utama daripada sholatnya sendirian selama 40 tahun", maka sudah sepatutnya kita juga selalu berada dalam kondisi berjamaah dalam segala hal.
Kalau para ulama sepuh dahulu meninggalkan warisan Sholatud-Daim, yakni sholat yg berkepanjangan. Kita sekarang dapat memperluas cakrawala pandangan kita menuju sholat berjamaah yg berkepanjangan pula.
Karena sesungguhnya mistahil umat islam akan kuat jika tanpa berjamaah. Maka sudah sangat jelas esensi daripada wanti wanti nabi s.a.w ketika beliau menegaskan agar kita, umat beliau tetap berada di dalam jamaah. Dan tentu jamaah yang beliau maksud ini adalah jamaah yg serupa dengan organisasi.
Meskipun bentuknya lebih fleksibel.
Oke mari sekarang kita pelajari lalu praktikkan sikap berjamaah sebagaimana yg beliau s.a.w maksud dalam keseharian.
Berbicara tentang jamaah tentu ada dua poin penting yang ada di dalam kelompok / jamaah. Yakni adanya imam dan makmum, adanya umaro / pemimpin dan yang dipimpin. Jika Pada zaman nabi s.a.w, imamnya adalah beliau sendiri yang langsung ditunjuk oleh Alloh s.w.t. makmumnya adalah muslimin dan mukminin sekalian. Maka saat ini adalah kita bermakmum kepada sesiapa yg telah kita percaya untuk menjadi imam.
Berangkat dari situ mari kita mulai memerankan apa yg semestinya kita perankan. Yakni menjadi makmum yang baik.
Sejak kita berada di tingkat sekolah dasar, Madrasah Ibtidaiyah, atau ketika kita ngaji bab sholat di TPQ TPQ Diniyah, kita sama sama tahu bahwa salah satu keharusan bagi makmum adalah mengikuti gerakan imam dan dilarang mendahului gerakan imam.
Kalaupun terlanjur mendahului gerakan imam, sebaiknya kita tidak lantas menyempurnakan rukun sholat yg berikutnya dahulu sebelum imam menyempurnakan rukun sholat yg seharusnya.
Demikian pula dalam berjamaah di masyarakat atau ormas atau organisasi manapun. Imam sudah ada, makmum sudah ada. Tinggal jalan. Yang sedang menjadi imam semestinya menjalankan dengan baik kewajiban kewajiban bagi seorang imam. Yang jadi makmum pun sudah seharusnya menjadi makmum yang baik.
Di sini berlaku firman Alloh, "athi'ulloh wa athiurrosul wa ulil amri minkum".
Kalau sebagian kita sedang dalam keadaan tidak enak hati dengan sang imam. Entah cemburu entah faktor apa saja yg menyebabkan kita sakit hati terhadap imam yg telah dipilih oleh anggota jamaah yg ada, sebaiknya kita segera menepis rasa sakit hati tersebut. Se-dongkol apapun kita terhadap sosok imam, kita musti bijak dalam menyikapi kondisi yg ada.
Contoh dalam praktiknya jamaah sholat, sekalipun hati anda sedang dongkol dengan imam sholat saat itu, tetap saja anda musti mengikuti gerakan gerakan imam. Kalau ndak mau ya lebih baik keluar dari shof dan shokat sendiri. Yang seperti itu lebih menyelamatkan diri anda sendiri. Namun anda akan terlepas dari keutamaan berjamaah sebagaimana yg diwasiatkan oleh nabi s.a.w di atas, dan anda jadi menyelisihi wasiat nabi karena beliau lebih suka melihat ummatnya dalam keadaan berkelompok atau berjamaah, pun Alloh juga lebih suka dengan jamaah.
Oke kita lanjutkan, kenapa kita musti menepis ketidak sukaan hati kita dan harus manut patuh dengan imam yg kita sendiri tidak cocok dengannya?
Yang pertama Karena sejatinya jamaah adalah sebuah metode ilahiah.
Sebagaimana tertuang dalam Q.S al-fajr ayat 29, "fadkhulii fi 'ibadii" yang oleh para ulama telah disepakati tafsirnya bahwa itu adalah panggilan Alloh untuk masuk ke dalam jamaah hamba hambanya {lihat tafsir jalalain}
Sebuah metode yang dirancang oleh Alloh untuk menepiskan ego / nafsu kita sebagai manusia.
Kita berada di sini adalah bukan untuk menonjolkan keegoan kita, melainkan untuk menipiskan ego kita sehingga kita bisa menjadi ummatan wasathon yang saling berkasih sayang, bukan saling bercerai berai.
Al-An'am (الأنعام) / 6:12
قُلۡ لِّمَنۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلۡ لِّلّٰہِ ؕ کَتَبَ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ ؕ لَیَجۡمَعَنَّکُمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا رَیۡبَ فِیۡہِ ؕ اَلَّذِیۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.
Kita yang telah mengaku beriman dan berikrar islam, sudah semestinya menepiskan segala bentuk kecemburuan sosial di dalam hati kita masing masing. Dalam bentuk apa saja. Ya media belajar yg paling efektif untuk menepiskan segala bentuk rasa sakit hati sehingga berubah menjadi kasih sayang adalah dalam jamaah / organisasi / keluarga dan semacamnya.
Kenapa saya katakan demikian, karena kasih sayang adalah merupakan indikasi mutlak dari Alloh atas keimanan kita terhadapNYA dan juga refleksi kecintaan kepada nabiNya s.a.w, sebagaimana tertuang dalam Q.S maryam : 96
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَیَجۡعَلُ لَہُمُ الرَّحۡمٰنُ وُدًّا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.
Wallohu'alam bishshowab
Semoga secarik tulisan ini bisa menyadarkan kita tentang pentingnya pengikisan ego diri kita. Jamaah apapun yg kita sedang ada di dalamnya, mari kita gunakan ia sebagai wasilah atau jalan kita untuk mencapai keridhoan Alloh s.w.t
-----------------
Al-Mumtahanah (الممتحنة) / 60:7
عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
-------------
Al-Ma'idah (المائدة) / 5:35
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
Paling Sering Diakses
Akar dari Sikap Sabar
الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...






