Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Kamis, 20 Mei 2021

Di mana letak HATI manusia?


Dalam suatu hadist qudsi dikabarkan bahwa Alloh s.w.t telah berfirman, "sungguh langit dan bumi tidaklah dapat menampungKU, yang dapat menampungku adalah hati hamba hambaKU yang beriman"

Satu bab yang dari dulu hingga sekarang tidak selesai selesai dikaji adalah bab 'hati'. Hampir selalu mengalami perkembangan makna. Hingga hujjatul islam Imam hamid muhammad al-Ghozali secara hampir rinci membahas masalah ini dengan judul "Ajaib al-Qolb" dalam maha karya beliau Ihya' Ulumuddin.

Secara sederhana kita dapat menyimpulkan bahwa bukanlah hati fisik yang dimaksud oleh Alloh juga rosulNya s.a.w, melainkan hati sanubari. Tempat kita dapat merasakan banyak hal. Tempat di mana kita dapat memahami keluasan, kesempitan, kebahagiaan, kedamaian, ketakutan, harap, cemas dan lain sebagainya. Sehingga tidak sedikit yang memaknai hati tersebut adanya di dalam akal / otak. Sedangkan jika kita mau jujur objektif merasakan kehadiran 'rasa' itu sendiri. Adanya justru di dada. Secara fisik justru merupakan tempatnya paru paru juga jantung.

Apakah jantung itu yang disebut hati oleh khazanah bahasa peradaban arab kuno? Yang bahasanya telah dipilih Alloh sebagai bahasa kitabNya "al-qur'an al-karim".
InsyaAlloh bukan juga, karena 'qolb' ini apabila kita rasakan dengan seksama letaknya ada di kedalaman diri kita masing masing. Hanya dapat kita jangkau dengan keheningan maha sunyi. Tiada lintasan pikiran selain hanya difungsikan untuk mengamati hingga memahami keberadaan qolb ini sendiri. Selama pikiran ambil kendali dalam memutuskan tanpa pengamatan terhadap hal ini, insyaAlloh kita tidak akan benar benar menemukan realitas keberadaannya di dalam diri kita. Wallohu'alam.

Dan tampaknya, jika kita amai dengan seksama hampir hampir hati inilah yang seolah mengendalikan degup jantung sehingga tampak berdegup kencang ataupun lambat. Secara halus ia mengirimkan getaran kedalam otak untuk kemudian menggerakkan berbagai bagian dalam tubuh fisik kita.
Dari sini tentu kita kemudian dapat memahami sabda baginda nabi s.a.w, "di dalam hati anak adam terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka seluruh tubuh juga akan baik. Jika dia buruk maka seluruh tubuh akan buruk pula. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati"

Mau tidak mau melalui pengamatan atas diri sendiri kita akan sama sama menemukan bahwa terdapat semacam gelombang elektromagnetik atau desiran desiran halus yang senantiasa mengalir di dalam diri kita. Terkadang desiran itu bergetar hebat ketika kita merasakan ketakutan, atau terkadang jika berhadapan dengan perkara ghaib akan mewujud dalam rasa merinding. Lebih halus jika kita amati, desiran desiran ini pula yang mengaliri otak kita sehingga otak kita berperan seperti ujung antena yang memancarkan signal ke seluruh penjuru lingkungan. sehingga ia (otak) tampak seperti keberadaan yang hidup sebagai pusat diri manusia.

Kita kembali lagi, hati disebut sebut dalam hadist qudsi sebagai satu satunya wadah yang mampu menerima keberadaan Alloh sejatinya adalah karena ia perkara maha ghoib -kasat mata yang ada di balik sekat- dalam diri manusia. 
sehingga untuk mencapai esensi maha bathin -yakni esensi maha ada yang tak kasat mata, tak dapat diindra dengan indra fisik apapun, tak tersekat apapun, meliputi secara kasat mata tanpa terhalangi-, hanyalah dengan memasuki wilayah bathin dengan 'ghoib'nya diri kita.
Wallohu'alam.

Dikatakan bahwa hati dapat meluas dan menyempit sejatinya hanyalah terjadi asbab seberapa dalam atau dangkalnya kita memasuki kedalam bathin kita sendiri sendiri.
Semakin hening kita dari bermacam macam prasangka pikiran, maka semakin dalam kita mencapai bathin hati kita, dan semakin luas kita mendapati dimensi ghoib.

Dan hanya dengan keluasan hati terluaslah yang kemudian akan mengantarkan kita mencapai penyaksian Tuhan semesta Alam.

............................

Selasa, 18 Mei 2021

PUASA Untuk Alloh. bukan hanya dalam romadhon

Assalamu'alaikum sahabat salikin yang dirahmati Alloh,
Semoga senantiasa dalam samudra syukur dan Mahabbah kepada Alloh Yang Maha Mulia.
Sholawat dan Salam mari sama sama kita panjatkan kepada Alloh teruntuk baginda Nabi Agung Muhammad s.a.w,.. bersama beliau kita beranjak mengenal dan berjalan kehadiratulloh, bersama beliau kita berjalan di dalam bentangan cahayaNya. Bersama beliau InsyaAlloh Alloh ridho kepada kita semua, amiin.

Sahabat salikin yang dimuliakan Alloh, sepertinya romadhon ini tidak ada habisnya. Bulan dan namanya memang sudah selesai, namun esensinya tidak dapat kita pungkiri bahwa itu terus menerus mengiringi laju kehidupan kita. Dimana secara lahiriah Alloh menurunkan banyak khazanah keutamaan di dalam fisik romadhon. Sedangkan secara bathiniah, secara nilai, secara esensial keutamaan itu tiada habisnya.

Apa sih esensi nya romadhon? Apa sih yang paling masyhur terkenang di bulan romadhon? Tentu saja PUASA bukan??
Yap dimensi puasa memang tidak ada habisnya untuk dikupas. Seolah olah Alloh hendak menyadarkan kita tentang pentingnya puasa di segala lini kehidupan bagi kita semua, sehingga Alloh mengutus NabiNya yang mulia s.a.w untuk mengabarkan sekaligus mencontohkan bahwa setelah romadhon masih ada puasa puasa lain yang cukup banyak. senin-kamis, yaumul bidl, asy-syuro, yaumil syawal, puasa daud, dlsb. Tidak ada habisnya.

Sekarang kita kupas sedikit saja nilai dari puasa.
Dalam fikih kita memahami makna puasa adalah berarti 'menahan'. Mulai dari menahan lapar, dahaga, jimak, mengumpat dst. Dalam literatur lain kita mengenal puasa adalah menahan diri untuk berlatih menumbuhkan sikap waro' dan zuhud. Menahan diri untuk tidak mencintai dunia seisinya. sedangkan di sisi Spiritual kita akan diajak memahami bahwa puasa ini belajar untuk memasuki dimensi bathiniah hingga sirr nya diri kita sendiri. Untuk mencapai kesadaran ilahiah al'Ala .. yang tertinggi...

Bagaimana konsep puasa ini dapat menjadi kendaraan untuk mencapai relung bathin dan memasuki segala ruangnya hingga mencapai sirr (rahasia terdalam) dari diri manusianya / pelakunya sendiri?

Sahabat.... kalau kita benar benar menjalankan tuntunan fikih dalam mengatur urusan berpuasa, InsyaAlloh ketika kita renungi atau tafakkuri, kita akan mendapati bahwa segala hal ikhwal ketika berpuasa semata melatih diri kita untuk menanggalkan petentingan duniawi, diri fisik kita adalah termasuk urusan duniawi. Dalam Puasa kita belajar berperan aktif menahan ajakan nafsu untuk memuaskan urusan lahiriah kita. Kita ditunjukkan bahwa Tidak semua keinginan makan maka pasti harus makan. Tidak semua nafsu jimak harus jimak. Bahkan tidak semua pemikiran yang liar (uneg uneg) harus diluap luapkan. Sehingga mau tidak mau kita akan menjalankan dengan baik firman Alloh "..wa laa yusyironnabikum ahada" [al-kahfi] "jangan ceritakan hal mu kepada siapapun.

Aflatul-lisan, menjaga lisan juga menjadi salah satu muatan nilai dalam berpuasa. Kita tahu bahwa lisan menjadi sumber ancaman kerusakan terbesar sesudah hati dan pikiran. Tentu saja hati-pikiran-lisan ini adalah satu gandeng yang mana satu sama lainnya saling mempengaruhi.
Ketika lisannya diumbar berbicara kotor dan tidak pantas, maka ia akan mengotori hati dan memperkeruh pikiran. Demikian pula pikiran maupun hati, apabila ia rusuh, dan lisan tidak terkunci dengan baik, maka akan keluar juga ucapan yang rusuh pula. Bisa jadi fitnah, hasutan dlsb. Bisa jadi Sumber petaka bagi dirinya dan lingkungannya.

Puasa adalah mengajak kita untuk mengontrol itu semua.
Perutnya berpuasa, telinganya berpuasa, matanya berpuasa, lidahnya berpuasa, tangannya berpuasa, kakinya berpuasa, pikirannya berpuasa, bahkan hatinya pun berpuasa. Dan Nafs / Jiwa kita lah yang diajarkan oleh Alloh untuk menjaga itu semua. Susah? Tentu saja di awal awal akan susah, bahkan seterusnya hampir tidak mudah. Terlebih ketika jiwa mulai merasa sombong karena tertipu mengira dirinya bisa mengontrol mengendalikan itu semua. Sedangkan sejatinya ia hanya menerima anugrah kebaikan Alloh s.w.t semata. Makanya Nabi s.a.w mengingatkan bahwasannya JIHAD TERBESAR MANUSIA ADALAH JIHAD TERHADAP NAFSUNYA SENDIRI.

Jiwalah yang diajak Alloh untuk sadar atas eksistensi keberadaannya. Sadar betul dan bangun dari tidur panjangnya selama ini, bahwa ia ada untuk mengemban amanah dariNYA atas semesta raya. Kami katakan atas semesta raya karena memang manusia satu sama lainnya saling ambil peran untuk menjaga alam semesta. Sekecil apapun gerak hati manusia , disadari ataupun tidak, ia akan memberikan efek tersendiri bagi pergerakan alam. Mau baik ataukah buruk.

Sahabat... Setelah kita memahami dan menyadari keberadaan nafs kita sendiri, sudah semestinya kita terbawa menuju sikap zuhud dan waro'. Berangkat dari menahan segala kemauan lahiriah. Kemudian InsyaAlloh akan menemukan realitas rahasia yang tidak mungkin dapat diungkapkan secara verbal. di situlah esensi puasa yang sebenarnya. Pencapaian dimana Alloh berfirman menetapkan, "PUASA ITU ADALAH UNTUK-KU"

Wallohu'alam bish-showab

Selasa, 21 Juli 2020

Dimensi Hati itu tidak terkunci

Hati, yang oleh Rosululloh disebut dan diterangkan sebagai induk atau sumbernya perbuatan seseorang, yang baik maupun buruk gerakan seseorang adalah bersumber dari apa apa yang ada di dalam hati.
Apa apa yang ada di dalam hati ini adalah 'rasa' yang jika ia dipicu oleh sesuatu dari luar maka biasa kita sebut perasaan. Orang yang tidak berperasaan (misalnya) adalah orang yang tidak terpengaruh oleh sentuhan atau rangsangan dari berbagai macam keadaan di luar dirinya. Sedangkan jika ia dipicu oleh perkara di dalam dirinya sendiri, maka biasa kita sebut "merasakan". Semisal, merasakan pahit asin manis, sumbernya adalah di bagian tubuh kita sendiri. Atau keadaan merasakan apa yang dirasakan orang lain (misalnya) ini juga terjadinya bermula dari dalam dirinya sendiri. ia mengakses frekwensi yang sama dengan orang lain, maka ia akan dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.

Termasuk keadaan 'merasa' adalah dipicu oleh gerak polah pikiran atau yang biasa kita sebut sebagai prasangka.
Maka ini sebenarnya keadaan hati itu tidak pernah tertutup. Tidak pernah terkunci. Hanya saja ia sedang ternutrisi oleh apa sehingga seolah olah tampak mati atau terkunci.

Dimensi hati adalah dimensi yang tak pernah tutup. Kapanpun kita mau memasukinya, bisa. Tinggal kita secara ego mau apa tidak memasukinya
itu saja, 

Rabu, 27 November 2019

Energi Sejati

Dalam dzikir, meditasi, mengendapan rahsa dlsb, pasti ada suatu keadaan dimana mau tidak mau kita musti mengakui bahwa memang ada suatu kekuatan luar biasa diluar akal, nalar, dan kesadaran kita. Ada penguasa sejati yang memang benar benar mutlak menguasai segala bentuk gerak dan keadaan di jagat raya ini.

Islam mengajarkan suatu kunci untuk mengetuk dan membuka cakrawala kesadaran baru tentang realitas ini. Bukan sekedar kilasan lafadz atau mantra, melainkan benar benar dapat kita masuki ruang spiritualnya. Yakni "laa Haula wa laa quwwata Illa Billah".


Kesadaran baru sekaligus kuno, karena sejatinya pemilik ruang dan waktu adalah Baqo', maka ini berlangsung dan berfungsi untuk seluruh masa dulu-kini-kelak.

Dalam bermeditasi, berdzikir, pengendapan rahsa, kita selalu belajar untuk menep yang artinya benar benar mengendapkan segala bentuk imajinasi, pikiran, bahkan berbagai nuansa rasa.
Hingga benar benar kita mencapai rahsa sejati dimana diri kita yg murni benar benar dapat kita temui dan kita sadari adanya. Diri kita yang sejati adalah apa yg ada di pusat manah (di sekitaran dada) kita. Memiliki gelombang energi cukup besar karena ia hanya sebagai cerminan atau gerbang yang tersambung dengan energi sejati ilahiah. Sekali lagi ia hanya memantulkan atau menyalurkan saja dari Sang Maha Kuasa.

Kalau anda,saya,kita,siapa saja masih mengandalkan pikiran maupun lainnya tentu ini tidak akan benar benar dapat sempurna memancarkan daya ilahiah.
Namun ketika kita sedang berada dalam keadaan yang totalitas berserah, menyadari ketiadaan kita, memasuki ruang demi ruang, dimensi demi dimensi realitas ketiadaan daya upaya kita. Hingga totalitas kita tiada. Maka dari situlah daya ilahiah akan memancar sempurna.

Di wilayah itulah kita berdoa, memohon kepada Sang Penguasa Sejati, tentang apa saja. DIA tidaklah mungkin tidak mengabulkan apa yg kita pinta selama tidak ada muatan buruk , bobrok dan merusak di dalam doa kita.

Wallohu'alam, setidaknya itulah yg dapat kita pelajari dari perjalanan spiritual menuju kesejatian hidup dan kejernihan.

Sabtu, 16 Juni 2018

Kunci Bahagia


Sungguh sangat banyak keterangan dari Alloh dan rosulullo tentang berbagi dengan sesama. Pemenuhan kebutuhan kepada kerabat, sanak saudara, sahabat, tetangga yg memang sedang membutuhkan
Apapun saja, baik materi maupun tenaga.
Maka salah satu sabda kekasih alloh yg sangat terngiang adalah, "Sebaik Baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
Itu merupakan suatu perbuatan yg tentu masuk dalam kategori "amalan sholihan" / perbuatan baik.
Bahkan hal tersebut menjadi substansinya perbuatan baik.

Terkait perkara itu, Allah SWT berfirman:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ  ۖ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)

Tidak ada rasa takut serta tidak bersedih hati adala suasana kebahagiaan.
Yang dicari banyak orang dengan cara cara pemenuhan pemenuhan keinginannya pribadi yg konon ingin bahagia justru menjadi kebalikan dari sumber bahagia itu sendiri.
Sumber kebahagian sudah sangat jelas diinformasikan langsung oleh penguasa semesta, Alloh azza wa jalla.
Yaitu 1.Berserah diri secara totalitas kepada Alloh, dan 2.Berbuat Baik.

Sholat apakah merupakan perbuatan baik?
Haji apakah merupakan perbuatan baik?
Sedangkan ini merupakan pemenuhan kebutuhan pribadi?
Bagaimana kita hendak menemukan penjelasan ini?

Sahabat sebenarnya amalan amalan peribadatan dalam islam itu tidak untuk kita pribadi.
Kita sama sama tahu bab sholat.
Dipenghujungnya adalah kita mendoakan saudara saudara muslim kita dan mendoakan rosululloh s.a.w
Meskipun seolah untuk pribadi kita, sejatinya juga untuk orang lain.
Demikian juga peribadatan peribadatan yg lain.
Bahkan puasa pun juga demikian, getaran taqwa yg anda hasilkan dari puasa akan mengimbas kebahagiaan di kanan kiri anda secara sangat sirri, sehingga jarang kita sadari getarannya.

Jadi sebenarnya ini semua adalah tentang hablun minan nass.
Interaksi sosial kita dengan sesama.
Terserah dalam bagian apa anda ikut andil meringankan beban saudara kita.
Silahkan secara mental, ataupun materi.
Yg penting adalah memberikan spirit kebahagiaan.
Kalau yg anda limpahkan adalah justru mempersempit spirit semangat saudara kita.
Siap siap saja kita akan dipersempit pula oleh Alloh dalam macam macam urusan kita
Naudzubillah min dzalik.

Wallohu'alam bish-showab

Sahabat ........
Semoga kita senantiasa diberi keluasan hati dan kasih sayang untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.
Amin

Kamis, 19 April 2018

Khalifah adalah Pelayan

dalam pernyataan Alloh tentang penciptaan manusia,
ada misi penting di dalamnya
setidaknya ada 7-9 ayat di dalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang misi/tugas
diciptakannya manusia yakni sebagai khalifatulloh fil-Ardh dan Abdi

Kebanyakan ayat ayat yang berbicara tentang khalifah
adalah dijelaskan atau diperuntukkan kepada kelompok atau golongan golongan secara khusus
seperti dalam Q.S Al-A'rof : 74, penjelasan kholifah lebih ditujukan kepada kaum Ad.
kemudian seperti pula di dalam Q.S Al-A'rof : 129, penggunaan kata kholifah ditujukan kepada kaum nabi Musa,
Q.S Shod : 26, kholifah ditujukan kepada nabi Daud a.s, sedangkan dalam Q.S Adz-Dzariyat : 56, secara global Alloh menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan Manusia adalah untuk mengabdi

abdi adalah pelayan
terlepas dari menjadi pelayannya siapa manusianya kelak
yang paling jelas, secara fitrah manusia ditanamkan rasa untuk melayani
kalau bukan melayani kebaikan, maka pasti dia akan melayani keburukan
kalau bukan melayani Alloh, maka manusia akan melayani yang selainnya Alloh
yakni materi materi yang tersebar di alam dunia

Maka sejatinya esensi dari misi utama diciptakannya manusia sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqoroh :30 adalah melayani Alloh di muka bumi (kholifatulloh). yakni menjadi pelaksana pelaksana dari kehendak Alloh di muka bumi.
juga saling melayani sesama
sebagaimana dalam hadist qudsy, tersirat "Aku sakit kenapa tidak engkau jenguk?". sakitNya Alloh terletak pada sakitnya saudara muslim / sesama manusia
maka sangat selaras kemudian dengan sabda baginda nabi s.a.w, "Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
bahkan dicontohkan dalam sikap baginda nabi s.a.w
yang selalu melayani siapa saya yang butuh pelayanan dari beliau
banyak ajaran islam yang mencerminkan sikap pelayanan ini, mulai dari menyantuni anak yatim, saling bahu membahu yang diisyaratkan bahwa muslim satu dengan muslim lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi, mencintai fakir miskin, dlsb
yang menggambarkan bahwa sikap utama orang yang berikrar islam adalah harus melayani sesama
semuanya berhubungan erat dengan pelayanan atas alam semesta yang kita kenal dengan istilah rahmatan lil 'alamin

bukan hanya Rosululloh s.a.w, bahkan Alloh s.w.t pun memiliki sikap pelayan. sebagaimana tersirat dalam firmanNya "ud'uni astajib lakum" -memintalah akan aku perkenankan-
meskipun terbalut dalam bahasa yang elegan, namun esensinya adalah sama
melayani
karena sudah sangat fitrah jika manusia juga memiliki kefitrahan sikap melayani.
Maka agar tidak sampai salah kaprah, islam mendidik kita untuk mengarahkan fitrah pelayanan ini kepada hal hal yang lebih positif dan netral
bukan kepada hal hal yang negatif dan merusak
bukan melayani dalam kedholiman sehingga terbentuk kemungkaran kemungkaran
melayani kemungkaran artinya anda menyetujui atau membantu proses terjadinya kedholiman
maka dalam islam, kita ditekankan untuk ber-amar makruf nahi munkar
agar tidak terjadi proses saling membantu dalam berbuat kemungkaran
-wallohu'alam-

Minggu, 01 Oktober 2017

Jam'iyatud-Daim, refleksi sholat berjamaah

Bismillahirrohmanirrohim
Di dalam khazanah islam, kita sama sama paham bahwa ada satu amaliah yang cukup diutamakan. Yang mana amaliah tersebut akan menjadi penentu baik buruknya amaliah kita yang lainnya.
Bahkan suatu ketika, baginda nabi s.a.w menyatakan bahwa amaliah tersebut adalah menjadi tiangnya agama. Amaliah ini yg dimaksud adalah sholat.

Beranjak dari sholat baik secara lahiriyah berikut dengan tatanan fiqhnya, maupun secara bathiniah yg dapat kita pelajari melalui disiplin keilmuan tasawuf, kita akan menemukan bahwa sholat ini penerapannya memanglah sangat luas.
Secara nilai,  Fiqh sholat ternyata tidak melulu berlaku hanya pada kondisi kondisi tertentu (sholat nawafil) saja.
Melainkan juga dapat kita terapkan dalam segala lini kehidupan.
Yaa memang demikianlah sholat, sehingga sampai disebut sebagai penentu kebaikan hampir seluruh amaliah kita di hadapan Alloh

Sebagai contoh adalah dalam perilaku spiritual / suluk / tasawuf, tentu esensi sholat adalah untuk mencapai kesadaran hubungan kita dengan Alloh (...... Aqim ash-sholat lidzikri......)
Setiap sendi syarat rukun sholat ternyata memang memiliki nilai nilai nya masing masing. Seperti bagaimana menerapkan kesungguhan takbir di dalam keseharian, bagaimana berada dalam keadaan jumeneng tegak lurus menghadapkan wajah kepada Alloh, bagaimana bersujud dalam perilaku sehari hari, dan lain sebagainya.

Pun ternyata perihal ini tidak hanya berhenti pada keadaan sholat yg munfarid / sendiri saja. Nilai nilai sholat secara berjamaah pun dapat kita terapkan di dalam kehidupan sehari hari kita. Mengingat sabda nabi s.a.w, "sholat seseorang secara berjamaah adalah lebih utama daripada sholatnya sendirian selama 40 tahun", maka sudah sepatutnya kita juga selalu berada dalam kondisi berjamaah dalam segala hal.

Kalau para ulama sepuh dahulu meninggalkan warisan Sholatud-Daim, yakni sholat yg berkepanjangan. Kita sekarang dapat memperluas cakrawala pandangan kita menuju sholat berjamaah yg berkepanjangan pula.
Karena sesungguhnya mistahil umat islam akan kuat jika tanpa berjamaah. Maka sudah sangat jelas esensi daripada wanti wanti nabi s.a.w ketika beliau menegaskan agar kita, umat beliau tetap berada di dalam jamaah. Dan tentu jamaah yang beliau maksud ini adalah jamaah yg serupa dengan organisasi.
Meskipun bentuknya lebih fleksibel.

Oke mari sekarang kita pelajari lalu praktikkan sikap berjamaah sebagaimana yg beliau s.a.w maksud dalam keseharian.
Berbicara tentang jamaah tentu ada dua poin penting yang ada di dalam kelompok / jamaah. Yakni adanya imam dan makmum, adanya umaro / pemimpin dan yang dipimpin. Jika Pada zaman nabi s.a.w, imamnya adalah beliau sendiri yang langsung ditunjuk oleh Alloh s.w.t. makmumnya adalah muslimin dan mukminin sekalian. Maka saat ini adalah kita bermakmum kepada sesiapa yg telah kita percaya untuk menjadi imam.

Berangkat dari situ mari kita mulai memerankan apa yg semestinya kita perankan. Yakni menjadi makmum yang baik.
Sejak kita berada di tingkat sekolah dasar, Madrasah Ibtidaiyah, atau ketika kita ngaji bab sholat di TPQ TPQ Diniyah, kita sama sama tahu bahwa salah satu keharusan bagi makmum adalah mengikuti gerakan imam dan dilarang mendahului gerakan imam.
Kalaupun terlanjur mendahului gerakan imam, sebaiknya kita tidak lantas menyempurnakan rukun sholat yg berikutnya dahulu sebelum imam menyempurnakan rukun sholat yg seharusnya.

Demikian pula dalam berjamaah di masyarakat atau ormas atau organisasi manapun. Imam sudah ada, makmum sudah ada. Tinggal jalan. Yang sedang menjadi imam semestinya menjalankan dengan baik kewajiban kewajiban bagi seorang imam. Yang jadi makmum pun sudah seharusnya menjadi makmum yang baik.

Di sini berlaku firman Alloh, "athi'ulloh wa athiurrosul wa ulil amri minkum".
Kalau sebagian kita sedang dalam keadaan tidak enak hati dengan sang imam. Entah cemburu entah faktor apa saja yg menyebabkan kita sakit hati terhadap imam yg telah dipilih oleh anggota jamaah yg ada, sebaiknya kita segera menepis rasa sakit hati tersebut. Se-dongkol apapun kita terhadap sosok imam, kita musti bijak dalam menyikapi kondisi yg ada. 

Contoh dalam praktiknya jamaah sholat, sekalipun hati anda sedang dongkol dengan imam sholat saat itu, tetap saja anda musti mengikuti gerakan gerakan imam. Kalau ndak mau ya lebih baik keluar dari shof dan shokat sendiri. Yang seperti itu lebih menyelamatkan diri anda sendiri. Namun anda akan terlepas dari keutamaan berjamaah sebagaimana yg diwasiatkan oleh nabi s.a.w di atas, dan anda jadi menyelisihi wasiat nabi karena beliau lebih suka melihat ummatnya dalam keadaan berkelompok atau berjamaah, pun Alloh juga lebih suka dengan jamaah.

Oke kita lanjutkan, kenapa kita musti menepis ketidak sukaan hati kita dan harus manut patuh dengan imam yg kita sendiri tidak cocok dengannya?
Yang pertama Karena sejatinya jamaah adalah sebuah metode ilahiah.
Sebagaimana tertuang dalam Q.S al-fajr ayat 29, "fadkhulii fi 'ibadii" yang oleh para ulama telah disepakati tafsirnya bahwa itu adalah panggilan Alloh untuk masuk ke dalam jamaah hamba hambanya {lihat tafsir jalalain}

Sebuah metode yang dirancang oleh Alloh untuk menepiskan ego / nafsu kita sebagai manusia.
Kita berada di sini adalah bukan untuk menonjolkan keegoan kita, melainkan untuk menipiskan ego kita sehingga kita bisa menjadi ummatan wasathon yang saling berkasih sayang, bukan saling bercerai berai.

Al-An'am (الأنعام) / 6:12

قُلۡ لِّمَنۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلۡ لِّلّٰہِ ؕ کَتَبَ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ ؕ لَیَجۡمَعَنَّکُمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا رَیۡبَ فِیۡہِ ؕ اَلَّذِیۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ

Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.

Kita yang telah mengaku beriman dan berikrar islam, sudah semestinya menepiskan segala bentuk kecemburuan sosial di dalam hati kita masing masing. Dalam bentuk apa saja. Ya media belajar yg paling efektif untuk menepiskan segala bentuk rasa sakit hati sehingga berubah menjadi kasih sayang adalah dalam jamaah / organisasi / keluarga dan semacamnya.

Kenapa saya katakan demikian, karena kasih sayang adalah merupakan indikasi mutlak dari Alloh atas keimanan kita terhadapNYA dan juga refleksi kecintaan kepada nabiNya s.a.w, sebagaimana tertuang dalam Q.S maryam : 96

اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَیَجۡعَلُ لَہُمُ الرَّحۡمٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Wallohu'alam bishshowab
Semoga secarik tulisan ini bisa menyadarkan kita tentang pentingnya pengikisan ego diri kita. Jamaah apapun yg kita sedang ada di dalamnya, mari kita gunakan ia sebagai wasilah atau jalan kita untuk mencapai keridhoan Alloh s.w.t

-----------------
Al-Mumtahanah (الممتحنة) / 60:7

عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

-------------
Al-Ma'idah (المائدة) / 5:35

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...