Tentang Kemerdekaan

Yang paling sejati dari kemerdekaan adalah posisi di mana kita selesai dari batasan batasan diri kita yang muncul karena persepsi kita sendiri sendiri.

Energi Semesta Adalah Jumbuh Dengan Manusia

Seluruh Elemen Semesta Telah Manunggal dalam diri kita semua tanpa terkecuali, dan satu kunci untuk mengaksesnya adalah kesadaran anda.

Titik Agung Peradaban

segala sesuatu memiliki akar, maka akar dari peradaban yang gemilang adalah.....

Kamis, 21 November 2024

Penanggung Jawab utama

 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَاۤ    ۖ اِنَّا لَذَآئِقُوْنَ

"Maka pantas putusan (azab) Tuhan menimpa kita; pasti kita akan merasakan (azab itu)."


فَاَ غْوَيْنٰكُمْ اِنَّا كُنَّا غٰوِيْنَ

"Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami sendiri, orang-orang yang sesat.""

(QS. As-Saffat 37: Ayat 31-32)


==================


Potongan ayat ini merupakan serangkaian dari kisah yg berlatar "yaumil hisab". dimana ada segolongan orang sesat yang saat dihisab berdialog dengan pimpinannya yg saat di dunia mengajak mereka dalam kesesatan.

Orang² tersebut mengaku tersesat karena telah diajak oleh pemimpinnya dalam kesesatan. Sedangkan si pemimpin kaum tersebut, mengakui bahwa dirinya pun memang berada dalam kesesatan. Namun ia juga mengaku bahwa ia tidak ada kemampuan untuk menjadikan mereka (kaumnya) untuk tersesat, melainkan karena sejak awal mereka sendiri telah berada dalam tabiat kesesatan yang serupa.


Menyikapi fenomena ini, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Qur'an mengambil sudut pandang yg agak lain daripada mufassirin lainnya. Dimana beliau r.a melihat dari ayat ini bahwa manusia² yang tersesat cenderung akan mencari 'kambing hitam' atas apa apa yang menimpa pada mereka. Meskipun pada akhirnya mereka sendiripun akan tersadar bahwa penanggung jawab paling utama atas apa apa yg menimpa mereka adalah dirinya sendiri. Seperti halnya fenomena tersebut, mereka tersesat, pada dasarnya adalah karena sejak awal dalam hati mereka sudah menyimpan keraguan yang serupa, sehingga ketika ada oknum lain yang mengajak mereka pada kesesatan maka mereka pun spontan akan mengikutinya.


Sekiranya sejak awal di dalam hati mereka tidak ada kecenderungan dalam kesesatan, tentu ajakan berupa apapun tidak akan berefek atau tidak akan mampu mempengaruhi mereka.


Maka benarlah Firman Alloh s.w.t di ayat lainnya yg menegaskan bahwa perubahan atas suatu kaum itu dapat disebabkan tatkala mereka merubah tabiatnya sendiri.


Senada dengan Fi Zilalil Qur'an, Tafsir Kemenag RI menjelaskan bahwa pada dasarnya pengikut² yg tersesat itu mengikuti pemimpin²nya dikarenakan oleh tabiat dan usaha mereka sendiri untuk meraih jalan kesesatan itu.


---

Sebagai antitesis, tentu ini juga berlaku bagi orang² yang beriman. Dalam artian, kalau memang dalam hatinya penuh dengan keimanan maka ia tidak akan pernah mudah terpengaruh oleh ajakan kesesatan bagaimanapun lihainya para penyesat itu bersilat lidah. Sebaliknya ia akan mudah termotifasi dalam hal hal kebenaran.


Intinya, tabiat dan isi hati sejatinya berkitan erat dengan kesadaran yg telah dianugerahkan Alloh dalam dirinya. Mau diarahkan kemana kesadarannya, akan mempengaruhi cara berpikir dan merespon segala hal yg ada di sekelilingnya.


Wallohu'alam bish-showab

Dirajam Nafsu

 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


قَا لُوْا لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰـنُوْحُ لَـتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمَرْجُوْمِيْنَ 

_"Mereka berkata, "Wahai Nuh! Sungguh, jika engkau tidak (mau) berhenti, niscaya engkau termasuk orang yang dirajam (dilempari batu sampai mati).""_

(QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 116)


--------------

Secara dhohiriah, ayat ini mengkisahkan histori ancaman kaum Nabi Nuh a.s terhadap ajakan untuk beriman dan mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Nuh a.s.

Ancaman yang selalu dilakukan oleh orang² yang buta hatinya untuk menerima kebenaran, adalah sebagaimana yg dikabarkan dalam ayat ini. Yakni ancaman keras untuk membunuh NabiNYA.


Seperti yg dijelaskan oleh Sayid Qutb dalam tafsir FiZilalil Qur'an yang menyoroti reaksi keras kaum Nabi Nuh a.s sebagai refleksi dari penolakan yg mendalam terhadap ajakan tauhid.

demikian juga penafsiran ibn Abbas dalam Tanwir Al-Miqbas yang menjelaskan bahwa ancaman keras berupa akan merajam nabi Nuh hingga meninggal adalah bentuk ekspresi kebencian mereka terhadap ajakan nabi Nuh a.s untuk meninggalkan berhala.


Selain itu, sebagaimana telah kita ketahui bersama. Bahwa dimensi Al-Qur'an selalu tidak hanya berdimensi lahiriah semata, namun juga selalu memiliki dimensi Bathin. Hal ini yang tersirat oleh sabda Nabi s.a.w, *"Sesungguhnya Al-Qur'an memiliki makna lahiriah (terbuka) dan bathiniah (tersembunyi), memiliki batas dan permulaan"*. Juga pada riwayat yg lain, Rosululloh bersabda, *"Bacalah Al-Qur'an dan temukanlah hal hal tersembunyi (rahasia / bathiniah) darinua"*

Pada suatu riwayat yang ada dalam Ihya' Ulumuddin, Rosululloh s.a.w pernah mengulang ulang bacaan "Bismillahirrohmanirrohim" sebanyak 20 kali. Imam Ghozali r.a menerangkan bahwa hal itu semata mata dilakukan untuk menghayati pengertian bathiniahnya. Jika saja pemaknaan Al-Qur'an hanya sebatas Lahiriah saja tentu itu sangat mudah (tidak perlu sampai diulang ulang), terlebih lagi yang melakukan itu adalah Nabi s.a.w.


Maka, ayat ini pun juga memiliki ruang bathiniah tersendiri. Seperti halnya yang tertuang dalam tafsir Lathoiful Isyarot (Imam Qusyairi) dan tafsir al-Jaylani (Sulthonul Auliya Syaikh Abdul Qodir Jylani) yang cenderung penafsirannya bercorak Sufistik. Beliau beliau r.a menerangkan bahwa ayat ini merefleksikan ibaroh sisi "Self" dalam setiap diri salikin yang tercerahkan dalam bersuluk kehadirat Alloh. 


"Nuh" menyimbolkan tentang sisi yang tercerahkan (diri/nafs) itu, yang senantiasa mengajak seluruh _umatnya_ yang disimbolkan sebagai "kaum" untuk turut bergerak menuju Alloh. Namun dikarenakan si-"kaum" atau anggota tubuh terlalu lama berkecimpung dalam ketidak sadaran atau kealpaan, tentu saja kaum ini akan selalu menentang setiap ajakan untuk menuju kesadaran yg lebih tinggi.


Imam Qusyairi memaknai ayat ini sebagai berikut,

...لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰـنُوْحُ... (Jika kamu tidak berhenti wahai Nuh)

ini merupakan representasi dari suara nafsu yang menolak perbaikan dan kejernihan bathin. 

...لَـتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمَرْجُوْمِيْنَ. (Niscaya kamu akan dirajam)

Ancaman ini menggambarkan bagaimana kesadaran yg rendah enggan menerima perubahan kearah yg lebih baik, sehingga cenderung menghadirkan ketakutan ketakutan untuk berubah kearah yg lebih baik.


Syaikh Abdul Qodir al-Jylani memaknai kaum Nabi Nuh sebagai rintangan bathin yang menghalangi seseorang mencapai maqom Tauhid secara haq.

Sedangkan merajam erat kaitannya dengan Halangan spiritual berupa ketakutan - ketakutan untuk beranjak menuju wilayah tauhid.


Penjelasan seperti ini tentu sangat kompatibel dengan pengalaman perjalanan spiritual setiap hamba yang bermuroqobah ilalloh.

Pengalaman² berupa ketakutan² tersembunyi dan besitan² keraguan yang terkadang berkeliaran mengganggu dalam perjalanan spiritual, tentu tidak jarang didapati oleh setiap salikin. Tak jarang pula Salikin Dzikir Nafas yang ketika mendapatkan pencerahan, alam fikirannya mempertanyakan akan kadar kebenarannya.

Sepatutnya, jika memang kondisi bathin kita telah sambung kepada Alloh, maka perlu disadari bahwa segala pemahaman dan gerak ajakan adalah semata mata dari Alloh. Jika demikian, sudah semestinya kita mengabaikan segala bentuk lintasan ketakutan dan keraguan. Agar tidak sampai binasa layaknya kaum nabi Nuh a.s.


Wallohu'alam bish-showab 😌🙏🧘

---------

Selasa, 19 November 2024

Memandang Sumber Yang Memproses


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ وَ سُلَيْمٰنَ عِلْمًا ۚ وَقَا لَا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا عَلٰى كَثِيْرٍ مِّنْ عِبَا دِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya berkata, "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman.""

_[QS. An-Naml 27: Ayat 15]_

=================

Jumhur mufassirin sepakat menjelaskan bahwa rasa syukur yang dimiliki oleh Nabi Daud dan Sulaiman adalah didasari atas kesadaran beliau berdua akan karunia Alloh s.w.t yang diberikan kepada mereka.

Banyak keutamaan yang mereka dapatkan baik dari segi ilmu agama, ilmu kepemimpinan, hingga berbagai ilmu praktis.

dalam Tafsir Al-Ibris, KH. Bisri Mustofa menjelaskan, kedua Nabi tsb lebih memilih menyikapi nikmat yg dinilai sebagai ujian dari Alloh dengan Bentuk Syukur.

Hal ini tentu merupakan contoh yang luar biasa bagi kita semua. Di antara sebagian orang yang memilih bersikap sombong dan mengagungkan ilmunya entah karena banyaknya proses belajarnya, kemudian mengagungkan prosesnya. Kedua Nabi tersebut justru mencontohkan untuk mem-bypas yakni mengagungkan Sang Sumber Ilmunya. Meskipun ini merupakan sudut pandang, namun tentu sudut pandang yang digunakan oleh Nabi Sulaiman a.s dan Nabi Daud a.s ini lebih utama.

Diriwayatkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz pernah bersurat yang berisi keterangan Apabila Alloh memberikan Nikmat kepada suatu kaum/hamba, lalu si hamba itu memuji Alloh atas nikmat tersebut, maka Pujian seorang hamba itu bernilai lebih Utama daripada kenikmatan yang ia dapatkan.

Artinya, Limpahan Rasa Syukur kepada Alloh s.w.t yg tumbuh dalam Diri seorang hamba itu lebih Utama daripada limpahan nikmat apapun yang telah ia terima. Dengan kata lain, Syukur adalah kenikmatan yang paling Nikmat dari segala nikmat dari Alloh azza wajalla.

Uniknya, serupa dengan apa yg sedang kita pelajari bersama di DNSA ini, munculnya rasa Syukur semacam itu semua. Pada dasarnya adalah runtutan efek dari kesadaran seorang hamba bahwa sumber dari segala hal adalah Alloh semata. Penjelasan semacam ini bisa kita dapati juga dalam tafsir al-Baidhawi, di mana dijelaskan bahwa Rasa Syukur yang ada pada diri Nabi Sulaiman a.s dan Nabi Daud a.s adalah karena mendalamnya kesadaran mereka bahwasannya ilmu dan berbagai kenikmatan yang mereka peroleh bukanlah akibat dari Proses Usaha mereka, melainkan semata mata karena Karunia dari Alloh s.w.t

Maka dari itu, bisa menjadi sebuah bahan muhasabah diri kita apabila sedikit terbesit bahwa apa yang kita peroleh saat ini adalah asbab kasab / usaha kita, maka sudah selayaknya sudut pandang kita musti segera diswitch / diputar menuju sudut pandang bahwa ini semua yang terjadi adalah karena Alloh s.w.t semata, berbagai nikmat sekecil maupun sebesar apapun adalah bentuk karunia Alloh s.w.t.

Hal ini tentu akan memperlihatkan kualitas kita, apakah kita ada dalam shof hamba Alloh yg bersyukur ataukah di barisan hamba Alloh yang kufur.


Wallohu'alam bish-showab

Ma'an Mubarokan - Air Yang Penuh Berkah

 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً مُّبٰـرَكًا فَاَ نْۢبَـتْـنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِ 

"Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen,"

[QS. Qaf 50: Ayat 9]

--------------------------------------

Dalam ilmu tafsir, ada berbagai macam bentuk tafsir, ada yang bil ma'tsur (dengan riwayat nabi), ada yang bir-ro'yi (didasarkan pada pemikiran yg mendalam dari sekian disiplin ilmu, seperti ushul dlsb), ada yang isy'ari (didasarkan pada isyaroh bathin).

Waskita Qur'an, setelah dikaji secara seksana, insyaallah ini termasuk dalam kategori isy'ari atau yg disebut oleh sebagian kalangan sebagai tafsir sufisme.

Sebagaimana hasil Waskita Qur'an kami pagi ini, yang sampai pada QS.Qof:9 , kami mendapati makna lain dari kalimah _"ma'an mubarokan"_ itu bukanlah sekedar hujan dari langit. Meskipun secara tekstual ayat, baik dari runutan ayat ke-7nya adalah menunjukan fenomena alam berupa air hujan. Namun khusus di ayat ini, kami mendapati isyaroh bahwa _"ma'an mubarokan"_ adalah limpahan kefahaman tentang iman, ihsan, islam yang mendalam dan luas langsung dari sumbernya. Sehingga pemahaman itu akan menimbulkan suatu efek ketenangan bathin, melakukan berbagai gerak tanpa keraguan dan cemerlang. Yang digambarkan _"jannah"_ (kebun kebun). Yang mana biji²nya dapat dipanen dan dinikmati oleh siapapun (wa habbal hasiid)

Kalau kita baca rangkaian ayat ini hingga selesai di ayat ke-11 akan kita dapati bersama di mana _"ma'an"_ akan mampu menghidupi negri yang kering. Dengan kata lain, mampu memberikan nilai, spirit kepada banyak makhluk yang nihil akan nilai khusus.

Uniknya jika kita flashback ke ayat sebelumnya, yaitu ayat ke-8, kita akan menjumpai bahwa kunci untuk menerima luapan _"ma'an mubarokan"_ yang dimaksud adalah dengan Dzikr yang "tabshirotan" memicu hadirnya pelajaran. Tentu ini mengarah pada esensi Dzikir itu sendiri, yakni menyadari eksistensi Alloh azza wa jalla.


Wallohu'alam bish-showab

Kamis, 09 Mei 2024

Belajar Al-Qur'an - Spiritualitas Al-qur'an bukan hanya milik segelintir muslimin

 Dalam sebuah riwayat dikabarkan bahwa Nabi s.a.w bersabda,


خَيركُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعلَّمهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”
[HR. Tirmidzi]


sering kali ketika mendengar referensi kalam mulia tersebut, kita mengasumsikan bahwa istilah "mempelajari Al-qur'an" adalah sebatas membacanya semata. Meskipun hal ini tidaklah salah, namun mungkin kurang lengkap.

karena sejatinya mempelajari Al-qur'an semestinya tidak hanya mempelajari makhorijal huruf nya saja. tidak semata kemudian kita musti berlomba lomba dalam kefasihan memcaba tektualitas ayatnya semata. yang notabene ini adalah kegiatan yang bersifat lahiriah.

dalam kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghozali, sempat disinggung bahwa al-Qur'an ini lapisan atau dimensinya tidak hanya berkutat pada dimensi lahiriah saja, melainkan juga ada dimensi bathiniah yang sering kali terlupa oleh kebanyakan orang tentang keberadaan dan urgensinya. pendapat beliau r.a kemudian dikuatkan dengan kutipan beliau akan suatu riwayat yang menyatakan bahwa Rosululloh s.a.w pernah membaca bismillah hingga 20 kali hanya untuk mendapatkan siratan makna tersembunyi yang ada dalam kalimah Bismillah.

Dengan kata lain, Imam Ghozali hendak menunjukkan kepada kita bahwa kalimah mulia dari setiap untaian Al-Qu'an itu memiliki dimensi yang sepatutnya digali lebih dalam oleh para kaum muslimin.



melalui tulisan ini, setidaknya kami ingin mencatatkan bahwa dimensi bathiniah atau spiritual ini juga merupakan bagian dari ungkapan Baginda Nabi s.a.w di atas, yakni disebut dengan "Belajar Al-Qur'an".

lantas berikutnya, apakah semua muslimin bisa memperoleh pemahaman yang mendalam dari Al-qur'an, ataukah hanya muslimin tertentu yang sudah menguasai berbagai macam disiplin ilmu?

maka menurut hemat dan praktis kami, sebagaimana yang telah kami alami bersama para salikin lainnya yang juga sama sama haus akan realitas al-Haqq. Semua orang muslim sangat berpotensi untuk mendapat petunjuk atau menyibak realitas cahaya al-qur'an yang mendalam. Iya betul, semuanya. termasuk anda yang secara sirr digerakkan oleh Alloh s.w.t untuk membaca coretan ini.



tentu, kita semua tidak melewatkan Pembukaan Al-Qur'an setelah Surah Al-Fatihah.

الۤمّۤ ۚ . ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ .

Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, [Q.S. al-Baqoroh]


Jumhur Ulama sepakat menyatakan bahwa huruf muqoto'ah yang mengawali suatu surat, salah satu tujuannya adalah untuk menarik perhatian pembacanya. baru kemudian penegasan maksud suatu firman dimunculkan pada ayat berikutnya.

kembali pada pembahasan sebelumnya, bahwa kita semua berhak untuk mendapatkan kedalaman makna dari setiap ayat yang ada di dalam al-Qur'an. Salah satu dasar selain dari praktikum kami adalah Q.S Al-Baqoroh ayat ke-2 tersebut. dengan sangat jelas Alloh s.w.t menyatakan bahwa "ini" (Al-Qur'an) adalah ketetapan yang tiada keraguan sama sekali di dalamnya. yang sekaligus menjadi petunjuk bagi setiap orang yang bertakwa.




sebelum beranjak untuk menyadari kalimat "ketetapan yang tiada keraguan" (ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ) , ada baiknya kita coba pahami "adanya/sumber dari keraguan" itu sebenarnya adalah ketidak sesuaian maksud hati dengan panca indrawi maupun pikiran. contoh dalam sebuah perjalanan, kita akan mengalami keraguan menentukan arah ketika hati kita berkata belok kanan, namun pikiran mengasumsikan harus belok kiri. sedangkan mata justru memandang kondisi 'depan' lebih nyaman untuk hendak dilewati.

ketidak sesuaian dimensi bathin dan lahir akan menimbulkan keraguan ataupun kegalauan. Demikian juga kitab yang mulia ini, dikatakan sebagai "laa roiba" tidak ada keraguan sedikitpun, karena ia memiliki makna lahir dan bathin yang tepat dan serasi. bahkan ketika dikonsumsi oleh pihak lain, yaitu manusia. maka makna bathin yang terkandung dalam setiap ayat al-qur'an pasti akan dibenarkan oleh bathiniahnya manusia. sekalipun secara akal manusia ada beberapa yang mencoba memanipulasi makna maupun enggan percaya.

kepercayaan di tataran persepsi maupun manipulasi makna, ini tetap tidak akan mampu membohongi lingkup bathin atau spirit yang terkandung dalam diri masing masing manusia. sehingga ketika suatu ketika persepsi manusia yang cenderung dipengaruhi oleh indrawi menemukan keselarasan makna lahiriah al-qur'an dengan berbagai pembuktian fisik, maka mau ataupun tidak harus mengakui ketepatan / laa-roiba nya al-Qur'an tersebut.


Artinya, kita semua berpotensi luas untuk memasuki relung relung rahasia bathin setiap ayat al-Qur'an. Setiap kita juga tentu tidak bisa disalahkan apabila menyakan bahwa cakupan Sabda Mulia Rosululloh s.a.w itu pun juga meliputi "Pembelajaran akan Makna - Makna Spiritual dari Al-Qur'an"


Pertanyaan Berikutnya, Bagaimana Cara Kita untuk menyelami Dimensi Spiritual Al-Qur'an ??

Jumat, 28 April 2023

Bersikap Menerima Ketika Dalam Keadaan Fasik



 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

"Maka Alloh mengilhamkan kepadanya (jiwa) kefasikan dan
ketakwaan" [Q.S. Asy-Syams : 8]

sejatinya, setiap segala sesuatu yang terhampar di sekeliling kita ini adalah sudah benar adanya. telah merupakan suatu ketentuan pasti dari Alloh azza wajalla. termasuk juga ketika kita dirundung keadaan fasik (misalnya) terpaksa melakukan sesuatu yang kita tau bahwa itu kurang tepat tapi entah kenapa kita terpaksa melaksanakannya juga. sebagai contoh ringan, kita tahu bahwa membayar hutang, itu baiknya adalah disegerakan jika kita sudah ada bekal untuk membayarnya. namun entah kenapa tiba tiba pas "punya" kita takut bahwa jika uang itu dibayarkan sekarang, maka esok mau makan apa, belanja dengan apa dan seterusnya dan seterusnya. maka jadilah kita menunda pembayaran hutang tersebut. maka kelakuan fasik ini terpaksa kita lakukan.

contoh lain yang sangat gampang adalah menggunjing teman dan sesamanya. menggunjing adalah tindakan yang fasik, namun tidak jarang muslimin terjerumus dalam tindakan seperti itu. sekalipun semua tahu bahwa ini adalah tindakan yang fasik.

nafsu / jiwa yang terkadang memiliki kecenderungan menyesal, (nafsul lawwamah) tidak jarang menjadi celah empuk bagi musuh nyata manusia (iblis/setan) untuk membisikkan prasangka tidak baik atas diri dan ketetapan Alloh s.w.t.
seringkali nafsu lawwamah akan menjadi jalan untuk membisikkan betapa kita ini tidak sempurna, betapa diri itu masih jahat, betapa diri itu masih suka maksiat, dan lebih bahayanya lagi ketika nafsu lawwamah itu digunakan jalan untuk membisikkan pernyataan menyesatkan "betapa Alloh tidak menyayangi dirinya, sehingga Alloh menetapkan bagi dirinya tindakan yang tidak benar"

sehingga jika akal kita tidak memfilter bisikan bisikan itu dengan ilmu, lalu serta merta membenarkannya. tentu ini akan membawa sikap ketidak puasan terhadap ketentuan Alloh. dan ini adalah kecelakaan yang fatal sebenarnya. dirinya menjadi tidak ridho Alloh sebagi pengatur hidupnya (robb), dengan kata lain, yang seperti ini adalah sikap kufur yang tersembunyi (halus). naudzubillah min dzalik.

mengenai ayat yang kita munculkan di atas, dikisahkan dalam tafsir ibnu katsir bahwa dahulu pernah ada seorang laki laki dari bani Muzayyanah atau bani Juhainah yang datang kepada Rosululloh s.a.w lalu bertanya, "wahai Rosululloh, bagaimanakah menurut anda tentang apa yang dikerjakan oleh manusia. yang mana mereka bersusah payah menanggulanginya. apakah hal itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dalam takdir terdahulu, ataukah hal itu merupakan sesuatu yang mereka terima dari apa yang disampaikan oleh Nabi mereka kepada mereka lantas diperkuat dengan hujjah atas diri mereka".
maka Rosululloh s.a.w menjawab, "Tidak demikian, sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas diri mereka"
lalu laki laki tersebut kembali bertanya, "lalu apakah gunanya kita beramal?"
Rosululloh s.a.w menjawab, "barangsiapa yang diciptakan oleh Alloh untuk mengerjakan salah satu di antara keduanya, maka Alloh telah menyiapkan untuk itu".
dan hal yang membenarkan (pernyataan) ini dalam kitabulloh adalah firmanNYA yang menyatakan, "demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan". [Asy-Syams : 7-8]

sejatinya, apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi diri hamba hambanya, maka Alloh akan menetapkan bagi hambanya untuk melakukan tindakan tindakan yang memang baik baginya. pun demikian sebaliknya, sesuatu yang tidak tidak bermanfaat yang ditetapkan bagi hambanya merupakan indikasi bahwa Alloh mencondongkan ilham fasik kepadanya.
sehingga dari sini kita dapat bermuhasabah atas diri kita masing masing. di posisi manakah kita saat ini?
apakah saat ini kita sedang diletakkan oleh Alloh dalam lingkaran tindakan yang penuh maslahat dan kebermanfaatan. ataukah justru sedang diletakkan oleh Alloh dalam keadaan tindak tanduk yang fasik?.

guru kami, pernah menuturkan kepada kami bahwa jika kita sedang diposisi kefasikan. pertama tama terima dan sadarilah dahulu bahwa keadaan itu adalah benar benar dari Alloh. kita ridho dulu atas ketentuan Alloh terhadap diri kita, lantas kita ber-istightighfar, dan mengakui bahwa kita adalah hambaNYA yang sedang dalam keadaan fasik, kita mohon ampun dan lalu mohon diperbaiki keadaan keadaan kita.

terkait hal ini, Rosululloh s.a.w telah bersabda, “Tiada yang bisa menolak takdir (ketetapan) Allah, kecuali doa.” [HR. Tirmidzi, Hakim, Ahmad, dan Ibnu Majah]

wallohu'alam bish-showab

Jumat, 04 Februari 2022

Gerak Diri Gerak Alloh

Setiap Percikan IDE atau GAGASAN, kerap kali itu muncul atas dorongan dorongan Daya Ilahiah.

Getaran yang kerap kali timbul di dalam diri kita, yang lalu kemudian biasa kita sebut sebagai "Gairah" atau "Hasrat", adalah merupakan perpaduan dari keinginan dan daya ilahiah.

Alloh selalu bergerak menyertai kita semua. DayaNya seirama dan selaras dengan do'a (Permohonan)serta kesiapan bathin kita. Kesadaran adalah laksana jari jemari yang menekan tombok aktivasi "Daya Ilahiah", sehinga berproseslah "Kun Fa Yakun" -Nya, ata berlaku PengAdaan PengadaanNya.

suatu proses Pengadaan (Yakuun) di balik segala hal atau peristiwa (Haula) pastilah memliki bobot / muatan kekuatan (Quwwata) Alloh. dan apabila ia Quwwata- ini diterima oleh seseorang, dan kemudian ia bergerak selaras denganNya, tindakan sedemikian itulah yang dinamakan 'Ikhtiar".

Jadi "Ikhtiar" adalah tindakan yang berdasarkan tuntunanNya melalui getaran Daya Ilahiah. bukan merupakan tindakan yang asal asalan layaknya tebak tebakan, kalau melakukan ini atau itu mudah mudahan mendapatkan ini dan itu. melainkan lebih ke arah "saya melakukan ini karena Alloh menghendaki saya melakukan ini". 

فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ - ٣٨

"Maka jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" [Q.S Al-baqoroh : 38]

Demikian itu ketetapan dariNya, sebuah kabar menggembirakan sekaligus informasi untuk menyadarkan kita semua bahwa DIA pasti menurunkan petunjukNya untuk membimbing kita dalam menapaki segala bentuk problematika hidup di dunia. Demikain pul dinyatakan bahwa memang benar Daya Ilahi itu jika kita ikuti , tidak kita ingkari , maka ia akan membawa kita pada banyak keadaan al-Falah (Kelapngan), kebahagiaan, keberuntungan, juga keselamatan.

Maka Alloh berkali kali menyadarkan kita melalui Al-Qur'an, kalamNya yang Agung. Bahwa DIA senaniasa membersamai kita (wa huwa ma'akum aina maa kuntum). DIA tidaklah jauh di luar diri kita, justru sangat sangat dekat di dalam kalbu kita (wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil warid). serta senantiasa bergerak menggerakkan akal pikiran kita (kulla yaumin huwa fi sya'n) yang kemudian memunculkan berbagai ide - ide lalu menjelma dalam bentuk gerak kita.

ide ide luhur ituakan berakhir pada tindakan tindakan yang didasari oleh kesadaran kita. Apakah kesadaran kita mau menerima serta mengakui bahwa ide ide tersebut murni dari Alloh ataukah justru enggan mengakui apalagi menerimanya. Sehingga ia akan menggerakkan atau memicu ide lain yang menjatuhkan yang menyengsarakan atau yang dalam bahasa al-Qur'an disebut sebagai ilham Fujur.

Maka Alloh selain menyatakan bahwa DIA adalah Sang Maha Pemberi Petunjuk / Al-Hadi, Sang Maha Kasih, Sang Maha Welas, DIA juga memperkenalkan DiriNya bahwa Dia jualah yang akan menyesatkan hamba hambaNya. yaitu tentu saja hambaNya yang mengingkari adanya petunjuk dariNya.


فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta." [Q.S Al-Baqoroh : 10]

hati manusialah yang sebenarnya berpenyakit, lantas DIA merespon dengan benar benar menambah penyakit yang kelak mengunci hati dan kesadarannya dalam menyaksikan eksistensiNya. serta tidak dapat lagi mengenali petunjuk petunjukNya / buta.

Berdasarkan kesiapan kesadaran kita, Dia akan melimphkan petunjukNya. Daya Ilahi hanya menyelaraskan kesesuaian bathiniah / alam bathin manusia kemana akan dihadirkan realitas bagi manusia.

Do'a dan Ijabahnya

Maka dari itu, Sang Rosul Alloh, manusia paripurna s.a.w mengingatkan kita bahwasannya Alloh s.w.t berfirman, "Aku sesuai persangkaan hamba hambaKU terhadapKU". 
hadirnya prasangka seringkali berupa rasa di dalam dada yang disertai gambaran gambaran dalam benak (visualisasi). sedangkan Do'a yang merupakan kegiatan memohon atau yang lebih tepatnya merupakan Komunikasi 'Menyapa' Alloh, akan sangat mujarab tatkala disertai sikap yang hadir / khudhur. artinya menta rasa dan visual dalam benak selaras atau sesuai dengan ucapan (lafal doa).

Sebagaimana janji Alloh, Ud'uni astajib Lakum -berdo'alah, Aku perkenankan bagi kalian- 

Setiap getaran hati sejatinya adalah merupakan perwujudan doa. perwujudan dari sapaan permohonan kepada Alloh s.w.t. setiap gerak pikiran adalah merupakan do'a.
Sedangkan Alloh s.w.t sangat mengetahui segala sesuatu hingga yang terhalus yang terbesit di dalam bathin manusia. DIA sangat mengetahui apa apa yang tergetar dan digetarkan dari dalam lubuk diri manusia. 

Gerak Pikiran

gerak dan getaran pikiran seringkali terpicu oleh berbagai keadaan realitas duniawi yang sedang dihadapinya, kemudian mewujudkan rasa butuh juga ingin di dalam diri. Realitas duniawi bisa jadi merupakan cara Alloh untuk membawa kita kembali menyapaNya. membawa kita merasakan butuh bercengkrama dengan EksistensiNya. maka sejatinya respond kita dalam menghadapi berbagai hal, akan dapat menjadi barometer seberapa iman dan ikhlasnya diri kita di hadapan Alloh s.w.t. sangat mungkin realitas duniawi menjadi ajang penentu seperti layaknya ujian di sekolah. Pada dasarnya, realita dan respond kita akan saling bercengkrama membentuk realitas baru berikutnya.

Maka Alloh telah menyatakan melalui lisan NabiNya, bahwasannya Pagelaran Dunia seisinya ini hanyalah merupakan ajang ujian semata untuk menguji siapakah yang bersyukur beriman dan siapakah yang kufur.

dalam penerapannya, seseorang yang ingin lepas dari suatu keadaan menuju keadaan lainnya, sebenarnya hanyalah perlu mengubah respondnya atas realitas yang sedang dihadapinya. dalam islam sangat banyak khazanah khazanah yang mengajarkan kita untuk merespond kehidupan. semisal ketika mulai jenuh dengan kemiskina (dalam hal finansial), respond kita terhadap kemiskinan bukanlah dengan membencinya, tapi justru dengan mencintai dan mensyukurinya. menerima dan menyadari bahwa itu merupakan bagian Alloh untuk memuliakan hambaNya. lihat saja dengan adanya pernyataan baginda nabi tentang keutamaan miskin.

selama kita tidak menyadari adanya peran Alloh di dalam suatu peristiwa, niscaya kita akan terkurung dalam lingkaran kekufuran. sekalipun miskin memliki banyak keutamaan, namun di dalam keadaan miskin juga menyimpan batas kekufuran. Rosululloh s.a.w bersabda, "fakir itu sangat dengan kufur". demikian juga keadaan kaya raya berkelimpahan. memiliki dua potensi syukur ataukah kufur. untuk berlepas dari suatu keadaan menuju keadaan yang lain, yang perlu kita rubah adalah cara pandang dan respond kita terhadap suatu keadaan itu. tatkala kita mengkufuri suatu keadaan, selama itu kita akan berkecimpung di dalam keadaan tersebut. sebaliknya, tatkala kita mensyukuri keadaan kita, Alloh akan menaikkan derajat kita dari keadaan yang semula. dan penaikan derajat ini ditandai dengan kematangan Mental bathin kita. atau kematangan / kesiapan jiwa kita untuk menerima keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.

Kesiapan Jiwa Kematangan Mental

Kesadaran bathin kita akan membentuk kesiapan baru bagi jiwa kita dalam hal menyambut suatu perubahan keadaan. tatkala jiwa lebih siap menerima suatu hal / peristiwa, ia (jiwa) akan memicu indrawi indrawi kita untuk lebih fokus mencerap hal hal yang berkaitan dengan kesiapan jiwa tersebut. dengan kata lain indrawi akan memiliki kecondongan tersendiri akan hal hal baru tersebut.

misal ketika jiwanya lebih siap dalam hal finansial, maka ia akan tergerak untuk menyukai berbagai hal yang berhubungan dan mendukun perkara perkara finansial. atau ketika jiwanya lebih siap dalam hal keilmuan keilmuan, maka ia akan sangat mudah menemukan berbagai hal yang menumbuhkan kesukaannya pada bidang keilmuan, yang menambahkan ilmu ilmu baru bagi dirinya. semua realitas peristiwa seolah mendukung apa yang menjadi kesiapan bagi jiwa kita.

Maka dahulu sesepuh tanah jawa, kanjeng Sunan Bonang pernah menuliskan dalam Serat Suluk Wujilnya "Perhatikanlah wujil, Dunia Ini Luluh lantak akibat gerak jiwamu". seolah beliau mengisyaratkan bahwa gerak jiwa, kesiapan jiwa, kematangan mental terhadap suatu hal itu sangat menentukan kondisi kita dalam pagelaran hidup ini berikutnya.

Jiwa, seringkali memperoleh kesiapan kesiapan mentalnya berdasarkan pergaulannya. bahkan pergaulannya semenjak kecil dapat mempengaruhi polah gerak jiwanya. sebagaimana isyarat Nabi s.a.w "Setiap bayi yang terlahir itu berada dalam keadaan fitrah, polos, suci, netral. ibu bapaknyalah yang kelak menjadikannya majusi-nasrani-yahudi", karena memang pergaulan seorang bayi paling pertama adalah ibu bapaknya. maka berangkat dari pergaulan itulah kemudian membentuk kebiasaan hingga kesiapan jiwa dalam mengundang dan menerima realitas kelak dikemudian hari. 


Paling Sering Diakses

Akar dari Sikap Sabar

  الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَا لصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَهُمْ وَا لْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِ ۙ وَمِمَّا رَزَق...